Author: Mohammad Sani Suprayogi

  • Ketakutan adalah Tangga Menuju Kedewasaan

    Salah satu topik di buku yang sedang baca mengatakan demikian, bahwa setiap kali kita akan naik level menuju sebuah titik kedewasaan, pasti akan ada rasa ketakutan yang masuk ke kalbu. Rasa takut ini cukup untuk mendatangkan keraguan di hati supaya ada keinginan untuk membatalkan segalanya.

    Ketika rasa takut menguasai, ada dua hal yang bisa dilakukan.

    1. Pergi.
    2. Hadapi.

    Keduanya adalah cara yang valid, jadi tidak ada yang paling benar. Tidak perlu ragu untuk memilih salah satunya.

    Namun, ketika kita selalu memilih salah satunya, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman dari salah satu yang lain.

    Mau selalu memilih pergi? Boleh.

    Mau selalu memilih menghadapi? Juga boleh.

    Tapi kedewasaan bukan dilihat dari opsi mana yang selalu dipilih, melainkan tau kapan kita harus memilih yang mana.

    Sebab, kita bisa mengendalikannya.

  • Sudah Jarang Lihat Polantas

    Iya, sekarang ini rasanya sudah jarang lihat Polantas (Polisi Lalu Lintas) di jalan yang sedang berjaga atau melakukan pengaturan lalu lintas di sepanjang perjalanan.

    Malah lebih sering melihat Patwal yang meminta jalan karena orang yang dikawal terjebak di jalanan yang sedang macet.

    Aneh ya? Satu-satunya institusi yang dibolehkan mengatur lalu lintas di Indonesia tapi memilih untuk tidak mengaturnya, namun kemudian memaksa pengguna jalan lain untuk membuka jalan karena sama-sama terkena macet.

    Padahal mereka sama-sama berada di direktorat yang sama, yaitu Direktorat Lalu Lintas. Tapi tidak terarik untuk membereskan masalah yang menjadi tanggungjawabnya, yaitu di bidang lalu lintas.

    Malah lebih tertarik menyusun aturan dan tata tertib lalu lintas, mengurusi penerbitan SIM, STNK, dan BPKB, sampai melimpahkan pekerjaan pengawasan kepada E-TLE.

    Tidak ada lagi yang suka bekerja di lapangan, semuanya dilakukan dengan kedok pemantauan dan monitoring.

    Sekarang, institusi sebelah yang sedang naik daun, yang atributnya hijau dan plat berwarna merah itu juga mulai ikut-ikutan bawa patwal sendiri untuk meminta jalan juga.

    Apa urgensi mereka sampai harus minta dibukain jalan? Apakah ada musuh negara yang sedang menyerang sehingga seorang perwira tinggi harus segera diantar ke pusat komando?

    Seharusnya pangkat Polantas yang bertugas di jalan raya itu pangkatnya lebih tinggi daripada yang suka minta jalan itu. Minimal Perwira Menengah lah.

    Sebab jika tidak, maka masyarakat hanya akan melihat bahwa Polantas itu tidak perlu ditakuti, cukup punya kenalan orang yang pangkatnya lebih tinggi maka semuanya akan teratasi.

  • Sibuk vs Produktif

    Tadi saya membaca konten menarik yang mengatakan apa bedanya Sibuk dengan Produktif?

    Kita sering merasa seharian itu sudah sibuk bekerja, itu betul. Tapi apakah sudah produktif? Belum tentu.

    Menurut artikel yang saya baca, produktif diukur dari seberapa banyak output yang bisa dihasilkan dalam sehari itu.

    Sedangkan sibuk, diukur dari seberapa banyak rencana yang akan dilakukan kemudian baru mengerjakannya supaya dapat output yang diharapkan.

    Terkadang kita itu lebih banyak sibuk. Kita tau ada tugas yang menanti di depan mata, tapi pikiran kita lebih banyak sibuk memikirkan rencana untuk mengerjakannya, apa saja flow dan langkah-langkahnya, item apa yang perlu ada untuk mulai menjalankannya, hingga mendiskusikan rencana itu dengan orang lain.

    Jam kerja boleh panjang, meeting boleh banyak, rencana boleh detil, tapi jika tidak ada output yang dihasilkan, maka itu baru dianggap sibuk aja, belum produktif.

    Jika perusahaanmu lebih melihat produktivitas dalam bekerja, maka perlu mempersiapkan jaring pengamanan atau mengganti total cara bekerjanya.

  • Adopsi AI Yang Serampangan

    Beberapa kali saya mendengar dan membaca mengenai instruksi team lead, C-Level, atau Eselon setingkat menteri yang mengatakan,

    “Pakai AI aja untuk melakukan bla-bla-bla”

    AI seakan-akan sekarang jadi silver bullet untuk melakukan apapun yang dianggap susah untuk dikerjakan oleh manusia biasa. Seakan-akan dengan AI maka semua masalah yang ada di pikirannya akan selesai, rencananya akan terwujud, produktivitas akan meningkat otomatis, proposal akan mudah dibuat, dan produk akan langsung terjual dengan mudahnya.

    Sebetulnya saya sudah menduganya sejak lama, WNI adalah orang yang tamak, ketika ada seseorang yang dianggap pandai dan efektif dalam bekerja, maka bukannya diapresiasi malah dikasih pekerjaan tambahan.

    Kalau orang itu mulai kewalahan, bukannya sadar bahwa sudah melakukan tindakan abusif malah menganggap orang itu tidak bisa bekerja dengan benar.

    Ini yang sekarang terjadi dengan AI, karena tau AI bisa mengerjakan banyak hal dengan kepintaran yang luar biasa, maka dia akan dipaksa untuk mengerjakan berbagai hal. Namun ketika dianggap tidak memenuhi ekspektasi, yang terjadi:

    1. AI nggak pinter
    2. Orang yang disuruh pakai AI juga sama aja.

    WNI tidak butuh AI untuk membantu meningkatkan kemampuannya untuk bekerja, namun WNI akan menyuruh AI untuk mengerjakan pekerjaannya.

    Iya, WNI itu saya, kamu, dan kita semua.

  • Pahami Gambaran Besarnya

    Itu adalah kalimat yang selalu saya ulang-ulang kepada mentee yang sedang saya ajak diskusi. Ketika mau membangun sesuatu, sebetulnya teknologi yang mau dipilih itu bisa jadi nomer sekian. Hal yang paling penting adalah memahami gambaran besarnya dulu.

    Sebetulnya apa sih masalahnya? Temukan dulu root causenya.

    Gimana caranya? Pahami alur kerja atau business process yang sedang berjalan, jangan hanya lihat sekilas tapi posisikan sebagai pihak yang sedang mengerjakan itu sehari-hari.

    Kalau masih pemula, memahami alur kerja dalam sehari sudah pasti akan banyak hal-hal yang tertinggal. Tidak ada yang bisa didapatkan dari memperhatikan dari kejauhan, kita harus mau datang, duduk, dan ikut melakukan proses yang diamati supaya bisa tau apa yang sebenarnya sedang terjadi.

    Setelah itu, catat semua hal yang diamati. Ingatan manusia itu tidak lebih baik dari ingatan kucing atau lele. Perkataan beberapa jam yang lalu pasti akan segera lupa jika nggak dicatat, apalagi kalau sudah terdistraksi dengan konten media sosial.

    Catatan-catatan ini akan jadi pengingat apa yang sudah diamati dan nantinya dijadikan acuan ketika mau mulai proses analisis.

    Proses analisis inilah yang bertujuan untuk bisa memahami gambaran besar dari alur proses yang sedang berjalan. Dari sini baru kita bisa menentukan solusi yang mau dikasih, lebih tepat sasaran, dan tidak asal-asalan.

  • Mantra Pemanggil

    Pernah dengar kata ajaib atau kegiatan yang bisa mendatangkan sesuatu? Biasanya ini terjadi di sesuatu yang sudah umum.

    Misalnya:

    1. Nyuci mobil akan memicu musim hujan dadakan.
    2. Nyebut “sepi ya?” akan mendatangkan kunjungan tamu

    Saya punya mantra pemanggil yang sudah beberapa bulan terakhir ini cukup efektif. Yaitu, AirPod.

    Jika sedang pakai AirPod namun tidak sedang kondisi meeting, maka beberapa menit kemudian pasti akan ada yang datang ke meja. Entah ngajak ngobrol atau menanyakan sesuatu.

    Padahal, sebelum saya pakai AirPod itu kondisi cukup kondusif dan terasa tenang, jadinya rasanya akan lebih syahdu kalau sambil ndengerin lagu.

    Tapi apa daya, lagu baru setengah, mantra pemanggil bekerja begitu kuatnya.

  • Manfaat Sharing Update Pekerjaan

    Salah satu kultur yang diterapkan di kantor adalah budaya fast feedback untuk setiap task yang sedang dikerjakan. Ini merupakan salah satu penerapan Agile di lingkup Engineering yang menurut saya, sangat bermanfaat.

    Tadi pagi saya melakukan sharing update di Engineering standup mengenai task Machine Learning yang sudah beberapa minggu terakhir ini saya kerjakan.

    Alasan hari ini memutuskan untuk membaginya adalah, karena saya merasa sedikit terjebak ke dalam rabbit hole dan perlu hentakan untuk keluar sejenak supaya bisa membagi fokus dan sumberdaya ke hal-hal lain.

    Meskipun progress masih belum 100% dan memiliki beberapa kekurangan, namun selesai sharing update ke teman-teman Engineering, rasanya malah jadi semakin fokus.

    Saya jadi tau apa yang perlu dihentikan dan perlu dikerjakan selanjutnya, energi seharian ini jadi bisa saya gunakan untuk task-task berbeda, bahkan bisa membangunkan lagi sisi kreatif saya untuk beberapa sesi brainstorming hari ini.

    Pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang selesai, tapi kapan selesai itu kita sendiri yang menentukan. Membuat beberapa milestone dan membagikan updatenya sudah bisa membuat kita mendapatkan small win yang penting untuk menjaga moral kita tetap bersemangat.

  • Mengikuti Flow Scammer CC

    Semalam saya sengaja pengen tau bagaimana flow scammer kartu kredit bekerja. Berawal dari saya mendapatkan sms OTP dari kartu kredit BNI sebanyak 3 kali yang menunjukkan ada percobaan transaksi sebesar 500 ribu untuk pembelian pulsa di XL Axiata.

    Sebagai informasi, saya sudah tidak pernah menggunakan rekening ataupun kartu kredit BNI sejak akhir 2025.

    Mengikuti Flow Scammer CC

    Seperti yang sudah diduga, beberapa saat kemudian datang telepon dari nomor yang mengaku sebagai Call Center BNI.

    Bagi yang belum tau, BNI selalu menggunakan nomor random namun berakhiran angka 46, ini jelas sudah diketahui oleh scammer jadi dia niat menggunakan nomor itu untuk menghubungi calon korbannya.

    Mengikuti Flow Scammer CC

    Ketika diangkat, suara di seberang akan mencoba meniru cara tim Customer Care BNI berbicara. Mengabarkan bahwa ada percobaan penggunaan kartu kredit senilai xx juta di berbagai platform e-commerce.

    Dia menawarkan untuk membantu proses blokir kartu kredit dan pembatalan transaksi. Jika setuju, maka dia hanya akan melakukan verifikasi alamat email saja. Disini saya hanya jawab sekenanya dan iya-iya aja.

    Tidak ada verifikasi identitas standar yang biasa dilakukan oleh Customer Care bank manapun. Mungkin dianggap terlalu lama prosesnya ya. Anw, untungnya mereka tidak melakukannya.

    Kemudian dia akan mengirimkan email ke alamat email saya, dimana dia juga sudah tau alamatnya. Sendernya berasal dari no-reply@bankbni.co.id. Tentunya bagi pemilik rekening BNI akan tau bahwa itu bukanlah nama domain yang benar.

    Mengikuti Flow Scammer CC

    Btw, kok bisa dia mengirimkan email dengan domain sender bankbni.co.id? Padahal jika dicek ke Pandi, domain itu tidak ada yang punya. Kalau teman-teman Loenpia sih mengatakan memang ada celah/loophole ketika kita beli domain dengan akhiran .co.id maka punya waktu 3 hari untuk domainnya aktif sampai kemudian dimatikan oleh Pandi jika gagal melakukan verifikasi.

    Celah ini yang dipakai oleh scammer untuk bisa mengirimkan email dengan domain tersebut. Memang niat scammernya.

    Trus kok bisa mail servernya mengirim? Sayangnya hanya owner idcloudhosting.com yang tau. Saya sempat mengirim email ke CS indocloudhosting (sekarang bernama Exabytes), tapi sayangnya email laporan saya langsung ditutup tanpa ada penjelasan apa-apa.

    Btw, jika ada orang Exabytes yang baca, nomor pelaporan saya adalah #12232847, silakan cek detilnya di Freshdesk ya.

    Kemudian apa isi emailnya?

    Mereka membuat tampilan email yang sekilas mirip, namun pada akhirnya akan meminta user untuk membuka link berikut.

    Awas, ini link scam, hati-hati dan jangan mengisi apapun. https://canceltransksibbni.netlify.app

    Saya sudah coba isi dengan cc generator, website itu akan meminta:

    1. Nomor Kartu Kredit
    2. Expired date
    3. CVV
    4. Kode OTP

    Saya sudah laporkan url itu kepada netlify, tapi sayangnya juga tidak ada tanggapan yang berarti.

    Sampai tulisan ini dibuat, url netlify itu masih aktif dan bisa saja sudah memakan korban.

    Hati-hati ya ges..

  • Gowes Singkat Minggu Pagi

    Tadi pagi saya berencana untuk gowes pagi setelah sekian CFD nggak pernah ngeluarin sepeda lagi. Persiapan sudah dilakukan semalam sebelumnya, semua baterai sudah dicharging untuk persiapan menempuh perjalanan setidaknya 20 km.

    Jam 5:40 saya berangkat dari kosan sambil ambil rute yang berbeda supaya setidaknya bisa masuk area Sudirman sudah masuk ke jam-jam CFD.

    Sekitar jam 06:10 saya sudah melewati perempatan ASEAN, tinggal gas sudah sampai ujung Bundaran Senayan.

    Ternyata…

    Jalannya ditutup buat acara lari-lari wkwkwk…

    Jadilah, putar balik dan kembali lagi ke kosan.

    Gowes Singkat Minggu Pagi