Kita (masih) Perlu Belajar Menulis

Semester ini adalah semester pertama saya mulai membimbing mahasiswa menyusun laporan Kerja Praktek (KP). Jadi di kampus Universitas Semarang (USM), setiap mahasiswa harus melewati beberapa tahap dalam menempuh perkuliahan. Selain ada kuliah tatap muka, mahasiswa (terutama jurusan TI) akan diminta untuk melaksanakan KP di perusahaan untuk mengaplikasikan ilmunya, kemudian mereka membuat laporan dengan bantuan dosen pembimbing yang nantinya diseminarkan di jadwal yang telah ditentukan. Sepertinya terlihat sebagai tugas yang mudah, setidaknya itu yang saya bayangkan pertama kali.

Semester ini saya mendapatkan 24 mahasiswa bimbingan, dengan topik web development, networking, dan design analysist system. Mahasiswa ini pada dasarnya sudah mampu untuk membuat produk, lagipula untuk mahasiswa kelas sore, lokasi KP sebagian besar adalah kantor mereka sendiri. Namun, dari 24 mahasiswa ini hanya segelintir saja yang mampu untuk menulis dengan baik dan runtut sesuai dengan syarat sebuah karya ilmiah. Meskipun laporan KP sering dianggap mudah, namun bagi saya setiap laporan pekerjaan yang berhubungan dengan akademik, harus dikerjakan sesuai dengan jalur akademik, yaitu ilmiah.

Tantangan terbesar saya dalam membimbing mahasiswa ini justru bukan pada source code, tapi lebih ke tata cara penulisan, pemilihan kata, tanda baca, hingga ke hal-hal remeh seperti penomoran bab dan halaman. Selain itu juga mengarahkan mahasiswa untuk mampu menulis laporan mereka secara urut per-bab dengan menggunakan kalimat baku dan mampu untuk mempertanggungjawabkan tulisannya. Saya sering menyangsikan tulisan mereka karena ya nggak bisa ngasih sumber atau referensi yang mendukung. Sebagian besar masih berdasarkan “katanya”. Padahal yang namanya “katanya” tidak selalu benar.

Mengapa fenomena ini terjadi? Padahal mahasiswa ini adalah calon sarjana yang akan dituntut kemampuan analisisnya berdasarkan teori-teori yang ilmiah. Bukan seperti teman-teman SMK atau D3 yang memang ditargetkan untuk menguasai hal-hal aplikatif.

Banyak hal sebenarnya, tapi yang paling mencolok adalah karena malas membaca saja. Seperti yang saya sebutkan di postingan sebelumnya, kita sedang mengalami krisis membaca. Efeknya saya rasakan sekarang, dimana mahasiswa ini kurang mampu untuk menuangkan pikiran mereka ke tulisan. Ini terbukti ketika saya meminta penjelasan terhadap tulisan yang mereka ketik, langsung mereka bisa menjelaskan dengan verbal. Nah, kenapa itu nggak ditulis aja cah?

Saya memperhatikan publikasi yang diterbitkan oleh IEEE XPlore, akhir-akhir ini sebagian besar publikasi ilmiah terbaru justru mulai bergeser ke negara Tiongkok. Banyak sekali publikasi berkualitas yang dihasilkan dari sana, saya pikir memang karena pemerintah Tiongkok sedang mendorong industri negaranya supaya mampu bersaing secara global. Tentunya ini membutuhkan dukungan dari berbagai sektor, salah satunya adalah sektor akademisi. Penelitian-penelitian yang dipublikasikan sangat berguna bagi industri dalam negeri Tiongkok, sehingga tidak heran akhir-akhir ini banyak teknologi baru yang muncul dari Tiongkok.

Bagaimana dengan Indonesia? Nampaknya kita masih nyaman berposisi sebagai konsumen.

Profesi saya sekarang ini mewajibkan saya untuk membuat penelitian yang nantinya dipublikasikan. Disini saya rasakan betul betapa susahnya untuk meneliti, selain itu memang betul, menulis itu tidak mudah, apalagi tulisan ilmiah. Tapi hey, semuanya bisa dipelajari. Banyaklah membaca supaya mengerti, lalu tulislah untuk lebih memahami. Awali semuanya dengan membaca, selanjutnya menulislah untuk mengakhiri.

 

Leave a Reply