Author: Mohammad Sani Suprayogi

  • Short Video Semakin Berkuasa

    Salah satu efek domino dari konsumsi media sosial yang berlebih adalah menurunnya tingkat perhatian seseorang terhadap suatu hal. Dulu, ketika saya masih mengajar ada teori yang bilang bahwa perhatian mahasiswa itu hanya bisa bertahan sampai 40 menit saja, selebihnya mereka akan sibuk dengan pikirannya sendiri.

    Sekarang? Saya nggak yakin angka 40 menit itu masih valid. Tebakan saya sudah menurun hingga tinggal 10 menit saja.

    Mahasiswa dan/atau pelajar merupakan target market yang selalu diperhitungkan oleh ahli pemasaran, jadi fenomena ini tentunya tidak luput dari perhatian mereka.

    Lalu apa hubungannya? Ketika suatu brand melakukan promosi, maka yang dikejar itu perhatiannya dulu, jika itu sudah didapatkan maka nanti baru bisa lanjut ke tahap berikutnya.

    Berhubung perhatian orang-orang sekarang semakin singkat, maka sudah tidak bisa lagi (meskipun tidak selalu) membuat konten yang panjang. Sekarang konten-konten pendek dan tampilan vertikal lebih mendapat perhatian.

    Kebetulan, 3 platform besar Short Video (Reels, TikTok, YouTube) memang sedang saling bersaing dan berlomba-lomba mengarahkan traffic penggunanya ke konten pendek. Mungkin kalau yang pernah coba bikin video short akan lebih relate ya, bahwa untuk mendapatkan 1000 views itu jauh lebih mudah menggunakan video short yang direkam dengan kamera ponsel dan diedit ala kadarnya.

    Platform OTT lokal seperti Vidio (ehem) pun juga mulai memberikan opsi tayangan vertikal yang berisi konten Dracin (Drama Cina) yang per episode-nya sangat (bahkan terlalu) singkat dengan cerita yang mudah ditebak. Tapi justru konten-konten seperti inilah yang sekarang sedang digemari.

    Apakah betul ini karena menurunnya tingkat perhatian? Atau memang karena sudah tidak punya waktu lagi untuk bisa berlama-lama di media sosial?

  • Detoks Social Media

    Mungkin ini faktor umur, tapi akhir-akhir ini saya merasa lelah jika sedang main HP, terutama jika habis mengikuti obrolan maya di platform X ataupun Threads. Rasanya disana semua orang punya pendapat terbaik dan yang lain itu bodoh, nggak ada lagi kesenangan yang saya dapatkan ketika awal-awal main di kedua platform itu.

    Mungkin saya sudah jenuh.

    Kalau diingat lagi, sebetulnya kejenuhan ini sudah terasa ketika jaman pilpres 2014 yang banyak memicu perdebatan nggak penting, kemudian semakin bertambah di jaman Covid dimana semua orang itu kesibukannya hanya di Internet.

    Pada era itu bertemulah orang-orang lintas generasi, antara orang yang sudah lama di Internet yang punya bakat jadi troll kemudian bertemu dengan generasi yang baru melek Internet namun naif.

    Awalnya seru, tapi lama-lama memuakkan. Apalagi setelah kelihatan polanya sama semua dan semakin meyakinkan kalau itu adalah bot yang diatur untuk merespon keyword yang sudah ditentukan.

    Kenapa tau? karena pernah bikin.

    Pertengahan tahun 2025 kemudian saya mulai pindah ke Threads, disana diskusinya masih adem, suka berbagi pengalaman, belum ada iklan ataupun link Shopee. Seru sekali!

    Tapi ternyata hanya perlu waktu beberapa bulan saja isi Threads langsung berubah menjadi mirip di Twitter/X.

    Akhirnya, di awal tahun 2026 ini saya memutuskan untuk deactivate akun Twitter/X dan meninggalkan Threads.

    adios!

  • Tren Vibe Coding

    Jargon di Internet akan selalu muncul setiap tahunnya, menurut keyakinan saya (haha) jargon yang sedang populer di akhir 2025 dan awal tahun 2026 ini adalah Vibe Coding.

    Biasanya, selain Vibe Coding juga ada yang nambahin SaaS (Software as a Service).

    Apa sih itu? Kenapa?

    Ini semua berawal dari disrupsi di bidang kecerdasan buatan, yang memungkinkan orang awam bisa berkomunikasi dengan entitas yang dibangun di atas mesin canggih selayaknya berdiskusi dengan manusia. Awalnya hanya bisa merespon dengan bahasa sederhana, memahami kalimat simpel, ingatan yang pendek, dan memberikan solusi yang praktis saja.

    Tapi siapa sangka, beberapa bulan kemudian teknologinya mendisrupsi dirinya sendiri yang kemudian berubah wujud menjadikan dirinya sebagai sumber acuan dari segala pertanyaan.

    Termasuk pertanyaan tersulit di dunia, yaitu bagaimana cara membuat software.

    Kecerdasan buatan ini rasanya menjadi jawaban hampir semua orang yang pernah bercita-cita memiliki perusahaan rintisan teknologi namun terkendala biaya dan talenta. Sekarang cukup bermodalkan akses Internet saja, kita bisa meminta kecerdasan buatan ini untuk membuatkan apapun ide kita menjadi kenyataan.

    Batasnya tidak hanya langit, tapi imajinasi.

    Tren Vibe Coding

    Sayangnya, tidak semua orang itu bisa memberikan instruksi yang baik. Bahkan di kehidupan sehari-hari pun tidak banyak orang yang bisa mengutarakan pendapatnya, terbiasa untuk memendam rasa, dan memikirkan di dalam hati saja, tapi tidak pernah diucapkan.

    Akibatnya, tidak banyak orang yang bisa memberikan instruksi secara urut, terstruktur, dan memiliki konteks yang jelas. Padahal ini adalah syarat mutlak bagi kecerdasaan buatan untuk bisa menjawab pertanyaan kita.

    Akhirnya, mulai muncul keluhan bahwa model ini nggak sebagus model itu, model ini lebih bagus karena berbayar, model itu jelek karena jawabannya nggak nyambung.

    Jadilah kecerdasan buatan ini dianggap banyak kekurangan dan kesalahan, padahal kesalahan dan kekurangan itu milik manusia.

  • Bagaimana Cara Memindahkan WordPress Ke Hosting Lain

    Di postingan sebelumnya saya cerita kalau website ini (dan beberapa website lainnya) saya pindahkan dari cloud server ke shared web hosting. Bagiamana caranya? Apakah susah? Apakah ada file yang ketinggalan?

    Begini ceritanya.

    Sebelum saya bercerita lebih lanjut, saya mau disclaimer bahwa cara yang saya gunakan ini tidak 100% gratis, karena saya menggunakan bantuan plugin berbayar yang selama ini saya andalkan selama saya menjadi freelancer web developer, lisensinya sudah saya miliki sejak lama jadi tinggal pakai aja.

    Nama pluginnya adalah: Duplicator Pro

    Bagaimana Cara Memindahkan WordPress Ke Hosting Lain

    Kenapa?

    Saya sudah mencoba berbagai macam metode migrasi website, mulai dari yang manual (mindahin filenya satu-satu), pakai perintah CLI ala-ala hacker, menggunakan layanan pihak ketiga yang menawarkan layanan migrasi, sampai mencoba berbagai macam plugin premium dengan segala fiturnya.

    Menurut keyakinan saya, Duplicator Pro ini menawarkan cara yang paling sederhana. Prosesnya simpel:

    1. Install Duplicator Pro di WordPress asal
    2. Lakukan proses backup, klik next-next aja sih. Nanti akan dapat 2 file; file installer dan file backupnya.
    3. Download kedua file itu, simpan ke laptop. Jangan khawatir ini sudah dikompres sehingga ukurannya cukup kecil.
    4. Pada server tujuan, nggak perlu install WordPress dulu. Langsung upload kedua file itu ke folder web servernya. Jika pakai web hosting biasanya di folder public_html.
    5. Buat database baru, username & password, atur permissionnya juga. Kalau biasa pakai CPanel harusnya sih simpel, tinggal assign user ke DB aja. Intinya usernya bisa akses DB-nya aja. Catat semuanya ya.
    6. Pindahkan DNS Record ke IP server yang baru. Kalau sekarang sih propagasi itu cepet banget ya gaes, kalau jaman kita dulu bisa berjam-jam hahah.
    7. Akses domain, nanti tampilannya akan berupa list kedua file yang tadi diupload. Kalau belum, tunggu sampai bisa lihat filenya ya. Biasanya cepet kok setelah ganti DNS recordnya.
    8. Klik file installer.php dan ikuti prosesnya.
    9. Done

    See? simpel banget dan nggak banyak pengaturan tambahan.

    Pro-tip, pastikan sebelum dibackup itu semua plugin dimatikan dulu supaya nanti ketika pindah server baru nggak ada pesan-pesan aneh karena masalah kompatibilitas.

    Contohnya kemarin saya lupa matiin plugin Redis sedangkan di web hosting baru saya belum setup Redisnya, jadinya ada pesan aneh dan mengerikan wkwkwk..

  • Car Free Day >< Fotoyu

    Kebetulan tempat tinggal saya memiliki akses yang sangat mudah untuk mengikuti Car Free Day di Sudirman, Jakarta. Ada beberapa opsi untuk menuju kesana, biasanya sih pakai MRT, tapi terkadang saya naik sepeda.

    Iya, saya bawa sepeda dari Jogja ke Jakarta. Dibawa naik kereta dengan posisi terlipat. PT KAI memang mengizinkan penumpang untuk membawa sepeda lipa dengan ukuran roda maksimal 22″, tidak ada biaya tambahan dan izin khusus.

    Oke, biasanya setiap Minggu pagi sekita jam 5:30 saya sudah meluncur dari Kebayoran Baru menuju ke Sudirman untuk lanjut menuju ke Bundaran HI kemudian kembali lagi ke arah kosan. Biasanya perjalanan menempuh 20 km-an saja tapi cukup untuk bersepeda dengan nyaman.

    Nah, ada satu hal baru yang saya notice ketika pertama kali sepedaan, yaitu banyak fotografer yang nongkrong di pinggir jalan dan di atas jembatan penyeberangan. Mereka motretin siapapun yang lewat kemudian nantinya akan diunggah ke platform Fotoyu untuk dijual.

    Platform Fotoyu ini nanti menggunakan teknologi face recognition akan berusaha mengumpulkan foto-foto sesuai dengan wajah usernya yang sudah didaftarkan sebelumnya. Nanti user akan memilah foto-foto yang dikumpulkan itu apakan sudah benar atau tidak.

    Jika benar, maka akan ada opsi untuk membeli foto tersebut denga harga yang sudah ditentukan oleh fotografernya. Harganya bervariatif tergantung angle dan fotografernya sendiri, tapi kalau yang saya lihat, foto saya dihargai mulai 30 ribuan sampai 150 ribu wkwkwk..

  • Menyeduh Kopi Sendiri

    Hal baru saya sejak WFO (tepatnya jadi Jakartans) selain nge-gym adalah mulai terpapar dengan berbagai jenis kopi yang belum pernah saya temui di Jogja. Misalnya kopi-kopi yang ditawarkan di pinggir jalan pakai sepeda atau gerobak modern, mesin kopi mandiri yang tinggal dibeli dengan scan QRIS, ditambah kantor saya itu jadi satu dengan mall yang cukup banyak pilihan kopi di dalamnya.

    Lama-lama kok terasa boros ya? wkwkwk

    Suatu hari, teman kantor nawarin untuk bikin kopi sendiri dengan metode manual brew dan/atau pakai filter. Sebagai orang yang terbiasa kopi kapsul, espresso based, dan sesekali kopi sachet tentunya hanya memandang rendah tawaran itu..

    Kemudian saya kualat…

    Singkat cerita, saya mendapatkan sebuah portable electric grinder yang kemudian membuat semuanya berubah.

    Layaknya bocah yang dikasih mainan baru, saya menjadi agak terobsesi dengan dunia baru ini. Awalnya hanya beli biji kopi sembarangan, timbangan murah, dan V60 coffee dripper standar, saya menemukan suatu cita rasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

    Ternyata seenak itu!

    Sekarang, saya sudah bisa bikin beberapa resep kopi populer seperti Japanese Iced Coffee dan Dirty Latte wkwkwk

    Nanti di postingan berikutnya akan saya share resepnya deh.

  • Nge-gym Supaya Sehat

    Salah satu benefit tinggal di dekat kantor adalah perjalan berangkat dan pulang lebih santai. Kalau dihitung perjalanannya, saya hanya perlu 30 menit dimulai dari pintu kosan sampai duduk di meja, artinya itu sudah termasuk dengan jalan ke stasiun MRT, naik MRT, jalan ke kantor, masuk gedung, naik lift, dan jalan sampai ke meja.

    Karena saya beres ngantor itu jam 17:30, maka kira-kira jam 18:00-an gitu sudah sampai kosan, mandi, shalat Maghrib, kemudian istirahat.

    Rasanya kok kurang tantangan…

    Pas lagi ngobrol-ngobrol sama temen kantor, dia cerita kalau sembari nunggu macet itu dia menyempatkan untuk ngegym dulu. Kebetulan di area kantor itu ada gym yang cukup terkenal dan juga punya semacam benefit untuk pegawai.

    Jadilah saya iseng-iseng tanya ke HR, kemudian disambungkan ke marketing gym-nya. Saya dijadwalkan untuk visit buat ditunjukkan apa aja fasilitasnya, kemudian ditimbang/scanning untuk dicek status sekarang, difoto posturnya juga, kemudian dikasih rencana latihan setelah ditanyain targetnya apa.

    Menarik, ini tantangan yang tepat.

    Awalnya saya mau coba 20 sesi dulu, seminggu latihan 3 kali. Gimana rasanya?

    2 minggu pertama, sukses merasakan doms. Beberapa minggu berikutnya mulai doms dan menyesal. Beberapa sesi berikutnya malah tau-tau perpanjangan sesi.

    Sekarang? sudah hampir setahun saya nge-gym, masih sama seminggu tiga kali, dan masih sering merasakan doms juga.

    Apakah sudah kelihatan hasilnya? Singkatnya sudah mulai kelihatan. Tapi ini baru awal, masih panjang jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan.

  • Jadi Jakartans

    Masih sedikit nyambung dengan tulisan kemarin bahwa sejak pindah ke kantor ini saya memutuskan untuk tidak lagi jadi freelancer web developer. Alasan utamanya karena sudah tidak ada waktu luang yang banyak lagi seperti dulu.

    Kenapa? Saya sekarang sudah hampir setahun tinggal di Jakarta, tepatnya di daerah Kebayoran Baru. Disini saya ngekos dan pakai MRT untuk berangkat/pulang kantor.

    Kok bisa? Sejak awal tahun 2025 lalu, sudah ada pemberitahuan dari kantor bahwa kebijakan Full WFH akan berganti menjadi Hybrid, nah untuk pegawai yang di surat kontraknya tercatat homebase di Jakarta maka harus siap-siap untuk kembali ke kantor.

    Berhubung saya termasuk pegawai yang homebase-nya di Jakarta maka artinya saya harus siap-siap meninggalkan Jogja untuk jadi Jakartans.

    Untungnya kantor tidak mewajibkan untuk segera pindah A.S.A.P, kami yang berada di luar Jakarta diberi kesempatan untuk siap-siap kurang lebih beberapa bulan.

    Karena saya sudah memperkirakan bahwa kebijakan ini akan segera diterapkan, jadi ketika pemberitahuan resmi dari HR dikirimkan, maka sudah nggak terlalu kaget dan sudah langsung menjalankan rencana aja.

    Apa saja rencananya? Tentunya nyari tempat tinggal, sebab tantangan utama kerja di Jakarta itu dimana mau tinggal dan kemudian budgetnya berapa. Awalnya saya mau tinggal yang dekat-dekat kantor aja, tapi setelah tau harganya langsung rela untuk jalan sedikit lebih jauh.

    Berhubung saya nggak bawa kendaraan pribadi jadi syaratnya adalah harus dekat dengan MRT, sebab saya nggak pengen naik TransJakarta aja. Survey lokasi dari area Bundaran HI sampai Haji Nawi saja, kalau lebih ke Selatan lagi rasanya kejauhan wkwk.

    Akhirnya setelah survey, nego, hitung-hitung, pilihannya adalah di area Blok A, Kebayoran Baru.

  • Kembali ke Web Hosting

    Ada apa? Jadi, server website ini habis pindahan dari cloud server ke shared web hosting. Tepatnya dari Cloudways lalu setelah beberapa tahun disana akhirnya pindah ke Rumahweb lagi.

    Kenapa pindah? Tidak ada alasan khusus sih, tapi sejak bekerja di kantor saya yang sekarang ini, saya memutuskan untuk tidak lagi menerima pekerjaan freelance sebagai web developer. Bahkan klien-klien yang masih pakai jasa saya untuk maintenance pun saya sudahi kontraknya pelan-pelan sampai yang terakhir itu di akhir tahun 2025 lalu.

    Iya, tapi kenapa pindah? Ya itu, karena sudah nggak ada klien, artinya website yang hidup sekarang cuma website pribadi aja dan beberapa titipan teman. Kalau dijalanin pakai spek server yang bagus, sepertinya kurang ekonomis.

    Kok Rumahweb lagi? Iya, awalnya saya memulai petualangan sebagai web developer itu juga berkat perkenalan dengan Rumahweb. Saya lupa sejak kapan, tapi kayanya waktu saya masih pegang domain bernama ple-q.com deh, berarti kira-kira sewaktu masih kuliah S1 di Semarang.

    Jadi masalah ekonomi? Iya wkwkwk