Category: Tulisan

  • Menurunkan Berat Badan Itu (Tidak) Mudah

    Menurunkan Berat Badan Itu (Tidak) Mudah

    Ceritanya sudah beberapa tahun terakhir ini berat badan saya meningkat dengan pesat, akibatnya beberapa aktivitas yang dulu mudah saya lakukan, sekarang terasa berat hahaha.. Mungkin untuk kawan lama saya di jaman kuliah S1 akan pangling kalau ketemu saya, soalnya beda banget antara dulu dengan sekarang.

    Nah, saya sudah beberapa kali mencari artikel untuk menurunkan berat badan dengan mudah, tapi tidak ada yang instan. Jadi saya tidak tertarik untuk mencoba obat-obatan untuk menurunkan berat badan, lebih baik saya membaca artikel kesehatan untuk menurunkan berat badan, salah satunya di bidanku.

    Salah satu poin di artikel tersebut adalah olahraga. Iya, sampai 3 tahun yang lalu saya sudah lama tidak berolahraga. Apalagi itu adalah tahun pertama saya menikah, sudah bisa dipastikan berat badan naik tidak terkontrol hahaha.

    Olahraga pertama yang saya coba adalah berlari. Sudah beli sepatu khusus lari beserta kaus kakinya. Nah, yang saya lupakan adalah karena kaki sudah lama tidak digunakan bekerja berat, saat dipaksa untuk berlari, sudah pasti lutut saya nyeri. Ini gabungan antara berat badan dan kondisi kaki yang tidak ideal.

    Oke, saya stop.

    Untungnya saat mudik ke Semarang, saya kopdar dengan Loenpia.Net, disitu Mizan membawa sepeda lipatnya. Sejak hari itu, saya langsung berburu sepeda, terutama sepeda lipat.

    Saya mempelajari semua istilah dan komponennya, hingga akhirnya saya membeli sepeda lipat Polygon Urbano 3 sebagai sepeda pertama saya. Meskipun kepayahan saat pertama kali gowes, namun tidak terasa hampir 2 tahun saya gowes dan hasilnya berat badan saya mulai turun, namun badan saya bertambah bugar.

    Berikut ini adalah grafik terbaru sebelum Lebaran 2020 yang menunjukkan berat badan saya turun cukup signifikan. Horeee..

    Menurunkan Berat Badan Itu (Tidak) Mudah

     

  • Pengalaman Mengurus Klaim Asuransi Mobil

    Pengalaman Mengurus Klaim Asuransi Mobil

    Bagaimana cara klaim asuransi mobil autocillin?

    Ceritanya awal Maret 2020 lalu, mobil saya disundul dari belakang oleh pengendara motor saat sedang berhenti di lampu merah pertigaan ringroad Jalan Wates. Karena kondisi macet, si mas-mas penabrak itu bisa kabur dan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya.

    Kesel? Pastinya…

    Sesampai di rumah, saya cek kondisi mobil, ternyata sukses bikin bemper belakang pecah kecil. Sebetulnya tidak terlalu terlihat, bahkan istri saya juga bilang untuk dibiarkan saja, toh tidak akan yang menyadari. Hanya saja terasa sayang saja, karena kondisinya sudah tidak sempurna hahaha.

    Pengalaman Mengurus Klaim Asuransi Mobil

    Kebetulan saya sempat beli asuransi mobil di Traveloka sehari setelah mobil diantar ke rumah. Jadilah saya coba mengurus proses klaim ini secara virtual.

    Ternyata, sangat mudah!

    Pertama, saya perlu menginstall aplikasi Autocillin di smartphone, kemudian mengisikan profil beserta nomor polis yang dimiliki. Selanjutnya foto beberapa bagian mobil, terutama bagian yang mengalami kerusakan. Setelah itu tinggal kirim saja klaimnya melalui aplikasi dan tunggu proses berikutnya.

    Besok paginya, saya dikontak oleh Mas Anton, petugas dari Autocillin untuk melakukan verifikasi klaim saya. Cepat juga ternyata responnya, ini sangat bagus!

    Mas Anton ini sangat membantu saya dan bersedia untuk dihubungi kapan saja jika membutuhkan bantuan. Saya dihubungkan oleh Mas Anton ke bengkel yang akan menangani kerusakan mobil, yaitu bengkel GT Auto Jogja.

    Berhubung saya menggunakan mobil merk Suzuki, yang ternyata tidak memiliki bengkel resmi khusus asuransi di Jogja, maka saya bersedia untuk memasukkan mobil ke GT Auto. Sebetulnya Mas Anton sudah menyarankan untuk membawa ke bengkel resmi Suzuki di Semarang, namun karena kendala waktu, akhirnya saya setujui untuk diperbaiki di bengkel GT Auto.

    Esok harinya, saya sudah berkontak dengan GT Auto mengenai klaim perbaikan mobil. Awalnya saya diminta datang membawa mobil untuk cek fisik dan administrasi. Saya bilang, saya sudah melakukannya via aplikasi. Ternyata data aplikasi belum tersinkronisasi dengan sistem bengkel, jadinya saya cukup diminta mengirimkan foto-foto yang sudah saya kirimkan via aplikasi.

    Sore harinya GT Auto mengabari proses klaim sudah diterima, dan akan memesankan sparepart yang saya perlukan. Wow, cepat sekali prosesnya dan saya tidak perlu membawa mobil saya ke bengkel. GT Auto memberi ancang-ancang 1 minggu untuk proses pemesanan, jadi saya masih bisa menggunakan mobil untuk keperluan sehari-hari.

    Benar saja, seminggu kemudian GT Auto mengabari bahwa sparepart sudah datang, namun malah saya yang belum selo untuk mengirim mobil ke bengkel. Jadinya malah saya yang minta penundaan waktu dan disepakati hari Kamis, 19 Maret 2020.

    Hari Kamis pagi saya bawa ke bengkel, langsung diterima oleh petugas. Selanjutnya proses serah terima dan pengecekan awal, kemudian saya diberi dokumen tanda terima. Dijanjikan hari Senin bisa diambil mobilnya, alasannya standar perbaikan adalah 3 hari. Oke, tidak masalah.

    Sore harinya, saya dikontak oleh bengkel bahwa sparepart sudah dipasang dan besok bisa diambil! Wooww.. cepat sekali! Besok paginya saya datang ke bengkel, cek mobil, mengurus dokumen serah terima, membayar biaya 300.000, kemudian mobil boleh dibawa pulang.

    Kesimpulan saya, berhati-hati di jalan raya itu penting, tapi terkadang orang lainlah yang kurang berhati-hati. Lindungi kendaraan Anda dengan asuransi supaya apabila ada kejadian, tidak perlu marah-marah dan malah menambah masalah. Memang sih saya perlu membayar 300.000 untuk proses klaim ini, namun ini lebih baik daripada saya membayar sendiri untuk pembelian sparepart beserta ongkos jasa bengkelnya.

  • Halo 2020

    Halo 2020

    Selamat tahun baru 2020! Iya, ini adalah tulisan pertama di tahun 2020 setelah di tahun 2019 lalu sukses hanya menulis satu artikel saja. Nah, supaya tahun ini jumlah artikelnya bisa meningkat, maka inilah tulisan pertama di tahun 2020.

    Oke, mau ngomongin apa ya.. Tadinya mau cerita tentang perjalanan 10 tahun ke belakang, tapi sepertinya saya sudah ketinggalan eforia. Mungkin nulis tentang kesibukan saya saja ya? Karena ternyata saya sering ditanyai oleh beberapa kawan lama saat berjumpa.

    Pertama, Saya sudah tidak mengajar di Universitas Semarang. Sebagian besar kawan masih mengira saya masih sebagai dosen disana, tidak mengapa sih karena sebetulnya hingga sekarang status saya masih tercatat sebagai dosen, meskipun tidak lagi aktif mengajar. Saya masih memiliki NIDN dan masih dibayarin BPJS Kesehatan oleh kampus. Kok bisa? kapan-kapan saya ceritakan ya.

    Kedua, iya, sekarang saya tinggal di Jogja. Kerja dari rumah untuk kantor di Jakarta.

    Terasa menyenangkan ya? Sebetulnya sama saja. Keuntungan yang saya dapatkan dari remote adalah bisa kerja di mana saja dan kapan saja. Tapi yang perlu diingat, kekurangan dari kerja remote adalah, bisa kerja di mana saja dan kapan saja.

    Jadi, sejak 3 tahun yang lalu seluruh kalendar saya berwarna hitam. Tidak lagi mengenal tanggal merah ataupun cuti bersama.

    Awalnya saya cukup kesulitan mengatur waktu yang baru ini, karena jadi kebanyakan main dan berleha-leha. Akibatnya ada beberapa project yang tidak mencapai target dan itu menjadi catatan penting dalam perjalanan karir saya. Hingga akhirnya sekarang saya cukup bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.

    Ketiga, saya sekarang punya hobi bersepeda! Hahaha.. Setelah berangan-angan bisa rutin olahraga renang yang kemudian berakhir wacana. Akhirnya saya menemukan hobi saya yang sesungguhnya, yaitu bersepeda. Iklim dan wilayah Bantul, Yogyakarta yang sangat mendukung ditambah dengan banyak sekali penghobi dan komunitas sepeda di sini membuat saya semakin bersemangat.

    Saya pengguna sepeda lipat, karena jenis sepeda ini cukup ringkas dan cukup untuk diletakkan di dalam rumah ataupun di bagasi mobil. Setidaknya sudah beberapa kali saya meminta evakuasi karena gowes terlalu jauh, dan terbukti bisa dilipat dan loading dengan cepat hahaha.

    Oke, itu saja dulu.

  • Cara Menggunakan BPJS Kesehatan di Jogja

    Cara Menggunakan BPJS Kesehatan di Jogja

    Ceritanya kemarin (25 Juni 2019), untuk pertama kalinya saya menggunakan layanan BPJS Kesehatan setelah 2 tahun tinggal di Jogja. Sebelumnya saya baru sekali menggunakan BPJS Kesehatan di Semarang. Saya merasakan ada banyak peningkatan yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan, terutama dalam hal layanan dan sisi teknologi. Tentunya ini adalah hal yang patut diapresiasi karena ada proses peningkatan kualitas.

    Ketika pindah ke Jogja, hal pertama yang saya lakukan adalah mengurus administrasi BPJS Kesehatan yang saya miliki. Beruntung instansi tempat saya bekerja dulu masih mau menanggung iuran BPJS Kesehatan hingga sekarang, sehingga saya tidak perlu memindahkan sistem penagihannya meskipun kelas yang saya terima tidak bisa dinaikkan ke kelas 1. Menurut saya tidak masalah, karena saya juga memiliki asuransi kesehatan lain seandainya perlu penanganan yang tidak bisa dicover oleh BPJS.

    Kedua, saya perlu memindahkan lokasi Faskes 1 yang berada di Jogja. Ternyata, prosedurnya sangat mudah! Cukup instal aplikasi BPJS Kesehatan di smartphone dan semuanya bisa diatur langsung sendiri. Saya memindahkan lokasi Faskes 1 saya ke Klinik 24 Jam Firdaus Yogyakarta hanya dengan beberapa kali klik saja. Tapi yang perlu diingat, perubahan data akan efektif di awal bulan. Jadi misalnya Anda ingin melakukan perubahan lokasi Faskes 1, sebaiknya di akhir bulan saja supaya nanti bisa langsung digunakan di awal bulan.

    Oh iya, kita bisa mengubah lokasi Faskes 1 setiap 3 bulan sekali, jadi misalnya Anda tidak puas dengan layanan Faskes 1 yang terdaftar, bisa mencari lokasi baru dan memindahkan ke lokasi tersebut. Ada banyak faktor mengenai alasan pemindahan ini, misalnya kepadatan pengunjung, layanan, dan tentunya faktor dokter yang merawat. Silakan pilih-pilih lokasi Faskes mumpung masih sehat.

    Kembali ke cerita kemarin

    Saya berangkat pagi-pagi ke Klinik 24 Jam Firdaus dan langsung parkir di tempat yang telah disediakan. Saat datang ke meja pendaftaran saya cukup menunjukkan kartu BPJS Kesehatan melalui smartphone, jadi saya tidak memiliki kartu fisiknya. Oleh petugas, akan ada validasi data dan data saya dinyatakan valid sehingga saya bisa memanfaatkan layanan BPJS di klinik tersebut.

    Proses selanjutnya, saya rasa akan sama saja seperti di klinik atau rumah sakit. Ada proses antrian, pemeriksaan, dan pengambilan obat. Kebetulan karena saya datang pagi-pagi maka prosesnya cepat, saya juga tidak tertarik untuk mencari tau apakah ada perbedaan layanan antara pasien BPJS dan bukan. Intinya saya dilayani dan mendapatkan obat yang diresepkan. Semuanya gratis!

    Bagaimana obatnya? yaa.. sudah pasti obat generic.

    Bagaimana jika tidak sembuh?

    Jangan khawatir, cukup datang lagi setelah obat habis (biasanya diberi resep untuk pemakaian 3 hari). Nah, canggihnya aplikasi BPJS ini adalah bisa menampilkan riwayat periksa beserta penanganannya. Sehingga diharapkan penanganan pasien bisa berjenjang dengan berdasarkan data, misalnya perlu dirujuk ke rumah sakit yang tingkatnya lebih tinggi, data-data tersebut akan membantu diagnosa selanjutnya.

    Menurut saya, ini adalah hal yang perlu diketahui oleh calon pengguna BPJS Kesehatan, bahwa prosedur penanganannya memang berjenjang. Berawal dari Faskes 1, kemudian bisa naik ke Rumah Sakit kelas D atau C, kemudian bila masih perlu penanganan lanjut baru ke Rumah Sakit kelas B atau A. Memang prosedurnya terasa ribet, namun menurut saya ini adalah hal terbaik yang Pemerintah bisa lakukan untuk berusaha menjamin kesehatan warganya.

    Tips

    Mumpung masih sehat, mungkin bisa ikuti tips berikut:

    1. Cari tahu lokasi Faskes 1 yang paling nyaman dan 24 jam. Tidak perlu dekat, tapi yang penting bisa terjangkau dalam waktu singkat.
    2. Beli premi asuransi kesehatan lain yang menanggung rawat inap. Misalnya ada penanganan lanjut, tinggal minta rujukan dari Faskes 1 ke rumah sakit yang Anda inginkan, nanti biayanya dicover oleh asuransi itu.
    3. Jaga kesehatan.

    Maksud poin 2 di atas adalah, saya memiliki asuransi kesehatan lain yang bisa saya gunakan di semua rumah sakit dimanapun dengan kelas VIP. Kenapa saya perlu membeli asuransi lain? karena BPJS Kesehatan saya hanya menanggung di Kelas 2, sehingga saya merasa perlu meningkatkan kelasnya supaya nantinya bisa mendapatkan pelayanan terbaik seandainya memang dirasa perlu. Jadi BPJS untuk rawat jalan, asuransi satunya untuk rawat inap.

    Rugi dong? Enggak juga sih, saya anggap investasi, setidaknya saya dan keluarga sudah terjamin untuk masalah kesehatan dan bisa langsung melakukan tindakan medis sebagai opsi pertama.

  • Apakah Jempol Murahan?

    Apakah Jempol Murahan?

    Berawal dari obrolan di grup WhatsApp Loenpia.Net tentang keprihatinan terhadap beberapa pihak yang kerap melakukan hal-hal tidak lazim di Internet, kemudian merembet ke aktivitas yang tidak masuk akal, termasuk kebiasaan menyebarkan konten dari grup WhatsApp satu ke grup lainnya tanpa melakukan konfirmasi, memunculkan istilah Jempol Murahan.

    Jempol Murahan adalah sifat seseorang yang lebih sering menggunakan jempolnya daripada hatinya.

    Eh tapi omong-omong, tidak terasa tahun 2017 segera berlalu, terakhir kali menulis di blog adalah ketika ulang tahun Loenpia.net yang ke 12 di bulan Oktober.

    Sudah cukup lama ya? Mau cerita sedikit ah…

    Selama 3 bulan terakhir ini lebih banyak disibukkan dengan pekerjaan yang berkaitan dengan social media. Misalnya merawat mesin analitik social media milik kantor, turut berkontribusi membangun “Chatbot” yang bisa berjalan di social media, hingga membantu membangun beberapa website sekaligus mengoptimasinya. Alhasil, saya ikut terpapar segala konten yang berasal dari social media, dan itu terkadang membuat saya prihatin.

    Saya bukan pengguna social media aktif, di smartphone hanya menginstall Twitter, Facebook dan Instagram, itupun juga karena pekerjaan yang mengharuskan saya untuk memilikinya. Selebihnya hanya aplikasi WhatsApp untuk berkomunikasi dan terjebak masuk ke grup-grup nggak jelas, terutama grup keluarga.

    Saya sudah hidup di Internet lebih dari 15 tahun, dan sudah cukup mengerti bagaimana Internet ini bekerja. Adapun tujuan Internet lahir pada awalnya adalah untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain yang terpisah jarak dengan waktu yang singkat. Zaman dulu, komunikasi yang bisa dilakukan pada awalnya berupa teks, kemudian berkembang bisa saling bertukar gambar, suara, video secara bergantian. Zaman now? Kita bisa melakukannya secara real-time.

    Kemudian saat ini pengguna Internet di Indonesia telah menyentuh segala lapisan usia dan latar belakang, siapapun dapat menggunakan Internet hanya dengan bermodalkan smartphone 800 ribuan dan koneksi WiFI. Pada satu sisi, perkembangan ini cukup menggembirakan. Penetrasi Internet hingga ke daerah merupakan impian kami sejak dulu, karena keterbukaan informasi itu merupakan hak asasi manusia.

    Namun sayangnya, kecepatan penetrasi ini tidak diimbangi dengan edukasi yang cukup kepada penggunanya. Meskipun ada gerakan Internet Sehat, cakupan yang bisa kami jangkau sangat terbatas apabila dibandingkan dengan jumlah pengguna baru Internet setiap harinya. Alhasil, saat ini bisa dibilang banyak pengguna Internet yang kurang cakap menggunakan Internet. Apabila diibaratkan, mirip seperti anak kecil yang diberi sepeda motor kemudian dia menyetir ke jalan raya. Selain bisa membahayakan diri sendiri, juga bisa membahayakan orang lain.

    Apapun yang ada di Internet, siapapun bisa membuatnya. Ini adalah poin yang kurang disadari.

    Kembali ke topik Jempol Murahan.

    Beberapa kali saya meladeni postingan di grup keluarga, terutama ketika ada seorang anggota grup posting artikel yang seakan-akan benar. Niatnya mungkin baik, ingin menyebarkan informasi yang dirasa berguna, namun isi kontennya tidak divalidasi. Biasanya isi postingannya ada kata-kata yang manis, terkadang disisipi dengan kutipan artikel, jurnal, penelitian, atau bahkan ayat suci, kemudian sering ada nama-nama populer yang mendukungnya, paling terakhir dan pasti tidak akan lupa, adalah ajakan untuk ikut menyebarkan informasi itu ke rekan-rekan yang lain. Saking seramnya, kadang diberi ancaman apabila tidak ikut menyebarkan maka akan mendapatkan musibah.

    Wow!

    Musibah bisa didownload dari Internet.

    Apakah Jempol Murahan?

    Kegiatan seperti ini harus dihentikan! Saat masih aktif mengadakan pengabdian yang bertemakan Internet Sehat, saya sering bilang ke peserta untuk jangan percayai apapun di Internet. Sifat ini harus ditanamkan dalam kalbu dimasukkan ke dalam pikiran, dan dilakukan ke dalam perbuatan. Karena nanti secara otomatis kita akan melakukan validasi terhadap berita yang baru saja kita baca.

    Selain itu, jangan cepat untuk menyebarkan apapun dari Internet. Kenapa? Ya karena apapun di Internet tidak bisa dipercaya.

    Cek dulu kebenarannya, jangan sampai Anda dicap sebagai Jempol Murahan.

    Ditulis dalam rangka kampanye Anti Jempol Murahan oleh Komunitas Blogger Loenpia.Net. Tulisan lainnya:

    1. Didut – Jangan Jadikan Jempolmu Muarahan
    2. Daeng Ipul – Jangan Jadi Bagian Jempol Murahan
    3. Gita – Biar Jempolmu Ngga Jadi Jempol Murahan
    4. Jiban – Jempol Murahan=Jempol Kadaluarsa
    5. Mbak Latree – Jangan Jadi Jempol Murahan
    6. Bunsal – Nggak Mau Jempol Murahan? Ini Cara Asyiknya
    7. Okky – Kamu Kaum #JempolMuarahan?
    8. Mbandah – Jempol Murahan, Cek sebelum Share
    9. Slam – Jempol Murahan Musuh Baru di Sosial Media
    10. Arief – Jempol Murahan dan Echo Chamber
    11. Budiyono – Waspadai Jempol Murahan di Sekitar Kita
  • Seloesin Loenpia.Net

    Seloesin Loenpia.Net

    Selamat Ulang Tahun Ke 12 Komunitas Blogger Semarang, Loenpia.Net.

    Tidak terasa komunitas yang dibangun dengan iseng-iseng saja, sekarang sudah berubah menjadi sebuah keluarga. Pertemanan yang hanya bermula dari pertemuan di dunia maya, sekarang sudah berubah menjadi bagian keluarga yang tidak terpisahkan setiap hari. Obrolan yang tadinya seputar teknologi dan Internet, sekarang sudah berubah menjadi obrolan seputar info diskon susu dan popok.

    Iya, kami telah berubah.

    Berubah ke arah yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Kami berubah dari komunitas berisikan anak muda, menjadi komunitas manusia berumur yang sudah tidak tahan lagi dengan angin malam. Niatan untuk kopdar biasanya akan berakhir menjadi wacana yang tak berkesudahan, namun uniknya jika tidak ada niatan untuk bersua, maka secara ajaib akan tercipta acara kopdar dadakan. Isi obrolannya juga sudah berubah, tidak lagi ngomongin blog, tapi sudah ngomong masalah kesehatan atau investasi masa depan.

    Begitulah, pertemanan hingga belasan tahun memang membuat siapapun yang berada di lingkaran itu menjadi kuat. Mudah-mudahan bisa terus bertahan hingga seterusnya, sampai ke generasi selanjutnya.

  • Membuat Website Pernikahan

    Membuat Website Pernikahan

    Beberapa hari lagi, saya akan melangsungkan pernikahan dengan pasangan saya. Persiapan telah dirancang jauh hari, koordinasi telah dilakukan serapi mungkin, undangan pernikahan juga telah didistribusikan sedini mungkin. Namun kemudian saya menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang dalam informasi yang disampaikan di kartu undangan.

    Iya, tidak semua orang mengenal saya ataupun Ami (pasangan saya), jika pun ada paling juga hanya orang yang pernah sekantor saja. Selain itu, saya yakin hal ini juga menimpa ke saya atau ke sebagian besar Anda, ketika menghadiri undangan pernikahan tapi nggak kenal dengan siapa yang menikah atau menjadi pasangan nikahnya.

    Maka dari itu, saya membuat website pernikahan saya sendiri. Ide ini terinspirasi dari mas Budiyono yang pernah membuat website serupa untuk pernikahannya. Saya juga membuat URL yang sama dengan memanfaatkan nama domain yang telah saya miliki sebelumnya.

    Urlnya: https://pernikahan.ami.dan.yogie.id

    Itu adalah url yang saya buat, sengaja dibuat panjang dan langsung menginformasikan apa yang ada di dalamnya. Tadinya mau diisi dengan informasi atau foto-foto mengenai kami berdua, tapi kemudian disinilah kami sadar, bahwa ternyata kami berdua sama-sama tidak suka difoto dan sama-sama tidak suka mempublikasikan informasi di Internet. Ditambah, kami juga tidak mengadakan sesi foto pre-wedding. Mahal…

    Akhirnya, websitenya hanya berisi informasi kecil namun tetap menggunakan standar yang telah saya tetapkan setiap membuat website untuk klien.

    • Dibangun menggunakan CMS WordPress di DigitalOcean cloud server.
    • Implementasi child themes Jupiter
    • Optimasi web cache
    • Optimasi SEO On-Page
    • Optimasi image compression
    • Implementasi CDN
    • Implementasi HTTPS, HTTP/2, dan HSTS
    • Menggunakan 4096 bit RSA Key (iya, saya selo)
    • Image Gallery dengan Instagram crawl by hashtag #amiyogie
    • Nempelin Paypal Donation (hahahaha…)

    Semuanya dibuat dalam waktu 2 hari dan akan diaktifkan hingga waktu yang tak pernah ditentukan lagi.

  • Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Apa yang akan Anda lakukan, jika datang ke suatu kota tanpa rencana? Itu yang saya alami pada pertengahan bulan Juli 2017 lalu. Sewaktu perjalanan pulang ke Semarang dari Jakarta, ternyata saya ketiduran di Stasiun Tawang dan akhirnya terbawa kereta api hingga ke… Surabaya.

    Untunglah sewaktu pemeriksaan tiket, saya terlewatkan oleh pak kondektur sehingga tidak disuruh membayar denda, atau diturunkan di stasiun terdekat. Misalnya saya betul diturunkan, bakalan lebih bingung karena saat saya tersadar masih jam 03:30 pagi dan entah sedang berada dimana. Tapi setidaknya saya sudah habis diketawain sama cah Loenpia di grup WhatsApp.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Oke, setelah 3 jam perjalanan sampailah saya di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Kebetulan saya sudah menunaikan Shalat Subuh di kereta dan sempat membeli tiket kereta untuk perjalanan pulang di sore harinya, maka hal yang pertama saya cari adalah kamar mandi.

    Saya membayangkan Stasiun Pasar Turi akan megah seperti Stasiun Gambir, namun ternyata bayangan saya salah. Stasiun ini tidak lebih besar daripada Stasiun Tawang, dan sayangnya kebersihan kamar mandinya kurang terjaga. Tapi berhubung harus segera menunaikan hajat pagi, maka ya harus menerima apa adanya.

    Setelah urusan hajat terselesaikan dengan damai, maka saatnya berpetualang. Saya keluar stasiun dulu untuk menuju ke tempat cetak mesin tiket. Untunglah tadi memutuskan untuk langsung membeli tiket, karena setelah saya cek, semua tiket kereta ke arah Barat sudah habis terjual hingga hari Minggu (saat itu hari Jumat). Saya menuju ke Indomaret untuk membeli segelas kopi dan Pop Mie untuk sarapan, sekaligus membuat rencana hingga jam 16:00 nanti.

    Saya perlu mandi, itu yang terlintas di pikiran. Berhubung masjid di sekitar stasiun menurut saya kurang layak untuk menumpang mandi, maka saya andalkan Google Maps untuk mencari masjid yang besar. Saya mendapatkan sebuah masjid yang berlokasi 1 km dari stasiun, dan perjalanan di segera dimulai.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Perjalanan menuju Masjid Raudhatul Musyaawarah cukup menarik, saya diarahkan untuk melewati komplek pertokoan dan sempat mampir ke ATM BCA disana, kemudian melewati pasar yang cukup ramai, dan akhirnya sampailah ke tempat tujuan. Kebetulan saat itu petugas masjid sedang membersihkan untuk persiapan shalat Jumat, dan ketika melihat saya beliau langsung menunjukkan lokasi kamar mandi. Mungkin kelihatan banget saya belum mandi dan kebablasen sampai sini.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Masjid ini berlokasi di depan DPRD Jawa Timur, sehingga saya rasa masjid ini akan banyak jamaahnya dan terbiasa untuk menerima musafir yang mampir. Foto di atas saya ambil setelah mandi dan bersiap-siap untuk menuju ke lokasi berikutnya. Oh iya, di Surabaya sudah tersedia layanan transportasi online, itulah yang membuat saya tenang untuk jalan-jalan di Surabaya. Tinggal buka aplikasi Go-Jek, saya arahkan tujuan ke House of Sampoerna.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    House of Sampoerna menjadi pilihan teratas saat saya mencari tempat wisata melalui Google Maps. Disini tersedia 2 hal yang bisa dinikmati, yaitu mengikuti wisata Surabaya Heritage Track (SHT) menggunakan bus berkeliling kota atau mengunjungi Museum Sampoerna yang berlokasi di House of Sampoerna.

    Sayangnya, saya tiba di lokasi pukul 8:30 dan antrean pendaftaran SHT sudah panjang, dan ketika saya tanya slot untuk jam 9:00 pagi ternyata juga sudah habis, slot tersisa yang terdekat adalah jam 13:00. Berhubung saya tidak memiliki banyak waktu, maka saya foto-foto saja dan mau main ke museum saja yang baru dibuka nanti jam 9:00.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Bisnya keren ya? Katanya jika beruntung mengikuti tur SHT, kita akan dibawa ke beberapa tempat bersejarah di Surabaya dan diceritakan pula sejarah setiap objeknya, menarik. Nanti kapan-kapan saya akan datang kesini lagi dan memesan tempatnya dulu, karena ternyata boleh untuk memesan tempat melalui telepon.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Museum Sampoerna dibuka. Awalnya saya bingung karena pintunya tertutup, setelah bertanya kepada petugas ternyata memang pintu sengaja ditutup karena ada AC di dalam, saya cukup membuka pintu saja dan gratis tanpa tiket. Kebetulan di dalam sedang ada rombongan keluarga yang sedang berkunjung dan didampingi oleh pemandu museum. Jiwa backpacker saya muncul, langsung saja bergabung ke rombongan itu untuk sekedar ikut mendengarkan penjelasan mas-mas pemandu. Kayanya sih ada beberapa anggota rombongan yang ngeliatin saya waktu ikut rombongan dia, dianggap penyusup mungkin ya? Hihihihi…

    Museum ini menarik, kebetulan saya juga memang suka main ke museum. Di museum ini kita bisa melihat sejarah awal Sampoerna hingga sekarang, banyak foto, tembakau, dan alat-alat yang dulu digunakan untuk produksi. Di lantai 2, kita bisa melihat secara langsung proses pelintingan rokok oleh wanita-wanita terampil. Sayangnya disini tidak boleh memotret, tapi kita bisa membeli souvenir disini.

    Keluar dari museum, saya diinfokan ada pameran patung di gedung belakang. Tempatnya agak tersembunyi namun tenang, saya sempat melihat-lihat karya seniman disana dan cukup kagum dengan hasil karyanya. Lagi-lagi disini tidak boleh memotret, tapi tidak mengapa karena dengan melihatnya saja, saya sudah merasa cukup.

    Perjalanan berikutnya adalah ke Monumen Kapal Selam, terima kasih kepada Okky yang hari itu banyak memberikan informasi tempat tujuan wisata di Surabaya. Tapi sebelumnya saya sempat beli Nasi Rawon yang berada di depan House of Sampoerna sebelum memesan Go-Jek lagi.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Monumen Kapal Selam ini sesuai dengan namanya, kita bisa masuk ke kapal selam sungguhan yang diletakkan disana, tiket masuknya IDR 10.000 saja. Kebetulan karena bukan masa liburan, saya bisa masuk ke kapal selam dengan lengang. Di dalam telah dipasang AC supaya tidak sumuk, kemudian mungkin seharusnya ada pemandu wisata yang akan bercerita, namun saat saya masuk mbak-mbaknya sedang makan siang. Jadilah saya masuk ke setiap bagian kapal selam sendirian. Iya, betul-betul sendirian karena memang sepi pengunjung.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Di dalam kapal selam, saya melihat banyak peralatan yang hanya bisa saya tonton di film, kemudian ada beberapa tulisan keterangan di setiap bagiannya. Kapal selam terbagi menjadi beberapa bagian yang memiliki fungsinya masing-masing. Pada setiap bagian ruangan terdapat pintu yang berukuran besar dan kecil, saran saya jika Anda membawa tas punggung yang besar, lebih baik tasnya dilepas dan dilempar ke dalam saat mau masuk ruangan dengan pintu kecil. Saya sempat nyangkut ketika mau pindah ruangan dengan kondisi tas masih saya panggul. Hihihi…

    Saya membayangkan kehidupan di kapal selam tentu serba terbatas, maka jika kapal sedang sandar, pasti seluruh kru langsung mencari hiburan. Kunjungan saya di Monumen Kapal Selam dari pintu masuk ke pintu keluar hanya 15 menit. Saya mencari Video Rama yang tertulis di tiket, tapi tidak menemukannya, apa mungkin juga tidak buka? Saya juga melihat ada kolam renang disana, tapi khusus untuk anak-anak. Sebagai informasi, cuaca saat itu sangat terik, mungkin itu yang membuat kolam renang cukup ramai.

    Berhubung waktu telah beranjak siang, maka saya perlu mencari masjid untuk Shalat Jumat. Berbekal Google Maps, saya mencari masjid terdekat dan besar. Saya memilih mengunjungi Masjid Muhajirin di dekat Pemkot Surabaya.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Cukup berjalan kaki selama 15 menit saya sudah sampai ke lokasi, oh iya di tengah perjalanan saya sempat memotret ikon Kota Surabaya yang saya jadikan featured image di postingan ini. Yang saya sukai dari Surabaya adalah trotoar yang ditata rapi dan nyaman bagi backpacker yang berkunjung.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Masjid Al Muhajirin yang saya kunjungi untuk Shalat Jumat ini cukup megah, terletak di dekat kantor Pemkot Surabaya dan jamaahnya sangat banyak. Saya sempat tiduran sejenak untuk meluruskan punggung dan kaki hingga jam 13:00 untuk kemudian mencari makan siang. Okky menyarankan saya untuk mencicipi Sate Klopo yang lokasinya tidak jauh dari masjid, seketika semangat kembali muncul dan langsung menuju kesana.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Saya baru tahu jika penjual Sate Klopo itu cukup banyak, kemudian yang terkenal dan ramai adalah Sate Klopo Ondomohen Bu Asih, namun karena oleh Google Maps diarahkan ke Pojok Malam, maka jadilah saya mampir kesana. Saat baca-baca review ternyata rasanya sama dengan Bu Asih, bahkan dijadikan alternatif jika warung Bu Asih sedang ramai. Memang ketika saya datang ke Pojok Malam, cukup sepi namun pesanan saya jadi cepat disajikan. Kapan-kapan saya akan mampir warungnya Bu Asih.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Kira-kira seperti itu bentuk satenya, satu porsi berisi 10 tusuk daging sapi yang dibaluri parutan kelapa sebelum kemudian dibakar. Hmmm… wanginya menggoda dan rasanya menjadi lebih kaya karena dari parutan kelapa yang ikut dibakar tadi. Seporsi Sate Klopo harganya IDR 20.000 saja.

    Baiklah, setelah kenyang saatnya membeli oleh-oleh. Lagi-lagi saya bertanya kepada Google Maps dimana lokasi Bu Rudy untuk membeli sambal dan lain-lainnya. Kemudian saya diarahkan ke Bu Rudy yang beralamat di Jalan Anjasmoro. Tapi katanya Okky, disini bukan yang asli hihihi.. Nggak papa deh yang penting tetap bisa dapat sambalnya.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Ternyata perjalanan cukup jauh, tapi saya bisa melihat banyak spot-spot menarik di Surabaya. Pak Go-Jek yang mengantar saya cukup lihai membawa motornya, sehingga bisa cepat sampai ke tujuan. Sesampai disana saya disambut oleh bangunan dengan tulisan Bu Rudy yang sangat besar.

    Disini tidak hanya menjual sambal, namun juga menjual oleh-oleh yang lain. Selain sambal, saya juga membeli petis, terasi, dan beberapa cemilan. Saya juga melihat ada beberapa pengunjung yang sedang makan siang disana, rupanya selain toko oleh-oleh, disini juga bisa untuk makan di tempat.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Saya tidak berlama-lama disini karena waktunya sudah mepet dengan jam keberangkatan saya ke Semarang. Kebetulan juga tidak banyak pengunjung sehingga proses pembayaran bisa diselesaikan dengan cepat. Selanjutnya langsung memesan Go-Jek lagi untuk mengantar saya ke Stasiun Pasar Turi.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

    Akhirnya, sampailah saya di Stasiun Pasar Turi. Sebagai backpacker dan turis yang baik, saya sempatkan memotret ikon Stasiun Pasar Turi yaitu lokomotif. Sebagai pengingat bahwa saya pernah kebablasen sampai sini akibat ketiduran. Seperti biasa, saya tidak pernah memotret diri sendiri, jadi harap maklum tidak ada foto saya yaaa. Sampai jumpa lagi Surabaya.

    Jalan-Jalan Ke Surabaya

  • One Step Closer

    One Step Closer

    Iya, hari Minggu tanggal 12 Maret 2017, saya melamar pasangan saya. Prosesi lamaran yang sederhana, namun bagi kami berdua, sangat bermakna. Mengingat perjuangan kami untuk mencapai ke tahapan ini tidaklah mudah, banyak sekali tantangan yang sudah kami hadapi dan lalui bersama. Komunikasi yang kami bangun merupakan pondasi yang bisa membuat kami bisa sejauh ini, yang sekali lagi, ini tidak mudah.

    Ke depannya, komunikasi akan terus ditingkatkan, tidak hanya antara kami berdua, namun juga ke seluruh keluarga besar. Kami percaya, bahwa membangun keluarga itu berawal dari komunikasi yang bermakna.