Author: Mohammad Sani Suprayogi

  • New Gear, MacBook Pro MD101

    New Gear, MacBook Pro MD101

    Ceritanya saya barusan beli laptop untuk menunjang pekerjaan sehari-hari, kali ini mau ikut-ikutan jadi fanboy Apple dengan membeli MacBook Pro MD101. Alasannya sederhana, selama saya ngantor di Jakarta ternyata disana cukup banyak pengguna perangkat Mac, dan pengetahuan saya tentang perangkat Mac bisa dibilang tidak ada. Jadi misalnya ada pertanyaan atau pekerjaan yang berhubungan dengan Mac tentu saja saya nggak bisa menyesuaikan diri.

    Di saat yang bersamaan, laptop saya Asus N43SL mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Misalnya terkadang dvd drive suka membuka sendiri tanpa diperintah, laptop jadi cepet panas padahal sudah beberapa kali dibersihkan, kemudian beberapa port seperti HDMI dan VGA mulai menunjukkan kelelahan untuk dapat melayani saya selama 5 tahun terakhir ini. Padahal laptop Asus itu sudah saya upgrade dengan RAM 8 GB dan SSD drive, ternyata penuaan tetap tidak bisa dilawan.

    Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan Betemen Loenpia dan teman di kantor, saya memutuskan untuk mencoba beralih ke perangkat Mac. Pertimbangannya, Mac dapat mendukung kebutuhan saya seperti presentasi, mengetik, web development, dan sys-admin. Sebelumnya saya sudah pernah mencoba pakai MacBook teman dan memang merasakan bahwa perangkat ini bisa mendukung pekerjaan saya.

    Eh jadi ingat, di awal tahun 2008 saya pernah bercita-cita ingin membeli MacBook Pro tapi waktu itu belum punya uang yang cukup. Tapi waktu itu saya yakin bahwa suatu hari saya akan mampu membeli perangkat itu. Mungkin ini pertanda dan inilah saatnya.

    Dari hasil konsultasi sebelumnya, ternyata saya tidak perlu membeli perangkat MacBook Pro yang baru, apalagi dengan yang Retina Display. Saya membutuhkan MacBook yang “upgradable”, sedangkan perangkat MacBook keluaran 2013 hingga sekarang sudah tidak dapat diupgrade. Setelah berselancar di berbagai tempat, saya mendapat kesimpulan bahwa MacBook Pro keluaran mid 2012 dengan seri MD101 merupakan generasi terbaik karena sudah dibekali Intel Prosesor i5 generasi 3, RAM dapat diupgrade hingga 16 GB, dan Harddisk dapat diupgrade menggunakan SSD drive. Ukuran layar yang 13 inchi juga pas untuk kebutuhan saya. Masalah bobotnya yang termasuk berat, menurut saya tidak masalah karena ternyata masih lebih berat Asus N43SL.

    Masalah berikutnya adalah pencarian barang, ini karena saya mencari barang second tapi tentunya ingin kualitas yang masih bagus. Meskipun sudah banyak marketplace berdiri, saya tetap kembali ke selera asal, yaitu KasKus. Disanalah akhirnya saya menemukan penjual yang memiliki MD101 dengan kualitas 96% dengan penyok minor yang ternyata nggak keliatan. Harga yang ditawarkan juga oke, setelah negosiasi saya bisa mendapatkan dengan harga 8 juta rupiah saja. Uniknya, penjual ini menawarkan menggunakan layanan Tokopedia untuk memanfaatkan layanan cicilan 0%, wah boleh juga tuh. Sistem escrow yang dimiliki Tokopedia juga melindungi saya dari penipuan karena dana baru bisa diteruskan ke penjual ketika barang sudah sampai ke tangan. Jadilah saya membeli MacBook Pro MD101 dengan cicilan 0% dari Tokopedia hahaha.

    Bagaimana dengan nasib Asus? Sekarang dia pensiun dan gantian melayani Bale Bandeng di rumah sebagai laptop operasional. Dia sudah tidak perlu mengikuti saya bolak-balik Semarang-Jakarta tiap minggunya, semoga sudah jadi lebih tenang.

  • Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016

    Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016

    Sebagai salah satu civitas akademika di Universitas, saya ucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016. Mudah-mudahan saya terus diberi kekuatan untuk dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat. Hari Pendidikan Nasional ini juga bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kota Semarang ke-468, usia yang sudah sepuh dan berumur, semoga Kota Semarang bisa menjadi panutan kota-kota sekitarnya di Jawa Tengah.

    Tahun ini, saya memperingati hari Pendidikan Nasional tidak dengan ikut upacara di kampus, karena tahun ini saya peringati semangat pendidikan di hati.. *halah*

    Mendidik harus dimulai dari hati. Karena dari hati, ilmu yang akan ditransfer akan lebih berkualitas. Jangan sampai mengajarkan ilmu dengan keliru, usang, dan tidak tepat. Pengajar yang baik harus bermula dari keyakinan bahwa ilmu yang akan diberikan akan membuat ilmu itu semakin berkembang. Pengajar yang baik juga harus yakin bahwa siapapun yang menerimanya akan memiliki manfaat dari ilmu itu.

    Alhamdulillah saya merasa mendapatkan banyak pelajaran selama bekerja di Jakarta, mata semakin terbuka bahwa kesenjangan antara teknologi dan kebutuhan masyarakat masih begitu lebarnya. Disinilah peran pendidik untuk menyiapkan generasi selanjutnya supaya dapat menjembatani kebutuhan itu. Kemampuan saya semakin ditempa dengan keras bahwa sesungguhnya yang saya kuasai sekarang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kota besar seperti Jakarta. Disinilah peran pendidik untuk menyiapkan calon wisudawan supaya dapat bersaing dengan industri global.

    Selain itu, saya semakin belajar untuk toleransi dan berbesar hati. Cukuplah sudah dengan semua drama di awal tahun ini, cukuplah dengan semua prasangka yang bermunculan selama ini, ternyata hanya dengan mengabaikan dan menyalurkan energi ke hal lain, malah bisa membuat saya menjadi lebih kreatif dari sebelumnya.

    Jangan hanya kejar materi, karena nanti hanya akan mendapatkan materi saja. Kejarlah ilmu yang tinggi, kemudian bagikan ilmu itu. Nanti materi akan mengikuti beserta hati yang damai.

    Berbagi Tak Pernah Rugi

  • Membuat Verified Facebook Page Bale Bandeng

    Membuat Verified Facebook Page Bale Bandeng

    Facebook Page ternyata bisa diberi label verified dengan tanda centang berwarna abu-abu di samping namanya. Saya taunya juga tidak sengaja sewaktu membuka menu settings di Facebook Page Bale Bandeng, disitu saya melihat ada tulisan bahwa Page is not verified. Ketika saya klik, muncul informasi bagaimana cara supaya FB Page dapat terverifikasi, cara termudah adalah dengan memasukkan nomor telp yang akan dihubungi oleh Facebook untuk dibacakan 4 angka unik. Nantinya keempat angka tersebut tinggal dimasukkan ke dalam kolom yang tersedia. Langsung saja, saya masukkan nomor hp untuk memulai proses verifikasi. Dalam beberapa detik hp berbunyi, kemudian ada robot yang membacakan angka, saya masukkan nomor itu, hasilnya.. Gagal.

    Saya bingung, padahal jelas-jelas Facebook sudah menghubungi hp dan membacakan 4 angka unik. Namun ketika saya masukkan angka tersebut, Facebook tidak dapat untuk melakukan verifikasi terhadap nomor saya yang terhubung dengan Facebook Page Bale Bandeng. Saya sudah mencoba berkali-kali bahkan berbeda waktu, namun hasilnya tetap sama. Gagal. Facebook memberikan saran supaya saya mengirimkan scan dokumen sebagai alternatif proses verifikasi, tapi saya nggak mau. Saya belum percaya untuk memberikan dokumen resmi ke perusahaan iklan.

    Apa sih keuntungan dengan verifikasi Facebook Page? Katanya sih nantinya Facebook Page akan lebih terpercaya di mata pengunjung. Selain itu, katanya Facebook Page kita akan mendapatkan prioritas untuk muncul di hasil pencarian yang dilakukan oleh pengunjung. Hal inilah yang menjadikan saya untuk lebih mencari tahu bagaimana supaya Facebook Page Bale Bandeng dapat terverifikasi, tanpa harus mengirimkan dokumen.

    Akhirnya, saya menyadari bahwa Facebook juga tidak mengirimkan dokumen apapun untuk proses verifikasi. Berbeda dengan Google yang repot-repot mengirimkan kartupos untuk proses validasi. Pasti ada yang salah dengan cara saya sebelumnya, kemudian saya mengulang proses verifikasi lagi namun kali ini nomor telp rumah yang saya masukkan. Beberapa detik kemudian telp rumah berdering, robot Facebook membacakan angka, lalu saya masukkan angka tersebut ke kolom yang tersedia. Hasilnya, Sukses! Facebook Page Bale Bandeng is verified!

    Rupanya untuk melakukan verifikasi Facebook Page, harus memasukkan nomor telp rumah. Saya tidak membaca persyaratan ini di halaman bantuan Facebook, sehingga mau dicoba berkali-kali juga nggak akan bisa jika yang saya masukkan adalah nomor hp. Mudah-mudahan ini bisa membantu bagi yang tertarik untuk melakukan verifikasi pada Facebook Page.

    Bagaimana dengan yang tidak punya nomor telp rumah?

    Seperti yang tadi saya bilang, karena saya tidak menemukan aturan ini di halaman bantuan Facebook maka saya tidak tau jawabannya juga. Tapi mungkin bisa coba untuk memanfaatkan layanan EsiaTalk untuk mendapatkan nomor virtual dengan kode area, lalu gunakan nomor itu untuk proses verifikasi. Saya belum coba, tapi sepertinya layak untuk dicoba.

  • Strategi Promosi Digital Untuk Bale Bandeng

    Strategi Promosi Digital Untuk Bale Bandeng

    Ceritanya kami sekeluarga sedang membangun bisnis keluarga, awalnya hanya untuk iseng-iseng mengisi waktu orang tua yang sudah pensiun, tapi setelah dipertimbangkan lagi, kenapa nggak diseriusin saja? Apalagi Pemerintah sedang mendukung pertumbuhan UMKM di masyarakat. Akhirnya, mulai akhir tahun 2015 lalu, kami mulai melakukan serangkaian percobaan menu dengan berbagai varian yang kemudian mengerucut pada satu konsep, yakni fokus di Bandeng Cabut Duri yang diberi nama Bale Bandeng.

    Kenapa fokus di ikan? alasannya sederhana, orang tua adalah “alumni” atau pensiunan dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Tengah dan Badan Penelitian & Pengembangan (Balitbang) Jawa Tengah, adek seorang Dokter Hewan, dan saya dosen sekaligus praktisi IT. Kombinasi ini bisa menjadi jaminan kualitas produk dan nilai jual tentunya. Saya dan adek juga sudah berbisnis sejak bertahun-tahun lalu, sehingga untuk pengalaman berjualan sudah bisa dijadikan pedoman untuk membangun bisnis keluarga ini.

    Strategi Digital Campaign

    Oke, saya mau cerita yang sudah saya lakukan. Berhubung saya nggak berurusan dengan dapur, maka saya mengurusi untuk sisi pemasaran dan penjualan. Promosi digital adalah pilihan pertama karena budget yang terbatas, maklum masih UMKM.

    Website

    Domain langsung saya beli sesuai dengan nama Bale Bandeng, yakni balebandeng.com. Hosting saya letakkan di server yang selama ini saya pegang, jadinya mendapatkan performa yang bagus. Template juga saya gunakan yang premium, sama dengan yang biasa saya gunakan untuk mengerjakan project web selama ini. Untuk urusan web adalah hal mudah, karena memang sudah terbiasa dalam pembuatan website.

    Social Media

    Akun social media langsung saya akusisi supaya nantinya inline/bersinergi dengan layanan digital yang lain. Kami menggunakan akun @BaleBandeng di Twitter dan Instagram. Kemudian juga membuat Facebook Pages dengan nama yang sama. Konten masih saya isi sendiri dengan meniru manajemen akun social media ala digital agency.

    Verified Business

    Berhubung Bale Bandeng menjual produk tapi kami belum sanggup jika harus menyewa tempat jualan, maka kami putuskan untuk berjualan di rumah dengan mengandalkan armada Go-Jek untuk mengantar pesanan, nah tapi saya pengen supaya lokasi jualan mudah dicari dan dikenali oleh calon pelanggan. Jadinya saya mendaftarkan Bale Bandeng ke Google Business dan Foursquare for Business supaya merk Bale Bandeng muncul di Google Maps dan Swarm/Foursquare.

    Proses verifikasi ini sebenarnya sangat mudah, karena hanya mengisi form secara lengkap dan mengunggah foto. Yang membedakan proses verifikasinya, dimana Google akan mengirimkan postcard yang berisi kode dan harus dimasukkan ke dashboard Google. Kemudian Foursquare meminta untuk membayar USD 20 untuk claim lokasi sekaligus verifikasi bisnis. Google butuh waktu 3 hari untuk menunggu kiriman postcard, sedangkan Foursquare konfirmasi instan setelah pembayaran dinyatakan berhasil.

    Alasan saya repot-repot mendaftarkan supaya menjadi verified business karena aplikasi yang menerapkan LBS (Location Based Services) seperti Go-Jek, Path, Swarm, Instagram, atau apapun yang ada fitur check-in, akan mengambil data dari Google dan Foursquare. Sehingga jika Bale Bandeng telah terdaftar disana, maka siapapun akan langsung bisa mencari dan melihat Bale Bandeng sebagai salah satu lokasi disitu hehehe.

    Saat ini saya sedang menjajaki kerjasama dengan Go-Food, saya sudah dikirimi proposal oleh perwakilan Go-Jek Semarang untuk dipelajari dulu. Sistemnya bagi hasil sebesar 15 : 85, dimana saya nantinya setiap akhir bulan akan transfer ke rekening Go-Food sebesar 15% dari total transaksi yang dihasilkan dari Go-Food. Kami sedang pelajari skema ini apakah cocok untuk diterapkan ke Bale Bandeng.

    Facebook Ads

    Sudah 4 hari ini saya menjalankan Facebook Ads untuk Facebook Page Bale Bandeng. Tujuannya hanya Local Awareness saja, jadi saya nggak pasang target muluk-muluk yang bisa sampai konversi ke sales, yang penting pengguna Facebook di sekitar rumah bisa tau bahwa Bale Bandeng ada. Yang saya suka dari Facebook Ads adalah sistem targetting yang mudah untuk dikonfigurasi.

    Saat ini saya set supaya iklan hanya muncul bagi pengguna wanita, usia antara 23-55 tahun, dan berlokasi maksimal 5 mil dari Bale Bandeng. Hasilnya sampai hari ini (29 Maret 2016) sudah dapat 8.227 impression dengan biaya hanya Rp. 38.000 saja. Pilihan iklan yang menarik dibandingkan saya harus memasang iklan di billboard. Mungkin nanti saya akan pasang iklan di billboard atau sebar flyer, tapi itu nanti, bukan sekarang.

    Akhirnya, itulah yang sedang saya lakukan untuk membangun Bale Bandeng. Prosesnya masih sangat panjang, tapi setidaknya kami sekeluarga melakukannya dengan benar dan sesuai dengan keahlian masing-masing. Kami yakin, bahwa selama ada passion untuk bekerja, maka pasti hasil yang disajikan akan optimal. Setidaknya itu standar Bale Bandeng, dimana kami sudah atur standar yang sangat tinggi untuk setiap produk yang kami hasilkan.

     

    Strategi Promosi Digital Untuk Bale Bandeng

  • Lagi Trend : Playing The Victim

    Lagi Trend : Playing The Victim

    Victim playing (also known as playing the victim or self-victimization) is the fabrication of victimhood for a variety of reasons such as to justify abuse of others, to manipulate others, a coping strategy or attention seeking. Where a person is known for regular victim playing, the person may be referred to as a professional victim. – Wikipedia.

    Akhirnya saya menemukan istilah “Playing the Victim” setelah sekian lama gemes dengan beberapa artikel berita yang saya baca. Misalnya yang terbaru, tentang Walikota Bandung Pak Ridwan Kamil yang dilaporkan ke pihak berwajib oleh sopir omprengan yang membandel, gara-gara sopir itu mengaku dianiaya (ditampar) ketika Ridwan Kamil memergoki sopir tersebut sedang mengangkut penumpang di area terlarang. – Detik.

    Masih banyak kasus serupa, bermula dari satu pihak yang melakukan pelanggaran kemudian ada pihak yang menegur atau menindak namun proses penindakannya dianggap tidak sopan, ujungnya adalah pihak yang bersalah itu malah melaporkan pihak penindak dengan tuduhan penganiayaan atau yang paling bikin saya gemes, dituntut karena perbuatan tidak menyenangkan.

    Oke, kamu itu salah, kemudian kamu dihukum. Terimalah kesalahanmu itu, mengenai proses penindakan yang tidak enak ya anggap saja dari buah kesalahanmu. Menghukum seseorang dengan baik-baik, nggak akan bikin kapok. Yang ada malah ngelunjak trus besok diulangi lagi. Kapok adalah kondisi ketika orang harus membayar kesalahannya sampai tidak mau mengulang lagi. Pelajaran menuju kapok itu biasanya berat dan keras.

    Lha kalo cuma dielus-elus, kapan kapoknya?

    Jika pihak yang bersalah masih dibawah umur, boleh ada pengecualian. Tapi dari yang sering saya lihat, justru pelaku playing the victim ini malah orang dewasa, berpendidikan, dan berduit karena mampu untuk menyewa pengacara. Daripada repot-repot ngurusin hati yang terluka karena ditindak, kenapa nggak memperbaiki hati dengan menerima bahwa itulah resiko yang harus diterima. Terimalah seperti orang dewasa. Jika masih nggak terima, bayar dulu kesalahanmu baru lakukan yang perlu dilakukan.

    Bukan maksud membandingkan, dulu saya sering dihukum guru. Hukumannya pun beragam, kalo hanya berdiri di depan kelas saya anggap hanya piknik dan pindah duduk. Apakah bikin kapok? Tentu tidak, karena cuma berdiri dan cengengesan di depan, paling kakinya pegel aja. Tapi ketika dihukum dengan ditempeleng gara-gara berantem dengan teman, saya langsung kapok berantem. Bukan karena berantem itu nggak baik, tapi serem ketika kami berdua ditempeleng oleh pak guru yang killer itu. Akhirnya sekarang malah saya berkawan dengan yang teman yang berantem itu, dan hampir tidak pernah terlibat dalam perkelahian karena langsung teringat rasanya.

    Apakah saya mengadu ke orang tua? Nggak dong, jika iya, maka saya sama saja playing the victim. Saya merasa salah dengan berkelahi jadinya saya anggap hukuman itu setimpal buat saya. Lagipula, jaman dulu kalo ditempeleng guru trus malah lapor ortu, justru malah ditambahin sama ortu! hahahaha…

    Efeknya baik buat saya, yakni tidak dengan mudah menyalahkan orang lain atau menyalahkan situasi jika saya melakukan kesalahan atau mengalami masalah. Buat saya, kesalahan di masa muda itu penting, justru sebaiknya seringlah melakukan kesalahan supaya bisa belajar dari kesalahan itu. Saya sering mengamati mahasiswa yang pandai membuat alasan ketika posisi terjepit, padahal menurut saya itu hanya mengulur waktu saja.

    Hadapi dan selesaikan apa yang telah kau mulai.

     

  • Ketika Offline Menggugat Online

    Ketika Offline Menggugat Online

    Tidak ada perubahan yang akan menyenangkan, setidaknya itu salah satu pelajaran yang sudah saya alami hingga sekarang. Maka ketika saya mulai terbiasa dengan sebuah kebiasaan, biasanya malah mulai ancang-ancang untuk mencari sesuatu yang baru. Jika tidak, kreatifitas akan pudar, pikiran mulai tumpul, semangat mulai luntur, kemudian akhirnya akan tersadar bahwa ternyata telah tertinggal langkah.

    Sebagai warga pendatang ibukota, tantangan terbesar saya sewaktu awal bekerja disini adalah masalah transportasi. Saya tidak hapal jalan dan rute apalagi tarifnya. Bayangan seram lalu-lintas Jakarta sudah membayang beberapa minggu sebelum saya memutuskan untuk berangkat. Ketakutan itu berubah menjadi kenyataan ketika sadar telah tertipu tarif taksi gelap bandara Halim Perdanakusuma di awal kedatangan saya. Waktu itu sehabis landing, saya langsung keluar terminal kedatangan dan clingak-clinguk. Alhasil langsung disamperin sama orang yang menawarkan jasa antar ke kantor. Tanpa pikir panjang langsung mengiyakan saja dengan tarif IDR 200.000.

    Apakah mahal? Awalnya saya pikir murah, karena melihat kondisi jalanan yang luar biasa macet. Ternyata saya keliru, setelah ngobrol dengan teman ternyata dapat informasi bahwa tarif taksi resmi akan berkisar IDR 100.000 saja, hanya separuh dari biaya yang saya keluarkan. Pengalaman pertama yang tidak berkesan.

    Belajar dari pengalaman itu, saya mulai untuk mencari moda transportasi alternatif. Mulai baca review orang-orang, install beberapa aplikasi di smartphone, hingga akhirnya sekarang saya punya transportasi andalan selama di Jakarta.

    Uber

    Saya langsung memesan Uber pada kedatangan kedua saya di Jakarta. Saya tidak ingin membayar IDR 200.000 lagi kepada supir taksi gelap. Triknya, ketika sampai di terminal kedatangan langsung buka aplikasi Uber dan pesan untuk diantar menuju kantor. Uber memberikan informasi lengkap dengan navigasi yang mudah. Saya bisa mengetahui estimasi tarif yang akan saya bayarkan beserta data diri pengemudi yang nantinya akan menjemput.

    Proses penjemputan juga unik, karena saya cukup berpura-pura sedang dijemput oleh keluarga, teman, atau supir pribadi. Jadi tinggal menunggu jemputan dengan tenang karena posisi mobil akan termonitor di layar. Ketika datang juga langsung masuk, ucapkan salam, sebutkan tujuan, dan duduk nyaman. Perjalanan biasanya terasa nyaman karena mobil yang bagus dan pengemudi yang ramah. Setelah sampai kita juga langsung turun tanpa harus membayar dengan cash, karena pembayaran akan langsung didebet dari kartu kredit. Cukup bilang terima kasih kepada pak supir yang sudah mengantar.

    Saat saya naik Uber dari bandara, saya hanya membayar IDR 58.000. Bandingkan dengan biaya IDR 200.000 ala taksi gelap atau IDR 100.000 ala taksi resmi. Saya tidak perlu memberi tips, bisa membayar pas, dan ada kuitansi pembayaran yang dikirim ke email.

    Go-Jek

    Sebulan pertama di Jakarta adalah masa adaptasi. Saya perlu jalan-jalan supaya tidak bosan di kamar kos. Sesuai perjanjian di kontrak, saya harus tinggal sebulan di Jakarta untuk masa orientasi. Nah, saya sama sekali buta Jakarta. Tapi berkat Go-Jek, saya berhasil sampai ke tempat-tempat yang dulu hanya bisa saya baca di koran.

    Taman Safari, CiTOS, Mall PIM, sampai tukang sate kambing daerah PangPol demi kopdar dengan Betemen Loenpia pun saya diantar oleh Go-Jek. Alasannya saya nggak tau jalan, driver yang relatif ramah, dan tarif yang jelas membuat Go-Jek adalah moda transportasi andalan saya selama di Jakarta. Selain itu, sekarang saya mulai membayar menggunakan Go-Pay atau Go-Jek Credit supaya tidak usah repot nunggu kembalian atau cari uang pas.

    CommuterLine

    Sebagai Cah RoKer (Rombongan Kereta) maka tidak lengkap jika belum nyobain naik KRL atau CommuterLine. KRL adalah transportasi favorit untuk menuju lokasi yang cukup jauh. Biasanya saya pakai untuk mengantar dari Stasiun Gambir atau Pasar Senen menuju ke Stasiun Pasar Minggu dan arah sebaliknya. Menggunakan KRL sangat menghemat biaya dan tenaga, karena sebelum kenal KRL saya naik Go-Jek untuk menuju ke Pasar Senen atau Gambir. Kebetulan lokasi kantor di Jakarta Selatan, itu hampir 20 km jika mbonceng Go-Jek. Pegel bro…

    Biaya naik KRL pun sangat murah, hanya IDR 2000 saja dengan cara membeli kartu di loket yang tersedia. Kemudian kartu itu di-tap pada gate masuk dan keluar. Saya menggunakan Indomaret Card untuk membayar ongkos KRL, soalnya kebetulan sudah punya sewaktu di Semarang. Untuk jadwal keberangkatan bisa diakses sangat mudah menggunakan aplikasi Info KRL di Google Play, jadi saya bisa mengatur waktu keberangkatan dengan mudah.

    Unjuk Rasa Sopir Taksi

    Hari ini, hampir seluruh angkutan umum di Jakarta lumpuh. Dimulai dari sopir taksi yang melakukan unjuk rasa kemudian disusul oleh pengemudi angkot, lalu pengemudi Bajaj pun dikabarkan ikutan unjuk rasa. Alasan mereka seragam, masalah pendapatan yang berkurang akibat beroperasinya taksi online yang dianggap menggerus pasar dan melanggar berbagai aturan.

    Oke, saya tidak pernah naik taksi selain BlueBird karena kebetulan dikasih voucher kantor. Saya tidak pernah naik ojek pangkalan karena nggak tau tarif normalnya. Belum naik Bajaj karena harganya lebih mahal dibanding ojek.

    Alasan utama saya nggak naik mereka karena masalah harga. Saya hanya ingin naik kendaraan umum yang bisa memberikan kepastian. Pasti diantar, aman, dan pasti harganya, sukur-sukur murah. Jakarta itu keras, harus selektif untuk memilih apapun. Ini hukum ekonomi dimana end-user akan mencari yang pasti. Murah belum tentu bagus, mahal belum tentu nyaman. Tapi ketika kepastian sudah didapat di awal perjalanan, maka saya akan lebih tenang untuk menggunakan jasa angkutan umum.

    Gambar diambil semena-mena dari @ijodh

  • Berlangganan Biznet Metronet Untuk Kantor

    Berlangganan Biznet Metronet Untuk Kantor

    Ceritanya mulai bulan Februari 2016 kantor Juara-Agency pindah ke lokasi yang baru. Nah, kalo pindahan kantor begini artinya ada pekerjaan yang harus saya kerjakan, yakni migrasi LAN dan Internet. Kebetulan, sudah lama saya berniat mengganti ISP yang selama ini dipakai karena suka putus-nyambung. Untuk kebutuhan pindahan LAN, sudah dapat vendor yang melakukan cabling dan konfigurasi, tinggal milih ISP untuk supply kebutuhan Internet di kantor.

    Setelah bertanya ke beberapa teman, akhirnya memutuskan untuk menggunakan layanan Biznet. Kebetulan Biznet juga meluncurkan produk Biznet Metronet yang menyasar untuk kalangan UKM, sesuai dengan taglinenya “Broadband Internet Untuk Usaha Kecil Menengah (UKM). Nah, paket yang ditawarkan cukup menarik dengan harga yang cukup terjangkau. Berdasarkan daftar harga yang ditawarkan di websitenya, saya tertarik untuk menggunakan layanan Biznet Metronet 3 dengan bandwidth 30 Mbps seharga IDR 2.000.000 + ppn.

    Kebetulan, lokasi kantor telah tercover area Biznet sehingga semakin memantapkan untuk berlangganan layanan Metronet ini. Sebagai informasi, harga yang ditawarkan memang murah. Jika ditambah pajak maka per bulan kami hanya mengeluarkan IDR 2.200.000, nah biaya ini harus dengan berlangganan selama 24 bulan tidak boleh putus. Jika kami putus kontrak, maka akan dikenakan biaya penalti sebesar IDR 4.400.000. Selain itu, tidak ada SLA yang dijamin, sehingga memang cukup riskan jika ingin berlangganan. Tapi saya yakin, Biznet tidak akan main-main dalam menjaga kualitasnya, apalagi sudah menyandang nama besar di Indonesia. *positive thinking*

    Akhirnya setelah beberapa kali ada drama dalam pemasangan, Biznet Metronet telah dapat dinikmati di kantor. Saya sebut drama karena ternyata perlu menunggu 5 hari sejak kabel ditarik dan 3 tim engineer supaya akses Internet di kantor bisa online. Ada kendala teknis yang sebetulnya tidak perlu terjadi, tapi ya sudahlah sekarang Internet sudah menyala dan orang kantor sepertinya sudah bahagia dengan koneksinya.

    Berlangganan Biznet Metronet Untuk Kantor

     

    Gambar diatas adalah skrinsyut ketika koneksi pertama kali tersambung, saya test untuk membuktikan bahwa koneksi up-to 30Mbps tetap dapat kualitas yang baik.

  • Kamar-Kamar Backpacker di Jakarta

    Kamar-Kamar Backpacker di Jakarta

     

     

    Siapa yang menyangka jika di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan ada hostel untuk backpacker? Ceritanya seminggu ini sedang ngantor di Jakarta, kebetulan kantor sedang pindahan ke lokasi baru yang menjadikan saya harus mengawasi migrasi instalasi jaringan dan infrastruktur lainnya. Nah, yang jadi masalah adalah saya biasanya kalo ngantor ya tidurnya di kantor, lha ini karena kantor sedang pindahan maka pastinya singgasana tidur saya jadi berantakan.

    Artinya, saya harus nyari tempat tidur selama disini.

    Nyari di layanan pemesanan hotel online harganya pada mahal. Kisaran 350.000 per malam, nyari di AirBNB juga harganya hampir sama dengan hotel. Mau memaksakan diri tidur di kantor, kondisinya masih belum oke untuk tidur, yang ada nanti malah masuk angin dan punggung keceklik.

    Setelah beberapa lama mencari, akhirnya dapet satu pencerahan yaitu Kamar-Kamar. Lokasinya ternyata sangat dekat dengan kantor, kalo dari Jalan BDN, bisa lewat Jalan Cereme atau BDN Raya menuju ke arah Jalan Fatmawati. Dari situ tinggal belok ke kiri, cari PHD (Pizza Hut Delivery), lokasi Kamar-Kamar berada di sampingnya persis.

    Saat masuk ke lobby, suasananya santai dan hangat. Ada mas-mas resepsionis yang sudah menyambut dan menjelaskan mengenai Kamar-Kamar. Biaya per malam/orang cukup murah, yaitu IDR 150.000 dengan kamar yang bersih dan berisi 6 orang atau 12 orang. Bentuk kasurnya tingkat, sudah termasuk selimut, handuk, dan loker penyimpanan. Selain itu juga boleh menggunakan dapur atau membuat kopi dan teh sepuasnya. Syaratnya, semua peralatan makan dan masak harus dicuci lagi sendiri setelah digunakan. Jika tidak nyaman dengan kamar berbagi, Kamar-Kamar juga menyediakan kamar yang berisi 2 orang dengan harga sekitar 300ribuan.

    Kamar-Kamar Backpacker di Jakarta

    Kamar-Kamar Backpacker di Jakarta

     

    Oh iya, koneksi Internet juga ada. Keterangan nama SSID dan password tertempel di setiap pintu, koneksinya juga bagus karena menggunakan IndiHOME yang 10 Mbps. Sehingga saya rasa cukup untuk mengakomodasi kebutuhan Internet misalnya mau digunakan untuk mengirim report atau sekedar update status di Path.

  • Welcome to Jakarta

    Welcome to Jakarta

     

    Yak, mulai bulan September 2015 lalu saya resmi bekerja di Jakarta. Ndak terasa sudah satu bulan merasakan bekerja di ibu kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri. Tapi sepertinya semuanya tergantung sudut pandang masing-masing orang sih, saya pribadi merasa nyaman bekerja di Jakarta walaupun memang membutuhkan effort berkali-kali lipat dibandingkan bekerja di Semarang.

    Banyak yang nanya, “lho, sekarang sudah nggak ngajar?”

    Jawaban saya masih sama, “Saya masih mengajar kok”

    Ya, karena suatu hal dan lainnya, maka sekarang saya bekerja di dua tempat, dua kota, dan dua bidang yang sangat berbeda dengan sehari-hari. Mulai bulan Oktober ini saya kembali ke Semarang untuk melanjutkan pekerjaan sebagai dosen, lalu setiap Senin dan Selasa bekerja di Jakarta sebagai Head of Technology.

    Kenapa?

    Iya, itu banyak sekali pertanyaan yang muncul. Alasannya sederhana, saya perlu belajar.

    Pekerjaan sebagai dosen IT membutuhkan asupan informasi lebih banyak karena ilmu yang saya pelajari dan ajarkan ke mahasiswa selalu berkembang setiap saat. Saya merasa 5 tahun berkutat sebagai dosen masih kurang menambah ilmu yang saya miliki, malah terlalu asik dengan pengajaran. Saya menghitung setiap semesternya ternyata terlalu banyak mengampu kelas, mahasiswanya banyak, dan menghabiskan waktu saya terlalu lama di kampus. Awalnya sih oke, karena nggak ada beban tinggal ngajar aja dan nunggu gajian.

    Tapi saya punya musuh, yaitu rutinitas.

    Ketika pekerjaan mulai rutin, maka kebosanan itu melanda. Di kantor sebelumnya, jika pekerjaan mulai dirasa sebagai rutinitas, masalah mulai teratasi, dan tidak ada tantangan baru, maka kemudian saya mulai bosan. Akhirnya effort untuk datang setiap pagi mulai luntur dan akhirnya memilih untuk resign. Nah, saya tidak ingin resign dari seorang Dosen, karena mengajar salah satu kesukaan saya. Makanya saya perlu menambah kesibukan dan mengurangi jumlah mengajar selama masih sesuai yang dipersyaratkan oleh Dikti.

    Kesempatan itu datang.

    Saya mendapatkan tawaran dari seorang kawan untuk bekerja di kantornya, kebetulan mereka membutuhkan tenaga IT untuk menangani berbagai macam kebutuhan digital. Saya meminta untuk bekerja secara remote, tentunya mereka menolak. Namun pada akhirnya bisa menerima permintaan saya meski saya masih harus datang dua kali setiap minggunya. Kemudian khusus bulan September saya harus bekerja sebulan penuh untuk beradaptasi dengan lingkungan, bertemu kawan baru, dan memahami tugas pokok saya.

    Kesan yang saya dapatkan, MENYENANGKAN!

    Suasana kantor yang menyenangkan, saling mendukung, dan berpikiran positif. Kantor diisi oleh anak-anak muda yang kreatif dan memiliki etos kerja tinggi ditambah dengan dukungan dari atasan yang luar biasa. Tantangan dari klien juga beragam, namun dengan kerjasama tim semuanya bisa dilewati satu-persatu. Saya benar-benar belajar apa arti kerjasama, karena sehebat-hebatnya kamu jika dikerjakan sendiri maka hasilnya akan jelek juga.

    Saya masih beradaptasi dengan lingkungan dan jam kerja yang baru ini, tapi saya yakin ini akan baik buat saya, dan mudah-mudahan baik juga untuk semuanya.