Categories
Tulisan

Bersepeda Untuk Pemula

Melanjutkan tulisan sebelumnya, sekarang saya sudah terbiasa bersepeda dengan jarak 10 km ditempuh dalam waktu 30 menit. Namun sebelum saya sampai pada pencapaian pribadi ini, saya memerlukan waktu 3 bulan untuk penyesuaian diri dan persiapan.

Sebetulnya tips yang lebih detil, bisa dibaca di artikel SehatQ.com ini, kebetulan di website SehatQ.com ini terdapat bermacam-macam artikel kesehatan yang cukup berguna bagi siapapun yang ingin mulai berolahraga.

Oke, apa saja persiapa yang saya lakukan?

Pertama, menyesuaikan dengan sadel sepeda. Sungguh betapa menyakitkan pada saat pertama kali gowes dalam jarak 2 km. Pantat terasa panas dan pedih karena belum terbiasa duduk di sadel sepeda yang kecil dan keras itu.

Saya sudah membeli sadel baru yang lebih lebar dan menggunakan celana khusus sepeda dengan harapan bisa mengurangi rasa sakitnya, namun jujur saja itu tidak banyak membantu.

Lalu bagaimana? Tahan saja kepedihan itu, fokus dengan tujuan bersepeda. Ternyata lama-kelamaan rasa sakitnya berkurang dan sudah nyaman untuk gowes 10 km tanpa rasa pedih. Bahkan sekarang sadel saya kembalikan ke bawaan pabrik karena saya rasa malah lebih pas digunakan.

Kedua, atur rotasi kayuhan (cadence). Pada minggu-minggu awal gowes, saya bersepeda santai saja. Alhasil, saya tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari bersepeda. Setelah membaca dan menonton YouTube bagaimana bersepeda yang baik, ternyata saya harus mulai mengatur cadence saya.

Jadi, saya membeli sensor cadence untuk ditempelkan di crank-arm kemudian nantinya data akan dibaca oleh cyclometer. Kapan-kapan saya bahas mengenai perangkat saya ini ya.

Untuk pertama, tahan cadence di angka 60 rpm, artinya 1 rotasi per detik. Lakukan ini secara konstan, lokasinya bisa dimanapun. Saya biasanya di komplek perumahan karena kebetulan medannya cocok untuk bersepeda.

Menjaga cadence di 60 rpm ini juga bisa untuk melatih teknik shifting. Jadi ketika angka cadence sudah melebihi 60 rpm, maka saatnya shifting ke gear yang lebih rendah, begitu juga sebaliknya. Dengan begitu gowes akan semakin efisien dan bisa melalap berbagai medan.

Selanjutnya, apabila sudah terbiasa dengan cadence 60 rpm, bisa secara perlahan meningkatkan ke 65, 70, 75, 80, dan seterusnya. Sebagai informasi, pengguna roadbike rata-rata terbiasa dengan cadence 100 rpm.

Jadi kalau mau bisa ngebut, tingkatkan cadence saja.

Ketiga, menjaga heart rate. Bersepeda memang menyenangkan, namun bagi yang belum terbiasa bisa berbahaya jika terlalu memaksakan diri. Sudah banyak cerita pesepeda jatuh sakit atau bahkan meninggal dunia akibat bersepeda.

Sebetulnya, bukan masalah sepeda atau rutenya. Tapi biasanya, lebih dikarenakan kurang bisa mengukur diri sendiri, cepat panas terbawa emosi, dan takut ditinggal. Padahal selama sudah tau rutenya, maka nikmati saja gowesnya, toh kita ini tidak nyari medali.

Nah, cara terbaik untuk mengukur diri adalah menggunakan sensor heart rate. Saya juga menggunakan sensor ini yang ditempel di dada dan datanya terhubung di cyclometer, kapan-kapan saya bahas juga tentang sensor ini.

Kebetulan di cyclometer yang saya gunakan bisa mengatur profil berdasarkan umur dan berat badan, sehingga ada patokan berapa maksimal heart-rate yang harus dijaga. Jadi, saya tinggal memantau saja, apabila hampir mencapai 100%, maka artinya saya terlalu berlebihan, dan saatnya untuk minum dan mengurangi kecepatan.

Oke, saya rasa cukup tiga tips dari saya untuk bisa memulai bersepeda dengan lebih terukur dan aman. Artikel selanjutnya, saya akan membahas sensor-sensor yang tadi saya sebutkan yes.

By Mohammad Sani Suprayogi

Engineer & Lecturer

2 replies on “Bersepeda Untuk Pemula”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *