Author: Mohammad Sani Suprayogi

  • Tumbuh Cepat, Cepat Layu

    Saya percaya bahwa sesuatu yang terlalu cepat tumbuh biasanya akan cepat layu.

    Ini terbukti di berbagai hal, misalnya ekspansi bisnis yang terlalu agresif biasanya akan berujung pada penutupan usaha.

    Contoh lain, mumpung lagi era vibe coding, menambahkan banyak fitur pada suatu aplikasi rintisan yang biasanya tidak diiringi dengan riset pengguna akan berujung menjadi aplikasi yang tidak digunakan.

    Bahkan, ada legenda mengatakan, seorang anak yang tidak melalui tahap merangkak, biasanya ketika dewasa dia akan menjadi orang yang ceroboh.

    Saya percaya ketika orang sudah merasa mencapai puncak kejayaannya, maka hari itulah dia akan mulai turun dari puncaknya.

    Kenapa? Karena dia terlalu cepat menyimpulkan bahwa semua hal sudah dia kuasai. Misalnya mengaku sebagai lulusan Ilmu Komputer namun tidak pernah menyentuh lagi hal-hal yang berhubungan dengan dunia komputer sejak lulus kuliah, dia tidak layak menyebut dirinya sebagai ahli komputer.

    Dia hanya orang yang pernah kuliah.

    Padahal, kita tau bahwa semakin kita mencoba mendalami suatu ilmu, maka seringnya akan merasa menjadi paling bodoh. Betapa ilmu yang dimiliki itu nggak ada apa-apanya dengan besarnya ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Trus gimana dong?

    Ketekunan tetap menjadi jawaban, ini sama seperti di artikel saya sebelumnya. Tidak ada yang bisa mengalahkan orang yang tekun dan punya waktu untuk melakukannya.

    Saya tidak punya waktu!

    Hmm.. Saya tidak percaya. Waktu akan selalu ada, hanya prioritas hidup yang menutupinya.

  • Sedikit Mengalah Adalah Pilihan Bijak Di Saat Yang Tepat

    Saat kita mengalah selangkah pada orang lain, semuanya akan jadi lebih ringan dan nyaman, pertengkaran yang tidak perlu juga tidak akan terjadi. Mengalah bukan berarti lemah, tapi itu adalah cara bijak dari orang yang berpikir panjang.

    Kurang lebih itu potongan paragraf dari buku yang sedang saya baca. Sangat masuk akal apabila kita ambil contoh di kehidupan sehari-hari.

    Berapa kali kita harus berkompetisi setiap harinya? Mulai dari hal sederhana, misalnya duluan menyeberang, masuk ke transportasi umum atau lift, atau ke hal spesifik seperti mendapatkan posisi penting atau lowongan pekerjaan.

    Sangat melelahkan apabila semua hal harus dihadapi dengan kompetisi. Pikiran akan menjadi tegang, hati menjadi keras, dan overthinking dan antisipasi terhadap hal-hal yang belum terjadi akan sering muncul.

    Hasilnya? tidak ada selain sakit di badan dan pikiran.

    Padahal, kita membutuhkan keduanya untuk terus hidup secara normal.

    Apa sih tujuan hidup kita? Bukankah untuk hidup normal ya?

    Tidak semua hal harus dihadapi dengan kompetisi, orang cerdas itu tau dimana medan peperangannya. Tidak harus semuanya dilawan dan dimenangkan.

    Terkadang, bukan.. Seringnya kita malah akan membutuhkan bantuan orang-orang yang sudah kita kalahkan tadi. Jika kita tidak sekalipun memberikan kemenangan untuk mereka…

    Apa gunanya kompetisi?

  • Ingin Mahir? Tidak Ada Jalan Pintas

    Ketekunan belajar adalah jawaban untuk bisa menguasai bidang sampai level mahir. Belajar adalah sesuatu yang membosankan, karena kita dipaksa untuk selalu membaca, mencoba, dan menemui kegagalan, kemudian diulang lagi seterusnya.

    Tidak dipungkiri, AI menjadi salah satu cara seseorang untuk bisa dianggap pintar. Dia bisa menjawab semua perdebatan di media sosial hanya dengan copy-paste jawaban dari AI.

    Seakan-akan dia pintar.

    Padahal sebetulnya tidak, dia hanya punya Internet.

    Mahir adalah level yang berbeda, dimana itu hanya bisa didapatkan setelah melewati berbagai kegagalan sampai bisa mengenali apa arti kesalahan itu sendiri. Sampai bisa ngasih tau orang lain apa artinya dan tips supaya tidak mengalami yang sama.

    Kegagalan sering dianggap sebagai suatu kemunduran, tidak ada progress, dan tanda ketidakmampuan.

    Padahal, setiap kegagalan itu artinya kita sudah mencoba dan maju satu langkah lagi melewati kegagalan sebelumnya hingga ketemu dengan kegagalan berikutnya.

    Itulah yang membuat seseorang akan mahir di bidangnya.

    Saya suka dengan pepatah yang saya baca di buku, kira-kira tertulis begini.

    Ketika kamu terlalu fokus untuk mencari jalan pintas, maka kamu akan cepat ketemu dengan jalan buntu. Di saat itu, kamu tidak hanya kehilangan tujuanmu, tapi juga akan kehilangan yang sudah kamu miliki.

    Cukup familiar dengan situasi itu?

  • Nonton Ghost In The Cell

    Joko Anwar merilis film baru berjudul Ghost In The Cell, berdasarkan review yang baca dan cerita dari teman-teman, mereka sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton.

    Apalagi buat saya yang suka genre gore ini haha.

    Kebetulan hari Sabtu ini cukup cerah, jadi saya memutuskan untuk datang ke CGV FX Sudirman sekaligus untuk memenuhi rasa penasarana dimana lokasi bioskop ini berada. Beberapa kali menginap di hotel yang ada di FX ini tapi kok belum pernah ketemu bioskopnya.

    Ternyata ada di lantai paling atas, agak tricky buat nemu eskalator menuju ke atas itu haha.

    Nonton Ghost In The Cell

    Anyway, akhirnya saya menonton dan menurut saya.

    FILM INI BAGUS!

    Ini bukan film hantu-hantuan biasa, tapi lebih memiliki nuansa baru yang mengingatkan saya kepada beberapa film Holywood yang memang lebih cenderung menggambarkan sosok hantu itu lebih ke sisi psikologi.

    Memang sih akan ada wujud yang seperti di cover filmnya, tapi itu adalah bagian dari pesan film yang cukup dalam. Aming benar-benar bertransformasi menjadi karakter yang berbeda, aku ngefans sama karakter Tokek disini.

    Saya sangat menikmati film ini sampai tidak terasa filmnya sudah berakhir. Salut dengan Joko Anwar yang sudah membuat film Ghost In The Cell ini.

  • Tempat Tinggal dan Lingkungannya

    Saya teringat dengan obrolan ringan beberapa waktu lalu, mengenai sulitnya mencari tempat tinggal yang layak untuk keluarga. Dulu ketika masih bujangan, rasanya kita lebih mudah mendapatkan tempat tinggal.

    Syaratnya simpel, yang penting murah.

    Sekarang, ketika sudah berkeluarga, faktor murah tidak bisa lagi menjadi ukuran. Ada banyak faktor baru yang akan menentukan lokasi tempat tinggal itu menjadi jauh lebih rumit.

    Saya sangat paham dengan hal ini, karena saya pernah berada di posisi itu dan sangat mengerti kesulitannya.

    Bagaimana solusinya? tidak ada.

    Saya percaya bahwa setiap orang akan diberkahi dengan priviledge-nya sendiri dan sesuatu yang bisa dia kontrol.

    Lingkungan adalah sesuatu yang tidak bisa kontrol, namun penentuan lokasi itu masih berada di dalam kontrol kita.

    Jadi, fokus dengan yang bisa kontrol saja.

    Kira-kira apa hal yang bisa dikorbankan atau diprioritaskan untuk bisa memenuhi syarat-syarat minimal yang sudah kita tentukan.

    Jarak? Lokasi? Fasum? Akses transportasi? Harga?

    Pasti akan ada hal yang harus dipilih, dan semua itu masih berada dalam kontrol kita. Jadi, buat pejuang pencari tempat tinggal, tetap bersabar ya.

    Lingkungan yang baik adalah idaman semua orang, jika memang kita sudah masuk ke lingkungan itu, maka memang kita layak disana. Sebab, lingkungan itu berisi kumpulan orang yang beraneka-ragam, tapi pasti mereka memiliki kesamaan yang sama.

  • Lelaki Jarang Mengeluh

    Mengeluh atau sambat dalam bahasa Jawa adalah sebuah kegiatan ketika seseorang sedang merasa di situasi tidak berjalan sesuai dengan keinginan.

    Kenapa laki-laki jarang mengeluh? karena memang masyarakat tidak memberi ruang kepada laki-laki untuk melakukannya. Setidaknya ini yang saya rasakan ketika sedang berproses menjadi dewasa.

    Perbedaan antara pemuda tanggung dan pria dewasa, menurut saya adalah seberapa sering dia mengeluh di kesehariannya. Umur hanyalah angka, namun cara berpikir itu nyata.

    Fokus pada sesuatu yang bisa dikontrol, ini adalah pesan terbaik yang saya dapatkan. Sebuah tindakan nyata yang dapat mempengaruhi keputusan-keputusan berikutnya.

    Laki-laki akan sering membuat keputusan, dimana semua itu akan berujung pada dua hal: Berhasil atau Gagal.

    Jika berhasil, maka selamat kamu berhasil, yay!.

    Bagaimana jika tidak berhasil?

    Ternyata tidak semua orang mampu untuk menghadapi kegagalan, sehingga respon asli seseorang, terutama laki-laki akan terlihat disini.

    Apakah dia akan marah? mengeluh? sedih? diam?

    Semuanya benar dan itu wajar.

    Tapi berapa lama? itu yang menjadi pembeda.

    Lelaki sejati tidak akan membiarkan dirinya larut dalam semua itu, dia akan segera berusaha bangkit dan memikirkan strategi baru untuk membuat keputusan baru.

    Menyalahkan keadaan tidak akan menyelesaikan masalah, namun keputusan baru yang kita hasilkan bisa jadi akan membuat perbedaan.

  • Membantu Orang, Bukan Mengubahnya

    Pernah nggak ketika kita sedang merasakan manfaat positif dari suatu kegiatan yang diikuti, kemudian ingin mengajak orang terdekat untuk mengikutinya juga, dengan harapan dia akan merasakan manfaat positif itu juga.

    Bagaimana hasilnya? apakah berhasil?

    Saya jamin 99% tidak akan berjalan sesuai dengan keinginan.

    Kenapa?

    Karena yang kita coba lakukan adalah mencoba mengubah seseorang menjadi versi yang kita inginkan.

    Padahal, semua orang sudah punya kebiasaannya sendiri, punya kehidupan versi terbaik yang sudah dia jalani, bahkan mungkin sudah punya rencana yang akan dia mulai.

    Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

    Berikan insight secukupnya, tunjukkan bahwa itu sesuatu yang menarik, tapi jangan berharap dia akan mengikutinya. Biarkan dia yang memutuskan apakah mau ikut atau hanya sekadar mendengarkan ceritamu saja.

  • R.A. Kartini: Ikon “Overthinking” yang Mengubah Sejarah Indonesia

    Pernahkah kamu terjaga tengah malam, cemas memikirkan masa depan? Jika iya, kamu sedang merasakan apa yang dialami Raden Ajeng Kartini ratusan tahun lalu. Ya, dia adalah seorang overthinker tingkat tinggi. Bedanya, overthinking-nya Kartini tidak berakhir jadi mental breakdown, melainkan sebuah revolusi.

    Bayangkan, di usia 12 tahun, Kartini harus dipingit. Ruang geraknya dikunci oleh adat feodal. Namun, otaknya menolak dipenjara. Lewat buku dan koran Barat, ia melihat dunia luar bergerak maju, sementara perempuan di sekitarnya hanya disiapkan untuk menikah dan dipoligami tanpa hak suara.

    Ia tidak sekadar mengeluh, tapi mencari solusi. Dari rahim overthinking inilah lahir kesimpulan visioner: Perempuan wajib berpendidikan tinggi agar bisa mandiri. Tanpa isi kepala yang “berisik” itu, mahakarya “Habis Gelap Terbitlah Terang” tidak akan pernah ada.

    Namun jika Kartini hidup di era digital sekarang, ia mungkin akan terkejut melihat bagaimana kebebasan yang ia perjuangkan disalahgunakan. Hari ini, banyak wanita muda terjebak dalam budaya instant gratification, ingin serba cepat, termasuk dalam hal mencari kekayaan.

    Alih-alih menggunakan akses pendidikan untuk membangun kapasitas diri, sebagian justru memilih jalan pintas demi validasi media sosial. Fenomena flexing, ketergantungan pada sugar daddy, hingga mengeksploitasi diri demi uang cepat di internet menjadi potret buram modernitas.

    Ini adalah antitesis dari perjuangan Kartini. Kartini mendambakan perempuan yang dihormati karena isi kepala dan kemandirian budinya, bukan perempuan yang menjual harga diri demi kepuasan materi sesaat.

    Mempunyai banyak pikiran dan kecemasan itu wajar. Namun, Kartini memberi teladan bahwa kegelisahan harus diubah menjadi karya dan kontribusi, bukan sekadar gaya hidup hedonis yang instan.

  • Belajar Mengendalikan Keinginan Untuk Eksistensi

    Saya salut dengan ucapan dari dr. Tirta di beberapa podcast yang dia menyadari bahwa versi dirinya pada saat era Covid dan berambut merah adalah versi dr. Tirta yang dia tidak sukai. Itu adalah versi dirinya yang suka membahas apapun dan siapapun sampai dia memiliki banyak haters.

    Ini mengingatkan saya bertahun-tahun yang lalu, saya juga pernah berada di versi itu. Merasa paling tau karena kebetulan punya akses Internet, bisa menjawab semua pertanyaan karena punya akses ke berbagai literatur bacaan, dan mengetahui karakteristik orang karena sering ngobrol dengan berbagai macam orang.

    Akibatnya, kadang saya merasa ide saya itu harus paling benar dan tidak boleh dibantah. Karena jika tidak, maka saya bisa menjamin bahwa opsi selain yang saya pikirkan itu bakalan salah dan nanti tanggung sendiri akibatnya.

    Betapa suram karakter saya waktu itu.

    Sekarang, mungkin karena bertambah umur dan semakin sering ketemu orang yang lebih pinter, saya berusaha untuk mengerem semua tindakan dan pikiran supaya nggak langsung meluncur lewat omongan.

    Mulut itu sangat berbahaya jika tidak ada yang jaga.