Category: Tulisan

  • Awal Puasa Penuh Kesabaran

    Hujan sedari pagi di wilayah Jakarta dan sekitarnya membuat suasana hari ini cukup syahdu. Biasanya hujan tidak pernah sederas ini di pagi hari, tapi tadi cukup untuk membuat sepatu dan kaos kaki basah ketika sampai kantor.

    Tantangan terbesar mas-mas umur 40-an di siang hari itu bukanlah rasa lapar dan dahaga saja, tapi rasa kantuk yang luar biasa setelah shalat Dzuhur.

    Biasanya, siang hari itu waktunya wedangan ngopi, lumayan untuk jadi dongkrak di kelopak mata.

    Hari ini, dongkrak itu tidak ada jadinya rasa ngantuk bergabung dengan cuaca dingin, gerimis yang masih tipis-tipis turun. Mantap.

    Sorenya, karena hari ini sebagian besar adalah hari pertama puasa jadinya semua orang ingin pulang ke rumah untuk berbuka puasa bersama keluarga. Akibatnya, ada penumpukan di stasiun MRT yang seakan-akan jeda 5 menit itu tidak cukup lagi buat naikin penumpang.

    Sampai sekitar kosan, pas banget dengan waktu berbuka. Melihat orang-orang masih berusaha memembus kemacetan demi bisa berbuka puasa bersama di rumah, rasanya ujian kesabaran saya hari ini tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka.

    Selamat berpuasa.

  • Apa Rumus Kebahagiaan Sejati?

    Kebahagiaan sejati adalah menikmati masa kini, tanpa ketergantungan yang cemas pada masa depan.

    Pagi ini sehabis sahur, secara random saya mendapatkan konten di timeline Reels mengenai stoikisme. Dikatakan bahwa untuk berbahagia, kita cukup fokus pada hari ini tanpa mengkhawatirkan berlebih mengenai masa depan dan jangan pula terbebani dengan masa lalu.

    Menarik, saya kemudian iseng mencari siapa sih yang bilang itu?

    Pencarian saya sampai pada orang bernama Lucius Annaeus Seneca, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam filsafat Stoikisme, dikenal karena ajarannya yang praktis mengenai ketenangan batin, penggunaan waktu, dan ketahanan mental.

    “Verum gaudium est … non suspensa ex futuro cupiditas.”

    Kalimat ini berasal dari karya Seneca yang berjudul Epistulae Morales ad Lucilium (Surat-surat Moral kepada Lucilius)

    Dalam konteks yang lebih luas, Seneca menuliskan:

    • Bahasa Latin: “Cuius rei, inquis, admonere me vis? id scilicet, ut habeas verum gaudium. … verum gaudium est … non suspensa ex futuro cupiditas.”
    • Bahasa Inggris: “True happiness is to enjoy the present, without anxious dependence upon the future.”
    • Bahasa Indonesia: “Kebahagiaan sejati adalah menikmati masa kini, tanpa ketergantungan yang cemas pada masa depan.”

    Seneca menekankan bahwa pikiran yang terus-menerus khawatir tentang apa yang akan terjadi esok hari tidak akan pernah bisa tenang. Dengan fokus pada apa yang kita miliki dan lakukan saat ini, kita melepaskan diri dari rantai kecemasan yang sering kali justru merusak kebahagiaan yang sudah ada di depan mata.

    Lalu saya penasaran, apakah Islam juga membahas mengenai topik ini?

    Dalam Al-Qur’an, konsep mengenai menikmati masa kini dan melepaskan kecemasan terhadap masa depan sering kali dikaitkan dengan sifat 

    “La khaufun ‘alaihim wala hum yahzanun”.

    Meskipun redaksinya berbeda dengan filsafat Stoikisme Seneca, pesan intinya sangat selaras: membebaskan diri dari belenggu masa lalu dan kecemasan masa depan melalui ketenangan hati.

    Saya coba cari ayat yang membahas ini, dan menemukan beberapa. Mohon maaf jika ada kesalahan tafsir.

    1. Konsep “tidak ada kekhawatiran” (masa depan) dan “tidak bersedih hati” (masa lalu) muncul berkali-kali dalam Al-Qur’an sebagai ciri orang yang beriman dan bertakwa. Salah satunya dalam Surah Al-Baqarah: 277
    2. Terkait topik kecukupan, ini sama dengan “menikmati masa kini tanpa kekhawatiran”. Dalam Islam, ini disebut dengan Qana’ah (merasa cukup). Al-Qur’an mengingatkan agar kita tidak terus-menerus memandang apa yang diberikan kepada orang lain (ingin lebih/masa depan), melainkan mensyukuri apa yang ada (Thaha: 131).
    3. Dengan meyakini bahwa masa depan ada di tangan Allah (Tawakkal), seseorang bisa fokus menikmati dan beramal di masa kini tanpa rasa cemas yang berlebihan (At-Taubah: 51)

    Jadi, sebaiknya kita memang hanya perlu fokus pada amal hari ini karena hari esok adalah rahasia Allah.

  • Selamat Berpuasa 2026

    Dalam pandangan Muhammadiyah, niat puasa Ramadhan adalah perbuatan hati(qashdu) dan tidak ada tuntunan khusus dari Nabi Muhammad SAW untuk melafalkannya secara lisan.

    Meskipun demikian, niat puasa harus sudah dilakukan sejak malam hari sampai waktu imsak.

    Mari mulai Puasa Ramadhan tahun ini dengan berniat untuk mensucikan diri, memperkuat iman, dan meningkatkan imun.

    Tetap berolahraga dan bekerja seperti biasa karena ibadah terbaik adalah ibadah untuk diri sendiri dan keluarga.

  • Motivasi Olahraga: Bisa Makan Daging Sepuasnya

    Iya, setahun lalu saat masih WFH dari Jogja, saya kesulitan untuk bisa makan daging karena kendala kesehatan. Asam urat dan kolesterol saya sudah melambung tinggi yang menyebabkan tidak bisa makan daging terlalu sering.

    Jari di kaki kanan dan kiri akan bergantian terasa nyeri dan panas, sampai tidak bisa buat jalan dengan normal. Alhasil banyak pekerjaan domestik yang terhambat, sungguh tidak nyaman.

    Obat menjadi kawan sehari-hari, karena begitu rasanya sakit sudah otomatis meminum obat pereda nyeri yang hanya akan menahan rasa sakitnya untuk sementara. Bahkan saya punya alat tes darah sederhana untuk mengetahui berapa kadar asam urat dan kolesterol saya.

    Sekarang, setelah setahun tinggal di Jakarta, Alhamdulillah justru badan saya merasa lebih baik. Kenapa?

    1. Saya rajin jalan kaki, setidaknya dari kamar kosan ke stasiun MRT dan lanjut ke kantor, kemudian diulang lagi di sore harinya.
    2. Saya rajin ke masjid tiap Dzuhur dan Ashar, ini mengharuskan saya untuk turun ke lantai berbeda dan kembali lagi ke meja.
    3. Jam makan harian jadi lebih teratur dan terkontrol karena sudah titip sama OB dan menu makanannya beragam.
    4. Nge-gym, diet karbo dan tinggi protein.

    Makan daging untuk mengejar protein harian justru malah diwajibkan, dan jauh lebih banyak daripada konsumsi saat saya di Jogja. Anehnya, asam urat dan kolesterol saya lebih terkontrol.

    Paling hipertensi aja yang masih perlu dimaintenance wkwk.

  • Tips Untuk Khatib Jumat di 2026

    Usia saya sudah nggak muda, jadi mungkin baru sekarang paham kalau menurut keyakinan saya, sebagian besar khatib shalat Jumat itu kurang memiliki skill public speaking.

    Dulu ketika saya masih muda, saya nggak pernah ngerti apa yang dibicarakan oleh khatib ketika Jumatan. Semuanya hanya lewat dan sudah lupa sama sekali di suapan pertama makan siang. Menjelang dewasa, masih sama, karena antara fokus mendengarkan dan fokus membereskan pekerjaan yang tertunda itu saling beradu di dalam kepala.

    Sekarang, di usia sudah tembus 40 tahun, saya masih nggak paham dengan yang dibicarakan.

    Apakah saya tidak beriman? Imannya lemah? Berdosa?

    Mungkin iya, tapi saya sudah di usia yang tidak memusingkan itu lagi, sebab Allah lebih bijaksana daripada mulut manusia.

    Lalu masalahnya dimana? Jika saya perhatikan, gaya bicara khatib itu seragam, menggunakan nada yang entah asli atau dibuat-buat, mengutip ayat Al-Quran tanpa menjelaskan konteks kenapa melakukannya, hanya sebatas melafalkan saja dan membacakan artinya, dan yang paling parah tidak mampu merelevansikan dengan kondisi masa sekarang.

    Akibatnya, setiap Jumat saya akan selalu mendengarkan cerita yang berulang dan nada yang sama, hanya Jumat yang berbeda. Membosankan? jelas. Tapi yang perlu dicatat, saya hanya bosan dengan gaya penyampaiannya, bukan dengan ceritanya ya.

    Perlu diketahui bahwa generasi yang mendominasi sekarang itu adalah Gen-Z, mereka sudah mulai masuk kerja, menjadi staff, dan mungkin ada beberapa yang sedang menapak karir menjadi manager. Artinya, mereka adalah tipe jamaah baru di shalat Jumat.

    Gen-Z itu memiliki ciri khas menarik, memerlukan pendekatan yang berbeda dari metode konvensional karena mereka sangat terhubung dengan dunia digital dan menyukai keaslian. 

    Gen Z lebih menyukai interaksi yang bersahabat, toleran terhadap perbedaan, dan berpikiran terbuka. Hindari kesan menggurui atau terlalu formal. Gunakan bahasa yang “nyambung” dengan keseharian mereka, termasuk beberapa istilah populer (slang) jika diperlukan untuk mencairkan suasana. 

    Rentang perhatian (attention span) Gen Z cenderung lebih pendek karena terbiasa dengan konten media sosial yang cepat. Pastikan inti ceramah disampaikan secara singkat dan langsung pada intinya.

    Jadi, ada yang masih ingat materi khutbah Jumat kemarin?

  • Hari Kasih Sayang 2026

    Salah satu efek setelah sebulan nggak pegang sosmed adalah, nggak nemu konten yang memperdebatkan mengenai perayaan Valentine’s Day pada 14 Februari.

    Saya memang nggak terbiasa merayakannya, sebab ini bukan hari libur, kalau libur pasti saya akan semangat merayakannya.

    Anyway…

    Dulu saya bersekolah yang berlandaskan Islam, tapi saat itu guru-guru saya tidak melarang kami untuk merayakan kegiatan 14 Februari ini, dengan syarat mengganti semangatnya dengan Hari Kasih Sayang.

    Alasannya arti kasih sayang ini universal, tidak merujuk ke suatu agama atau seseorang, namun sebuah sifat dan perhatian kita terhadap makhluk hidup.

    Alhasil, kegiatannya jadi beragam, tidak hanya sekadar ngasih cokelat tapi juga membuat pesan-pesan yang ditempel di majalah dinding.

    Wah, sudah kecil sudah kenal cinta-cintaan. Kalau dipikir-pikir, apa iya umur segitu udah ngerti cinta? Padahal kami sudah mulai ngerti ketertarikan dengan seseorang, lawan jenis, minat, hobi, dan lain sebagainya.

    Jika dilarang untuk diekspresikan, entah apa yang terjadi nanti. Bisa-bisa pas dewasa jadi gampang baper karena dapat sedikit perhatian aja dikiranya cinta wkwkwk.

    Selamat merayakan hari kasih sayang di tahun 2026 ini bersama sahabat, kawan, pasangan, keluarga, kucing. Semoga rasa kasih sayang selalu melindungi kita dari semua hal-hal jahat di luar sana.

    Kita nggak bisa benar-benar sendirian.

  • Sebulan Setelah Socmed Detox

    Tidak terasa saya sudah tidak berinteraksi dengan Tiktok, X, dan Threads selama sebulan, setelah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan ketiga platform itu di awal tahun 2026.

    Apa yang dirasakan?

    Sejujurnya, saya lebih tenang.

    Tenang dalam pikiran, dimana saya tidak lagi terpapar konten yang terkadang bikin ikutan marah-marah dan sebel. Meskipun kadang ada juga konten yang lucu maupun inspiratif.

    Karena saya bisa mendapatkan konten lucu dan inspiratif selain dari ketiga platform itu, maka rasanya sejauh ini saya belum merasa rugi.

    Saya bisa konsisten menulis blog setiap hari. Iya, menulis setiap hari sejak 1 Januari 2026. Bahkan saya sekarang berlangganan Kompas yang bisa kasih saya audio ringkasan berita setiap pagi. Kalau isi beritanya sih bisa pilih-pilih di headline, meskipun kadang lolos juga baca berita yang bikin kesel wkwkwk.

    Saya lebih fokus buat mengerjakan sesuatu, kayanya kemarin energi dan fokus saya habis diserap sama ketiga platform itu sehingga sekarang saya perlu penyaluran yang bisa saya gunakan sebagai bahan bakar buat bekerja dan memproduksi sesuatu, ya minimal tulisan ini.

    Terakhir, saya bisa lebih mengabaikan sesuatu yang tidak bisa saya kendalikan.

    Ternyata bisa melakukan itu adalah priviledge

  • Ternyata Beans Perlu Resting

    Iya, saya baru tau apa kegunaan tanggal roasting yang biasa ditulis di bungkus biji kopi, selain untuk menginfokan kapan beans itu diroasting, ternyata dijadikan patokan kapan sebaiknya beans mulai diseduh.

    Ya, beans perlu mendapatkan resting. Mirip seperti kalau saya lagi ngegym, selalu ada jeda antar repetisi supaya hasilnya lebih baik. Kalau tidak, maka nanti kita nggak bisa dapat kualitas terbaiknya.

    Berapa lama resting (waktu tunggu) ini? Sepertinya tidak ada patokan resminya, tapi menurut Gemini, rule of thumb-nya adalah 7-10 hari setelah tanggal roasting untuk beans yang akan dibuat untuk kopi filter.

    Ada juga yang mengatakan tergantung tipe roastingnya. Light roast memiliki waktu tunggu paling lama (katanya) bisa 20 hari setelah proses roast, sedangkan untuk dark roast bisa antara 3-7 hari.

    Karena saya sekarang mainnya kopi filter dan cenderung cari yang medium roast, maka sekarang saya akan nunggu seminggu setelah tanggal roast baru kemudian diseduh.

    Apakah ada bedanya?

  • Leg Dieesss

    Hari Rabu ini saya dapat menu latihan Leg dari personal training. Jujur saja saya lebih suka latihan kaki daripada dada atau punggung, rasanya bisa pedih di tangan. Sedangkan kalau latihan kaki, saya lebih bisa menikmatinya.. ya ya ya.

    Oke, karena tau hari ini leg day, maka saya berangkat ke gym dengan hati yang lebih ringan, karena tau pastinya nanti saya akan sedikit lebih santai ketika latihan.

    Begitu pikir saya.

    Ternyata PT saya memiliki rencana lain dan dia memberikan saya banyak sekali latihan dengan beban yang lebih berat daripada biasanya.

    Total 13 ton saya angkat malam ini, sekarang sih belum terasa apa-apa, tapi saya yakin dalam beberapa hari ke depan rasanya ini kaki bakal jejeritan.

    Leg Dieesss
    Screenshot