Berkuliah Itu Pilihan

Berkuliah Itu Pilihan

Hari Jumat lalu, tanggal 26 Juni 2015 adalah hari terakhir pendaftaran peserta didik untuk wilayah Semarang. Pendaftaran serentak yang meliputi tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK ini telah dilayani dengan baik oleh sistem PPD Kota Semarang yang bekerjasama dengan salah satu universitas swasta di Semarang. Ingatan saya kembali sekitar 16 tahun yang lalu (gile, udah tua) ketika saya sedang sibuk mendaftar ke SMA. Saat itu metode pendaftaran masih manual, belum ada sistem yang mempermudah segalanya. Jadi setiap hari saya harus naik angkot dari rumah di Tlogosari menuju ke SMA yang terletak di pusat kota Semarang, hanya untuk melihat jurnal pendaftaran yang tentunya akan dapat berubah sewaktu-waktu. Selain itu saya juga mendaftar di SMA yang lokasinya lebih dekat dengan rumah, jadi perjalanan saat itu memakan waktu hampir setengah hari untuk sekedar melihat jurnal.

Hasilnya? Saya tidak diterima di kedua SMA itu, padahal nilai NEM (iya, dulu namanya NEM) masih mencukupi untuk diterima di SMA pilihan kedua, tapi karena tidak sempat cabut berkas dari SMA pilihan pertama ya jadinya malah nggak diterima semuanya. Kemudian saya langsung menuju ke sekolah swasta yang sudah saya jadikan alternatif apabila tidak diterima di sekolah negeri. Jadinya, saya menghabiskan waktu SMA saya disana. Hahaha..

Semua proses itu saya lakukan sendiri, orang tua hanya memberi saya bekal untuk naik angkot. Apakah saya kecewa? Awalnya pasti dong, tapi kemudian justru saya puas karena saya bisa memilih sekolah saya sendiri. Saya belajar banyak hal, bahwa dunia ini penuh dengan pilihan dan kita tinggal mau mengambilnya atau tidak. Bagaimana jika saat itu saya memasrahkan semuanya ke orang tua? Mungkin saya sudah bersekolah di SMA negeri pilihan, karena saat itu jabatan orang tua cukup berpengaruh untuk mendaftar sekolah. Tapi mungkin saya tidak akan pernah belajar menghargai proses dan akan bersekolah dengan semaunya sendiri.

Terhitung sejak SMA, saya mulai diberikan kebebasan untuk berpendapat oleh orang tua. Tujuannya supaya saya dapat membuat pertimbangan dan memutuskan untuk kemudian bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Jadi memang sejak saat itu, di kepala saya selalu membuat opsi-opsi dalam hal apapun kemudian nantinya digunakan untuk berdiskusi dengan orang tua. Saya sangat beruntung memiliki orang tua seperti mereka.

Sekarang saya sudah menjadi dosen, sebuah pekerjaan yang dulu sewaktu masih kecil pun tidak terbayangkan. Mungkin di beberapa postingan sebelumnya saya sudah pernah bercerita bahwa menjadi dosen ini juga setelah melewati berbagai macam pertimbangan. Menjadi seorang dosen adalah pilihan yang saya buat, dan saya harus bertanggungjawab atas pilihan saya tersebut.

Namun, tadi ketika sedang menjaga ujian saya agak trenyuh melihat mahasiswa yang mengerjakan UAS. Kadang saya tidak habis mengerti dengan mahasiswa yang tidak bisa mengerjakan satupun soal-soal ujian ditambah dengan tidak memiliki catatan yang bisa digunakan untuk membantu pengerjaan soal. Ini sama sekali nggak masuk akal! Apa saja yang mereka kerjakan selama perkuliahan? Bukannya saat kuliah itu perlu menyimak dan mencatat ya? Jika hanya mengandalkan fotokopian, apa yang bisa didapatkan dari situ? Fotokopian slide tentunya tidak akan memberikan jawaban pertanyaan ujian. Akan sangat aneh jika ada soal ujian dari dosen yang jawabannya ada di fotokopian yang tinggal disalin jawabannya.

Bukannya menjadi mahasiswa adalah pilihan? Program studi yang diambil juga sebuah pilihan. Tentunya topik matakuliah yang akan diambil juga sudah bisa diprediksi. Jika tidak suka, kenapa tidak membuat alternatif tindakan? Belajar lebih giat misalnya, atau memilih untuk pindah jurusan. Itu pilihan kok. Bahkan ketika saya mengajar, dari 60 mahasiswa pasti yang mencatat hanya sepertiganya, sisanya? Minta slide presentasi. Padahal sudah sejak semester ini saya mencoba untuk tidak menggunakan slide presentasi untuk mengajar, hanya mengandalkan laptop untuk koneksi Internet dan spidol untuk mencoret-core di whiteboard.

Berkuliah itu pilihan, itu juga akan membanggakan orang tua. Menjadi mahasiswa itu pilihan, itu akan meningkatkan derajat di pekerjaan nantinya. Tapi jangan pernah menyia-nyiakan pilihan yang dibuat, apalagi jika pilihan itu masih melibatkan orang tua. Akhirilah apa yang sudah diawali.

Tinggalkan Balasan