Category: Tulisan

  • Welcome to Jakarta

    Welcome to Jakarta

     

    Yak, mulai bulan September 2015 lalu saya resmi bekerja di Jakarta. Ndak terasa sudah satu bulan merasakan bekerja di ibu kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri. Tapi sepertinya semuanya tergantung sudut pandang masing-masing orang sih, saya pribadi merasa nyaman bekerja di Jakarta walaupun memang membutuhkan effort berkali-kali lipat dibandingkan bekerja di Semarang.

    Banyak yang nanya, “lho, sekarang sudah nggak ngajar?”

    Jawaban saya masih sama, “Saya masih mengajar kok”

    Ya, karena suatu hal dan lainnya, maka sekarang saya bekerja di dua tempat, dua kota, dan dua bidang yang sangat berbeda dengan sehari-hari. Mulai bulan Oktober ini saya kembali ke Semarang untuk melanjutkan pekerjaan sebagai dosen, lalu setiap Senin dan Selasa bekerja di Jakarta sebagai Head of Technology.

    Kenapa?

    Iya, itu banyak sekali pertanyaan yang muncul. Alasannya sederhana, saya perlu belajar.

    Pekerjaan sebagai dosen IT membutuhkan asupan informasi lebih banyak karena ilmu yang saya pelajari dan ajarkan ke mahasiswa selalu berkembang setiap saat. Saya merasa 5 tahun berkutat sebagai dosen masih kurang menambah ilmu yang saya miliki, malah terlalu asik dengan pengajaran. Saya menghitung setiap semesternya ternyata terlalu banyak mengampu kelas, mahasiswanya banyak, dan menghabiskan waktu saya terlalu lama di kampus. Awalnya sih oke, karena nggak ada beban tinggal ngajar aja dan nunggu gajian.

    Tapi saya punya musuh, yaitu rutinitas.

    Ketika pekerjaan mulai rutin, maka kebosanan itu melanda. Di kantor sebelumnya, jika pekerjaan mulai dirasa sebagai rutinitas, masalah mulai teratasi, dan tidak ada tantangan baru, maka kemudian saya mulai bosan. Akhirnya effort untuk datang setiap pagi mulai luntur dan akhirnya memilih untuk resign. Nah, saya tidak ingin resign dari seorang Dosen, karena mengajar salah satu kesukaan saya. Makanya saya perlu menambah kesibukan dan mengurangi jumlah mengajar selama masih sesuai yang dipersyaratkan oleh Dikti.

    Kesempatan itu datang.

    Saya mendapatkan tawaran dari seorang kawan untuk bekerja di kantornya, kebetulan mereka membutuhkan tenaga IT untuk menangani berbagai macam kebutuhan digital. Saya meminta untuk bekerja secara remote, tentunya mereka menolak. Namun pada akhirnya bisa menerima permintaan saya meski saya masih harus datang dua kali setiap minggunya. Kemudian khusus bulan September saya harus bekerja sebulan penuh untuk beradaptasi dengan lingkungan, bertemu kawan baru, dan memahami tugas pokok saya.

    Kesan yang saya dapatkan, MENYENANGKAN!

    Suasana kantor yang menyenangkan, saling mendukung, dan berpikiran positif. Kantor diisi oleh anak-anak muda yang kreatif dan memiliki etos kerja tinggi ditambah dengan dukungan dari atasan yang luar biasa. Tantangan dari klien juga beragam, namun dengan kerjasama tim semuanya bisa dilewati satu-persatu. Saya benar-benar belajar apa arti kerjasama, karena sehebat-hebatnya kamu jika dikerjakan sendiri maka hasilnya akan jelek juga.

    Saya masih beradaptasi dengan lingkungan dan jam kerja yang baru ini, tapi saya yakin ini akan baik buat saya, dan mudah-mudahan baik juga untuk semuanya.

  • Pengalaman Menggunakan PureIT

    Pengalaman Menggunakan PureIT

    Seperti halnya pada tahun-tahun sebelumnya, ketika usai musim lebaran pasti akan ada keluhan mengenai berkurangnya suplai air minum kemasan di toko-toko terdekat. Saya sudah sering mengalami itu, makanya saya memutuskan untuk tidak lagi mengandalkan air galon untuk kebutuhan minum. Ini bukan tulisan iklan, hanya sekedar berbagi pengalaman saja.

    Pengalaman Menggunakan PureIT

     

    Bulan ini merupakan bulan ke-8 pemakaian PureIT. Saya membeli PureIT di Giant Penggaron Semarang pada bulan November tahun lalu, awalnya pembelian ini sudah direncanakan berbulan-bulan sebelumnya, namun baru sempat dibeli pada bulan itu. Seperti halnya calon pembeli PureIT, saya pun juga mengalami kegalauan apakah investasi sebesar 600 ribuan (harga pada saat itu) akan baik untuk saya atau tidak. Namun akhirnya, pada bulan ke-8 ini saya simpulkan, PureIT is worth to buy.

    Selama 8 bulan pemakaian, air yang dihasilkan oleh PureIT tidak mengalami perubahan. Dalam arti, airnya selalu dalam kondisi prima seperti saat pertama kali dibeli. Selain itu, air juga tidak hanya saya gunakan minum tapi juga memasak. Artinya, saya bisa menjamin kesehatan makanan yang saya masak karena bersumber dari air yang bersih. Soalnya di rumah, saya hanya mengandalkan air sumur untuk kebutuhan sehari-hari, walaupun jernih tapi saya ndak tega untuk dijadikan bahan memasak. Meskipun komplek perumahan menyediakan air artetis, saya lebih memilih pakai yang gratis saja deh.

    Saya sudah sering membaca perdebatan mengenai untung-rugi menggunakan air galon atau PureIT. Menurut saya, silakan saja berdebat tapi sebaiknya coba dulu dua-duanya. Jadi punya data gitu. Menurut saya, PureIT memberikan keuntungan lebih, soalnya saya bisa enteng saja menggunakan airnya untuk berbagai hal. Beda saat saya masih pakai air galon, pastinya mikir-mikir kalo airnya buat masak.

    Gampangnya, kita pasti membutuhkan air untuk sehari-hari, maka saya harus bisa mendapatkannya dengan mudah. Selain mudah, airnya harus layak konsumsi. Kebetulan, PureIT bisa menyediakannya. Good job!

     

  • Hiduplah Sekarang Untuk Masa Mendatang

    Hiduplah Sekarang Untuk Masa Mendatang

    Apakah sudah siap dengan masa depan? Atau sudah cukup puas dengan yang dimiliki sekarang? Nasib seseorang tidak ada yang tahu, yang bisa kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, setidaknya mulai dari sekarang jika memang sebelumnya belum pernah merencanakan satupun. Kita yang sekarang adalah hasil rencana yang kita lakukan di masa lalu. Hanya perlu keyakinan yang tinggi.

    Saya mulai merencanakan masa depan sedari masuk bangku kuliah. Jurusan yang saya pilih saat itu masih belum sepopuler sekarang, literatur yang tersedia sangat terbatas, dan akses Internet adalah barang mewah saat itu. Ketika teman-teman saya kuliah jurusan Ekonomi (yang saat itu sangat populer), saya malah berdarah-darah melewati perkuliahan Teknik Informatika. Saya yakin, ahli komputer akan menguasai masa depan.

    Sadar dengan minimnya sumber bacaan, maka saya lebih sering dolan ke warnet daripada ke warung. Uang jajan yang diberikan orang tua lebih banyak saya habiskan untuk membayar billing warnet, makanya pas kuliah dulu saya ceking, cuma 55 kg dengan tinggi 170 cm. Investasi ini saya lakukan untuk mengakses Internet sepuasnya, bahkan pernah sampai titik Tidak Tau Mau Apa Lagi di Internet™. Bergabung dengan berbagai komunitas maya, aktif di forum diskusi dan mailing list, sampai ikut mendirikan beberapa komunitas sudah saya lakukan. Minat tentang dunia underground juga tumbuh disini, mulai dari belajar dengan sumbernya sampai akhirnya bisa memberikan advice ke orang lain. Pokoknya berusaha naik kasta dari lamer ke atas terus.

    Saya bukanlah mahasiswa yang rajin kuliah. Sebagian besar kegiatan perkuliahan saya saat S1 dulu lebih banyak dihabiskan di organisasi Internet Club, di sinilah saya bisa mendapatkan ilmu praktek selain ilmu teori yang didapatkan di perkuliahan. Ilmu komputer adalah ilmu terapan, nggak mungkin bisa menguasai komputer tanpa mencobanya. Itulah kenapa, saya sangat mendukung mahasiswa yang ikut organisasi, tujuannya agar ilmu yang mereka dapatkan selama kuliah akan berimbang. Percuma IPK tinggi tapi nggak bisa apa-apa. Selain itu, saya disadarkan oleh kakak senior di Internet Club bahwa selepas lulus kuliah nanti, saya akan berhadapan dengan manusia, bukan mesin. Makanya dengan bergabung ke organisasi, saya juga belajar bersosialisasi, berkomunikasi, saling menghormati dan tenggang rasa dengan orang lain. Ilmu teknis dapat, sosial juga dapat. Lengkap!

    Banyak yang tidak percaya bahwa saya adalah pemain band. Hahahaha.. Semasa kuliah, saya juga nyambi jadi pemain band di cafe-cafe Semarang. Sering tampil di berbagai event besar baik skala kampus atau umum. Jadi reguler homeband cafe atau mengisi acara di private party pun pernah. Orang-orang yang baru mengenal saya pun nggak percaya kalo saya berposisi sebagai vokalis! Jangankan dia, lha wong saya aja kadang juga nggak percaya bahwa saya punya pencapaian itu. Tapi banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan, punya banyak teman, nambah kemampuan untuk berbicara dengan orang lain, berbasa-basi, dan menangani ribuan massa di depan panggung. Kok bisa ya? Padahal aslinya saya itu agak intovert, jarang keluar rumah kalo ndak perlu banget.

    Ternyata, semua yang saya lakukan di masa kuliah itu sangat membantu ketika mulai masuk dunia kerja. Saya magang di Suara Merdeka jalan Kaligawe selama 1 bulan dengan 2 orang teman. Kami bertiga tiap pagi datang menerjang macet dan banjir, kemudian baru pulang selepas Maghrib. Semua pekerjaan dilakukan dengan senang hati, lha wong dapat Internet gratis. Bahkan ketika masa magang berakhir, saya ditawari untuk bergabung di Suara Merdeka. Dasar anak muda, kesempatan itu saya tolak hahahaha. Pekerjaan pertama di Radio Gajahmada FM sebagai tenaga IT juga tidak lepas dari bantuan seorang kawan, dia menawarkan pekerjaan dan tau-tau malah dipanggil interview trus diterima. Bekerja di lingkungan yang fun sangat menyenangkan, lagi-lagi ilmu sosial saya semakin meningkat selain jadi semakin banyak belajar. Dua tahun kemudian ada tawaran untuk bergabung ke Telkom dari seorang kenalan, interview sebentar kemudian diterima. Praktis semua itu nggak pakai surat lamaran. Namun akhirnya, hati nggak pernah bohong, saya lebih cocok masuk ke dunia pendidikan. Jadi dosen!

    Dosen bukanlah cita-cita saya dari kecil, saya hanya ingin jadi ahli komputer. Tapi, ketika mengingat kembali perjalanan yang telah saya lakukan ternyata saya memang cocok jadi dosen. Ilmu akan lebih berguna jika dibagikan, dulu saya belajar dengan tekun, nggak kenal waktu, rela mengeluarkan uang untuk mempelajari sesuatu. Sekarang saatnya untuk membagikan ilmu yang saya miliki kepada mahasiswa, supaya mereka bisa melebihi saya kelak. Berbagi nggak pernah rugi™.

    Sekarang, ternyata saya jadi lebih fokus ke ilmu komputer. Mempelajari ilmu baru yang setiap saat muncul. Master Thesis saya membahas cloud computing yang waktu itu belum populer, sekarang? Saya lebih ahli di bidang cloud. Dengan pengalaman 10+ web development, cloud computing, MTCNA, dan security saya jadi lebih yakin dan mantap menatap masa depan. Persiapan asuransi kesehatan dan jaminan hari tua juga sudah dilakukan, karena hidup sekarang itu untuk masa mendatang.

  • Ikut Tren Nggak Selalu Keren

    Ikut Tren Nggak Selalu Keren

    Seminggu lalu, dunia dihebohkan dengan keputusan Pemerintah Amerika Serikat yang melegalkan LGBT di seluruh negara bagian Amerika. Keputusan itu langsung disambut oleh pendukung LGBT dengan melakukan parade di jalan dan menjadi perhatian dunia dengan diliput oleh berbagai media. Tidak hanya itu, keriuhan juga terasa di social media dengan munculnya profile picture yang menggunakan background LGBT flag.

    Saya tidak mendukung LGBT, tapi saya menghormati pengikutnya. Jujur, saya kadang prihatin dengan orang-orang yang mudah ikut-ikutan tren tanpa mengetahui yang sebenarnya terjadi. Beberapa akun social media temen diubah dengan background serupa, padahal saya tau pasti dia totally straight. Ketika saya tanya, malah jawabnya “bukannya itu gambar AADC ya?”

    AADC = Ada Apa Dengan Cinta

    Baiklah.. Memang benar dengan yang saya tuliskan sebelumnya, kita itu harus banyak membaca.

  • Berkuliah Itu Pilihan

    Berkuliah Itu Pilihan

    Hari Jumat lalu, tanggal 26 Juni 2015 adalah hari terakhir pendaftaran peserta didik untuk wilayah Semarang. Pendaftaran serentak yang meliputi tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK ini telah dilayani dengan baik oleh sistem PPD Kota Semarang yang bekerjasama dengan salah satu universitas swasta di Semarang. Ingatan saya kembali sekitar 16 tahun yang lalu (gile, udah tua) ketika saya sedang sibuk mendaftar ke SMA. Saat itu metode pendaftaran masih manual, belum ada sistem yang mempermudah segalanya. Jadi setiap hari saya harus naik angkot dari rumah di Tlogosari menuju ke SMA yang terletak di pusat kota Semarang, hanya untuk melihat jurnal pendaftaran yang tentunya akan dapat berubah sewaktu-waktu. Selain itu saya juga mendaftar di SMA yang lokasinya lebih dekat dengan rumah, jadi perjalanan saat itu memakan waktu hampir setengah hari untuk sekedar melihat jurnal.

    Hasilnya? Saya tidak diterima di kedua SMA itu, padahal nilai NEM (iya, dulu namanya NEM) masih mencukupi untuk diterima di SMA pilihan kedua, tapi karena tidak sempat cabut berkas dari SMA pilihan pertama ya jadinya malah nggak diterima semuanya. Kemudian saya langsung menuju ke sekolah swasta yang sudah saya jadikan alternatif apabila tidak diterima di sekolah negeri. Jadinya, saya menghabiskan waktu SMA saya disana. Hahaha..

    Semua proses itu saya lakukan sendiri, orang tua hanya memberi saya bekal untuk naik angkot. Apakah saya kecewa? Awalnya pasti dong, tapi kemudian justru saya puas karena saya bisa memilih sekolah saya sendiri. Saya belajar banyak hal, bahwa dunia ini penuh dengan pilihan dan kita tinggal mau mengambilnya atau tidak. Bagaimana jika saat itu saya memasrahkan semuanya ke orang tua? Mungkin saya sudah bersekolah di SMA negeri pilihan, karena saat itu jabatan orang tua cukup berpengaruh untuk mendaftar sekolah. Tapi mungkin saya tidak akan pernah belajar menghargai proses dan akan bersekolah dengan semaunya sendiri.

    Terhitung sejak SMA, saya mulai diberikan kebebasan untuk berpendapat oleh orang tua. Tujuannya supaya saya dapat membuat pertimbangan dan memutuskan untuk kemudian bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Jadi memang sejak saat itu, di kepala saya selalu membuat opsi-opsi dalam hal apapun kemudian nantinya digunakan untuk berdiskusi dengan orang tua. Saya sangat beruntung memiliki orang tua seperti mereka.

    Sekarang saya sudah menjadi dosen, sebuah pekerjaan yang dulu sewaktu masih kecil pun tidak terbayangkan. Mungkin di beberapa postingan sebelumnya saya sudah pernah bercerita bahwa menjadi dosen ini juga setelah melewati berbagai macam pertimbangan. Menjadi seorang dosen adalah pilihan yang saya buat, dan saya harus bertanggungjawab atas pilihan saya tersebut.

    Namun, tadi ketika sedang menjaga ujian saya agak trenyuh melihat mahasiswa yang mengerjakan UAS. Kadang saya tidak habis mengerti dengan mahasiswa yang tidak bisa mengerjakan satupun soal-soal ujian ditambah dengan tidak memiliki catatan yang bisa digunakan untuk membantu pengerjaan soal. Ini sama sekali nggak masuk akal! Apa saja yang mereka kerjakan selama perkuliahan? Bukannya saat kuliah itu perlu menyimak dan mencatat ya? Jika hanya mengandalkan fotokopian, apa yang bisa didapatkan dari situ? Fotokopian slide tentunya tidak akan memberikan jawaban pertanyaan ujian. Akan sangat aneh jika ada soal ujian dari dosen yang jawabannya ada di fotokopian yang tinggal disalin jawabannya.

    Bukannya menjadi mahasiswa adalah pilihan? Program studi yang diambil juga sebuah pilihan. Tentunya topik matakuliah yang akan diambil juga sudah bisa diprediksi. Jika tidak suka, kenapa tidak membuat alternatif tindakan? Belajar lebih giat misalnya, atau memilih untuk pindah jurusan. Itu pilihan kok. Bahkan ketika saya mengajar, dari 60 mahasiswa pasti yang mencatat hanya sepertiganya, sisanya? Minta slide presentasi. Padahal sudah sejak semester ini saya mencoba untuk tidak menggunakan slide presentasi untuk mengajar, hanya mengandalkan laptop untuk koneksi Internet dan spidol untuk mencoret-core di whiteboard.

    Berkuliah itu pilihan, itu juga akan membanggakan orang tua. Menjadi mahasiswa itu pilihan, itu akan meningkatkan derajat di pekerjaan nantinya. Tapi jangan pernah menyia-nyiakan pilihan yang dibuat, apalagi jika pilihan itu masih melibatkan orang tua. Akhirilah apa yang sudah diawali.

  • Jadilah Programmer Yang Baik

    169971696

    Bad programmers worry about the code. Good programmers worry about data structures and their relationship. ~ Linus Torvalds

    Sebagai dosen yang mengajar mata kuliah programming, saya menyadari betul bahwa tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan coding yang merata, ada yang merasa coding itu menyenangkan namun tidak sedikit juga yang menganggap coding merupakan sebuah kegiatan yang membosankan. Alasan tersebut tidak salah, karena mempelajari sebuah bahasa baru yang notabene tidak digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari memang membutuhkan effort lebih tinggi dibandingkan mempelajari bahasa internasional.

    Seiring berjalannya waktu, biasanya setiap orang akan mengalami perubahan. Begitu juga dengan programmer pemula yang akan meningkat kemampuannya. Menulis code akan terasa lebih ringan, ditambah dengan kemampuan untuk menciptakan library sendiri yang membuat proses pembuatan program menjadi lebih cepat. Selain itu, tantangan yang dihadapi si programmer akan lebih beragam yang terkadang membuat logika menjadi buntu seakan tidak ada solusinya, namun pada akhirnya semuanya terselesaikan juga.

    Pada titik ini, biasanya programmer akan menyadari bahwa sebuah program komputer adalah sarana atau alat untuk menyelesaikan permasalahan menggunakan bantuan komputer. Program yang baik tidak lagi dilihat dari yang memiliki kode rumit atau fitur yang futuristik. Program yang baik adalah program yang dapat menyelesaikan masalah.

    Program tidak hanya berisi kode program saja, tapi terdiri dari banyak komponen. Program dapat bekerja dengan baik apabila didukung dengan data yang baik juga. Manajemen data harus dijadikan prioritas utama saat pembuatan program. Perancangan basis data tidak bisa lagi dianggap sepele, analisis permasalahan dan kebutuhan harus dilakukan di awal pembuatan program. Itulah yang terkadang menjadi dilema di hati programmer ketika akan menerapkan idealisme yang sering berbenturan dengan deadline.

    Ketika saya mulai kuliah S2 di UGM, saya baru menyadari bahwa inti pembuatan program justru pada metode penyelesaian masalahnya. Sebisa mungkin, ketika membuat program itu berdasarkan metode yang ilmiah, sehingga hasil yang didapatkan dari program dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi jika program yang dibuat akan melakukan pengolahan data. Rumus-rumus yang digunakan harus berasal dari sebuah metode yang biasanya berupa notasi matematika.

    Begitu juga dengan perancangan basis data, sebaiknya dirancang dengan mengedepankan kebutuhan pengguna, bukan mengikuti kemauan programmer. Perancangan basis data sebaiknya menggunakan pendekatan ilmiah sehingga nantinya data yang tersimpan akan lebih terstruktur dan justru mempermudah programmer ketika mulai menyusun query. Hubungan/relasi antar tabel juga sebaiknya tidak ditentukan secara sembarangan karena ada beberapa proses penentuan key sehingga relasi yang dihasilkan betul-betul sesuai dengan kebutuhan.

    Kira-kira, dengan contoh kasus yang saya twitkan itu, ada yang kurang tepat ndak? Jawabnya: Ada.

     

  • Sudah Siap Menyambut Bulan Ramadhan?

    ILM Versi Keranda.1

    Wah, nggak terasa besok Kamis, 18 Juni 2015 sudah memasuki bulan Ramadhan. Waktu terasa begitu cepat selama setahun terakhir ini. Pertanyaannya, apakah sudah siap menyambut bulan Ramadhan? Pertanyaan yang mudah, tapi cukup susah menjawabnya. Apakah selama setahun belakangan ini sudah memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya? Apakah sudah mengamalkan semua perintah Allah dan sekaligus menjauhi larangannya? Hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya.

    Puasa di bulan Ramadhan merupakan hubungan pribadi antara seseorang dengan Tuhannya. Tidak perlu diperlihatkan secara berlebihan kepada orang lain, atau bahkan meminta orang lain untuk mengerti yang kita kerjakan.

    Saya mendukung kicauan Pak Lukman H Saifuddin selaku Menteri Agama RI. Saya masih ingat ketika kecil, sudah ada himbauan untuk menutup warung makan selama bulan Ramadhan, tapi tidak seekstrim sekarang yang sampai segerombolan mengatasnamakan ormas tertentu memaksa warung makan pada tutup.

    Memaksa, sekali lagi memaksa warung makan atau restoran untuk tutup selama bulan Ramadhan menurut saya adalah tindakan konyol, manja, dan kekanak-kanakan jika alasannya hanya untuk menghormati orang berpuasa. Muslim yang taat tidak perlu hal-hal seperti itu, seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa puasa merupakan hubungan pribadi antara umat dengan Tuhannya. Saya belum pernah melihat satupun orang di lingkaran saya yang sudah sahur di pagi hari kemudian siangnya batal puasa gara-gara lewat di depan warung makan. Anak-anak kecil yang sedang belajar puasa juga tidak dengan mudahnya batal gara-gara ada orang jualan. 

    Masa sekarang malah ingin menutup warung makan? 

    Ayo kita sambut bulan Ramadhan dengan menjadi orang yang lebih baik daripada bulan-bulan sebelumnya. Perbanyak memaca Al-Quran, jalankan shalat wajib dan sunnah, tambahkan nominal jumlah zakat dan infaq. Menurut saya itu akan lebih berguna daripada memaksa orang lain untuk menghormati kita.

    Gambar diambil dari PetakUmpet

  • Ngopi Vietnam Drip

    IMG_20150614_090504

    Sudah beberapa bulan terakhir ini, saya kalo ngopi tidak menggunakan kopi instan. Ceritanya lagi seneng untuk membuat kopi sendiri walaupun belum sampai level hardcore yang harus grinding sendiri. Minimal sekarang sudah mulai meninggalkan kopi sachet yang (katanya) banyak mengandung bahan kimia itu. Lagipula, ternyata memang menikmati kopi yang masih fresh dan tanpa gula rasanya memang lebih nikmat. Selain itu rasa kopi yang dihasilkan juga lebih kuat dan lebih terasa enak di badan.

    Saya membeli Vietnam Drip untuk ngopi sehari-hari. Bentuknya kecil, berbahan dari stainless-steel yang gampang perawatannya dan dibawa-bawa. Untuk kopi, saya pakai yang gampang saja (dan mudah ditemukan), Kalosi Toraja dari Excelco dengan tingkat keasaman dan body yang paling pas di lidah. Sedangkan untuk pemanis kalo pas butuh, biasanya saya kasih campuran susu fullcream dengan merk apapun. Seperti yang dibilang oleh Mas Pepeng Klinik Kopi, hindari penggunaan gula pada kopi.

    Ngopi dengan Vietnam Drip pada dasarnya sangat mudah. Jadi alat itu terdiri dari beberapa bagian, kalo pas beli nanti akan diberikan tutorial penggunaan dan beberapa resep untuk variasi minuman, tapi yang saya sukai hanya resep kopi hitam dan kopi susu saja sih. Saya tidak tau nama-nama bagian alat tersebut, tapi menurut saya ndak perlu dihapalkan ah, wong gampang kok.

    Pertama, saya masukkan susu sebanyak 40 ml / satu sachet susu fullcream ke dalam gelas. Kalo dirasa kemanisan ya bisa dikurangi. Kemudian masukkan 1 sendok makan penuh kopi ke bagian penampung Vietnam Drip, kemudian padatkan dengan tamper yang tersedia. Gunakan tutup dari Vietnam Drip untuk wadah di bawah supaya kopinya nggak tumpah kemana-mana. Kalo sudah siapkan letakkan alat di atas cangkir dan siapkan air panas. Kira-kira gambarnya seperti dibawah :

    IMG_20150614_084347

     

    Gambar diatas itu posisi penggunaan dari Vietnam Drip. Nantinya air panas akan dimasukkan dari bagian atas dengan sebelumnya membuka penutupnya. Tipsnya, tuangkan sedikit air panas kemudian diamkan selama 20 detik, lalu penuhi dengan air panas kemudian ditutup. Tunggu kira-kira 20 menit untuk prosesnya.

    IMG_20150614_084528

    Secara perlahan, kopi akan menetes dari Vietnam Drip ke dalam gelas. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, proses ini akan mencapai 20 menit. Jadi sabar saja, lanjutkan pekerjaan Anda.

    IMG_20150614_090229

    Nah, jika tetesan sudah berhenti maka tampilannya akan seperti gambar di atas. Warna kopi terlihat hitam dengan susu yang ada dibawahnya. Angkat Vietnam Drip kemudian tinggal diaduk kopinya saja, maka kopi nikmat siap dinikmati di sela-sela kesibukan Anda. Memang caranya manual, tapi nikmat. Jika ingin mencoba membuat Espresso, caranya masih sama, tapi tidak perlu menggunakan susu dan air panas yang dimasukkan hanya setengah dari wadah, rasa Espresso nggak kalah dengan buatan mesin kopi kok.

    Untuk perawatan Vietnam Drip, cukup dicuci dengan air bersih saja tanpa sabun. Jangan pakai sabun apapun, cukup air saja ya.

     

     

  • Kita (masih) Perlu Belajar Menulis

    Kita (masih) Perlu Belajar Menulis

    Semester ini adalah semester pertama saya mulai membimbing mahasiswa menyusun laporan Kerja Praktek (KP). Jadi di kampus Universitas Semarang (USM), setiap mahasiswa harus melewati beberapa tahap dalam menempuh perkuliahan. Selain ada kuliah tatap muka, mahasiswa (terutama jurusan TI) akan diminta untuk melaksanakan KP di perusahaan untuk mengaplikasikan ilmunya, kemudian mereka membuat laporan dengan bantuan dosen pembimbing yang nantinya diseminarkan di jadwal yang telah ditentukan. Sepertinya terlihat sebagai tugas yang mudah, setidaknya itu yang saya bayangkan pertama kali.

    Semester ini saya mendapatkan 24 mahasiswa bimbingan, dengan topik web development, networking, dan design analysist system. Mahasiswa ini pada dasarnya sudah mampu untuk membuat produk, lagipula untuk mahasiswa kelas sore, lokasi KP sebagian besar adalah kantor mereka sendiri. Namun, dari 24 mahasiswa ini hanya segelintir saja yang mampu untuk menulis dengan baik dan runtut sesuai dengan syarat sebuah karya ilmiah. Meskipun laporan KP sering dianggap mudah, namun bagi saya setiap laporan pekerjaan yang berhubungan dengan akademik, harus dikerjakan sesuai dengan jalur akademik, yaitu ilmiah.

    Tantangan terbesar saya dalam membimbing mahasiswa ini justru bukan pada source code, tapi lebih ke tata cara penulisan, pemilihan kata, tanda baca, hingga ke hal-hal remeh seperti penomoran bab dan halaman. Selain itu juga mengarahkan mahasiswa untuk mampu menulis laporan mereka secara urut per-bab dengan menggunakan kalimat baku dan mampu untuk mempertanggungjawabkan tulisannya. Saya sering menyangsikan tulisan mereka karena ya nggak bisa ngasih sumber atau referensi yang mendukung. Sebagian besar masih berdasarkan “katanya”. Padahal yang namanya “katanya” tidak selalu benar.

    Mengapa fenomena ini terjadi? Padahal mahasiswa ini adalah calon sarjana yang akan dituntut kemampuan analisisnya berdasarkan teori-teori yang ilmiah. Bukan seperti teman-teman SMK atau D3 yang memang ditargetkan untuk menguasai hal-hal aplikatif.

    Banyak hal sebenarnya, tapi yang paling mencolok adalah karena malas membaca saja. Seperti yang saya sebutkan di postingan sebelumnya, kita sedang mengalami krisis membaca. Efeknya saya rasakan sekarang, dimana mahasiswa ini kurang mampu untuk menuangkan pikiran mereka ke tulisan. Ini terbukti ketika saya meminta penjelasan terhadap tulisan yang mereka ketik, langsung mereka bisa menjelaskan dengan verbal. Nah, kenapa itu nggak ditulis aja cah?

    Saya memperhatikan publikasi yang diterbitkan oleh IEEE XPlore, akhir-akhir ini sebagian besar publikasi ilmiah terbaru justru mulai bergeser ke negara Tiongkok. Banyak sekali publikasi berkualitas yang dihasilkan dari sana, saya pikir memang karena pemerintah Tiongkok sedang mendorong industri negaranya supaya mampu bersaing secara global. Tentunya ini membutuhkan dukungan dari berbagai sektor, salah satunya adalah sektor akademisi. Penelitian-penelitian yang dipublikasikan sangat berguna bagi industri dalam negeri Tiongkok, sehingga tidak heran akhir-akhir ini banyak teknologi baru yang muncul dari Tiongkok.

    Bagaimana dengan Indonesia? Nampaknya kita masih nyaman berposisi sebagai konsumen.

    Profesi saya sekarang ini mewajibkan saya untuk membuat penelitian yang nantinya dipublikasikan. Disini saya rasakan betul betapa susahnya untuk meneliti, selain itu memang betul, menulis itu tidak mudah, apalagi tulisan ilmiah. Tapi hey, semuanya bisa dipelajari. Banyaklah membaca supaya mengerti, lalu tulislah untuk lebih memahami. Awali semuanya dengan membaca, selanjutnya menulislah untuk mengakhiri.