Author: Mohammad Sani Suprayogi

  • Membaca Ulang Berkas Epstein 2026 dan Blueprint Kontrol Biologis

    Jeffrey Epstein lebih dari sekadar predator seksual. Rilis dokumen terbaru Departemen Kehakiman AS (DOJ) pada awal Februari 2026 membuka tabir baru: peran Epstein sebagai perantara infrastruktur pengawasan global.

    Bukan lagi soal skandal moral, berkas ini mengindikasikan keterlibatan Epstein dalam diskusi tingkat tinggi mengenai neuroteknologi dan simulasi krisis kesehatan jauh sebelum 2020. Berikut adalah tiga pilar data yang menghubungkan dokumen tersebut dengan realitas teknokratis hari ini.

    Protokol 2017: Cetak Biru Sebelum Krisis

    Dokumen Februari 2026 menyoroti komunikasi 2017 yang menghubungkan Epstein dengan teknokrat global dalam pembahasan “simulasi kesiapsiagaan”. Narasi ini berjalan paralel dengan Event 201, simulasi pandemi virus korona yang digelar Johns Hopkins dan Gates Foundation pada Oktober 2019—hanya dua bulan sebelum pasien nol terdeteksi di Wuhan.

    Sinkronisasi ini memunculkan anomali statistik. Apakah pandemi global adalah “Black Swan” (kejadian tak terduga), atau skenario yang dampaknya sudah dikalkulasi dalam ruang tertutup bertahun-tahun sebelumnya?

    Paten WO2020060606: Tubuh sebagai Mining Rig

    Koneksi antara kontrol biologis dan ekonomi digital bukan fiksi sains. Bukti teknisnya tersimpan di server Organisasi Hak Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO).

    Pada Maret 2020, Microsoft mempublikasikan paten WO2020060606.

    • Judul: Cryptocurrency System Using Body Activity Data
    • Mekanisme: Menggunakan aktivitas fisik manusia (gelombang otak, radiasi panas tubuh) sebagai “Proof-of-Work” untuk memvalidasi transaksi blockchain.

    Akses Dokumen Resmi WIPO di sini.

    Dalam konteks dokumen Epstein yang membahas pertahanan nasional berbasis neuroteknologi, paten ini adalah missing link. Ini adalah desain sistem di mana tubuh manusia bukan lagi milik pribadi, melainkan aset yang dapat diaudit dalam rantai ekonomi digital terpusat.

    USCDI dan Akhir Privasi Medis

    Visi tentang “sistem data kesehatan terpusat” kini menjadi kebijakan federal. Melalui standar USCDI (United States Core Data for Interoperability) yang dikelola oleh HealthIT.gov, data medis warga negara distandarisasi agar dapat diakses lintas platform digital.

    Ini selaras dengan misi ID2020, aliansi yang didukung korporasi teknologi besar untuk menyatukan identitas digital dengan status vaksinasi dan rekam medis. Pandemi berfungsi sebagai katalis akselerasi. Publik dipaksa menerima sistem identitas biometrik ini bukan karena pilihan, melainkan atas dasar “keamanan kesehatan”.

    Rilis dokumen Februari 2026 mengonfirmasi satu hal: transisi menuju pengawasan biologis adalah agenda terencana.

    Tiga titik data ini membentuk garis lurus:

    1. Perencanaan: Diskusi simulasi (Epstein Files/Event 201).
    2. Teknologi: Monetisasi aktivitas tubuh (Paten 060606).
    3. Implementasi: Standarisasi data medis paksa (USCDI).

    Kita sedang bergerak menuju sistem di mana akses terhadap ekonomi dan masyarakat bergantung sepenuhnya pada validasi biologis. Kesehatan bukan lagi hak asasi, melainkan izin akses yang dapat dicabut sewaktu-waktu oleh pemegang server.

  • Belajar Agile dari Kotak Mainan

    Kalau kamu paham cara main Lego, kamu sebenarnya sudah paham 80% konsep Agile.

    Jangan Buat Robot Raksasa Sekaligus!

    Bayangkan kamu ingin membuat robot dari Lego. Kalau pakai cara lama (Waterfall), kamu harus cari semua baloknya, pasang semuanya sampai selesai, baru boleh dinyalakan. Kalau di akhir ternyata kakinya copot? Kamu harus bongkar semuanya. Capek, kan?

    Di Agile: Kita buat kepalanya dulu. Klik! “Wah, kepalanya keren!” Terus kita buat badannya. Klik! Setiap hari, robotmu bertambah hebat. Di kampus, ini namanya Iterasi.

    “Bagus Gak, Bun?” (Tanya Terus!)

    Ingat tidak saat kamu menggambar lalu setiap lima menit sekali kamu lari ke Bunda buat pamer? Bunda bilang: “Kasih warna matahari dong!”, terus kamu balik lagi buat mewarnai.

    Di Agile: Kita tidak menunggu aplikasinya jadi 100% baru ditunjukkan ke dosen atau klien. Kita tunjukkan sedikit-sedikit supaya kalau ada yang salah, kita tidak capek memperbaikinya. Ini namanya Feedback Loop.

    Main Oper-Operan Bola

    Membuat aplikasi itu bukan kerja sendirian di pojokan kamar. Itu seperti main bola di lapangan. Kamu oper ke teman, temanmu lari, lalu cetak gol.

    Di Agile: Kita punya ritual namanya Daily Stand-up. Isinya cuma ngobrol sebentar: “Tadi aku buat ini, sekarang aku mau buat itu, eh tolong bantuin yang ini ya!” Intinya: Jangan diam-diaman kalau ada masalah.

    Rencananya Berubah? Gak Masalah!

    Lagi asyik bikin mobil-mobilan, tiba-tiba kamu ingin mobilnya bisa terbang. Kalau kamu pakai Agile, kamu tinggal pasang sayap di sampingnya. Selesai!

    Di Agile: Kita tidak kaku dengan rencana awal yang dibuat di kertas. Kalau ada teknologi baru atau kemauan klien berubah, kita tinggal Adaptasi. Seperti main Lego, tinggal lepas satu balok, pasang balok lainnya.

    Agile itu bukan ilmu gaib. Agile cuma cara biar kita tidak pusing saat membuat sesuatu yang besar. Caranya: Mulai dari yang kecil, sering-sering pamer hasil kerja, dan jangan pelit ngobrol sama tim.

  • 5 Elemen Vital yang Jangan Terlupakan dalam Survival Kit

    Bencana seringkali datang tanpa undangan, dan jujur saja, dalam kondisi panik, logika kita seringkali kalah oleh rasa takut.

    Setelah sebelumnya sempat membahas cara menyiapkan survival kit secara umum, kali ini saya ingin membedah lebih dalam tentang lima kategori barang yang menurut saya pribadi adalah “nyawa” dari tas darurat Anda.

    Energi Cadangan: Melampaui Sekadar Power Bank

    Di era digital, kehilangan daya baterai ponsel saat darurat adalah bencana kedua. Namun, jangan hanya mengandalkan satu power bank. Jika listrik padam berhari-hari, power bank Anda pun akan habis.

    Pertimbangkan untuk memiliki senter dengan baterai cadangan yang terpisah dari ponsel, atau jika ada budget lebih, panel surya portabel bisa jadi penyelamat untuk menjaga komunikasi tetap aktif.

    Stok Air Bersih: Karena Air Keran Tidak Selamanya Aman

    Air adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Dalam kondisi bencana, distribusi air bersih biasanya terputus atau terkontaminasi. Menyiapkan beberapa botol air mineral berukuran besar di dekat tas darurat adalah langkah awal.

    Tapi untuk jangka panjang, Anda bisa menyiapkan filter air portabel atau tablet pemurni air.

    Makanan dan Alat Masak: Kenyamanan di Tengah Kekacauan

    Pilihlah makanan yang tidak hanya tahan lama, tapi juga memberikan energi instan. Energy bars, biskuit, atau makanan kaleng yang memiliki tutup ring-pull (agar tidak perlu mencari pembuka kaleng lagi) adalah pilihan terbaik.

    Selain itu, memiliki kompor portabel kecil bisa sangat mengubah mood. Menikmati makanan atau minuman hangat saat cuaca dingin atau hujan badai memberikan efek psikologis yang menenangkan.

    Kesehatan dan Kebutuhan Spesifik: Jangan Disamaratakan

    Isi kotak P3K standar memang penting, tapi jangan lupa kebutuhan personal Anda. Jika Anda penderita asma, rutin mengonsumsi obat tertentu, atau memiliki bayi, kebutuhan ini adalah prioritas utama.

    Jangan lupa juga sertakan barang sanitasi dasar seperti tisu basah atau hand sanitizer. Kondisi fisik yang drop karena kurang bersih hanya akan memperumit situasi Anda.

    Uang Tunai: Saat Teknologi Tidak Bisa Diandalkan

    Banyak dari kita sekarang sudah sangat nyaman dengan transaksi non-tunai. Namun saat bencana, kemungkinan besar jaringan internet mati atau mesin ATM tidak berfungsi. Dalam kondisi ini, cash is king.

    Simpanlah uang tunai secukupnya dengan pecahan kecil di dalam plastik kedap air. Uang ini akan sangat berguna untuk membeli kebutuhan mendesak di warung-warung lokal yang masih bertahan.

    Menyiapkan hal-hal di atas mungkin terasa merepotkan saat kondisi sedang tenang. Tapi percayalah, saat situasi menjadi sulit, Anda akan sangat berterima kasih pada diri Anda di masa lalu karena telah meluangkan waktu untuk bersiap.

    Jadi, sudahkah Anda mengecek kembali isi tas darurat Anda hari ini?

  • 4 Kesalahan Finansial Saat Beli Emas di Pegadaian

    Nama Pegadaian selalu terasa hangat di telinga kita. Ia identik dengan keamanan dan kemudahan akses, terutama bagi mereka yang baru memulai perjalanan investasi emas.

    Bayangkan, Anda bisa memulai investasi emas murni hanya dengan menyetor uang receh. Konsepnya sederhana: menabung logam mulia tanpa harus repot mencari solusi penyimpanan emas yang aman.

    Namun, di balik kemudahan yang memikat ini, tersembunyi jurang-jurang finansial yang seringkali menjebak. Banyak investor, terutama pemula, terlalu fokus pada fluktuasi harga emas harian, lupa bahwa kemudahan selalu datang dengan harga.

    Ini bukan tentang menakut-nakuti. Ini tentang literasi finansial. Investasi emas di Pegadaian, khususnya melalui skema Tabungan Emas Pegadaian, adalah alat yang luar biasa, asalkan Anda memahami persis cara kerjanya.

    Jika Anda salah langkah, emas yang seharusnya menjadi benteng pertahanan nilai (lindung nilai inflasi) dan pelindung nilai uang justru bisa menggerus keuntungan Anda. Modal yang Anda tanam bisa habis termakan biaya tersembunyi.

    Mari kita buka tirai dan analisis empat kesalahan fatal yang paling sering dilakukan saat berinvestasi emas di platform yang sangat populer ini. Penting untuk menetapkan tujuan investasi yang jelas sebelum melangkah.

    Bersiaplah, karena kita akan menghitung biaya yang seringkali disembunyikan dalam kemudahan transaksi.

    Pegadaian: Kilau Emas, Jebakan Kemudahan Akses

    Di tengah badai ketidakpastian ekonomi global, ketika kita menyaksikan dampak fluktuasi nilai tukar Rupiah yang terasa mengguncang, emas berdiri tegak sebagai jangkar. Logam mulia ini adalah lindung nilai inflasi yang paling dicari, pelindung nilai uang yang teruji zaman.

    Pegadaian telah mempermudah jalan itu. Mereka menawarkan akses luar biasa untuk investasi emas murni. Siapa pun kini bisa memulai, bahkan dengan modal receh, melalui produk andalan seperti Tabungan Emas Pegadaian.

    Anda bisa memiliki gramasi emas batangan tanpa perlu pusing memikirkan solusi penyimpanan emas yang aman di rumah. Ini adalah kemudahan yang terasa begitu memikat.

    Namun, di sinilah jebakan itu dimulai. Kemudahan sering kali meninabobokan kita. Kita terlalu fokus pada cita-cita menjadi investor emas jangka panjang, dan lupa bahwa investasi emas, meskipun aman, tidak pernah bebas dari biaya tersembunyi.

    Para investor pemula sering melakukan kesalahan fatal. Mereka melihat kilau emas, tetapi buta terhadap mekanisme harga jual dan harga beli kembali (buyback) yang sebenarnya. Mereka abai terhadap literasi finansial mendasar.

    Investasi emas di Pegadaian memang terjamin, tetapi bukan berarti otomatis menguntungkan. Ibarat mempersiapkan tas siaga bencana, Anda harus tahu betul isi tas itu dan bagaimana cara menggunakan setiap komponennya, bukan sekadar bangga karena sudah memilikinya.

    Mari kita bongkar empat kesalahan paling umum yang mengubah potensi keuntungan investasi jangka panjang Anda menjadi penyesalan finansial.

    Menguak Tirai: Empat Kesalahan Klasik yang Memakan Keuntungan Investasi Emas Anda

    Pegadaian telah membentangkan karpet merah menuju investasi emas. Namun, di balik kemudahan itu, tersembunyi jebakan finansial yang seringkali tidak disadari investor pemula. Ini bukan tentang fluktuasi pasar, melainkan tentang biaya tersembunyi dan kesalahan strategis dalam Penetapan Tujuan Investasi Anda.

    Berikut adalah empat kesalahan fatal yang wajib Anda hindari saat memutuskan untuk beli emas melalui platform ini.

    1. Mengabaikan Biaya Margin (Spread) yang Mengerikan

    Ini adalah hantu tak terlihat yang diam-diam menggerogoti harapan keuntungan Anda. Saat Anda bersemangat untuk beli emas di Pegadaian (baik melalui Tabungan Emas Pegadaian atau membeli emas batangan fisik) Anda harus berhadapan dengan konsep Spread.

    Apa itu Spread? Ia adalah selisih yang terasa pahit antara harga Pegadaian menjual kepada Anda dan harga mereka bersedia membeli kembali dari Anda (Harga Beli Kembali atau Buyback).

    Harga acuan pasar global untuk emas murni 24 karat dari produsen seperti Antam adalah harga ideal. Namun, harga emas yang ditawarkan Pegadaian sudah memasukkan biaya fabrikasi, biaya operasional, dan margin keuntungan mereka.

    Selisih ini, spread, bisa mencapai 3% hingga 7% di awal transaksi! Bayangkan skenarionya: Begitu Anda menekan tombol “beli”, investasi emas Anda sudah minus 5%.

    Jika harga emas saat ini Rp1.000.000 per gram, ia harus mencapai setidaknya Rp1.050.000 per gram agar Anda mencapai titik impas. Berapa lama waktu yang dibutuhkan volatilitas emas untuk menaikkan harga sebesar 5%? Tergantung kondisi pasar, bisa berbulan-bulan, bahkan setahun penuh.

    Kesalahan fatalnya adalah mengira Anda bisa melakukan jual-beli cepat. Emas bukanlah instrumen jangka pendek. Investor yang cerdas selalu menghitung Horizon Investasi Jangka Panjang mereka agar biaya spread ini tertutupi sebelum mereka benar-benar menikmati imbal hasil investasi.

    2. Tabungan Emas Bukan Cicilan Emas: Kebingungan Skema Finansial

    Kilauan emas seringkali membuat mata pemula silau, hingga gagal membedakan instrumen yang mereka pilih. Mereka melihat kata “emas” dan “Pegadaian” sebagai sinonim investasi emas, padahal tujuannya sangat berbeda. Ini adalah kesalahan mendasar dalam strategi finansial.

    Anda harus memahami tiga jalan utama yang ditawarkan Pegadaian:

    • Tabungan Emas Pegadaian: Ini murni akumulasi aset. Anda menabung Rupiah, dikonversi menjadi gramasi kecil emas murni. Tujuannya adalah investasi jangka panjang dan lindung nilai inflasi. Tidak ada bunga atau Sewa Modal.

      • Cicilan Emas (Kredit Emas): Ini adalah utang. Anda ingin segera memiliki emas batangan besar tetapi mencicil pembayarannya. Anda wajib membayar uang muka, administrasi, dan Sewa Modal. Jangan pernah mengira ini cara termurah untuk beli emas. Total uang yang Anda bayarkan jauh melebihi harga terbaik emas tunai karena adanya biaya utang yang tetap.

      • Gadai Emas: Ini adalah pinjaman cepat. Anda menggunakan perhiasan emas atau emas batangan sebagai jaminan. Ini adalah alat Manajemen Dana Darurat, bukan strategi investasi.

    Menggunakan Cicilan Emas sebagai strategi investasi jangka pendek adalah resep kerugian yang pasti. Anda membeli aset yang harganya berfluktuasi dengan kewajiban utang yang tetap dan memberatkan. Pastikan Penetapan Tujuan Investasi Anda jelas sebelum memilih skema.

    3. Menganggap Emas Jangka Pendek: Pelindung Nilai yang Sabar

    Seringkali, lonjakan harga emas yang viral memicu euforia. Investor pemula melompat masuk, berharap bisa jual emas dengan untung besar dalam hitungan bulan. Ini adalah kekeliruan mendasar tentang fungsi emas.

    Emas, sebagai aset strategis, berfungsi sebagai Lindung Nilai Inflasi. Ia melindungi daya beli uang Anda dari Dampak Nilai Tukar Rupiah yang melemah dalam jangka waktu yang sangat panjang.

    Emas tidak dirancang untuk memberikan keuntungan cepat. Agar kenaikan harga mampu menutupi (bahkan melebihi) biaya spread awal (3% sampai 7%) dan biaya operasional lainnya, Anda harus menahannya dalam periode yang cukup panjang.

    Para ahli keuangan sepakat, investasi emas idealnya dilihat dalam rentang waktu minimal 5 tahun, bahkan 10 tahun ke atas.

    Jika Anda mencairkan Tabungan Emas Pegadaian atau emas batangan dalam waktu kurang dari dua atau tiga tahun, kemungkinan besar Anda hanya berhasil menutupi Biaya Fabrikasi dan spread awal. Keuntungan Anda akan sangat minim, bahkan cenderung merugi setelah dipotong biaya tarik fisik dan administrasi.

    Emas adalah cadangan strategis untuk tujuan masa depan yang besar, seperti dana pensiun, bukan likuiditas harian. Untuk kebutuhan dana cepat, gunakan instrumen pasar uang.

    4. Jebakan Biaya Titipan dan Administrasi Tahunan

    Bagi pengguna Tabungan Emas Pegadaian, fokus seringkali tertuju pada Pemantauan Harga Emas harian, melupakan detail kecil yang mematikan: Biaya Titipan Emas Tahunan.

    Biaya ini mungkin terlihat sepele dalam nominal Rupiah, namun dampaknya terhadap investor dengan saldo kecil sangat signifikan.

    Mari kita hitung: Anda memiliki saldo 1 gram emas. Jika biaya titipan tahunan sekitar Rp30.000, itu berarti 3% dari total nilai investasi emas Anda (asumsi harga Rp1.000.000/gram) langsung hilang.

    Jika saldo Anda hanya 0,5 gram, persentase kerugiannya melonjak menjadi 6%! Biaya ini harus dibayar atau akan dipotong otomatis dari saldo emas Anda.

    Kesalahan ini paling sering menjerat mereka yang menabung sangat kecil dan sangat lama tanpa penambahan signifikan. Mereka melihat kenaikan harga 10% selama 5 tahun, tetapi lupa bahwa sebagian besar kenaikan itu habis untuk membayar biaya titipan dan administrasi.

    Solusi praktisnya: Pastikan saldo gramasi Anda cukup besar sehingga biaya tahunan menjadi persentase yang sangat kecil dari total nilai aset. Atau, jika saldo Anda sudah mencapai minimal 1 gram, pertimbangkan untuk menarik fisik emas batangan tersebut (jika memungkinkan) dan mencari Solusi Penyimpanan Emas mandiri yang aman. Dengan begitu, Anda menghentikan pendarahan biaya tahunan.

    Penutup: Jangan Biarkan Emosi Mengalahkan Logika Finansial Anda

    Setelah menelusuri empat jebakan finansial yang seringkali tersembunyi, Anda kini berdiri di persimpangan jalan. Pegadaian telah membentangkan infrastruktur yang andal untuk investasi emas, tetapi keputusan finansial tetap ada di tangan Anda.

    Jangan pernah membeli emas, baik melalui Tabungan Emas Pegadaian maupun pembelian Emas Batangan Antam, hanya karena rekomendasi viral di media sosial. Hentikan histeria pasar dan mulailah berpikir layaknya seorang analis yang dingin.

  • Membahas Dewan Perdamaian Trump

    Mendengar negara adidaya akan membentuk perkumpulannya sendiri tentunya bisa membuat prasangka, apalagi Indonesia ternyata ikutan bergabung di dalamnya. Ini seperti ada sekumpulan anak populer di sekolah, tiba-tiba kita ikutan masuk, bahkan dipuji sama leadernya karena mau join.

    Kabar simpang siur banyak beredar di timeline, akhirnya saya coba riset sendiri untuk cari tau apa sih yang sedang terjadi.

    Intinya, rumit.

    Ada kakek namanya Donald Trump (Presiden Amerika). Dia mengajak banyak negara untuk bikin kelompok namanya Dewan Perdamaian. Tujuannya satu: Membantu memperbaiki “rumah-rumah yang rusak” di tempat jauh bernama Gaza supaya anak-anak di sana bisa sekolah lagi dengan tenang.

    Indonesia itu seperti kakak yang baik hati. Pak Prabowo dan timnya mau ikut bergabung karena:

    • Mau Menolong: Kita ingin pastikan teman-teman di Palestina bisa merdeka dan punya rumah sendiri.
    • Biar Suara Kita Didengar: Kalau kita tidak ikut duduk di meja itu, nanti tidak ada yang membela Palestina saat mereka rapat.

    Nah, di dalam negeri kita sendiri, ada paman dan bibi yang merasa khawatir. Katanya:

    • “Nanti kita disuruh bayar uang jajan yang banyaaak sekali (sampai triliunan!)”
    • “Nanti kita malah jadi berteman sama orang yang nakal.”
      Tapi pemerintah bilang, “Tenang saja, kita ikut untuk menolong, bukan untuk buang-buang uang kok!”

    Ini yang paling seru! Di meja itu, ada negara Israel. Indonesia sebenarnya tidak mau berteman atau salaman sama mereka sebelum mereka berbuat baik pada Palestina.
    Jadi, mereka duduk di satu ruangan tapi tetap jaga jarak. Indonesia di sana cuma buat bilang: “Ayo, bantu Palestina sekarang juga!”

    Negara lain ikutan juga? Iya! Ada Arab Saudi yang kaya raya, ada Qatar, dan banyak lagi. Mereka semua berkumpul supaya dunia jadi lebih sepi dari suara tembakan dan lebih ramai dengan suara tawa anak-anak.

    Kesimpulannya, Indonesia sedang mencoba jadi pahlawan di meja besar itu. Memang susah dan banyak yang tidak setuju, tapi tujuannya satu: Supaya dunia jadi tempat yang lebih damai untuk kita semua.

    Bagaimana menurutmu, apakah kamu setuju kalau Indonesia jadi pahlawan perdamaian di meja itu?

  • Konsisten Itu Bisa Diusahakan

    Saya berhasil menulis setiap hari selama bulan Januari 2026, topiknya random dan jika dipikir-pikir cukup personal. Mulai dari teknologi, kopi, gym, sampai hal-hal terkait menjadi Jakartans saya tulis selama sebulan terakhir.

    Menarik, karena nggak nyangka saya bisa menulis secara konsisten selama sebulan. Tadinya saya mengira akan berhenti di hari ketiga hahaha.

    Efek yang saya rasakan ketika selesai menulis itu beban pikiran menjadi sedikit berkurang, karena seperti ada penyaluran ide dan pendapat. Menulis juga membuat cara berpikir jadi lebih urut lagi, jadi lebih sabar, dan bisa berhati-hati dalam berbicara.

    Baiklah, mari kita mulai lagi di bulan Februari 2026 ini.

  • Blind Buy: Artcofie Aceh Gayo Arabica Coffee

    Aceh Gayo itu ibarat “Otot Kawat Tulang Besi”-nya kopi nusantara. Tumbuh di tanah vulkanik sekitar Danau Laut Tawar, Gayo biasanya dikenal punya body yang tebal, rasa earthy (tanah basah), dan rempah.

    Artcofie sepertinya me-roasting ini supaya karakter buahnya keluar, nggak cuma rasa tanah doang. Jadi kita nggak boleh seduh ini terlalu kasar, sayang acidity-nya nanti hilang.

    Blind Buy: Artcofie Aceh Gayo Arabica Coffee

    Awalnya saya cukup skeptis dengan kopi ini, jujur karena harganya terlalu murah, 70 ribu di Food Hall Gourmet Plaza Indonesia, mungkin sedang diskon ya? Anw, saya pilih beans ini karena wanginya paling cocok.

    Sampai di kosan, saya langsung bikin dengan versi hangat dan Japanese Iced Coffee.

    Seketika skeptis saya hilang, karena wangi, rasa, dan boldnya nggak kalah dengan beans lain yang harganya di atas 100k.

    Oke, sepertinya Artcofie Aceh Gayo Arabica Coffee ini akan jadi teman makan siang saya seminggu ini.

    Kalau tertarik bisa main ke Food Hall atau cek di Shopee.

  • Japanese Iced Coffee Untuk Bekal Ngopi Siang

    Dalam rangka menghemat biaya ngopi harian, saya mulai untuk membawa bekal kopi dari rumah. Setelah mencari-cari resep yang pas, pilihannya jatuh ke Japanese Iced Coffee.

    Kenapa? Karena saya bisa bikin di pagi hari, kemudian disimpan ke tumbler untuk diminum setelah makan siang tanpa khawatir rasa kopinya berubah.

    Kok bisa? Iya, berbeda dengan Iced Coffee, menu ini ketika disimpan ke dalam tumbler sudah tidak mengandung es batu lagi yang biasanya akan membuat kopi menjadi watery atau rasa kopinya mencari encer.

    Japanese Iced Coffee (atau Flash Brew) adalah metode penyeduhan kopi panas secara langsung di atas es batu untuk mendinginkannya secara instan.

    Proses pembuatannya hampir sama dengan manual brew pour over dengan V60, bedanya saya meletakkan es batu di dalam gelas server kemudian langsung mengalirkan kopi panas itu. Setelah prosesnya selesai, tinggal mengaduk-aduk (swirl) dengan semangat sampai es batunya mencair.

    Hasilnya, rasa dan wangi kopinya terjaga karena katanya terperangkap dalam suhu dingin. Saya sih merasanya pas di siang hari itu rasa kopinya masih konsisten.

    Efeknya, sudah beberapa hari ini saya tidak tertarik (tepatnya belum) untuk jajan kopi.

  • Kendaraan Pribadi di Jakarta?

    Apakah saya bawa kendaraan pribadi? Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling ditanyakan ke saya ketika tau bahwa sekarang saya tinggal di Jakarta.

    Jawabannya, tidak.

    Seperti yang saya ceritakan sebelumnya ketika mencari kosan, kami memutuskan untuk menginvestasikan lebih banyak di biaya sewa kamar supaya bisa mendapatkan akses transportasi umum yang lebih mudah.

    Praktis sehari-hari saya adalah pengguna setia MRT, sesekali pakai ojek online yang biayanya bisa 4 kali lipat tiket MRT untuk berangkat dan pulang kantor.

    Bagaimana dengan weekend? Sama saja, karena menurut saya Jakarta itu transportasi umumnya sudah bagus… kalau tinggalnya di sepanjang jalur MRT. Paling kalau kami ingin ke tempat yang lebih jauh, bisa sewa taksi online dengan model sewa per tiga jam.

    Benefitnya, saya tidak lagi memikirkan parkiran. Sebab seandainya waktu itu membawa kendaraan pribadi maka saya harus menyiapkan 2 tempat parkir. Pertama parkiran di kosan (yang perlu menambah biaya parkir lagi), dan yang kedua parkiran di kantor (yang biayanya per jam).