Author: Mohammad Sani Suprayogi

  • Stop Curhat ke AI

    Beberapa kali saya mendapatkan cerita tentang serunya ngobrol dengan AI. Sekarang ini AI seperti ChatGPT dan Gemini sedang berada di masa jayanya, dimana kemampuan berpikirnya sudah berkembang eksponensial.

    Saya sendiri sering berdiskusi dengan Gemini terkait dengan pekerjaan dan kegiatan sehari-hari. Kenapa Gemini? Selain karena merupakan tools resmi dari kantor, saya juga pengguna Gmail.

    Tapi yang perlu dicatat adalah, AI tidak punya empati. Mereka merespon pertanyaan kita dengan statistik. Jawabannya kemudian dibungkus dengan persona yang sudah diatur sesuai dengan keinginan kita.

    Jika kita ngobrol dengan topik pekerjaan dan/atau daily task, maka itu saat cocok. Sebab AI punya kemampuan untuk memberikan solusi yang logis dan efisien untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan tersebut.

    Catat, “logis dan efisien”.

    Apa yang terjadi kalau kita mencoba curhat yang membawa perasaan ke AI? Maka dia tetap meresponnya dengan cara yang sama, logis dan efisien.

    Tidak heran (secara default) kita akan lebih sering mendapatkan validasi dan mendapatkan respon yang kita inginkan. Sekali lagi, karena ini faktor statistik supaya hasilnya logis dan efisien.

    Untuk membuktikannya, coba ajak ngobrol satu topik saja yang cukup personal, gunakan akun berbeda jika concern dengan privasi. Beberapa hari kemudian, revisit dan baca pelan-pelan respon yang kemarin diberikan.

    Saya tidak punya background psikologi, tapi saya merasa jika saya berada di kondisi yang sesungguhnya, maka semua jawaban dari AI pada saat itu akan terasa benar dan semua yang ada di pikiranku itu valid. Kemudian jika kondisi sudah tenang, beberapa hari kemudian jawabannya jadi terasa aneh.

    Stop curhat dengan AI, perlakukan AI seperti kolega di kantor yang cocok untuk ngobrolin tentang kerjaan, tapi bukan untuk ngomongin hal personal ataupun atasan.

  • Melampaui Quitter’s Day 2026

    Saya baru tau ada istilah Quitter’s Day, dimana ini adalah hari di mana orang-orang secara statistik paling mungkin menyerah pada resolusi Tahun Baru mereka.

    Secara umum, Quitter’s Day jatuh pada Jumat kedua di bulan Januari. Jadi jika Anda sudah berhasil tetap konsisten lebih dari tanggal 9 Januari 2026, maka selamat Anda sudah melampaui Quitter’s Day 2026.

    Asal-usul istilah ini ternyata berasal dari Strava, dimana mereka menganalisis lebih dari 800 juta aktivitas pengguna dan menemukan pola penurunan aktivitas yang tajam pada pertengahan Januari. Kemudian berdasarkan data tersebut, sekitar 80% orang diprediksi akan meninggalkan resolusi mereka sebelum bulan Januari berakhir wkwkwk.

    Alasan kenapa ini bisa terjadi, paling sering karena 3 penyebab ini.

    1. Target terlalu ambisius.
    2. Sudah kembali ke rutinitas.
    3. Sendirian atau tidak ada support system.

    Jadi, bagaimana kabar resolusi 2026? Masih aman kan?

  • Seandainya Access By KAI Lebih Optimal

    Saya adalah pengguna setia layanan KAI, terutama untuk 10 tahun terakhir ya. Sudah pernah coba naik kelas Ekonomi hingga Luxury, pesan tiketnya mulai dari antri di loket sampai pakai aplikasi, bahkan saya juga mengurus kelas reduksi dengan memanfaatkan status alumni UGM.

    Saya apresiasi dengan aplikasi Access By KAI yang sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan KAI Access, dengar-dengar kali ini sudah inhouse development ya? Mudah-mudahan selalu menerapkan Agile dan mau mendengarkan feedback.

    Pertama, jika mau pesan tiket eksekutif (biasanya belinya Taksaka), saya selalu notice ada beberapa seat yang seakan-akan sudah dipesan. Biasanya ada di posisi baris nomor 7 (A/B/C/D) di masing-masing kereta. Jadi seat itu selalu terisi.

    Tapi sebetulnya tidak.

    Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali saya temui ini. Terakhir di perjalanan tadi pagi yang ketika pesan itu seharusnya di seat tersebut terisi. Tapi mulai dari kereta berangkat sampai di tujuan, bangku itu tetap kosong.

    Mungkin memang pesanannya dibatalkan sama yang beli, tapi jika tidak maka sayang sekali jika kursinya tidak terjual.

    Kedua, terkait pemesanan makanan. Sudah beberapa bulan terakhir ini aplikasi pemesannya tidak bekerja seperti biasanya. Saya biasa memesan makanan lewat aplikasi saja, karena saya tidak mau lagi meninggalkan barang untuk jalan ke restorasi semenjak kasus kehilangan Macbook beberapa tahun yang lalu.

    Seandainya Access By KAI Lebih Optimal

    Sayangnya, aplikasinya selalu menampilkan seperti itu meskipun kereta sudah berjalan. Apalagi jika melihat jamnya (10:25) itu menunjukkan bahwa keretanya (Taksaka pagi) sudah berjalan.

    Masih terkait pemesanan makanan, tidak semua menu bisa dibayar pakai pembayaran QRIS. Terakhir ketika membeli teh panas itu pembayarannya harus cash, sedangkan pembelian yang lain bisa pakai QRIS.

    Aneh aja sih, kenapa harus ada perbedaan metode pembayaran.

    Saya tidak masalah bayar pakai cash, tapi pastikan ada kembaliannya dong wkwkwk.

  • Perpanjangan SIM Online Semakin Cepat

    Beberapa hari yang lalu saya menemani untuk proses perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) di lokasi SIM Keliling Banyumanik Semarang. Saya penasaran dengan proses perpanjangan disana karena sebelumnya saya melakukan perpanjangan SIM di Polres Jakarta Selatan.

    Kenapa penasaran? Karena saya ingin tau apakah penerapan SIM Online ini sudah merata ke berbagai daerah atau belum. Kalau pengalaman saya kemarin dengan KTP Bantul bisa melakukan perpanjangan di Jakarta, nah sekarang pengen tau apakah di Semarang bisa melakukan hal yang sama.

    Kami datang ke lokasi sekitar pukul 8.30, disana sudah banyak antrian pengajuan perpanjangan SIM. Kami memilih lokasi ini karena menurut keyakinan saya disinlah satu-satunya tempat yang tidak memerlukan syarat fotokopi, karena semuanya sudah diproses sekalian dengan pendaftaran, cukup bayar 2000 rupiah per pengajuan. Kemarin karena mengajukan perpanjangan SIM A dan C, maka cukup bayar 4000. Kalau di Polres Jakarta Selatan, saya perlu fotokopi sendiri di luar jadi tidak perlu bayar lagi, cukup ke tukang fotokopinya aja.

    Saya lihat di Semarang proses tes psikologi sangat simpel, karena cuma dikasih kertas, buku, dan pulpen untuk menjawab pertanyaan tes. Kalau di Jakarta kemarin harus pakai aplikasi di HP. Jumlah soalnya juga lebih sedikit, nggak sampai 100 soal seperti di Jakarta.

    Tes kesehatan juga lebih simpel, cuma dites tensi dan buta warna. Saya nggak tau sih apakah seseorang yang sudah pernah lolos tes buta warna tiba-tiba jadi buta warna 5 tahun kemudian, anyway tes tetaplah tes. Tapi bedanya di Semarang tidak ada tes jarak mata seperti di Jakarta. Mungkin dianggap tensi dan buta warna lebih penting dibandingkan kemampuan melihat jauh dan dekat ya?

    Nah, yang paling unik adalah saat bagian perekaman. Kenapa unik? karena di Semarang itu tidak melakukan perekaman sidik jari, sebab sidik jarinya menggunakan punya petugas perekamnya. Jadi semua SIM hari itu sidik jarinya sama semua wkwkwk

    Berbeda di Jakarta, SIM saya menggunakan sidik jari saya dan orang lain, karena saat pencetakan itu datanya sempat tertukar dan tidak bisa dicetak ulang. Alhasil salah satu SIM saya itu kalau dicek di sistem, sidik jarinya berbeda wkwkwk

    Kesimpulannya, sistem SIM Online benar-benar berjalan dan semakin cepat. Semarang lebih cepat karena tidak perlu melakukan perekaman sidik jari sebab sudah diwakilkan oleh petugas perekamnya.

    Good luck buat tim data dan forensik ya

  • Pantangan Makanan Bukan Solusi

    Disclaimer, ini hanya untuk sobat jompo yang memiliki penyakit asam urat dan hipertensi fase awal saja ya.

    Sebelum saya menjadi Jakartans, saya bekerja secara remote selama 10+ tahun dengan tinggal di Jogja. Aktivitas harian saya hanya bekerja di kamar dan sesekali menemani istri belanja ke Superindo. Meskipun saya tinggal di Jogja, saya jarang keluar nongkrong seperti turis yang datang ke Jogja.

    Terasa menyenangkan ya? Tinggal di Jogja yang tenang, asri, murah, tapi gaji bukan UMR Jogja.

    Benar! Alhamdulillah.

    Tapi tetap saja ya, semua itu bakalan ada side effect yang datang, sebab itulah prinsip alam semesta bekerja.

    Kalau di saya, efeknya adalah di penyakit. Karena kurang bergerak, nggak pernah kena sinar matahari, seringnya malah sinar UV dari monitor dan HP, radiasi monitor, frekuensi WiFI (halah), makan semaunya, dan yang paling penting: kurang gerak.

    Hasilnya, sendi jari kaki saya sering sakit ketika makan makanan tertentu, sakitnya nyeriiii sekali, ternyata itu adalah asam urat.

    Kemudian juga pas periksa ke dokter itu juga baru ketahuan kalau saya punya hipertensi. Padahal saya ingat ketika masih sekolah itu saya hipotensi. Sepertinya efek antara punya/tidak punya uang itu mempengaruhi peningkatan tensi di badan ya.

    Sayangnya yang saya lakukan waktu itu adalah dengan melakukan pantangan makan. Tidak bisa lagi makan daging merah, seafood dan kacang-kacangan lagi karena semua itu membuat kadar asam urat dan hipertensi terus meningkat.

    Apakah kemudian sembuh? Tidak sama sekali. Yang ada saya malah terlalu mengandalkan obat pain killer yang bisa saya minum kapanpun rasa sakitnya muncul.

    Sekarang, setelah saya ngegym, Alhamdulillah semua penyakit itu mulai pergi, makan juga tidak dibatasi lagi.

  • Apa Manfaat Nge-Gym?

    Singkatnya, saya jadi lebih tabah.

    Oke, jadi awalnya ada kawan yang bertanya berapa lama manfaat nge-gym mulai bisa dirasakan? Ini pertanyaan yang sulit karena setiap orang punya alasan dan tujuannya masing-masing ketika berangkat latihan.

    Karena saya tau kawan saya itu belum ada rencana latihan dalam waktu dekat, jadi saya jawab dengan resiko pertama akibat nge-gym dulu. Yaitu akan merasakan DOMS.

    DOMS adalah rasa nyeri, kaku, atau pegal pada otot yang muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah melakukan aktivitas fisik yang intens atau tidak biasa. Biasanya mulai terasa 12–24 jam setelah olahraga dan mencapai puncaknya pada 24–72 jam.

    Jadi kalau menu hari itu adalah Leg Day, maka otomatis kaki akan merasakan DOMS. Jika Chest Day maka dada akan merasakan DOMS. Begitu seterusnya tergantung menu dan target latihannya.

    Saya melanjutkan cerita, yang saya rasakan di 2 bulan pertama adalah berkutat di DOMS dan rasa menyerah. Saya latihan seminggu 3 kali, maka otomatis selama seminggu saya akan merasakan DOMS selama 3 kali dengan posisi yang berpindah-pindah, rasanya pengen udahan.

    Menginjak bulan ke 3-6 rasa menyerah sudah mulai hilang karena badan mulai enakan, tidur mulai nyenyak, sakit-sakit ala om-om (asam urat, leher kencang, dll) mulai hilang, dan badan mulai sedikit ada perubahan. DOMS? masih adaaa..

    Nah, baru setelah lebih dari 6 bulan semuanya akan lebih ringan.

    Dia tanya, DOMS hilang?

    Saya jawab, ya masih.. tapi sudah terbiasa..

    Saya semakin tabah.

  • Menggunakan Cruise Control Mobil di Tol

    Awal tahun ini saya mengambil jatah cuti tahunan selama 2 hari yang saya gunakan untuk mudik ke Jogja dan Semarang. Selama cuti itu kami lebih banyak menyetir untuk pergi ke berbagai tempat tujuan, sekalian nyobain akses pintu tol baru di daerah Prambanan, Yogyakarta.

    Satu hal yang paling saya sukai ketika menyetir di jalan tol adalah menikmati perjalanan dengan memaksimalkan fitur di mobil, yaitu Cruise Control.

    Cruise Control adalah fitur elektronik pada mobil yang memungkinkan kendaraan mempertahankan kecepatan secara otomatis tanpa pengemudi perlu menginjak pedal gas secara terus-menerus.

    Salah satu alasan kenapa kami memilih mobil ini adalah adanya fitur Cruise Control. Meskipun belum yang versi Adaptive, tapi itu sudah cukup untuk bikin kami (tepatnya saya) untuk mau menyetir. Fyi, istri saya jauh lebih bisa diandalkan untuk urusan menyetir. Saya hanya suka nyetir jika terpaksa, jalanan sepi, lebar, atau parkirnya vallet.

    Oke, gimana cara pakai Cruise Control ini? Secara umum apapun merk mobilnya caranya akan selalu sama.

    Pertama adalah fase Aktivasi: Biasanya fitur ini dapat diaktifkan pada kecepatan minimal 40 km/jam hingga 60 km/jam.

    • Tombol Kontrol: Umumnya terletak di setir dengan fungsi:
      • On/Off: Mengaktifkan/mematikan sistem.
      • SET: Mengunci kecepatan saat itu.
      • RES +: Menambah kecepatan (biasanya naik 1 mph per tekan).
      • SET -: Mengurangi kecepatan.
      • CANCEL: Membatalkan sistem sementara tanpa mematikan fitur sepenuhnya.

    Saya biasa mengaktifkan fitur ini di kecepatan 60 km/jam, pencet tombol SET, lalu naikkan ke angka kecepatan yang diinginkan, misalnya ke 80 atau 90 km/jam. Pada saat melakukan ini saya sudah nggak tekan pedal gas, jadi kecepatan mobil akan otomatis naik sendiri ke angka yang sudah diatur.

    Hati-hati, jika model Cruise Control masih sama seperti mobil saya, maka pastikan kondisi jalan sedang sepi, sebab versi standar tidak bisa otomatis ngerem ketika di depannya ada kendaraan atau objek lain.

    Jika pengen otomatis bisa ngerem, maka pastikan mobilnya menggunakan versi Adaptive Cruise Control. Nah, kalau ini bakalan sangat nyaman karena kecepatan mobilnya bisa mengatur secara mandiri dan otomatis.

    Oke, kenapa fitur ini sebaiknya diaktifkan di jalan tol? Karena menurut saya, jika semua kendaraan melaju dengan kecepatan yang sama, maka lalu lintas akan lebih lancar.

    Sebetulnya semua kemacetan itu terjadi karena ada dua hal.

    Pertama pengendara yang sok ngebut, menyalip kendaraan lain sehingga kendaraan yang disalip melambat kemudian menciptakan efek domino ke puluhan kilometer ke belakang.

    Kedua, pengendara yang terlalu santai, mengakibatkan ada pergerakan zig-zag ketika menyalip sehingga ada kendaraan lain yang harus melambat memberikan jalan atau menyesuaikan diri, dan mengakibatkan efek domino ke puluhan kilometer ke belakang.

    Ini tidak mengada-ada kok, ada percobaannya juga untuk membuktikan teorinya. Intinya, jika ingin lalu lintas lancar maka sebaiknya semua kendaraan berjalan di kecepatan yang sama.

    Nah, konsep ini lebih mungkin dilakukan di jalan tol dibandingkan di jalan biasa, yaitu dengan mewajibkan semua kendaraan kecil (bukan truk ya) untuk mengaktifkan fitur Cruise Control dan diatur ke kecepatan sesuai aturan ruas tol. Jadi tulisan batas kecepatan minimal dan maksimal itu benar-benar dipatuhi secara programmatic, bukan pakai prinsip kira-kira.

  • Deactivate Akun TikTok

    Masih lanjutan dari rencana Detoks Social Media, ternyata saya ingin lebih mengurangi terpaan konten short video supaya aktivitas berselancar di Internet semakin nyaman.

    Selama ini konsumsi short video saya berasal dari TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. TikTok sendiri sudah saya install semenjak jaman Covid, dimana waktu itu dia yang mengenalkan pada saya konten dengan tipe vertikal dan video pendek.

    Semuanya terasa seru waktu itu, kontennya masih orisinal, tidak ada efek-efek berlebihan, kualitas kontennya masih seadanya tapi sesuai realita. Terutama, belum ada iklan dan jualan.

    Semuanya berubah ketika ByteDance (perusahaan induk TikTok) melakukan akuisisi mengejutkan, yaitu mencaplok Tokopedia dan kemudian membuangnya kembali. Sekarang TikTok tidak sama dengan yang dulu saya kenal.

    Fiturnya memang semakin beragam, tapi berisik. Tidak ada bedanya lagi antara TikTok dengan Shopee. Isinya jualan semua.

    Karena itulah saya mulai beralih ke Instagram Reels dan YouTube Shorts yang masih (agak) tidak tercemar dengan promosi, iklan, dan jualan.

    Setelah bertahan beberapa lama akhirnya sudah saatnya saya melepaskan dari TikTok. Terima kasih sudah menemani selama Covid era, sampai jumpa lagi.

  • Kesenian Menyeduh Kopi

    Sebagai penyeduh kopi amatir rumahan yang baru sebulan berjalan, saya menyatakan bahwa kegiatan menyeduh kopi merupakan suatu kesenian yang hanya bisa dinikmati oleh orang yang sama-sama menyukainya.

    Kita nggak bisa bilang bahwa ada teknik menyeduh kopi paling ultimate, sebab ini adalah kesenian.

    Benar, siapapun bisa menyeduh kopi sendiri. Cukup dibekali dengan kemauan, kemampuan, dan kesabaran maka sudah punya modal untuk menikmati kopi buatan sendiri yang paling enak.

    Tapi akan sangat berbeda jika mau membuatkan orang lain, karena kembali ke selera.

    Seperti halnya ketika suka aliran musik, genre film, gaya bahasa sebuah bacaan. Tidak serta-merta yang kita anggap bagus itu orang lain merasakan hal yang sama.

    Tadinya saya mau membagikan kumpulan resep seduhan kopi yang menurut keyakinan saya adalah resep terbaik yang pernah saya buat. Tapi, kembali ke konsep bahwa menyeduh kopi merupakan kesenian, maka saya rasa resep itu biarlah menjadi milik saya sendiri, yang setiap minggunya hampir pasti selalu direvisi.

    Jadi, saya sangat hormat kepada siapapun pelaku kesenian yang mampu menjual karyanya kepada orang lain, dan laku.