Lagi Trend : Playing The Victim

Lagi Trend : Playing The Victim

Victim playing (also known as playing the victim or self-victimization) is the fabrication of victimhood for a variety of reasons such as to justify abuse of others, to manipulate others, a coping strategy or attention seeking. Where a person is known for regular victim playing, the person may be referred to as a professional victim. – Wikipedia.

Akhirnya saya menemukan istilah “Playing the Victim” setelah sekian lama gemes dengan beberapa artikel berita yang saya baca. Misalnya yang terbaru, tentang Walikota Bandung Pak Ridwan Kamil yang dilaporkan ke pihak berwajib oleh sopir omprengan yang membandel, gara-gara sopir itu mengaku dianiaya (ditampar) ketika Ridwan Kamil memergoki sopir tersebut sedang mengangkut penumpang di area terlarang. – Detik.

Masih banyak kasus serupa, bermula dari satu pihak yang melakukan pelanggaran kemudian ada pihak yang menegur atau menindak namun proses penindakannya dianggap tidak sopan, ujungnya adalah pihak yang bersalah itu malah melaporkan pihak penindak dengan tuduhan penganiayaan atau yang paling bikin saya gemes, dituntut karena perbuatan tidak menyenangkan.

Oke, kamu itu salah, kemudian kamu dihukum. Terimalah kesalahanmu itu, mengenai proses penindakan yang tidak enak ya anggap saja dari buah kesalahanmu. Menghukum seseorang dengan baik-baik, nggak akan bikin kapok. Yang ada malah ngelunjak trus besok diulangi lagi. Kapok adalah kondisi ketika orang harus membayar kesalahannya sampai tidak mau mengulang lagi. Pelajaran menuju kapok itu biasanya berat dan keras.

Lha kalo cuma dielus-elus, kapan kapoknya?

Jika pihak yang bersalah masih dibawah umur, boleh ada pengecualian. Tapi dari yang sering saya lihat, justru pelaku playing the victim ini malah orang dewasa, berpendidikan, dan berduit karena mampu untuk menyewa pengacara. Daripada repot-repot ngurusin hati yang terluka karena ditindak, kenapa nggak memperbaiki hati dengan menerima bahwa itulah resiko yang harus diterima. Terimalah seperti orang dewasa. Jika masih nggak terima, bayar dulu kesalahanmu baru lakukan yang perlu dilakukan.

Bukan maksud membandingkan, dulu saya sering dihukum guru. Hukumannya pun beragam, kalo hanya berdiri di depan kelas saya anggap hanya piknik dan pindah duduk. Apakah bikin kapok? Tentu tidak, karena cuma berdiri dan cengengesan di depan, paling kakinya pegel aja. Tapi ketika dihukum dengan ditempeleng gara-gara berantem dengan teman, saya langsung kapok berantem. Bukan karena berantem itu nggak baik, tapi serem ketika kami berdua ditempeleng oleh pak guru yang killer itu. Akhirnya sekarang malah saya berkawan dengan yang teman yang berantem itu, dan hampir tidak pernah terlibat dalam perkelahian karena langsung teringat rasanya.

Apakah saya mengadu ke orang tua? Nggak dong, jika iya, maka saya sama saja playing the victim. Saya merasa salah dengan berkelahi jadinya saya anggap hukuman itu setimpal buat saya. Lagipula, jaman dulu kalo ditempeleng guru trus malah lapor ortu, justru malah ditambahin sama ortu! hahahaha…

Efeknya baik buat saya, yakni tidak dengan mudah menyalahkan orang lain atau menyalahkan situasi jika saya melakukan kesalahan atau mengalami masalah. Buat saya, kesalahan di masa muda itu penting, justru sebaiknya seringlah melakukan kesalahan supaya bisa belajar dari kesalahan itu. Saya sering mengamati mahasiswa yang pandai membuat alasan ketika posisi terjepit, padahal menurut saya itu hanya mengulur waktu saja.

Hadapi dan selesaikan apa yang telah kau mulai.

 

Leave a Reply