Takbiran dan Petasan

 

1858372

Alhamdulillah, hari terakhir berpuasa sudah terlewati dan artinya besok kita sudah bisa merayakan hari kemenangan. Seperti kebiasaan, maka malam ini sering disebut sebagai malam takbiran, dimana kita akan mengucapkan takbir tanda kebesaran Allah dan bentuk suka cita menyambut datangnya hari raya. Sehabis shalat Isya, masjid-masjid akan mengumandangkan takbir hingga esok hari, anak-anak dan remaja masjid akan berkeliling takbiran sambil membawa obor dan lampion untuk menyemarakkan malam.

Takbiran sekarang sudah agak berbeda, setidaknya yang terjadi di Tlogosari Semarang, tempat saya tinggal. Masih ingat dalam benak saya, dulu ketika H-1 lebaran seperti ini pasti Tlogosari akan sunyi senyap, karena sebagian besar penghuninya sudah mudik ke kampung halaman masing-masing, begitu juga saya kalo ndak ke Jogja ya ke Bandung. Namun sekarang, 30 tahun kemudian Tlogosari sudah berubah menjadi wilayah mudik, anak-anak yang merantau ke luar daerah seperti Jakarta akan mudik kesini, dan artinya sekarang takbiran menjadi lebih ramai.

Ramai? Banget! Gema takbir bersahut-sahutan antar masjid yang tersebar disini, tadi saya juga sempat melihat anak-anak yang takbir keliling sambil bawa lampion, seru sekali. Tapi sayangnya, suara gema takbir ini agak terganggu dengan suara petasan yang tiada henti, bahkan suara petasan ini cenderung mengalahkan suara takbir yang dikumandangkan masjid sekitar.

Mari berpikir positif saja, mungkin ini juga salah satu bentuk mengekspresikan kegembiraan dalam rangka menyambut hari raya, malam ini juga merupakan malam yang spesial karena malam inilah saat-saat berkumpul dengan sanak saudara, jadi jangan rusak kegembiraan malam ini dan mari kita nikmati malam menuju kemenangan dengan suka cita.

Tinggalkan Balasan