Halo! Selamat tahun baru 2026. Semoga di tahun ini semua yang direncanakan bisa terwujud dan dilancarkan prosesnya.
Iya, ini adalah postingan pertama sejak 3 tahun yang lalu. Tidak ada alasan sih, lebih ke kehilangan semangat menulis.
Bayangkan, untuk menulis sampai sini aja rasanya susaaahh banget, kayanya pencet tombol delete udah berkali-kali tapi nulisnya baru sampai sini aja. Kayanya kebanyakan mikir.
Oke, saya akan berusaha untuk lebih rajin lagi nulisnya dan konsisten setiap hari.
Beberapa minggu lalu saya sempat mengikuti semacam kelas yang judulnya cukup menjanjikan, yaitu membahas hal-hal yang perlu disiapkan ketika kita ditunjuk untuk menjadi seorang manager. Role manager disini tidak selalu berhubungan dengan karir ya, tapi bisa jadi dalam segala hal. Intinya ketika kita diminta untuk membawahi beberapa orang atau dipercaya menghandel tim, maka kita sudah bisa disebut sebagai seorang manager.
Sayangnya, beberapa jam setelah mengikuti kelas itu pembahasannya menjadi membosankan. Isi materinya lebih membahas pengalaman si pematerinya yang penuh dengan priviledge (timnya sudah ada, sistem sudah berjalan) sehingga seakan-akan apapun yang dia lakukan terasa mudah, padahal sebetulnya susah untuk dilakukan bagi orang-orang yang sedang merintis sebagai manager. Ya, akhirnya saya tinggalkan kelas itu hahaha.
Saya, atau beberapa orang diluar sana mungkin sedang mengalami hal yang sama, yakni sudah lama menyandang titel sebagai manager tapi merasa kurang maksimal dalam kesehariannya. Biasanya ini disebabkan tiba-tiba ditunjuk menempati role itu karena memang struktur organisasinya yang memaksa itu terjadi, bisa dibilang jadi manager karbitan.
Apakah ini salah? tentunya tidak dong, ini merupakan sebuah kesempatan. Saya sering melihat anak muda yang sudah menyandang titel manager bahkan mereka lebih muda ketika dulu pertama kali saya menyandang titel itu. Tapi saya yakin, saya tau apa yang mereka rasakan sebenarnya hahaha..
Nah, saya sedang membaca buku yang cukup bagus, judulnya “The Visual MBA“. Buku ini pada halaman awal saja sudah membuat saya jatuh hati, sebab dia langsung membahas topik Leadership. Seingat saya ketika kuliah tidak pernah diajarkan mengenai topik ini, atau mungkin pas saya nggak masuk ya haha.. Kayanya dulu pernah diajarin ini justru ketika ikut organisasi, tapi ya belum terlalu dianggap serius.
Oke, kita ke materinya. Menurut Pak Jason Barron sang penulis The Visual MBA ini, untuk mempersiapkan sebagai manager ada pondasi yang harus disiapkan. Btw, di buku ini peran manager itu lebih berfokus sebagai leader ya, makanya temanya adalah Leadership, tapi menurut saya ini bisa dilakukan bagi kita yang baru atau sedang menjadi manager, supaya gaya kepemimpinan kita menjadi lebih inspiratif.
Kepemimpinan lebih dari sekadar manajemen. Ia menginspirasi perubahan dan meningkatkan hasil melalui siapa Anda dan bagaimana Anda memotivasi yang lain.
Jason Barron
Seorang manager yang baik adalah, selain bisa mengerjakan tugasnya dengan baik, dia juga mampu untuk menginspirasi dan memotivasi timnya untuk mau berjalan bersama-sama mencapai tujuan. Terdapat 5 hal sebagai pondasi untuk mencapai itu semua.
Strategi
Sebagai seorang manager atau leader, sebagian besar pekerjaan yang akan dilakukan itu lebih banyak di tahap awal. Kita sebaiknya sudah memiliki gambaran bahwa timnya itu mau diajak kemana. Ketika sudah tau tujuannya, maka selanjutnya akan membuat rencana. Mulai dari tahap persiapan, kemudian menentukan urutan langkah yang harus ditempuh, mengestimasikan waktu, memprediksi hal-hal yang mungkin akan terjadi, hingga akhirnya sampai ke tujuan. Inilah yang disebut dengan strategi.
Jadi, sebagai manager kita dituntut untuk berpikir jauh ke depan, mencari tau komponen apa saja yang diperlukan, dan yang terpenting, harus sadar bahwa semua itu tidak bisa dikerjakan sendiri, perlu mencari siapa orang yang bisa membantu atau memberikan dukungan. Kemampuan berpikir strategis ini adalah pondasi yang harus dimiliki oleh manager.
Eksekusi
Apalah artinya rencana jika tidak dieksekusi, jadi setelah menentukan strategi maka hal selanjutnya adalah menjalankan rencana tersebut. Namun eksekusi ini lebih ke membentuk sistem organisasinya, sebab nantinya yang akan menjalankan rodanya adalah anggota tim. Pada tahap ini lebih banyak dihabiskan untuk membuat workflow, dokumen template, desain infrastruktur, hingga mulai mengumpulkan orang-orang yang tepat.
Kita sudah tidak boleh lagi berpikir bahwa pekerjaan ini cuma saya yang bisa mengerjakannya. Kita perlu berpikir bahwa pekerjaan ini harus bisa dikerjakan oleh orang lain, nanti saya tinggal mengarahkan dan mengevaluasi saja. Sehingga waktu berharga kita bisa digunakan untuk memikirkan hal-hal strategis lainnya. Ini adalah pondasi yang harus dimiliki oleh manager.
Talent Management
Oke, sekarang tim sudah terbentuk dan roda mulai bekerja untuk menjalankan strategi kita. Dulu, saat kita masih menjadi anggota tim, pastinya kita ingin fokus bekerja supaya bisa menyelesaikan tugas yang diberikan, bisa dibilang kita hanya perlu fokus ke pekerjaan kita sendiri saja. Nah, ketika di level manager fokus kita bergeser untuk lebih memperhatikan anggota tim kita sendiri.
Memotivasi, menyemangati, dan menjalin komunikasi dengan anggota tim itu lebih penting dilakukan oleh manager. Gaya setiap orang pastinya berbeda-beda, tergantung kultur organisasinya juga.
Berdasarkan pengalaman saya, menerapkan metode reward & punishment secara adil dan transparan akan lebih baik daripada sok akrab secara individu. Disini perlu ada kemampuan empati sekaligus bertindak sebagai evaluator.
Pengembangan Bakat
Ketika tim sudah solid dan sistem berjalan dengan baik, maka berbagai pencapaian akan mulai berdatangan. Anggota tim akan semakin ahli dan sistem mungkin akan berkali-kali mengalami penyesuaian. Bisa jadi sekarang jumlah tim semakin membesar dan sistem akan semakin kompleks.
Sediakan waktu dan telinga, dengarkan semua pendapat ataupun keluh-kesah mereka. Jadwalkan sesi 1-on-1 secara rutin untuk mendapatkan feedback dan juga membantu mereka untuk berkembang.
Manager harus mampu mengidentifikasi hal ini untuk mempersiapkan pemimpin di masa depan, sebab nantinya dengan tim yang besar dan sistem yang rumit, tidaklah mungkin kita bisa menghandelnya sendirian. Seperti yang saya bilang di awal, kita harus sadar bahwa kita perlu bantuan. Jadi selain memberikan tugas kepada anggota tim, persiapkan dia juga untuk berkembang.
Keputusan terberat dan terbaik saya adalah ketika melepas anggota tim saya untuk menapaki jenjang karir yang lebih baik. Ini tandanya saya sudah berhasil membuatnya berkembang.
Personal Skill
Bagaimanapun juga, manager adalah pemimpin. Dia memimpin manusia yang mau mengikutinya, artinya manager harus memiliki kehormatan. Namun, kehormatan itu tidak bisa diminta atau dibuat sendiri, itu harus diberikan oleh orang lain, barulah kita akan dihormati oleh orang lain.
Artinya, manager harus memiliki kemampuan pribadi yang mumpuni pada bidang yang sekarang sedang dikerjakan. Pengalamannya harus cukup untuk bisa mengetahui bahwa yang sedang dikerjakan oleh anggota timnya itu benar atau salah, juga harus tau bahwa sistem yang dirancang itu apakah masih valid atau sudah usang.
Selain itu, memiliki integritas, mau melatih inter-personal skill, berempati, mampu dan berani mengambil keputusan penting, dan berusaha untuk menumbuhkan kepercayaan adalah pondasi penting sebagai seorang manager.
Itulah lima hal yang menjadi pondasi ketika kita mulai menapaki karir sebagai seorang manager. Ini adalah jalan yang sunyi, namun ketika berhasil melaluinya maka kita akan menjadi orang yang berbeda.
Saya baru saja membeli HP dengan metode tukar tambah di Tokopedia, bagaimana pengalamannya?
Secara singkat, menyenangkan!
Terakhir kali membeli HP secara tukar tambah itu kira-kira sewaktu masih kuliah S1, metode tukar tambah saat itu sudah jamak dilakukan bagi orang-orang seperti saya yang pengen bisa ganti HP tapi budgetnya tipis. Jadilah setiap kali beli HP, saya selalu merawat HP, menjaga kemulusannya, sampai menyimpan box dan asesorisnya supaya ketika nanti saatnya tukar tambah, nilainya tidak terlalu jatuh. Kebiasaan ini masih saya lakukan sampai sekarang.
Nah, karena harga HP sudah semakin terjangkau, metode tukar tambah HP sepertinya mulai ditinggalkan. Akibatnya jumlah HP bekas semakin menumpuk dan kalaupun mau dijual, bisa jadi cuma habis di waktu dan parkir aja.
Sebetulnya saya sudah sering lihat label “Tukar Tambah” di aplikasi Tokopedia, hanya waktu itu belum tertarik untuk mencobanya. Kebetulan karena sudah waktunya untuk ganti HP dan kebetulan Xiaomi baru meluncurkan produk barunya, kenapa nggak mencoba tukar tambah saja?
Oke, proses tukar tambah di sini tidak memerlukan kontak fisik atau tatap muka, karena semuanya dilakukan melalui aplikasi Tokopedia. Kita hanya diminta menginstall aplikasi Tokopedia versi terbaru, login, dan mengikuti semua urutannya. Nanti aplikasi akan melakukan pengujian dan memberikan harga taksir untuk HP kita. Kemarin itu HP Oppo F9 saya dihargai 850.000.
Jika saya setuju, maka proses tukar tambah akan dilanjutkan dengan mengurangi total harga dengan nilai taksir HP dan juga menentukan lokasi penukarannya.
Karena saya tinggal di Jogja, maka saya mencoba untuk menggunakan Indomaret sebagai lokasi penukaran. Kebetulan rumah saya dekat dengan salah satu Indomaret di Jalan Wates, jadilah saya pilih Indomaret itu dilanjutkan melakukan pembayaran, kemudian menunggu hingga HP diproses oleh penjual dan dikirimkan oleh ekspedisi.
Saya perlu menunggu 4 hari untuk mendapatkan kabar bahwa HP telah tiba di Indomaret, begitu email notifikasi dan informasi di Tokopedia sudah menyebutkan bahwa saya diminta untuk menukar HP, langkah selanjutnya adalah melakukan format ulang HP dan segera menuju ke Indomaret. Sebagai catatan, cukup bawa HP saja, istilahnya HP batangan saja.
Sesampai di Indomaret, saya bilang ke mbak kasir dengan keyword “Tukar Paket Tokopedia”. Mbaknya langsung paham dan meminta nomor IMEI HP saya. Mbak kasir kemudian melakukan validasi data IMEI ke sistem dan memberikan paket yang berisi HP Xiaomi tanpa ribet, bahkan ditawari dikasih plastik nggak? Hahahah..
Kesimpulannya, program tukar tambah HP di Tokopedia ini keren banget!
Melanjutkan tulisan saya sebelumnya di Bersepeda Untuk Pemula, saya akan membahas peralatan yang sebaiknya dimiliki untuk bersepeda. Apabila Anda berniat untuk menggunakan sepeda sebagai alat olahraga, maka sebaiknya mempertimbangkan untuk memiliki alat ini.
Namanya cyclometer.
Sebelum saya menggunakan alat ini, saya merasa teknik bersepeda saya sudah benar. Oh iya, sebagai informasi saya menggunakan sepeda lipat Polygon Urbano 3.0 untuk bersepeda, bukan roadbike yang keren itu ya.
Oke, meskipun saya pengguna sepeda lipat, tapi tentunya juga ingin mendapatkan manfaat berolahraga, tidak hanya dijadikan ajang pamer kekinian saja hahaha. Nah, saat awal-awal bersepeda itu rasanya ya biasa saja, asal gowes menyusuri jalan di sekitar rumah, atau gowes agak jauh sampai Titik Nol Kilometer Jogja.
Namun, di sepanjang jalan itu saya merasa kok dari tadi disalip oleh pesepeda lain ya? Padahal mereka sama-sama naik sepeda lipat juga. Berarti ada yang salah dengan cara bersepeda saya, apalagi keringat yang keluar lebih disebabkan karena kepanasan saja, bukan karena efek berolahraga. Artinya, ada yang salah dengan cara gowes saya.
Saya perlu alat untuk mengukur pergerakan gowes saya.
Hasil dari browsing, saya mendapatkan beberapa alternatif yang terbagi menjadi dua kubu. Pertama, golongan pengguna cyclometer yang ditempel di sepeda. Kedua, golongan pengguna aplikasi yang diinstall di smartphone. Masing-masing memiliki plus-minus.
Saya pikir, kenapa nggak pakai keduanya saja? Toh masing-masing saling melengkapi.
Jadilah saya kemudian membeli cyclometer merk Bryton Rider 310 yang kemudian datanya saya unggah ke Strava. Saya mendapatkan data dengan laporan analisis yang lebih bagus, sebab Bryton ini memiliki perangkat GPS bawaan sehingga data yang saya dapatkan lebih akurat dibandingkan hanya menggunakan Strava yang diinstall di smartphone. Data dari Bryton ini tetap saya unggah ke Strava supaya bisa pamer ke komunitas hahaha.
Btw, laporan analisis yang didapatkan dari aplikasi bawaan Bryton, jauh lebih lengkap dibandingkan dengan data yang didapatkan di Strava versi gratisan. Apalagi jika menambah sensor tambahan seperti cadence dan heart rate yang akan saya bahas di tulisan selanjutnya.
Berkat menggunakan Bryton Rider 310 ini, saya jadi bisa mengukur cara bersepeda saya, juga menjawab pertanyaan kenapa kok kemarin sering disalip sama pesepeda lain, yang ternyata memang belum menggunakan sepeda sebagai alat olahraga, namun baru jadi alat pamer saja.
Tambahan: Bryton Rider 310 ini sudah tidak diproduksi lagi, sebagai gantinya bisa menggunakan Bryton Rider 420. Saya cek banyak dijual di berbagai marketplace, misalnya di sini.
Jika suatu hari di masa depan saya membaca postingan ini lagi, maka bisa dijadikan pengingat bahwa tahun 2021 di Indonesia masih mengalami pandemi. Aturan PSBB sudah berubah menjadi PPKM dengan berbagai levelnya, yang intinya masih sama yaitu pembatasan pergerakan manusia dari suatu tempat ke tempat lain. Tujuannya jelas, yaitu mengurangi resiko penyebaran virus Covid-19 di Indonesia.
Saya ingin kembali rajin menulis, sebab di beberapa tahun terakhir tulisan saya di website ini hanya terbit setahun sekali. Akibatnya saya merasa sedikit berkarat, bahkan untuk merangkai tulisan ini, saya perlu menulis berulang-ulang dan tidak bisa mengalir seperti dulu. Mungkin karena saya jadi lebih suka berinteraksi di media sosial ya?
Pada bulan Agustus 2021 ini, saya juga memutuskan untuk resign dari kantor. Alasan untuk pindah, saya rasa akan sama dengan alasan jutaan karyawan lain di luar sana yang ingin mendapatkan pendapatan yang lebih baik. Saya sangat bersyukur masih ada pekerjaan untuk saya dan masih ada perusahaan yang percaya dengan saya.
Tinggal di Jogja adalah sebuah berkah, saya bisa tinggal di rumah yang layak, lingkungan yang baik, dan kota yang berhati nyaman.
Oke, sementara cukup di sini dulu, sebelum nanti tulisan saya menjadi semakin tidak terarah. Sampai jumpa lagi.
Ceritanya, saya baru saja mengurus perpanjangan STNK tahunan motor Mio yang saya bawa dari Semarang. Berhubung saya tinggal di Jogja, maka proses perpanjangan STNK ini menjadi berbeda, sebab karena berbeda wilayah, prosesnya tidak bisa dilakukan di area Polda DIY.
Nah, ditambah dengan masa PSBB ini yang menyebabkan saya malas untuk bepergian keluar kota, jadilah STNK motor saya sudah expired sejak beberapa bulan yang lalu.
Sebetulnya saya sudah pernah menginstall aplikasi SAKPOLE e-SAMSAT Jawa Tengah, namun saat itu prosesnya saya anggap terlalu ribet. Sebab meskipun sudah membayar secara online, saya tetap diwajibkan datang ke kantor SAMSAT untuk melakuka validasi/pengesahan, nah lokasi kantor terdekat adalah di Magelang.
Tapi sekarang sudah tidak lagi.
Ternyata, di aplikasi SAKPOLE ada menu baru, yaitu e-Pengesahan.
Saya tinggal melakukan upload data seperti KTP, STNK, dan beberapa foto dari kendaraan langsung melalui aplikasinya, kemudian menunggu 2 hari (kebetulan saya prosesnya hari Minggu). Selanjutnya saya mendapatkan notifikasi dari aplikasi bahwa pengajuan e-pengesahan saya diterima dan bisa melakukan download bukti e-pengesahan tersebut.
Ternyata, yang saya dapatkan adalah STNK.
Ya! STNK yang selama ini kita pegang itu ternyata bisa didownload dan dicetak, kemudian sudah berlaku selayaknya STNK pada umumnya. Perbedaannya adalah ukurannya sedikit lebih besar, sehigga tidak bisa menggunakan plastik STNK yang lama, namun bisa datang ke tukang fotokopian untuk minta dilaminating.
Oh iya, selain itu saya juga mendapatkan lembar QRCode yang perlu ditempel pada kendaraan, gunanya untuk keperluan Pak Polisi melakukan indentifikasi. Nanti QRCode itu akan discan oleh beliau untuk mengetahui apakah sudah membayar pajak atau belum.
Good Job Polda Jawa Tengah dan Bapenda Jawa Tengah.
Melanjutkan tulisan sebelumnya, sekarang saya sudah terbiasa bersepeda dengan jarak 10 km ditempuh dalam waktu 30 menit. Namun sebelum saya sampai pada pencapaian pribadi ini, saya memerlukan waktu 3 bulan untuk penyesuaian diri dan persiapan.
Sebetulnya tips yang lebih detil, bisa dibaca di artikel SehatQ.com ini, kebetulan di website SehatQ.com ini terdapat bermacam-macam artikel kesehatan yang cukup berguna bagi siapapun yang ingin mulai berolahraga.
Oke, apa saja persiapa yang saya lakukan?
Pertama, menyesuaikan dengan sadel sepeda. Sungguh betapa menyakitkan pada saat pertama kali gowes dalam jarak 2 km. Pantat terasa panas dan pedih karena belum terbiasa duduk di sadel sepeda yang kecil dan keras itu.
Saya sudah membeli sadel baru yang lebih lebar dan menggunakan celana khusus sepeda dengan harapan bisa mengurangi rasa sakitnya, namun jujur saja itu tidak banyak membantu.
Lalu bagaimana? Tahan saja kepedihan itu, fokus dengan tujuan bersepeda. Ternyata lama-kelamaan rasa sakitnya berkurang dan sudah nyaman untuk gowes 10 km tanpa rasa pedih. Bahkan sekarang sadel saya kembalikan ke bawaan pabrik karena saya rasa malah lebih pas digunakan.
Kedua, atur rotasi kayuhan (cadence). Pada minggu-minggu awal gowes, saya bersepeda santai saja. Alhasil, saya tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari bersepeda. Setelah membaca dan menonton YouTube bagaimana bersepeda yang baik, ternyata saya harus mulai mengatur cadence saya.
Jadi, saya membeli sensor cadence untuk ditempelkan di crank-arm kemudian nantinya data akan dibaca oleh cyclometer. Kapan-kapan saya bahas mengenai perangkat saya ini ya.
Untuk pertama, tahan cadence di angka 60 rpm, artinya 1 rotasi per detik. Lakukan ini secara konstan, lokasinya bisa dimanapun. Saya biasanya di komplek perumahan karena kebetulan medannya cocok untuk bersepeda.
Menjaga cadence di 60 rpm ini juga bisa untuk melatih teknik shifting. Jadi ketika angka cadence sudah melebihi 60 rpm, maka saatnya shifting ke gear yang lebih rendah, begitu juga sebaliknya. Dengan begitu gowes akan semakin efisien dan bisa melalap berbagai medan.
Selanjutnya, apabila sudah terbiasa dengan cadence 60 rpm, bisa secara perlahan meningkatkan ke 65, 70, 75, 80, dan seterusnya. Sebagai informasi, pengguna roadbike rata-rata terbiasa dengan cadence 100 rpm.
Jadi kalau mau bisa ngebut, tingkatkan cadence saja.
Ketiga, menjaga heart rate. Bersepeda memang menyenangkan, namun bagi yang belum terbiasa bisa berbahaya jika terlalu memaksakan diri. Sudah banyak cerita pesepeda jatuh sakit atau bahkan meninggal dunia akibat bersepeda.
Sebetulnya, bukan masalah sepeda atau rutenya. Tapi biasanya, lebih dikarenakan kurang bisa mengukur diri sendiri, cepat panas terbawa emosi, dan takut ditinggal. Padahal selama sudah tau rutenya, maka nikmati saja gowesnya, toh kita ini tidak nyari medali.
Nah, cara terbaik untuk mengukur diri adalah menggunakan sensor heart rate. Saya juga menggunakan sensor ini yang ditempel di dada dan datanya terhubung di cyclometer, kapan-kapan saya bahas juga tentang sensor ini.
Kebetulan di cyclometer yang saya gunakan bisa mengatur profil berdasarkan umur dan berat badan, sehingga ada patokan berapa maksimal heart-rate yang harus dijaga. Jadi, saya tinggal memantau saja, apabila hampir mencapai 100%, maka artinya saya terlalu berlebihan, dan saatnya untuk minum dan mengurangi kecepatan.
Oke, saya rasa cukup tiga tips dari saya untuk bisa memulai bersepeda dengan lebih terukur dan aman. Artikel selanjutnya, saya akan membahas sensor-sensor yang tadi saya sebutkan yes.
Ceritanya sudah beberapa tahun terakhir ini berat badan saya meningkat dengan pesat, akibatnya beberapa aktivitas yang dulu mudah saya lakukan, sekarang terasa berat hahaha.. Mungkin untuk kawan lama saya di jaman kuliah S1 akan pangling kalau ketemu saya, soalnya beda banget antara dulu dengan sekarang.
Nah, saya sudah beberapa kali mencari artikel untuk menurunkan berat badan dengan mudah, tapi tidak ada yang instan. Jadi saya tidak tertarik untuk mencoba obat-obatan untuk menurunkan berat badan, lebih baik saya membaca artikel kesehatan untuk menurunkan berat badan, salah satunya di bidanku.
Salah satu poin di artikel tersebut adalah olahraga. Iya, sampai 3 tahun yang lalu saya sudah lama tidak berolahraga. Apalagi itu adalah tahun pertama saya menikah, sudah bisa dipastikan berat badan naik tidak terkontrol hahaha.
Olahraga pertama yang saya coba adalah berlari. Sudah beli sepatu khusus lari beserta kaus kakinya. Nah, yang saya lupakan adalah karena kaki sudah lama tidak digunakan bekerja berat, saat dipaksa untuk berlari, sudah pasti lutut saya nyeri. Ini gabungan antara berat badan dan kondisi kaki yang tidak ideal.
Oke, saya stop.
Untungnya saat mudik ke Semarang, saya kopdar dengan Loenpia.Net, disitu Mizan membawa sepeda lipatnya. Sejak hari itu, saya langsung berburu sepeda, terutama sepeda lipat.
Saya mempelajari semua istilah dan komponennya, hingga akhirnya saya membeli sepeda lipat Polygon Urbano 3 sebagai sepeda pertama saya. Meskipun kepayahan saat pertama kali gowes, namun tidak terasa hampir 2 tahun saya gowes dan hasilnya berat badan saya mulai turun, namun badan saya bertambah bugar.
Berikut ini adalah grafik terbaru sebelum Lebaran 2020 yang menunjukkan berat badan saya turun cukup signifikan. Horeee..
Ceritanya awal Maret 2020 lalu, mobil saya disundul dari belakang oleh pengendara motor saat sedang berhenti di lampu merah pertigaan ringroad Jalan Wates. Karena kondisi macet, si mas-mas penabrak itu bisa kabur dan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya.
Kesel? Pastinya…
Sesampai di rumah, saya cek kondisi mobil, ternyata sukses bikin bemper belakang pecah kecil. Sebetulnya tidak terlalu terlihat, bahkan istri saya juga bilang untuk dibiarkan saja, toh tidak akan yang menyadari. Hanya saja terasa sayang saja, karena kondisinya sudah tidak sempurna hahaha.
Kebetulan saya sempat beli asuransi mobil di Traveloka sehari setelah mobil diantar ke rumah. Jadilah saya coba mengurus proses klaim ini secara virtual.
Ternyata, sangat mudah!
Pertama, saya perlu menginstall aplikasi Autocillin di smartphone, kemudian mengisikan profil beserta nomor polis yang dimiliki. Selanjutnya foto beberapa bagian mobil, terutama bagian yang mengalami kerusakan. Setelah itu tinggal kirim saja klaimnya melalui aplikasi dan tunggu proses berikutnya.
Besok paginya, saya dikontak oleh Mas Anton, petugas dari Autocillin untuk melakukan verifikasi klaim saya. Cepat juga ternyata responnya, ini sangat bagus!
Mas Anton ini sangat membantu saya dan bersedia untuk dihubungi kapan saja jika membutuhkan bantuan. Saya dihubungkan oleh Mas Anton ke bengkel yang akan menangani kerusakan mobil, yaitu bengkel GT Auto Jogja.
Berhubung saya menggunakan mobil merk Suzuki, yang ternyata tidak memiliki bengkel resmi khusus asuransi di Jogja, maka saya bersedia untuk memasukkan mobil ke GT Auto. Sebetulnya Mas Anton sudah menyarankan untuk membawa ke bengkel resmi Suzuki di Semarang, namun karena kendala waktu, akhirnya saya setujui untuk diperbaiki di bengkel GT Auto.
Esok harinya, saya sudah berkontak dengan GT Auto mengenai klaim perbaikan mobil. Awalnya saya diminta datang membawa mobil untuk cek fisik dan administrasi. Saya bilang, saya sudah melakukannya via aplikasi. Ternyata data aplikasi belum tersinkronisasi dengan sistem bengkel, jadinya saya cukup diminta mengirimkan foto-foto yang sudah saya kirimkan via aplikasi.
Sore harinya GT Auto mengabari proses klaim sudah diterima, dan akan memesankan sparepart yang saya perlukan. Wow, cepat sekali prosesnya dan saya tidak perlu membawa mobil saya ke bengkel. GT Auto memberi ancang-ancang 1 minggu untuk proses pemesanan, jadi saya masih bisa menggunakan mobil untuk keperluan sehari-hari.
Benar saja, seminggu kemudian GT Auto mengabari bahwa sparepart sudah datang, namun malah saya yang belum selo untuk mengirim mobil ke bengkel. Jadinya malah saya yang minta penundaan waktu dan disepakati hari Kamis, 19 Maret 2020.
Hari Kamis pagi saya bawa ke bengkel, langsung diterima oleh petugas. Selanjutnya proses serah terima dan pengecekan awal, kemudian saya diberi dokumen tanda terima. Dijanjikan hari Senin bisa diambil mobilnya, alasannya standar perbaikan adalah 3 hari. Oke, tidak masalah.
Sore harinya, saya dikontak oleh bengkel bahwa sparepart sudah dipasang dan besok bisa diambil! Wooww.. cepat sekali! Besok paginya saya datang ke bengkel, cek mobil, mengurus dokumen serah terima, membayar biaya 300.000, kemudian mobil boleh dibawa pulang.
Kesimpulan saya, berhati-hati di jalan raya itu penting, tapi terkadang orang lainlah yang kurang berhati-hati. Lindungi kendaraan Anda dengan asuransi supaya apabila ada kejadian, tidak perlu marah-marah dan malah menambah masalah. Memang sih saya perlu membayar 300.000 untuk proses klaim ini, namun ini lebih baik daripada saya membayar sendiri untuk pembelian sparepart beserta ongkos jasa bengkelnya.