Ceritanya kami sekeluarga sedang membangun bisnis keluarga, awalnya hanya untuk iseng-iseng mengisi waktu orang tua yang sudah pensiun, tapi setelah dipertimbangkan lagi, kenapa nggak diseriusin saja? Apalagi Pemerintah sedang mendukung pertumbuhan UMKM di masyarakat. Akhirnya, mulai akhir tahun 2015 lalu, kami mulai melakukan serangkaian percobaan menu dengan berbagai varian yang kemudian mengerucut pada satu konsep, yakni fokus di Bandeng Cabut Duri yang diberi nama Bale Bandeng.

Kenapa fokus di ikan? alasannya sederhana, orang tua adalah “alumni” atau pensiunan dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Tengah dan Badan Penelitian & Pengembangan (Balitbang) Jawa Tengah, adek seorang Dokter Hewan, dan saya dosen sekaligus praktisi IT. Kombinasi ini bisa menjadi jaminan kualitas produk dan nilai jual tentunya. Saya dan adek juga sudah berbisnis sejak bertahun-tahun lalu, sehingga untuk pengalaman berjualan sudah bisa dijadikan pedoman untuk membangun bisnis keluarga ini.

Strategi Digital Campaign

Oke, saya mau cerita yang sudah saya lakukan. Berhubung saya nggak berurusan dengan dapur, maka saya mengurusi untuk sisi pemasaran dan penjualan. Promosi digital adalah pilihan pertama karena budget yang terbatas, maklum masih UMKM.

Website

Domain langsung saya beli sesuai dengan nama Bale Bandeng, yakni balebandeng.com. Hosting saya letakkan di server yang selama ini saya pegang, jadinya mendapatkan performa yang bagus. Template juga saya gunakan yang premium, sama dengan yang biasa saya gunakan untuk mengerjakan project web selama ini. Untuk urusan web adalah hal mudah, karena memang sudah terbiasa dalam pembuatan website.

Social Media

Akun social media langsung saya akusisi supaya nantinya inline/bersinergi dengan layanan digital yang lain. Kami menggunakan akun @BaleBandeng di Twitter dan Instagram. Kemudian juga membuat Facebook Pages dengan nama yang sama. Konten masih saya isi sendiri dengan meniru manajemen akun social media ala digital agency.

Verified Business

Berhubung Bale Bandeng menjual produk tapi kami belum sanggup jika harus menyewa tempat jualan, maka kami putuskan untuk berjualan di rumah dengan mengandalkan armada Go-Jek untuk mengantar pesanan, nah tapi saya pengen supaya lokasi jualan mudah dicari dan dikenali oleh calon pelanggan. Jadinya saya mendaftarkan Bale Bandeng ke Google Business dan Foursquare for Business supaya merk Bale Bandeng muncul di Google Maps dan Swarm/Foursquare.

Proses verifikasi ini sebenarnya sangat mudah, karena hanya mengisi form secara lengkap dan mengunggah foto. Yang membedakan proses verifikasinya, dimana Google akan mengirimkan postcard yang berisi kode dan harus dimasukkan ke dashboard Google. Kemudian Foursquare meminta untuk membayar USD 20 untuk claim lokasi sekaligus verifikasi bisnis. Google butuh waktu 3 hari untuk menunggu kiriman postcard, sedangkan Foursquare konfirmasi instan setelah pembayaran dinyatakan berhasil.

Alasan saya repot-repot mendaftarkan supaya menjadi verified business karena aplikasi yang menerapkan LBS (Location Based Services) seperti Go-Jek, Path, Swarm, Instagram, atau apapun yang ada fitur check-in, akan mengambil data dari Google dan Foursquare. Sehingga jika Bale Bandeng telah terdaftar disana, maka siapapun akan langsung bisa mencari dan melihat Bale Bandeng sebagai salah satu lokasi disitu hehehe.

Saat ini saya sedang menjajaki kerjasama dengan Go-Food, saya sudah dikirimi proposal oleh perwakilan Go-Jek Semarang untuk dipelajari dulu. Sistemnya bagi hasil sebesar 15 : 85, dimana saya nantinya setiap akhir bulan akan transfer ke rekening Go-Food sebesar 15% dari total transaksi yang dihasilkan dari Go-Food. Kami sedang pelajari skema ini apakah cocok untuk diterapkan ke Bale Bandeng.

Facebook Ads

Sudah 4 hari ini saya menjalankan Facebook Ads untuk Facebook Page Bale Bandeng. Tujuannya hanya Local Awareness saja, jadi saya nggak pasang target muluk-muluk yang bisa sampai konversi ke sales, yang penting pengguna Facebook di sekitar rumah bisa tau bahwa Bale Bandeng ada. Yang saya suka dari Facebook Ads adalah sistem targetting yang mudah untuk dikonfigurasi.

Saat ini saya set supaya iklan hanya muncul bagi pengguna wanita, usia antara 23-55 tahun, dan berlokasi maksimal 5 mil dari Bale Bandeng. Hasilnya sampai hari ini (29 Maret 2016) sudah dapat 8.227 impression dengan biaya hanya Rp. 38.000 saja. Pilihan iklan yang menarik dibandingkan saya harus memasang iklan di billboard. Mungkin nanti saya akan pasang iklan di billboard atau sebar flyer, tapi itu nanti, bukan sekarang.

Akhirnya, itulah yang sedang saya lakukan untuk membangun Bale Bandeng. Prosesnya masih sangat panjang, tapi setidaknya kami sekeluarga melakukannya dengan benar dan sesuai dengan keahlian masing-masing. Kami yakin, bahwa selama ada passion untuk bekerja, maka pasti hasil yang disajikan akan optimal. Setidaknya itu standar Bale Bandeng, dimana kami sudah atur standar yang sangat tinggi untuk setiap produk yang kami hasilkan.

 

Published by Mohammad Sani Suprayogi

Engineer & Lecturer

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *