Categories
Tulisan

Hiduplah Sekarang Untuk Masa Mendatang

Apakah sudah siap dengan masa depan? Atau sudah cukup puas dengan yang dimiliki sekarang? Nasib seseorang tidak ada yang tahu, yang bisa kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, setidaknya mulai dari sekarang jika memang sebelumnya belum pernah merencanakan satupun. Kita yang sekarang adalah hasil rencana yang kita lakukan di masa lalu. Hanya perlu keyakinan yang tinggi.

Saya mulai merencanakan masa depan sedari masuk bangku kuliah. Jurusan yang saya pilih saat itu masih belum sepopuler sekarang, literatur yang tersedia sangat terbatas, dan akses Internet adalah barang mewah saat itu. Ketika teman-teman saya kuliah jurusan Ekonomi (yang saat itu sangat populer), saya malah berdarah-darah melewati perkuliahan Teknik Informatika. Saya yakin, ahli komputer akan menguasai masa depan.

Sadar dengan minimnya sumber bacaan, maka saya lebih sering dolan ke warnet daripada ke warung. Uang jajan yang diberikan orang tua lebih banyak saya habiskan untuk membayar billing warnet, makanya pas kuliah dulu saya ceking, cuma 55 kg dengan tinggi 170 cm. Investasi ini saya lakukan untuk mengakses Internet sepuasnya, bahkan pernah sampai titik Tidak Tau Mau Apa Lagi di Internet™. Bergabung dengan berbagai komunitas maya, aktif di forum diskusi dan mailing list, sampai ikut mendirikan beberapa komunitas sudah saya lakukan. Minat tentang dunia underground juga tumbuh disini, mulai dari belajar dengan sumbernya sampai akhirnya bisa memberikan advice ke orang lain. Pokoknya berusaha naik kasta dari lamer ke atas terus.

Saya bukanlah mahasiswa yang rajin kuliah. Sebagian besar kegiatan perkuliahan saya saat S1 dulu lebih banyak dihabiskan di organisasi Internet Club, di sinilah saya bisa mendapatkan ilmu praktek selain ilmu teori yang didapatkan di perkuliahan. Ilmu komputer adalah ilmu terapan, nggak mungkin bisa menguasai komputer tanpa mencobanya. Itulah kenapa, saya sangat mendukung mahasiswa yang ikut organisasi, tujuannya agar ilmu yang mereka dapatkan selama kuliah akan berimbang. Percuma IPK tinggi tapi nggak bisa apa-apa. Selain itu, saya disadarkan oleh kakak senior di Internet Club bahwa selepas lulus kuliah nanti, saya akan berhadapan dengan manusia, bukan mesin. Makanya dengan bergabung ke organisasi, saya juga belajar bersosialisasi, berkomunikasi, saling menghormati dan tenggang rasa dengan orang lain. Ilmu teknis dapat, sosial juga dapat. Lengkap!

Banyak yang tidak percaya bahwa saya adalah pemain band. Hahahaha.. Semasa kuliah, saya juga nyambi jadi pemain band di cafe-cafe Semarang. Sering tampil di berbagai event besar baik skala kampus atau umum. Jadi reguler homeband cafe atau mengisi acara di private party pun pernah. Orang-orang yang baru mengenal saya pun nggak percaya kalo saya berposisi sebagai vokalis! Jangankan dia, lha wong saya aja kadang juga nggak percaya bahwa saya punya pencapaian itu. Tapi banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan, punya banyak teman, nambah kemampuan untuk berbicara dengan orang lain, berbasa-basi, dan menangani ribuan massa di depan panggung. Kok bisa ya? Padahal aslinya saya itu agak intovert, jarang keluar rumah kalo ndak perlu banget.

Ternyata, semua yang saya lakukan di masa kuliah itu sangat membantu ketika mulai masuk dunia kerja. Saya magang di Suara Merdeka jalan Kaligawe selama 1 bulan dengan 2 orang teman. Kami bertiga tiap pagi datang menerjang macet dan banjir, kemudian baru pulang selepas Maghrib. Semua pekerjaan dilakukan dengan senang hati, lha wong dapat Internet gratis. Bahkan ketika masa magang berakhir, saya ditawari untuk bergabung di Suara Merdeka. Dasar anak muda, kesempatan itu saya tolak hahahaha. Pekerjaan pertama di Radio Gajahmada FM sebagai tenaga IT juga tidak lepas dari bantuan seorang kawan, dia menawarkan pekerjaan dan tau-tau malah dipanggil interview trus diterima. Bekerja di lingkungan yang fun sangat menyenangkan, lagi-lagi ilmu sosial saya semakin meningkat selain jadi semakin banyak belajar. Dua tahun kemudian ada tawaran untuk bergabung ke Telkom dari seorang kenalan, interview sebentar kemudian diterima. Praktis semua itu nggak pakai surat lamaran. Namun akhirnya, hati nggak pernah bohong, saya lebih cocok masuk ke dunia pendidikan. Jadi dosen!

Dosen bukanlah cita-cita saya dari kecil, saya hanya ingin jadi ahli komputer. Tapi, ketika mengingat kembali perjalanan yang telah saya lakukan ternyata saya memang cocok jadi dosen. Ilmu akan lebih berguna jika dibagikan, dulu saya belajar dengan tekun, nggak kenal waktu, rela mengeluarkan uang untuk mempelajari sesuatu. Sekarang saatnya untuk membagikan ilmu yang saya miliki kepada mahasiswa, supaya mereka bisa melebihi saya kelak. Berbagi nggak pernah rugi™.

Sekarang, ternyata saya jadi lebih fokus ke ilmu komputer. Mempelajari ilmu baru yang setiap saat muncul. Master Thesis saya membahas cloud computing yang waktu itu belum populer, sekarang? Saya lebih ahli di bidang cloud. Dengan pengalaman 10+ web development, cloud computing, MTCNA, dan security saya jadi lebih yakin dan mantap menatap masa depan. Persiapan asuransi kesehatan dan jaminan hari tua juga sudah dilakukan, karena hidup sekarang itu untuk masa mendatang.

By Mohammad Sani Suprayogi

Engineer & Lecturer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *