Hari Jumat ini katanya adalah hari pertama penerapan kebijakan WFH untuk ASN dan turunannya. Saya tidak mau mengomentari kebijakannya tapi lebih ke manfaatnya.
Apakah ada? Tentu saja.
MRT hari ini jadi lebih lengang daripada biasanya.
Hari Jumat ini katanya adalah hari pertama penerapan kebijakan WFH untuk ASN dan turunannya. Saya tidak mau mengomentari kebijakannya tapi lebih ke manfaatnya.
Apakah ada? Tentu saja.
MRT hari ini jadi lebih lengang daripada biasanya.
Hari ini saya sudah di Jakarta lagi setelah semalam melakukan perjalanan naik kereta malam. Sudah lama saya tidak melakukan perjalanan malam apalagi yang kemudian besok paginya sudah harus ngantor.
Ternyata saya menua, gampang kedinginan wkwkwk.
Saat di kereta, saya ditawari minuman hangat oleh mba Prami yang bertugas, jadilah saya memilih teh hangat supaya nggak kedinginan dan bisa tidur.
Mungkin yang pernah pesan teh panas di perjalanan kereta itu tau kalau rasa tehnya enak, dan beneran enak. Rupanya ini merupaka teh Slawi dengan merk Teh Tjap Botol.
Cari-cari di Shopee akhirnya nemu juga dan hari ini sudah datang ke kosan. Ahay, bisa buat ngeteh kala sore.

Akhirnya setelah mempertimbangkan banyak hal, hari ini saya memutuskan untuk berinvestasi pada Claude Max dengan biaya langganan $100/bulan.
Kenapa? sebetulnya lebih kepada kebutuhan pekerjaan saja sih, saya sedang memerlukan pair brainstorming yang cukup bisa mengimbangi imajinasi saya dan bisa mengeksekusinya dengan lebih akurat, sehingga saya bisa mengalihkan fokus saya ke hal-hal yang lebih strategis.
Saya sudah mencoba Kimi dan GLM, keduanya memang bagus dan cukup menjanjikan, namun sekali lagi ini hanyalah masalah subjektifitas, Claude Sonnet masih lebih baik dan lebih gegas daripada keduanya.
Setelah mencoba beberapa saat dan sekalian mengubah model dari Sonnet ke Opus, rasanya seperti masuk ke dunia baru.
Ada beberapa bug yang sebelumnya susah dibetulin dengan Kimi dan GLM, bisa beres dengan mudah di tangan Opus.
Memang agak lain..
Selain itu, dengan memanfaatkan Claude Code dan VSCode saya sekalian install plugin superpowers dan caveman untuk menemani prosesnya. Nanti saya akan buatkan tulisan terpisah mengenai kedua plugin itu.
Baiklah, mudah-mudahan ini investasi yang baik.
Tiba-tiba teringat dengan kutipan CTO saya tentang istilah Bus Count ini di suatu standup engineering, dia menjelaskan bagaimana sebuah tim itu tidak boleh mengandalkan satu orang untuk mengerjakan sesuatu (single point of failure).
Tim yang sehat adalah ketika membernya mau cuti, maka ada yang bisa menggantikan pekerjaannya. Pekerjaan tetap bisa berjalan dengan baik meskipun orang yang biasa mengerjakannya sedang tidak berada di tempat.
Bus Count adalah istilah dimana berapa orang di dalam tim yang harus “menghilang” sampai kemudian tim atau sistem itu tidak bisa berjalan lagi?
Jika kita hanya mengandalkan 1 orang saja, maka Bus Count bernilai hanya 1. Artinya, jika orang itu hilang maka timnya bisa bubar.
Idealnya, sebagai manajer yang baik itu berusaha untuk meningkatkan jumlah bus count ini setinggi-tingginya, akan sangat bagus jika jumlahnya bisa mendekati jumlah member di tim itu sendiri, artinya timnya sehat karena bisa saling backup.
Makanya, saya tidak terpukau dengan cerita seseorang yang mengatakan dialah pemegang kunci sistem perusahaannya. Ada 2 hal yang menjadi pikiran saya, antara timnya kureng atau dia yang bermasalah.
Kami kebetulan tidak begitu suka difoto, jadi ketika melihat ada rombongan yang sedang foto-foto biasanya kami otomatis akan menghindar dan/atau menolak ketika diajak bergabung.
Siang ini ketika kami sedang menikmati makan siang di suatu restoran di Jogja, kebetulan ada serombongan geng boomers yang baru selesai makan dan bersiap untuk pulang.
Namun, entah kenapa mereka asik mengobrol di dekat meja kami sambil berdiri dan sampai saya cukup tau apa topik pembicaraannya.
Pertama, itu suatu kebodohan. Saya tidak peduli berapa umur kalian sekarang, tapi seharusnya kalian cukup umur untuk tau bahwa berdiri di dekat meja makan seseorang itu tidak sopan. Apalagi dilakukan oleh generasi yang sudah punya cucu.
Kedua, kalian mau foto-foto. Saya hampir berdiri namun istri saya ngasih kode untuk sedikit sabar.
Padahal, saya sudah mau rangkul mereka dan ngajak foto bersama.
Hari Minggu ini kami secara mendadak harus pulang ke Jogja karena ada suatu hal yang harus dilakukan di hari Seninnya. Saya langsung memilih menggunakan kereta api untuk moda transportasinya, kenapa? karena tepat waktu.
Kami harus ada di Jogja pada hari Senin pagi, jadi satu-satunya cara adalah pulang di hari Minggu jam berapapun itu. Berhubung hari Minggu adalah waktu CFD (Car Free Day), maka tidak mungkin berangkat ke Gambir pada pagi hari, eh lebih tepatnya karena belum tau triknya sih.
Naik pesawat? hmm.. sori nggak dulu.
Saya pikir tiket kereta ke arah Jogja untuk hari Minggu itu bakalan sepi karena biasanya yang ramai adalah arah sebaliknya. Ternyata saya keliru, semuanya penuh! hahaha.
Akhirnya kami dapat tiket Taksaka Luxury jam 14:00 yang akan sampai di Jogja jam 20:10.
Disinilah saya bersyukur naik kereta api, kenapa? karena tepat waktu.
Saran sebagai warlok Jogja yang sering naik kereta, buat kalian yang mau trip ke Jogja naik kereta, pastikan sebelum berangkat itu melakukan order taksi online dulu. Saya biasanya memanfaatkan Grab Booking Advance untuk memesan taksi, nanti tinggal masukin jam berapa mau dijemput.
Karena ketepatan waktu kereta api inilah saya selalu yakin bahwa jam yang saya input akan pas, apalagi estimasi kedatangan saya jam 20:10 itu termasuk kondisi dimana Stasiun Tugu Yogyakarta sedang ramai-ramainya.
Singkat cerita, saya sudah masuk ke Grab di jam 20:25 karena nunggu mobil Grab antri ke area penjemputan dan sudah sampai rumah sekitar jam 21:00.
Saya suka ketika rencana berjalan dengan baik.
Haha judulnya lebay, tapi itu yang saya rasakan hari ini ketika pulang dari daerah Kemayoran pada Sabtu siang. Seandainya tidak ada MRT pasti yang harus saya lakukan adalah naik taksi untuk menuju kosan di Blok A. Tapi berkat ada MRT saya cukup naik taksi sampai Stasiun Bundaran HI saja.
Nah, disinilah manfaat MRT benar-benar terasa. Jakarta di Sabtu sore adalah waktu dimana semua orang berkumpul dan menuju ke area Sudirman-Thamrin, artinya jika menggunakan taksi pasti akan ikut kemacetan yang lumayan lama. Belum lagi kalau hujan dimana kecepatan laju tidak bisa lebih cepat, jadilah area itu menjadi zona merah kemacetan.
Selepas area Sudirman-Thamrin pun, jika saya menggunakan taksi harus berjuang melewati area Blok M yang sudah pasti menjadi lautan manusia. Membayangkannya saja sudah ngeri.
Untunglah dengan MRT, cukup menempuh waktu 17 menit sudah sampai ke stasiun Blok A. Waktunya cukup untuk menghindari hujan karena begitu sampai kamar kosan langsung bress..
Mumpung hari ini adalah hari libur nasional, saya usul kepada Personal Trainer saya untuk geser waktu latihannya di pagi hari, sekali-kali pengen merasakan nge-gym di pagi hari. Mungkin bakalan lebih santai karena kalau latihan sore itu penuhnya luar biasa.
Ternyata saya keliru.
Sampai gym sekitar jam 8:30 pagi, begitu masuk langsung disambut sekumpulan peserta Hyrox, area treadmill penuh begitu juga tempat yang lain.
Sampai di loker room juga sebagian besar loker sudah terpakai, artinya pagi ini yang latihan banyak banget.
Pas ketemu sama Personal Trainer, dia cerita kalau disini itu justru yang ramai adalah pagi dan sore, kalau mau agak sepi itu pas setelah jam makan siang antara jam 14-16 sore.
Hahaha.. jadilah saya latihan tadi seperti di sore hari, bedanya sewaktu pulang langit masih terang.
Akhir-akhir ini saya sedang banyak berinteraksi dengan Claude Code untuk membangun beberapa tools, akibatnya saya sering kehabisan token dan perlu menunggu beberapa saat supaya bisa menggunakannya lagi.
Tapi apakah menunggu itu merupakan satu-satunya solusi? Ternyata ada cara lain yaitu menghemat konsumsi token saat kita berinteraksi dengan LLM.
Seperti yang kita tahu, ketika meminta LLM untuk scanning codebase kita untuk mendapatkan konteks, maka dia akan membaca sebagian besar atau bahkan seluruh codebase untuk kemudian kembali memberikan jawaban. Tentunya ini sangat boros token dan berpotensi kehabisan sebelum sempat mengobrol atau memberikan instruksi.
Singkat cerita, saya menemukan Cocoindex Code.
A lightweight, effective (AST-based) semantic code search tool for your codebase. Built on CocoIndex — a Rust-based ultra performant data transformation engine. Use it from the CLI, or integrate with Claude, Codex, Cursor — any coding agent — via Skill or MCP.

Kalau dari repositorinya, dia klaim bisa menghemat hingga 70% token, apakah benar? saya tidak menghitung secara pasti, tapi memang rasanya respon menjadi lebih cepat karena LLM tinggal menggunakan hasil indexing untuk mencari konteks.
Saya install ini di Claude Code dan Cline sebagai MCP, sudah bisa index otomatis sehingga ketika ngobrol saya tinggal nyuruh LLM untuk menggunakan cocoindex.
Hasilnya? LLM lebih cepat mendapatkan konteks dan bisa fokus dengan permintaan saya.