Category: Tulisan

  • Validasi Cara Berpikir AI

    Masih terkait dengan tulisan saya jangan curhat dengan AI, dalam keseharian saya tetap menggunaan AI untuk membantu pekerjaan. Namun, satu hal yang diperhatikan adalah jangan otomatis percaya dengan semua responnya.

    Tantangan terbesar ketika ngobrol dengan AI adalah kapan bisa merasakan AI mulai halusinasi. Terkadang saya sudah bisa merasakan tingkat halusinasinya meningkat dalam beberapa kali ngobrol, tapi kadang-kadang bisa terbawa juga sampai beberapa lama.

    Ciri-cirinya, mulai kesel sama AI.

    Ini suatu hal yang sia-sia kan? Kesel sama AI itu sama seperti kesel dengan manusia NPD wkwkwk.. Dia nggak akan pernah merasa dikeselin, yang ada dia akan tetap percaya diri dan tetap berpegang teguh pada apa yang dia anggap benar.

    Lalu gimana identifikasinya?

    Pertama, jangan langsung percaya dengan jawabannya.

    Kedua, cek cara berpikirnya.

    Nah, gimana caranya? Jika Anda menggunakan model AI yang cukup tinggi biasanya akan ada opsi untuk mengikuti cara berpikirnya. Ini biasanya ada di model yang menggunakan metode reasoning, pertama kali ditampilkan oleh DeepSeek dan sekarang hampir semua model di OpenAI dan Gemini sudah menerapkannya.

    Validasi Cara Berpikir AI

    Contohnya seperti itu, ketika saya bertanya sesuatu maka pastikan mereview cara berpikirnya. Baca cepat saja tidak perlu memperhatikan detilnya, nanti akan terasa kok apabila berpikirnya sudah mulai ngawur.

    Jadi, jangan langsung percaya ya.

  • Menyiapkan Survival Kit Bencana

    Karena kemarin posting terkait hoax pemadaman listrik, kemudian wilayah Jakarta dan sekitarnya sedang kebanjiran akibat curah hujan dan sistem drainase yang kurang memadai, saya jadi kepikiran apakah kami punya survival kit?

    Sebagian besar orang, termasuk saya ternyata tidak memiliki persiapan untuk bertahan hidup selama beberapa hari tanpa adanya support. Kita beruntung hidup di wilayah yang banyak orang, sehingga prinsip gotong-royong cukup bisa diandalkan apabila terjadi bencana.

    Tapi sampai kapan kita mau mengandalkan orang lain terus?

    Saya pikir, ketika memang terjadi bencana, sebelum saya bisa membantu orang lain setidaknya saya bisa membantu diri sendiri dan keluarga terlebih dulu. Makanya saya berpikir untuk mulai mempersiapkan survival kit sederhana.

    Apa saja?

    Untuk kondisi yang relevan dengan sekarang, ada 5 hal yang perlu saya siapkan.

    1. Energi Cadangan.
    2. Air Bersih.
    3. Makanan dan Masak.
    4. Kesehatan dan Kebutuhan Spesifik.
    5. Uang Tunai.

    Nanti saya akan bahas lebih lanjut terkait beberapa item di atas, tapi seharusnya sih sudah bisa kebayang kira-kira apa saja daftar yang perlu disiapkan ya?

  • Hoax Peringatan Darurat Listrik Padam 7 Hari

    Beberapa hari terakhir saya mendapatkan konten yang membahas terkait peringatan darurat akan terjadi listrik padam selama 7 hari, kemudian kita diminta untuk bersiap-siap.

    Pertama, itu hoax. Pemerintah Indonesia dan PLN tidak pernah mengeluarkan peringatan atau rencana pemadaman listrik massal selama 7 hari.

    Kalau saya perhatikan, isu ini berawal dari luar negeri dan isu ini menyebar melalui video viral di media sosial (terutama TikTok) yang mencatut narasi tentang “krisis global” atau perang dunia, namun klaim tersebut tidak memiliki dasar bukti yang valid.

    Saya dapat info ini memang terlambat karena sudah tidak menggunakan TikTok lagi secara aktif, dapatnya dari Instagram Reels.

    Kemungkinan besar isu ini merupakan pelintiran informasi dari panduan kesiapsiagaan bencana umum (seperti panduan survival 72 jam yang memang disarankan di beberapa negara Eropa untuk situasi darurat apa pun), yang kemudian dibesar-besarkan menjadi prediksi kejadian nyata di Indonesia.

  • Resep Dasar Kopi Susu Gula Aren.

    Selain suka menyeduh kopi sendiri, saya juga sedang suka membuat kopi susu gula aren sendiri. Awalnya karena melihat orang kantor pada suka jajan kopi jenis ini kemudian saling membandingkan rasa antar merk satu sama lain.

    Saya pernah beli dari Tuku, merknya Kopi Susu Tetangga. Enak, mungkin ini paling enak dibandingkan merk-merk lain. Tapi kalau ngobrol sama orang lain bisa jadi pendapatnya berbeda.

    Jadilah saya penasaran untuk bikin sendiri, setelah beberapa kali percobaan, ini adalah komposisi yang saya gunakan.

    1. 20 ml gula aren cair.
    2. 40 ml konstentrat espresso robusta.
    3. 160 ml susu cair UHT

    Urutannya

    1. Siapkan gelas dan gunakan timbangan digital, pencet tombol tare supaya jadi 0
    2. Tuang 20 ml gula aren cair.
    3. Pencet tare di timbangan lagi supaya 0.
    4. Tuang 40 ml konsentrat espresso.
    5. Penting! aduk dulu sampai tercampur.
    6. Pencet tare di timbangan lagi supaya 0.
    7. Tuang 160 ml susu cair UHT.
    8. Aduk santai sampai warnanya cokelat.

    Saya tidak menambahkan es batu supaya rasanya lebih pekat. Silakan dicoba.

  • Lika-Liku Berburu Kosan

    Sewaktu diskusi rumah tangga di awal 2024, dalam waktu dekat kami harus menjadi Jakartans, hal pertama yang kami pikirkan saat itu adalah bagaimana dan di mana kami akan tinggal. Kebetulan diskusi ini kami lakukan setahun sebelum pada akhirnya saya terkonfirmasi benar-benar harus WFO setelah lebaran 2025.

    Pada Q4 2024, kami melakukan eksperimen dengan tinggal di Jakarta selama 1 bulan (yang kemudian menjadi 2 bulan). Saat itu kami menguji bagaimana flow yang nyaman jika harus berpindah kota namun tetap domisilinya di Jogja.

    Ada beberapa persiapan awal yang kami lakukan, terutama untuk masalah keamanan rumah. Saya memasang 2 titik CCTV yang bisa diakses melalui smartphone, kemudian menyiapkan UPS untuk modem, lalu menitipkan mobil ke kucing.

    Apakah langsung berhasil? tentu tidak. Eh, untuk keamanan mobil malah aman karena kucing kami menjaganya dengan sepenuh hati. Tapi untuk UPS dan CCTV malah sering bermasalah karena pasokan listrik PLN Bantul ini suka-suka tergantung mood.

    Untuk sekarang sudah jauh lebih aman karena saya mengganti UPS murahan itu ke merk Bluetti yang bisa tahan 12 jam jika listrik mati, kemudian CCTV juga saya pasang mini UPS yang bisa bertahan 2 hari. Selain itu semua stop kontak dan lampu sudah bisa saya kendalikan dan dimonitor penggunaannya.

    Oke, di Q4 2024 itu untuk pertama kalinya kami benar-benar tinggal di Jakarta, jadi anak kosan lagi, berbagi fasilitas dengan penghuni lain. Waktu itu untuk menentukan lokasi kosannya cukup menantang, sebab ada beberapa faktor yang kami tentukan yang kemudian menjadi standar SOP setiap kali kami mencari tempat tinggal.

    1. Jarak tidak boleh terlalu jauh dengan kantor, maksimal 30 menit.
    2. Terdapat transportasi umum, diutamakan MRT.
    3. Fasilitas wajib yang harus ada.
    4. Budget setahun.

    Itu adalah standar yang kami tetapkan ketika mencari tempat tinggal. Awalnya poin pertama adalah budget, tapi setelah menjalaninya ternyata budget sebaiknya diposisikan di paling akhir dan dihitung secara tahunan, bukan bulanan.

    Dimana mencarinya? Nah ini yang menarik. Tadinya kami mengandalkan informasi dari teman, tapi memang sebaiknya mencari tempat tinggal itu harus dicari sendiri dan terkadang memang perlu hoki untuk mendapatkannya.

    Tidak ada hal spesial untuk proses mencarinya, justru karena kami sudah tau apa yang kami inginkan untuk tempat tinggal, proses shortlist menjadi lebih mudah dan cepat. Visit ke kosan hanya beberapa kali saja.

    Sekarang kami tinggal di daerah Blok A, Kebayoran Baru dimana semua poin yang kami syaratkan sudah terpenuhi disini. Prosesnya cukup cepat, karena saya kebetulan sedang memantau layanan Mamikos kemudian melihat ada iklan baru disana, kirim WA untuk janjian visit, langsung suka, dan bayar DP untuk tanda jadi.

    Tidak terasa sudah hampir setahun kami disini dan belum ada rencana untuk pindah dulu.

  • Tempat Tinggal Tidak Selalu Rumah

    Saya kepikiran hal ini ketika perjalanan kembali ke Jakarta setelah minggu lalu menyempatkan mudik ke Jogja. Ketika pulang, saya menyadari bahwa beberapa tetangga saya sudah mulai menjual rumahnya, bahkan sekarang ada 5 rumah yang berada di sekitar saya itu kondisinya sedang dijual.

    Praktis jika kami sedang tidak berada di Jogja, area sekitar rumah kami jadi cukup lengang. CCTV yang saya pasang juga lebih sering merekam kucing lewat dibandingkan manusia haha.

    Oke, sejak kecil kita diajarkan tentang 3 kebutuhan primer.

    1. Sandang
    2. Pangan
    3. Papan

    Saya akan fokus ke poin ketiga yaitu Papan. Tadinya saya menganggap Papan itu adalah Rumah, ternyata maksud sebenarnya itu adalah tempat tinggal.

    Kebutuhan akan tempat tinggal akan terasa lebih masuk akal dibandingkan kebutuhan untuk punya rumah. Kenapa? harga rumah saat ini sangat tidak masuk akal.

    Penyebabnya ya karena salah kaprah mengenai tempat tinggal dan rumah ini. Karena rumah dianggap sebagai kebutuhan utama, maka orang akan berusaha mendapatkannya seperti halnya kita membutuhkan sandang dan pangan.

    Seakan-akan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan papan itu hanya rumah. Padahal kebutuhan sandang dan pangan itu opsinya banyakk sekali, masa untuk papan hanya rumah?

    Tempat tinggal itu tidak selalu harus rumah, tapi suatu tempat untuk berlindung. Kita pun juga tidak perlu punya hak milik, tapi cukup punya akses dan hak untuk menempati atau menggunakan.

    Jadinya, sekarang opsi tempat tinggal akan menjadi lebih banyak. Tidak hanya rumah, tapi juga bisa menjadi kosan, apartemen, dan rumah sewa. Semuanya memiliki fungsi yang sama sebagai tempat tinggal. Jika kita sudah punya salah satunya maka sebetulnya kita sudah terpenuhi kebutuhan primernya.

    Tapi kan kalau sewa terus, uangnya akan hangus?

    Memang, sebab uang itu memang digunakan untuk membeli kebutuhan papan, jadi kita bisa tinggal untuk berlindung, beristirahat, dan sebagainya selayaknya manusia. Bukannya kita juga melakukannya dengan sandang dan pangan? Kita beli keduanya untuk dipakai dan dihabiskan, tidak untuk diinvestasikan.

    Salah kaprah jika membuat rumah menjadi investasi. Justru itu akan menjadi liabilitas, sebab akan membuat beban manusia yang seharusnya bisa fleksibel menjadi tertahan karena faktor ini.

    Jika memang saat ini belum mampu membeli rumah, tidak masalah. Selama masih ada atap yang bisa untuk berlindung maka sudah cukup. Fokus ke yang sedang dijalani dulu.

    Iya, kami di Jakarta tinggal di kosan, meninggalkan rumah yang kami miliki di Jogja.

  • Stop Curhat ke AI

    Beberapa kali saya mendapatkan cerita tentang serunya ngobrol dengan AI. Sekarang ini AI seperti ChatGPT dan Gemini sedang berada di masa jayanya, dimana kemampuan berpikirnya sudah berkembang eksponensial.

    Saya sendiri sering berdiskusi dengan Gemini terkait dengan pekerjaan dan kegiatan sehari-hari. Kenapa Gemini? Selain karena merupakan tools resmi dari kantor, saya juga pengguna Gmail.

    Tapi yang perlu dicatat adalah, AI tidak punya empati. Mereka merespon pertanyaan kita dengan statistik. Jawabannya kemudian dibungkus dengan persona yang sudah diatur sesuai dengan keinginan kita.

    Jika kita ngobrol dengan topik pekerjaan dan/atau daily task, maka itu saat cocok. Sebab AI punya kemampuan untuk memberikan solusi yang logis dan efisien untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan tersebut.

    Catat, “logis dan efisien”.

    Apa yang terjadi kalau kita mencoba curhat yang membawa perasaan ke AI? Maka dia tetap meresponnya dengan cara yang sama, logis dan efisien.

    Tidak heran (secara default) kita akan lebih sering mendapatkan validasi dan mendapatkan respon yang kita inginkan. Sekali lagi, karena ini faktor statistik supaya hasilnya logis dan efisien.

    Untuk membuktikannya, coba ajak ngobrol satu topik saja yang cukup personal, gunakan akun berbeda jika concern dengan privasi. Beberapa hari kemudian, revisit dan baca pelan-pelan respon yang kemarin diberikan.

    Saya tidak punya background psikologi, tapi saya merasa jika saya berada di kondisi yang sesungguhnya, maka semua jawaban dari AI pada saat itu akan terasa benar dan semua yang ada di pikiranku itu valid. Kemudian jika kondisi sudah tenang, beberapa hari kemudian jawabannya jadi terasa aneh.

    Stop curhat dengan AI, perlakukan AI seperti kolega di kantor yang cocok untuk ngobrolin tentang kerjaan, tapi bukan untuk ngomongin hal personal ataupun atasan.

  • Melampaui Quitter’s Day 2026

    Saya baru tau ada istilah Quitter’s Day, dimana ini adalah hari di mana orang-orang secara statistik paling mungkin menyerah pada resolusi Tahun Baru mereka.

    Secara umum, Quitter’s Day jatuh pada Jumat kedua di bulan Januari. Jadi jika Anda sudah berhasil tetap konsisten lebih dari tanggal 9 Januari 2026, maka selamat Anda sudah melampaui Quitter’s Day 2026.

    Asal-usul istilah ini ternyata berasal dari Strava, dimana mereka menganalisis lebih dari 800 juta aktivitas pengguna dan menemukan pola penurunan aktivitas yang tajam pada pertengahan Januari. Kemudian berdasarkan data tersebut, sekitar 80% orang diprediksi akan meninggalkan resolusi mereka sebelum bulan Januari berakhir wkwkwk.

    Alasan kenapa ini bisa terjadi, paling sering karena 3 penyebab ini.

    1. Target terlalu ambisius.
    2. Sudah kembali ke rutinitas.
    3. Sendirian atau tidak ada support system.

    Jadi, bagaimana kabar resolusi 2026? Masih aman kan?

  • Seandainya Access By KAI Lebih Optimal

    Saya adalah pengguna setia layanan KAI, terutama untuk 10 tahun terakhir ya. Sudah pernah coba naik kelas Ekonomi hingga Luxury, pesan tiketnya mulai dari antri di loket sampai pakai aplikasi, bahkan saya juga mengurus kelas reduksi dengan memanfaatkan status alumni UGM.

    Saya apresiasi dengan aplikasi Access By KAI yang sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan KAI Access, dengar-dengar kali ini sudah inhouse development ya? Mudah-mudahan selalu menerapkan Agile dan mau mendengarkan feedback.

    Pertama, jika mau pesan tiket eksekutif (biasanya belinya Taksaka), saya selalu notice ada beberapa seat yang seakan-akan sudah dipesan. Biasanya ada di posisi baris nomor 7 (A/B/C/D) di masing-masing kereta. Jadi seat itu selalu terisi.

    Tapi sebetulnya tidak.

    Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali saya temui ini. Terakhir di perjalanan tadi pagi yang ketika pesan itu seharusnya di seat tersebut terisi. Tapi mulai dari kereta berangkat sampai di tujuan, bangku itu tetap kosong.

    Mungkin memang pesanannya dibatalkan sama yang beli, tapi jika tidak maka sayang sekali jika kursinya tidak terjual.

    Kedua, terkait pemesanan makanan. Sudah beberapa bulan terakhir ini aplikasi pemesannya tidak bekerja seperti biasanya. Saya biasa memesan makanan lewat aplikasi saja, karena saya tidak mau lagi meninggalkan barang untuk jalan ke restorasi semenjak kasus kehilangan Macbook beberapa tahun yang lalu.

    Seandainya Access By KAI Lebih Optimal

    Sayangnya, aplikasinya selalu menampilkan seperti itu meskipun kereta sudah berjalan. Apalagi jika melihat jamnya (10:25) itu menunjukkan bahwa keretanya (Taksaka pagi) sudah berjalan.

    Masih terkait pemesanan makanan, tidak semua menu bisa dibayar pakai pembayaran QRIS. Terakhir ketika membeli teh panas itu pembayarannya harus cash, sedangkan pembelian yang lain bisa pakai QRIS.

    Aneh aja sih, kenapa harus ada perbedaan metode pembayaran.

    Saya tidak masalah bayar pakai cash, tapi pastikan ada kembaliannya dong wkwkwk.