Category: Teknologi

  • Bingung Memilih? Coba Bandingkan dengan Versus

    versusdotcom

    Layanan ini sudah pernah saya ulas pada akhir tahun 2012, saat itu Versus masih berupa versi Beta dan bernama VersusIO, selain itu VersusIO baru mampu untuk membandingkan ponsel saja. Sekarang, VersusIO sudah berubah nama menjadi Versus dengan alamat di versus.com. Layanan yang diberikan sudah berkembang, tidak hanya sekedar membandingkan ponsel saja, namun sudah mampu membandingkan perangkat gadget lain (headphone, game console, VGA card), kota, hingga membandingkan universitas. Sungguh luar biasa perkembangan Versus selama 2 tahun terakhir ini.

    Versus merupakan implementasi kecerdasan komputer yang mampu memberikan analisis, hasil, atau kesimpulan yang dapat dimengerti secara mudah oleh manusia, kemudian dapat membantunya untuk menentukan pilihan. Ilmu seperti ini, bila diajarkan pada perkuliahan biasanya akan bernama mata kuliah Sistem Pengambilan Keputusan (SPK) / Decision Support System (DSS). Tujuan kita menggunakan komputer adalah supaya mempermudah hidup, bukan malah menyulitkan hidup apalagi sampai hidup kita memiliki ketergantungan terhadap komputer. Manusia adalah pengendali komputer, bukan sebaliknya.

    Bila Anda belum pernah menggunakan Versus, saya sarankan untuk segera mencobanya kemudian rasakan kecerdasannya. Versus tidak hanya sekedar menyajikan data perbedaan antara perangkat yang dibandingkan, tapi juga memberikan kesimpulan bahwa perbedaan itu berpengaruh terhadap sesuatu hal. Pertanyaannya, siapakah yang menulis kesimpulan itu? Apakah administratornya? Tentunya selo sekali jika si admin yang menulis. Semua kesimpulan itu merupakan hasil dari analisis yang berasal dari pengolahan data oleh algoritma DSS yang ditanamkan pada sistem Versus. Jadi biarlah tampilan Versus itu simpel dan sederhana, tapi jika dibayangkan proses dibaliknya, pasti kata sederhana akan menjadi tidak sederhana lagi.

    Sesuai dengan prinsip ilmu DSS [cite]http://en.wikipedia.org/wiki/Decision_support_system[/cite], bahwa sejatinya komputer berposisi sebagai alat yang hanya membantu manusia untuk menentukan pilihan hidupnya. Versus juga berlaku demikian, layanan ini tidak kemudian memberikan kesimpulan bahwa produk A lebih baik dari produk B. Versus menyajikan data dengan kesimpulan yang mudah dimengerti oleh manusia yang kemudian akan membantu manusia menentukan pilihannya. Jadi, bukan Versus yang menentukan yang terbaik, tetap di akhirnya, si manusianya yang akan menentukan pilihannya.

    Jadi, jangan coba-coba untuk menentukan pilihan jodoh menggunakan Versus ya, apalagi kalo pacar aja belum punya, gimana bisa menentukan pilihan? Cari pacar dulu woy!

  • Tingkatkan Keamanan Dengan Multi-Factor Authentication

    Judulnya agak serem, membahas mengenai keamanan dengan metode multi-factor authentication. Postingan ini bukan artikel ilmiah, jadi tak coba untuk membahasnya dengan bahasa yang gampang. Jadi begini, sekarang ini sudah banyak layanan yang keren di Internet, fasilitas yang tadinya nggak ada dan tidak terpikirkan di masa lalu, sekarang sudah tersedia dengan biaya terjangkau atau bahkan murah. Siapa sangka kegiatan berkirim pesan, bersosialisasi, bekerja, dan mencari pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah melalui Internet? Seakan-akan sekarang dunia maya dan nyata sudah tidak terlihat bedanya lagi.

    Tapi di balik segala kemudahan dan kenyaman itu, tentu ada bahaya yang mengancam. Keamanan data yang kita miliki sebaiknya dijadikan sebagai prioritas utama, karena bagaimanapun juga data pribadi harus tetap menjadi pribadi. Masalahnya, apakah ada hal pribadi di Internet? Saya akan menuliskan mengenai hal ini di postingan lain. Masalah lain yang harus kita waspadai adalah hal autentikasi. Selama ini kita mengandalkan username dan password untuk melindungi semua akun Internet yang kita miliki, tapi apakah itu sudah cukup?

    Sekarang ini, sudah sangat banyak tools untuk menemukan password. Mulai dari yang berbentuk software semacam brute password pada komputer lokal, sniffer yang dipasang pada jaringan komputer, hingga yang berbentuk hardware seperti keylogger yang dipasang pada port keyboard. Artinya, serumit apapun password yang kita miliki, pada dasarnya hacker akan mudah mendapatkannya. Hanya butuh waktu dan kesabaran untuk melakukannya, dan percayalah.. Hacker adalah orang yang tekun dan sangat sabar. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan keamanan?

    Multi-Factor Authentication

    Sesuai dengan yang saya dapatkan dari Wikipedia yang mengatakan bahwa Multi-Factor Authentication (atau ada yang menyebutkan sebagai two-step verification) adalah sebuah metode autentikasi yang menggabungkan beberapa faktor. Antara lain :

    • Sesuatu yang hanya user tau (PIN, password, pola)
    • Sesuatu yang hanya user miliki (Kartu ATM, smartphone)
    • Sesuatu yang hanya user itu sendiri (Sidik jari, retina mata)

    Nah, apabila Anda telah menggunakan password untuk mengamankan aplikasi, maka Anda baru hanya menggunakan satu faktor autentikasi saja. Alangkah baiknya jika menggabungkan dengan faktor yang lain. Tapi pada dasarnya kita sudah menggunakan model multi-factor authentication lho.

    Saya rasa Anda sudah memiliki rekening bank, pihak bank sudah menerapkan pengamanan ini untuk melindungi Anda. Contohnya pada kartu ATM, bank akan memberikan Anda sebuah kartu ATM dan PIN untuk melindunginya. Jadi bila Anda akan mengambil uang, maka Anda harus memiliki keduanya, tidak bisa hanya salah satu saja. Seandainya kartu ATM Anda hilang atau Anda lupa dengan PIN, maka Anda tidak dapat mengambil uang.

    Internet Banking juga sudah menerapkan hal yang sama. Anda akan memiliki username dan password untuk dapat mengakses layanan Internet Banking, selain itu Anda juga akan memiliki token yang berfungsi sebagai autentikasi tambahan apabila akan melakukan transaksi keuangan. Jadi semisal akun Internet Banking Anda ditembus orang, maka diharapkan dia tidak bisa melakukan apa-apa selama dia juga tidak memiliki token Internet Banking.

    Bagaimana dengan yang lain?

    E-mail dan akun social media sekarang ini merupakan penting yang harus dilindungi, maka dari itu sebaiknya kita menambahkan model multi-factor authentication ini pada akun-akun tersebut. Saya sudah menggunakan ini pada akun Google, Microsoft, Facebook, dan Twitter. Secara garis besar metode yang digunakan sama, saya tetap diminta mengisikan username dan password, kemudian apabila saya login menggunakan komputer yang berbeda dengan biasanya, maka saya akan diminta mengisikan kode unik yang dikirimkan oleh server.

    Google, Facebook, dan Twitter menggunakan metode yang sama yakni mengirimkan kode tersebut melalui sms, sehingga saya harus melakukan verifikasi nomor hp saya ke server mereka supaya dapat dikirimi kode melalui sms. Yang berbeda hanya Microsoft yang meminta saya untuk menginstall aplikasi 2-step verification pada smartphone yang nantinya akan menggenerate kode unik untuk nantinya dimasukkan ke form login.

    Kesimpulannya, untuk saat ini beberapa akun email dan social media yang saya miliki keamanannya sudah setingkat lebih tinggi daripada biasanya. Saya hanya memastikan smartphone siap digunakan untuk menerima kode unik saat saya akan mengakses akun-akun tersebut selain dari laptop yang biasa saya gunakan.

    Jika ingin melihat layanan apa saja yang sudah support dengan 2-factor verification, silakan akses websitenya.

  • Universitas Semarang – versi 2

     

    Sebetulnya ini project yang sudah lewat, sudah terlalu lama malah. Bahkan sekarang untuk pengelolaan juga bukan saya lagi. Jadi saya melakukan redesign website Universitas Semarang yang awalnya juga saya yang membuat. Kali ini desain saya ganti lebih elegan dan bisa menampilkan lebih banyak informasi. Fasilitas yang tersedia pada website USM yang baru ini antara lain:

    • Informasi umum mengenai USM
    • Berita kampus
    • Lowongan Pekerjaan
    • Kabar Fakultas
    • Rubrik Wacana yang berisi artikel dari dosen
    • Kata Alumni
    • Radio Streaming
    • Peta digital menuju kampus USM
    • Menampilkan tweet dari @twitUSM
    • Update tweet secara otomatis setiap publish artikel

    Kekurangan dari website ini tampilannya belum responsive design, nanti pada pengembangan selanjutnya saja.

  • Memanfaatkan CDN Untuk Optimasi Website

     

    Seperti halnya pada masa-masa ujian, ada istilah namanya “Posisi Menentukan Prestasi”. Begitu juga pada pengelolaan website, lokasi server website juga mempengaruhi performa website. Misalnya kita meletakkan website pada server hosting yang berada di Indonesia (IIX), maka website tersebut akan lebih cepat diakses oleh user yang berada di Indonesia dibandingkan dengan user yang berada di luar negeri. Begitu juga jika diletakkan di US atau Eropa, maka user yang berada di Indonesia pada saat mengakses website, akan sedikit lebih lambat dibandingkan user yang berada di sekitar negara tersebut.

    Hal ini sering saya tekankan ketika mengisi kuliah pemrograman web. Pastikan mengetahui siapa target user dari website yang sedang dibangun. Misalnya membangun web e-commerce, tanya dulu ke owner target usernya kemana? Apakah di dalam negeri atau luar negeri? Intinya, usahakan untuk mendekatkan lokasi server ke target user supaya mereka lebih cepat untuk mengakses website.

    Masalahnya, sebagian besar owner itu agak “kemaruk”. Pengennya website itu bisa diakses secara cepat oleh semua user di dunia, mereka pada dasarnya tidak peduli dengan hal-hal teknis mengenai routing dan lain sebagainya, pengennya cepet, bat-bet;sat-set. Selain itu, jika disarankan membangun server di semua negara, tentunya ini kurang bijak karena selain biayanya tinggi, tenaga untuk merawat masing-masing server itu juga membutuhkan tambahan biaya dan tenaga.

    Untuk kasus seperti ini, biasanya saya memiliki 2 alternatif. Alternatif pertama, saya meletakkan hosting berada di Singapura. AFAIK, Singapura adalah gateway Internet untuk wilayah Asia Tenggara, sehingga jika server diletakkan di Singapura maka kecepatan akses user dari Asia Tenggara di sekitarnya akan berimbang dengan user yang berasal dari US atau Eropa. Tapi tentu saja, masalah jarak masih menjadi kendala utama, apalagi jika dalam perjalanannya ada gangguan, misalnya masalah routing atau kabel putus.

    Alternatif kedua, menggunakan CDN (Content Delivery Network). Saya baru menggunakan layanan ini baru setahun terakhir, terutama ketika layanan cloud computing mulai marak, selain konsepnya oke, harga yang ditawarkan juga masih masuk akal dibandingkan harus membangun server di tiap-tiap negara. Konsep CDN pada dasarnya seperti gambar di awal tulisan ini, yakni menyebar konten ke beberapa node yang berada di seluruh dunia. Jumlah node tergantung dari provider yang kita gunakan. Jadi kita cukup memiliki satu server hosting saja, kemudian membeli layanan CDN yang akan mengkopi data dari server kemudian disebarkan ke semua node.

    Misalnya, saya meletakkan server di Jakarta (IIX), kemudian saya menggunakan layanan CDN untuk disebar ke seluruh dunia. Maka jika nanti ada user dari Amerika akan mengakses website saya, maka routingnya tidak langsung direct access ke Indonesia, melainkan akan menuju ke node terdekat dari posisi dia berada. Sehingga user tersebut akan merasa akses ke website saya menjadi jauh lebih cepat.

    Layanan apa yang saya gunakan?

     

    Sudah setahun ini saya menggunakan layanan dari Amazon Cloudfront. Ini merupakan salah satu layanan dari AWS yang pernah saya tulis disini. Amazon Cloudfront merupakan layanan CDN yang menurut saya masih terbaik, karena memiliki node yang tersebar ke seluruh dunia. Sayangnya memang CloudFront tidak memiliki node di Indonesia, tapi saya bisa menggunakan node di Singapura. Harga yang ditawarkan juga masih masuk akal, karena masih menggunakan sistem pay-as-you-go. Berhubung traffic website saya nggak tinggi, rata-rata per bulan saya hanya menghabiskan $8 – $15 saja.

  • Install Aplikasi Android di BlackBerry 10.2

     

    android-on-z10

    Blackberry OS 10.2 sudah mulai jamak di Indonesia, apalagi setelah diluncurkannya Blackberry Z3 dengan codename Jakarta. Masalahnya adalah, jika kita punya perangkat smartphone dengan Blackberry OS 10 maka aplikasi yang tersedia di Blackberry World masih terbatas, belum sebanyak jika dibandingkan dengan Google Play atau iTunes. Ini bisa menjadi penghambat untuk menikmati Blackberry OS 10.

    Sebetulnya artikel ini (lagi-lagi) sudah terlambat, soalnya saya sudah sering melakukannya di Blackberry Z10. Tapi tak apalah, daripada tidak sharing sama sekali *halah*

    Jadi, mulai Blackberry versi 10.2 sudah bisa untuk menginstall langsung aplikasi Android tanpa perlu melakukan konvert ke eksetensi khusus Blackberry. Sebagai informasi, file Android itu ekstensinya .apk, sedangkan untuk Blackberry menggunakan ekstensi .bar. Nah, dulu sebelum versi 10.2, saya harus repot-repot melakukan konversi file .apk ke .bar. Tentu ini nggak praktis, dan saya merasa akan ada sesuatu yang hilang. Sekarang, hal itu tidak perlu lagi. Saya cukup download langsung file .apk dari Google Play, kemudian copy ke perangkat Blackberry, kemudian langsung klik untuk memulai instalasi.

    Trus cara download file .apk dari Google Play caranya bagaimana? Ini memang agak tricky, karena Google Play mewajibkan kita untuk terhubung dengan perangkat supaya bisa mengakses Google Play, padahal perangkat yang kita miliki hanyalah Blackberry. Solusinya, saya menggunakan layanan dari Evozi yakni APK Downloader untuk langsung mendownload file .apk dari Google Play.

    Cukup memasukkan URL aplikasi di Google Play ke dalam web APK Downloader, maka kita bisa langsung mendapatkan file .apk langsung dari Google Play. Kekurangannya tentu untuk masalah update aplikasi, karena perangkat kita tidak terhubung langsung dengan Google Play, maka jika ada update baru aplikasi, tidak akan ada notifikasi yang muncul. Solusinya saat ini biasanya saya rajin-rajin mengecek langsung ke Google Play apakah ada updatean terbaru untuk aplikasi tersebut.

    Aplikasi yang sudah saya install dengan baik adalah Path, Waze, dan Instagram. Kebetulan ketiga aplikasi itu tidak tersedia di Blackberry World, mungkin hanya Waze saja yang tersedia itupun juga hasil convert. Maka lebih baik saya menginstall ketiga aplikasi itu langsung dari file .apk yang saya dapatkan dari Google Play.

    Gambar saya ambil dari sini.

  • Berkenalan Dengan Amazon EC2

     

    grp29_aws_ec2

    Postingan ini melanjutkan dari tulisan saya sebelumnya mengenai Amazon Web Services. Pada tulisan tersebut saya cerita telah menggunakan layanan AWS dengan produk bernama Amazon EC2. Nah, apakah Amazon EC2 itu?

    Pada dasarnya, Amazon EC2 merupakan layanan IaaS dari AWS. Jadi dengan menggunakan layanan ini, maka saya mendapatkan seperangkat server yang dibayar tunai konfigurasinya dapat saya tentukan sendiri, tergantung kebutuhan dan budget. Amazon EC2 memiliki berbagai macam spesifikasi server yang bisa dipilih. Kemudian, sesuai asas cloud computing dimana sebuah layanan bisa dimodifikasi sewaktu-waktu, maka Amazon EC2 pun demikian. Kita dapat melakukan upgrade atau downgrade sewaktu-waktu.

    Perhitungan biaya pada Amazon EC2 juga menganut faham pay-per-use. Hitungan yang digunakan adalah dengan satuan jam. Misalnya kita menggunakan selama sebulan, maka hitungan kasarnya akan dihitung selama 750 jam. Berapa biayanya? Sekali lagi, tergantung spesifikasi yang dipilih, dan lokasi dimana EC2 berada. Selengkapnya, silakan lihat disini.

    Ternyata, kita bisa memilih lokasi server. Dimanapun lokasi server kita berada, akan tersambung dalam network Amazon sehingga jika suatu saat akan memindah server tidak begitu merepotkan. Apalagi jika nantinya mau menggunakan layanan AWS yang lain, seperti CloudFront atau S3, maka EC2 akan langsung terintegrasi dengan mulus. Lokasi terdekat dari Indonesia berada di Singapura. Saya rasa tidak masalah karena Singapura juga merupakan gateway Internet untuk wilayah Asia Tenggara. Jadi diakses dari dalam atau luar juga sudah cukup cepat.

    Mungkin jika sudah pernah menggunakan layanan VPS, maka untuk menggunakan layanan Amazon EC2 ini tidak akan mengalami kesulitan. Kita bisa menginstall setiap Instance (sebutan untuk satu mesin EC2 yang kita gunakan) dengan sistem operasi yang diinginkan. Setiap Instance akan berfungsi selayaknya kita menggunakan VPS, untuk melakukan manajemen juga telah disediakan control panel yang memungkinkan untuk melakukan reboot, shutdown, dan lain sebagainya. Akses SSH juga telah disediakan bila terbiasa mengakses server melalui console. Bagaimana akses yang lain seperti FTP dan Web? Silakan install sendiri saja.

    Lalu apa bedanya Amazon EC2 dengan VPS? Pada dasarnya mereka sama, hanya berbeda dalam segi keilmuan. Amazon EC2 merupakan layanan cloud computing dengan model IaaS. Sedangkan VPS merupakan produk dari virtualisasi. Virtualisasi sendiri merupakan salah satu bagian dari cloud computing, sehingga ini merupakan produk yang sama, namun tentunya karena Amazon EC2 merupakan teknologi cloud, sehingga memiliki fitur tambahan seperti mudah dikonfigurasi (upgrade-downgrade) dan sistem pembayaran yang pay-per-use.

    Elastic IPs

    Pada saat Instance EC2 diciptakan, maka kita hanya baru mendapatkan public DNS yang sangat panjang. Misalnya: ec2-54-254-218-20.ap-southeast-1.compute.amazonaws.com. Selain itu public DNS ini akan berganti setiap kita melakukan reboot. Tentunya ini akan merepotkan jika akan membangun sebuah server dengan domain yang terpointing. Solusinya adalah dengan menggunakan Elastic IPs yang kemudian di-attach ke Instance EC2 yang kita miliki. Maka nanti Instance EC2 akan memiliki ip public yang dapat kita gunakan.

    Untuk melakukan konfigurasi Elastic IPs ini bisa Anda lakukan melalui control panel Amazon EC2, jadi masih berada di satu tempat. Urutannya, setelah Anda membuat instance EC2, maka lanjutkan dengan membuat Elastic IPs, kemudian attach Elastic IPs tadi ke instance EC2 yang Anda miliki.

    Dokumentasi mengenai Amazon EC2 secara lengkap dapat Anda akses disini.

    http://www.youtube.com/watch?v=Px7ZPLq4AOU

  • Belanja Online Dengan VCN BNI

    Baiklah, ini memang postingan yang sudah termasuk terlambat. Layanan ini sudah diluncurkan oleh BNI sejak beberapa waktu lalu, saya pun sudah sering menggunakan fasilitas ini untuk membayar transaksi di Steam dan Agoda. Tapi hey! Tidak ada kata terlambat untuk berbagi pengalaman khan? *ahlesyan*

    Oke, jadi ini tulisan tentang apa? Singkatnya tulisan ini bisa mengajak Anda untuk semakin rajin berbelanja online hahahaha.. Bagaimana tidak? banyak sekali konten digital yang tersedia di Internet, hanya saja untuk mendapatkannya terkadang kita harus membayar (dan membajak tentunya). Bayarnya pakai apa? Kartu kredit.

    Kartu kredit memang menggiurkan, dengan gesek saja maka kita sudah bisa mendapatkan barang yang kita inginkan, dengan mengetik beberapa informasi yang ada di kartu kredit, kita sudah bisa membeli lagu, film, software, atau bahkan tiket penerbangan dan voucher hotel dengan mudah. Tapi hati-hati dengan selisih kurs yang ditetapkan oleh bank penerbit, saya pernah menulis mengenai selisih kurs pada kartu kredit.

    Bagaimana dengan yang nggak punya kartu kredit? Atau mungkin limit kartu kredit sudah mencapai puncaknya? Atau bahkan nggak bisa bikin kartu kredit karena masalah administrasi? Masa kita nggak bisa menikmati Internet setara dengan pemilik kartu kredit? Nah, untuk hal ini BNI memberikan solusi cerdas dengan meluncurkan layanan BNI Debit Online, dengan produk yang bernama VCN (Virtual Card Number). Anda bisa baca keterangan lengkapnya langsung di halaman ini.

    Review

    Untuk menggunakan VCN, ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu Anda harus punya rekening BNI Taplus + SMS Banking. Kebetulan universitas menggaji saya dengan rekening BNI TAPA, maka saya selo bikin rekening BNI Taplus hanya demi pengen coba VCN. Selanjutnya untuk registrasi SMS Banking, cara paling mudah adalah saat membuat rekening BNI Taplus, langsung rekues aktivasi SMS Banking dan Internet Banking sekalian aja.

    Untuk cara menggunakan layanan VCN ini, saya kasih skrinsyutnya saja biar lebih jelas dan nggak perlu ngetik banyak-banyak.

     

    IMG_20140503_194701

    Yang saya perhatikan, saat kita sudah mendapatkan VCN, jangan langsung digunakan. Tunggu sekitar 10-15 menit supaya nomor VCN yang barusan digenerate itu dikenali oleh payment system. Setelah itu, tinggal masukkan saja informasi VCN ke form yang tersedia. Bagaimana jika meminta informasi pribadi seperti nama, alamat, dll? Masukkan saja sesuai dengan data yang tercatat pada saat Anda membuat rekening BNI Taplus.

    Berapa lama VCN ini berlaku? Menurut pengalaman, nomor VCN itu hanya berlaku 1 jam, ini merupakan solusi terbaik dan teraman menurut saya. Jadi saya tidak perlu khawatir untuk berbelanja online, yang perlu saya khawatirkan adalah jumlah saldo saja huhuhu..

    Jika masih bingung silakan buka FAQ VCN

    http://www.youtube.com/watch?v=7cds1-AS-jk

  • Menyicip Layanan Amazon Web Services

    Sebetulnya ini adalah kegiatan di waktu luang saat sedang serius sibuk mengerjakan tesis, beberapa bulan yang lalu. Kebetulan saya sedang menyusun tesis dengan tema cloud computing, maka kurang afdol jika belum menyicip layanan cloud computing, itung-itung bisa buat jadi referensi dalam penulisan tesis.

    Ceritanya saya di kantor juga ditugaskan untuk develop website fakultas yang beralamat di http://ftik.usm.ac.id. Statusnya website sudah online dan dibangun dengan WordPress Multisite. Web tersebut saya letakkan di hosting yang sama dengan website USM. Nah, ini kesempatan untuk eksprerimen dengan layanan cloud computing, setidaknya dengan melakukan migrasi web FTIK dari hosting ke layanan cloud computing.

    Saya sudah mengenal Amazon sejak mereka masih fokus jualan buku. Sekarang rupanya Amazon mulai fokus untuk bermain di pasar cloud computing. Mereka serius melakukannya, terbukti dengan memiliki hampir semua macam layanan yang bisa diberikan oleh penyedia cloud computing manapun. Saya lebih tertarik dengan layanan IaaS yang mereka berikan, dimana sangat fleksibel dan cukup memakai hanya yang saya butuhkan saja. Harga? menurut saya (saat itu) masih menurut murah dibandingkan harus menyewa VPS untuk bermain-main dengan server. Apalagi jika untuk member baru, kita bisa pakai selama setahun sepuasnya, layak untuk dicoba.

     

    Amazon Web Services (AWS) menyediakan berbagai macam layanan, ini cukup membingungkan bagi pemula macam saya. Untunglah AWS menyediakan dokumentasi yang jelas mengenai fungsi dari masing-masing layanan, hasil pencarian di Google juga sangat membantu, terutama testimonial dari beberapa pengguna lain yang sudah menggunakan layanan AWS. Akhirnya, layanan yang saya gunakan adalah Amazon EC2 dan Amazon Cloudfront. Untuk penjelasan mengenai EC2 dan Cloudfront akan saya berikan pada tulisan terpisah saja ya.

    Yang saya suka dari cloud computing adalah model pembayaran yang bersifat pay-per-use. Berbeda dengan layanan VPS dan hosting yang mengharuskan saya untuk membayar penuh di awal bulan, walaupun mungkin hanya beberapa jam saja penggunaannya. AWS juga menerapkan model pembayaran pay-per-use dengan rincian yang cukup detail sehingga saya merasa “puas” dengan biaya yang harus saya berikan.

     

    Bagaimana cara pakainya? Inilah yang saya sukai dari AWS, mereka sadar akan adanya pengguna baru cloud computing macam saya. AWS menyediakan AWS Marketplace yang menyediakan berbagai macam aplikasi siap pakai yang tinggal klik-klik. Contoh yang saya gunakan adalah Bitnami WordPress Multisite. Cukup dengan beberapa klik saja maka WordPress Multisite sudah terinstall dengan manis dan siap digunakan.

    Cloud computing memang bukan layanan gratisan, tapi layanan ini memberikan harga yang lebih fair dan lebih terjangkau, atau bisa dibilang.. Ini merupakan layanan yang murah tapi bukan murahan.

    http://www.youtube.com/watch?v=mZ5H8sn_2ZI

  • Memanfaatkan Fitur Recovery Mode pada Ubuntu

    Ceritanya tadi siang saya dikabari sama kampus bahwa salah satu server yang saya kelola itu bermasalah, wah ini bisa gawat, karena kebetulan server itu melayani 2 aplikasi yang menyangkut hajat hidup dosen sak kampus. Ketika tak coba untuk remote via ssh ternyata mental, tapi di ping masih bisa. Oke bisa diurus nanti aja setelah ngajar.

    Sehabis mengajar jam terakhir, sekitar jam 3 sore barulah saya bisa bergabung dengan tim di ruang server. Disitu saya dilapori bahwa mereka tidak bisa mendapatkan akses setara root, ada tulisan error “sudo: must be setuid root“. Nampaknya masalahnya lebih serius dari bayangan sebelumnya. Dari sini, prioritas perbaikan harus mendapatkan kembali akses root supaya nanti bisa menjalankan service-service yang down.

    Setelah membaca beberapa artikel, akhirnya disimpulkan bahwa cukup mengakses fitur Recovery Mode untuk melakukan perbaikan secara manual dari sana. Kebetulan server ini menggunakan distro Ubuntu, jadi cara masuk ke recovery mode cukup restart server, kemudian tunggu muncul pilihan operating system, dan pilihlah yang ada tulisan (recovery mode) dibelakangnya. Tunggu sebentar maka nanti akan muncul gambar seperti dibawah.

    Ubuntu-11.10-Single-User-Mode-Limited-Menu

    Jangan dibayangkan ketika menggunakan fitur recovery mode ini akan ribet, karena ternyata ada tampilan GUI yang sederhana jadi tinggal pilih saja fungsi yang akan dipakai. Nah, pilihan pertama adalah yang “remount“. Ini karena secara default, kita akan dibatasi aksesnya hanya bisa read-only, tentunya jika nanti akan melakukan konfigurasi akan terhambat dan akibatnya rakuwisuwis.

    Setelah proses “remount” selesai, maka pilihan selanjutnya adalah “root“. Begitu opsi ini dipilih, maka kita akan memiliki akses setara root yang bisa untuk melakukan konfigurasi atau reparasi. Berbekal artikel dari sini, ternyata yang diketik itu nggak banyak :

    chown root:root /usr/bin/sudo
    chmod 4755 /usr/bin/sudo
    chown root:root /etc/sudoers
    chmod 440 /etc/sudoers
    reboot

    Sudah, setelah itu tinggal tunggu server restart, dan seharusnya kita sudah bisa mendapatkan kembali akses secara root untuk melakukan perbaikan-perbaikan selanjutnya.