Memanfaatkan CDN Untuk Optimasi Website

 

Seperti halnya pada masa-masa ujian, ada istilah namanya “Posisi Menentukan Prestasi”. Begitu juga pada pengelolaan website, lokasi server website juga mempengaruhi performa website. Misalnya kita meletakkan website pada server hosting yang berada di Indonesia (IIX), maka website tersebut akan lebih cepat diakses oleh user yang berada di Indonesia dibandingkan dengan user yang berada di luar negeri. Begitu juga jika diletakkan di US atau Eropa, maka user yang berada di Indonesia pada saat mengakses website, akan sedikit lebih lambat dibandingkan user yang berada di sekitar negara tersebut.

Hal ini sering saya tekankan ketika mengisi kuliah pemrograman web. Pastikan mengetahui siapa target user dari website yang sedang dibangun. Misalnya membangun web e-commerce, tanya dulu ke owner target usernya kemana? Apakah di dalam negeri atau luar negeri? Intinya, usahakan untuk mendekatkan lokasi server ke target user supaya mereka lebih cepat untuk mengakses website.

Masalahnya, sebagian besar owner itu agak “kemaruk”. Pengennya website itu bisa diakses secara cepat oleh semua user di dunia, mereka pada dasarnya tidak peduli dengan hal-hal teknis mengenai routing dan lain sebagainya, pengennya cepet, bat-bet;sat-set. Selain itu, jika disarankan membangun server di semua negara, tentunya ini kurang bijak karena selain biayanya tinggi, tenaga untuk merawat masing-masing server itu juga membutuhkan tambahan biaya dan tenaga.

Untuk kasus seperti ini, biasanya saya memiliki 2 alternatif. Alternatif pertama, saya meletakkan hosting berada di Singapura. AFAIK, Singapura adalah gateway Internet untuk wilayah Asia Tenggara, sehingga jika server diletakkan di Singapura maka kecepatan akses user dari Asia Tenggara di sekitarnya akan berimbang dengan user yang berasal dari US atau Eropa. Tapi tentu saja, masalah jarak masih menjadi kendala utama, apalagi jika dalam perjalanannya ada gangguan, misalnya masalah routing atau kabel putus.

Alternatif kedua, menggunakan CDN (Content Delivery Network). Saya baru menggunakan layanan ini baru setahun terakhir, terutama ketika layanan cloud computing mulai marak, selain konsepnya oke, harga yang ditawarkan juga masih masuk akal dibandingkan harus membangun server di tiap-tiap negara. Konsep CDN pada dasarnya seperti gambar di awal tulisan ini, yakni menyebar konten ke beberapa node yang berada di seluruh dunia. Jumlah node tergantung dari provider yang kita gunakan. Jadi kita cukup memiliki satu server hosting saja, kemudian membeli layanan CDN yang akan mengkopi data dari server kemudian disebarkan ke semua node.

Misalnya, saya meletakkan server di Jakarta (IIX), kemudian saya menggunakan layanan CDN untuk disebar ke seluruh dunia. Maka jika nanti ada user dari Amerika akan mengakses website saya, maka routingnya tidak langsung direct access ke Indonesia, melainkan akan menuju ke node terdekat dari posisi dia berada. Sehingga user tersebut akan merasa akses ke website saya menjadi jauh lebih cepat.

Layanan apa yang saya gunakan?

 

Sudah setahun ini saya menggunakan layanan dari Amazon Cloudfront. Ini merupakan salah satu layanan dari AWS yang pernah saya tulis disini. Amazon Cloudfront merupakan layanan CDN yang menurut saya masih terbaik, karena memiliki node yang tersebar ke seluruh dunia. Sayangnya memang CloudFront tidak memiliki node di Indonesia, tapi saya bisa menggunakan node di Singapura. Harga yang ditawarkan juga masih masuk akal, karena masih menggunakan sistem pay-as-you-go. Berhubung traffic website saya nggak tinggi, rata-rata per bulan saya hanya menghabiskan $8 – $15 saja.

Tinggalkan Balasan