Intinya Sih Harus Memilih

apqwML5_700b

Sudah bisa diduga, pilpres 2014 kali ini bakalan lebih sengit dibandingkan saat pilgub DKI. Bukan hanya persaingan antar capresnya, melainkan dari pendukung yang saling beradu argumen, pendapat, sampai cercaan. Media juga membuat persaingan ini menjadi lebih sengit dengan memberitakan setiap berita dengan kurang berimbang. Kok bisa kurang berimbang? Ini subjektif sih, hanya pemikiran saya sendiri. Namun setiap saya mengakses berita dari semua media tertentu maka biasanya media tersebut cenderung berpihak pada salah satu calon.

Sekarang keriuhan tidak hanya berada di sektor media massa, namun juga sudah bergeser ke ranah social media. Lihat saja status-status yang bertebaran di Twitter dan Facebook, seakan-akan sudah membuat beberapa orang menjadi analis politik handal lengkap dengan menyajikan data untuk mendukung argumentasinya. Imbasnya, ketika argumen itu tidak diterima dengan pihak lain, maka akan terjadi perang yang sering disebut dengan twitwar. Black campaign, kampanye gelap, kampanye hitam. Istilah ini mulai digunakan sekarang, dulu-dulu istilah ini nggak pernah muncul di permukaan. Apakah baru kali ini saja kegiatan itu ada? Nggak juga, mungkin dulu kita nggak familiar dengan istilah kampanye gelap.

Indonesia memang masih gagap untuk menerjemahkan demokrasi, kita terlalu lama hidup di jaman pemerintahan yang tertutup hingga 32 tahun, ditambah orde reformasi yang ternyata berjalan tidak sesuai dengan harapan. Pejabat pengganti akan berlaku sama dengan pendahulunya, orang-orang yang diawal bersahabat akan bertikai di akhir periode. Itulah politik. Tapi bukan berarti kita lalu mengabaikan politik, karena secuek-cueknya orang, paling berbahaya ketika kita sudah cuek dengan politik. Karena kita sama saja cuek dengan harga kedelai yang mahal, impor sembako yang tinggi, dan harga BBM yang menjulang. Ingat semua itu dikendalikan oleh politik, bukan ahli ekonomi.

Akhirnya, kita harus memilih. Bukan memilih untuk tidak memilih, tapi memilih diantara yang bisa dipilih.

Leave a Reply