Author: Mohammad Sani Suprayogi

  • Bergaul Dengan Kelompok Tapi Jangan Pura-Pura Supaya Diterima

    Bertahun-tahun yang lalu ketika saya masih terlihat muda, saya terbiasa main ke beberapa grup pertemanan yang masing-masing grup ini memiliki kebiasaan dan topik yang berbeda.

    Semua ini saya lakukan secara natural saja, karena saya merasa yang mereka lakukan itu menarik jadinya ikut ngumpul dan mencoba memahami apa yang membuat mereka suka.

    Meskipun pada akhirnya tidak semua kesukaan grup itu cocok, namun saya menyukai aura ketika mereka sedang membahasnya. Saya juga jujur ketika saya nggak tertarik dengan yang mereka kerjakan tapi saya suka berada disana.

    Ternyata mereka tidak mengusir dan justru malah sering mengundang untuk terus datang.

    Pernah di suatu masa, saya sering nongkrong di sebuah bengkel motor sepulang sekolah. Soalnya di jaman itu bisa ngerti motor itu akan dianggap keren, jadilah saya menghabiskan waktu sore untuk berada disana, ngobrol dengan temen-temen yang memang hobi utak-atik motor, melihat mereka mencari kerusakan sampai akhirnya mesin bisa menyala kembali.

    Apakah sekarang jadi suka utak-atik motor? Tentunya tidak. Buat saya motor masih sebatas alat transportasi saja, bahkan sekarang saya nggak punya sepeda motor haha.

    Tapi berkat ngobrol dengan mereka, saya jadi suka merakit sepeda, lebih sabar ketika ketemu masalah, dan yakin bahwa semua masalah itu pasti ada solusinya meskipun perlu waktu.

  • Terkadang Kegagalan Berasal dari Keinginan Terlalu Ingin Menang

    Pernahkah mengalami kegagalan? Pastinya pernah ya. Menurut Murphy Law, ketika kita terlalu memiliki keinginan untuk selalu menang, maka biasanya yang akan didapatkan malah sebuah kegagalan.

    Sedangkan ketika memutuskan untuk tidak berebut, maka keinginan itu akan lebih mudah tercapai. Sebab, karena memutuskan tidak berebut jadinya tidak ada yang bisa merebutnya.

    Menarik, karena setiap hari itu kita akan dihadapkan dengan berbagai macam pilihan keputusan, baik yang skala kecil ataupun besar. Semuanya akan berujung ke 2 hal, berhasil atau gagal.

    Contoh yang simpel, misalnya keinginan untuk mendapatkan tempat di MRT. Jika dari awal sudah berencana bahwa hari ini harus bisa naik MRT di jam tertentu maka alam bawah sadar kita akan membuat kita berangkat ke stasiun lebih awal supaya bisa memiliki peluang lebih untuk mendapatkannya.

    Ini wajar dilakukan.

    Namun, jika keinginannya bertambah, misalnya selain bisa berangkat di jam tertentu namun juga ingin bisa dapat tempat duduk. Maka disinilah semuanya berubah, karena ada tambahan keinginan yang membuat tubuh menjadi lebih tegang meskipun MRT sudah ada di depan mata.

    Akibatnya masuk menjadi berebut, tidak sabar, bahkan bisa berpotensi melukai orang lain. Namun pada akhirnya, tempat duduk yang diincar seringnya tidak didapatkan.

    Terkadang, ketika kita melepaskan diri dari kegiatan berebutan, justru malah kita bisa mendapatkannya.

  • Full Body Workout Untuk Recovery

    Sudah beberapa kali sesi latihan ini personal training saya memberikan menu full body workout. Enak sih, karena biasanya menunya nggak terlalu berat dan bebannya merata ke seluruh tubuh.

    Berbeda dengan misal Leg Day yang akan fokus ke bagian kaki, atau Chest & Back day yang fokus ke tubuh bagian atas. Latihan full body workout akan merata ke hampir semua bagian tubuh. Ya upper body, leg, core, hingga cardio.

    Saya tanya alasannya apa?

    “Karena bapak sering izin latihan”

    Wkwkwk.. iya juga ya, selama sebulan terakhir ini saya ternyata sering izin libur latihan karena mudik dan hal lain. Akibatnya program yang disusun jadi berubah karena pastikan badan saya akan ngedrop karena inkonsistensi.

    Tapi memang terasa ketika skip latihan seminggu aja, PR akan turun drastis dan perlu waktu lebih panjang ketika rest.

  • Hemat Token LLM Dengan Caveman

    Sepertinya sekarang ini salah satu nilai tukar di Internet yang sedang hype adalah token LLM. Claude masih tercatat sebagai pemegang nilai tukar tertinggi bersama Claude Opus.

    Meminta Claude untuk mengurangi harganya sungguh tidak mungkin, sebab biaya research dan resource untuk menjalankan Opus pasti tidak murah, saya tidak tega untuk meminta penurunan harga ataupun diskon.

    Tapi apakah tidak ada yang bisa kita lakukan? Ternyata ada.

    Claude dan LLM lain memiliki 2 jenis token, yaitu input dan output yang memiliki harga berbeda. Namun ada lagi satu bentuk output yang suka membakar uang kita, yaitu respon LLM yang dibuat manusiawi.

    “Kamu benar, pemikiran yang tepat, pertanyaan bagus”, pasti sering dapat repson seperti itu kan? Rasanya seneng ya dipuji oleh AI?

    Padahal itu sebuah pemborosan token.

    Gimana kalau semua itu kita hapus, jadi kita hanya dapat respon yang dingin atau dry text seperti gebetanmu yang bertepuk sebelah tangan itu.

    Mari kita berterima kasih kepada Caveman.

    A Claude Code skill/plugin and Codex plugin that makes agent talk like caveman — cutting ~75% of output tokenswhile keeping full technical accuracy.

    Apakah benar akan bisa mengurangi 75%? saya yakin sih itu gimmick, tapi apapun yang bisa mengurangi kebocoran token dan membuat saya bisa berinteraksi lebih lama di satu sesi, maka itu sudah cukup.

  • Tetap Fit Setelah Outing

    Hari ini saya sudah masuk kantor lagi setelah kemarin seharian ikut acara outing kantor. Apa yang spesial? Bukannya itu hal biasa?

    Iya, jika ini 20 tahun yang lalu.

    Sekarang, dengan usia sudah 40-an, saya cukup bangga ketika kemarin ikut outing dengan cukup berkontribusi di tim, namun kendala yang dirasakan hanya kulit gosong aja.

    Tidak ada rasa nyeri habis aktivitas di luar, kaki dan punggung cukup aman untuk bangun tadi pagi dan berangkat ke kantor.

    Setahun ngegym ini ada manfaatnya juga.

  • Berwarga Outdoor ke Sentul

    Hari ini saya ikut acara outing kantor ke Sentul. Berangkat dari kantor jam 8 pagi naik bis dan kembali 12 jam kemudian.

    Gimana rasanya? seru! Sudah lama sejak pandemi tidak pernah ikut acara beginian, meskipun awalnya agak skeptis dengan konsep acaranya, tapi ternyata vendor yang mengatur acara cukup bisa memberikan eksekusi yang bagus.

    Rasanya menyenangkan sehari ini bisa kena sinar matahari seharian, meskipun efeknya kulit jadi gosong wkwkwk

    Berwarga Outdoor ke Sentul
  • Rendahnya Karakter Terduga Pelaku Pelecehan Seksual di FH UI

    Abrahan Lincoln pernah mengatakan “Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power.”

    Saya kurang mengikuti kasusnya, namun ada hal menarik yang saya dapatkan mengenai beberapa dari mereka merasa kebal hukum karena memiliki pengaruh di kampus. Informasi awal mengatakan para terduga pelaku ini memang memiliki posisi dan/atau jabatan di kampus.

    1. Topeng Karakter. Di depan umum, para pelaku mungkin terlihat seperti mahasiswa berprestasi, pemimpin organisasi, atau sosok yang mengerti hukum. Namun, saat memegang kendali di grup internal atau merasa punya pengaruh sebagai “ketua”, karakter asli yang toksik justru keluar.
    2. Rasa Kebal. Kekuasaan sering kali membuat seseorang merasa “di atas hukum”. Dalam isi chat yang bocor, terlihat mereka merasa aman melecehkan orang lain karena merasa posisi mereka di kampus cukup kuat untuk melindungi diri dari sanksi.
    3. Penyalahgunaan Kepercayaan. Jabatan yang seharusnya digunakan untuk mengayomi sesama mahasiswa justru dijadikan alat untuk merasa lebih superior dan merendahkan orang lain yang dianggap lebih lemah.

    Hampir semua orang bisa tahan menghadapi kesulitan, tapi jika ingin menguji karakter asli seseorang, beri dia kekuasaan.

    Hari ini, mereka membuktikan bahwa karakter mereka lemah.

  • Terkesan Dengan Claude Max

    Seharian ini saya mengoptimalkan Claude Max yang beberapa hari lalu saya langganan, saya minta dia untuk melakukan banyak hal sekaligus di berbagai platform, membantu saya memikirkan beberapa hal, dan memperbaiki beberapa bug.

    Singkatnya, saya terkesan.

    Saya menggunakan Opus 4.6 secara penuh hari ini, pengen tau seberapa pintar model ini dan seberapa cepat tokennya habis.

    Ternyata, Opus itu pinter banget dan Claude Max adalah pasangan yang tepat. Saya tidak mengalami kehabisan token seperti saat masih berlangganan Claude Pro, seakan-akan Anthropic ingin mengatakan kalau mau memaksimalkan potensi Claude itu gunakan Claude Max.

    Saya mengkoneksikan Claude di XCode untuk membaca codebase Swift untuk apps Lightio saya. Rasanya menyenangkan ketika bisa ngobrol dengan Claude langsung di GUI yang nyaman, hari ini beberapa bug langsung diberesin sama dia.

    Beberapa pekerjaan yang sudah dikerjakan kemarin, hari ini saya minta Opus untuk mereviewnya. Hasilnya ada beberapa potensi bug dan celah keamanan yang muncul kemudian sekaligus memberikan saran perbaikan, hari ini semuanya telah selesai diperbaiki.

    Bahkan saya juga memulai proyek kecil sebagai awal jalan saya menuju ke Cloud FinOps, yaitu membuat dashboard billing yang mengambil data dari berbagai cloud provider. Hasilnya hari ini sudah bisa membuat prototype dengan data yang sudah terhubung ke API masing-masing vendor.

    Ini adalah pekerjaan sehari yang biasanya perlu saya kerjakan 3 minggu.

    Apakah kita sebagai pekerja tech harus khawatir dengan keberadaan Claude? Tentunya! Jika kita tidak segera mengadopsi cara baru untuk bekerja, maka dalam waktu 2 tahun mendatang maka kita akan usang dan langsung tergantikan.

    Claude, Gemini, ChatGPT adalah sebuah disruptif di tahun ini. Jangan dilawan tapi berenanglah di sisinya, ubah cara pandang kita supaya tidak ketinggalan.

  • Memang Kenapa Kalau Tinggal di Kosan?

    Setiap kali bertemu dengan orang yang tidak begitu mengenal saya dan kemudian tau jika sekarang saya tinggal di Jakarta, pertanyaan mereka selalu: “rumah sendiri atau ngontrak?”

    Ketika saya jawab bahwa kami jadi anak kos, mereka kaget dan mulai membandingkan ini-itu dan berubah menjadi ahli finansial dan investor.

    Saya sudah pernah menulis tentang topik ini tapi sepertinya memang bahasan mengenai tempat tinggal itu nggak ada habisnya ya?

    Tinggal di Jakarta dan Jogja memang seperti dua sisi koin, semuanya akan sangat bisa dibandingkan. Jika masing-masing hanya berpegang pada kondisi dimana dia tinggal saja, maka membandingkan pilihan orang lain yang kebetulan hidup di dua tempat sepertinya kurang bijak.

    “Enak tinggal di Jogja atau Jakarta?”

    Dulu saya pasti akan bilang dengan yakin, tinggal di Jogja itu enak. Tapi sekarang, saya jadi kurang yakin.

    Jakarta menawarkan akses, Jogja menawarkan kenyamanan. Semuanya kondisinya kebalikan. Saya juga menghindari topik berapa harga sewa kosan di Jakarta karena pasti nanti akan langsung dibandingkan dengan strategi kepemilikan rumah. Kami punya rumah di Jogja jadi merasa belum perlu untuk menambah rumah lagi di Jakarta.

    Saya memilih untuk tinggal di kosan karena ini adalah pilihan terbaik untuk sekarang. Lokasi dekat ke kantor, akses transum gampang, pilihan makanan beragam, gampang untuk belanja bulanan, lingkungan aman dan nyaman.

    Seandainya saya punya kesempatan pun, jika memungkinkan saya akan pindah kosan ke apartemen yang satu area dengan kantor. Waktu itu sempat cek-cek harganya, tapi mundur teratur setelah tau menyentuh $1000/bulan wkwkwk.