Pernahkah kamu terjaga tengah malam, cemas memikirkan masa depan? Jika iya, kamu sedang merasakan apa yang dialami Raden Ajeng Kartini ratusan tahun lalu. Ya, dia adalah seorang overthinker tingkat tinggi. Bedanya, overthinking-nya Kartini tidak berakhir jadi mental breakdown, melainkan sebuah revolusi.
Bayangkan, di usia 12 tahun, Kartini harus dipingit. Ruang geraknya dikunci oleh adat feodal. Namun, otaknya menolak dipenjara. Lewat buku dan koran Barat, ia melihat dunia luar bergerak maju, sementara perempuan di sekitarnya hanya disiapkan untuk menikah dan dipoligami tanpa hak suara.
Ia tidak sekadar mengeluh, tapi mencari solusi. Dari rahim overthinking inilah lahir kesimpulan visioner: Perempuan wajib berpendidikan tinggi agar bisa mandiri. Tanpa isi kepala yang “berisik” itu, mahakarya “Habis Gelap Terbitlah Terang” tidak akan pernah ada.
Namun jika Kartini hidup di era digital sekarang, ia mungkin akan terkejut melihat bagaimana kebebasan yang ia perjuangkan disalahgunakan. Hari ini, banyak wanita muda terjebak dalam budaya instant gratification, ingin serba cepat, termasuk dalam hal mencari kekayaan.
Alih-alih menggunakan akses pendidikan untuk membangun kapasitas diri, sebagian justru memilih jalan pintas demi validasi media sosial. Fenomena flexing, ketergantungan pada sugar daddy, hingga mengeksploitasi diri demi uang cepat di internet menjadi potret buram modernitas.
Ini adalah antitesis dari perjuangan Kartini. Kartini mendambakan perempuan yang dihormati karena isi kepala dan kemandirian budinya, bukan perempuan yang menjual harga diri demi kepuasan materi sesaat.
Mempunyai banyak pikiran dan kecemasan itu wajar. Namun, Kartini memberi teladan bahwa kegelisahan harus diubah menjadi karya dan kontribusi, bukan sekadar gaya hidup hedonis yang instan.
Leave a Reply