Ketika Offline Menggugat Online

Ketika Offline Menggugat Online

Tidak ada perubahan yang akan menyenangkan, setidaknya itu salah satu pelajaran yang sudah saya alami hingga sekarang. Maka ketika saya mulai terbiasa dengan sebuah kebiasaan, biasanya malah mulai ancang-ancang untuk mencari sesuatu yang baru. Jika tidak, kreatifitas akan pudar, pikiran mulai tumpul, semangat mulai luntur, kemudian akhirnya akan tersadar bahwa ternyata telah tertinggal langkah.

Sebagai warga pendatang ibukota, tantangan terbesar saya sewaktu awal bekerja disini adalah masalah transportasi. Saya tidak hapal jalan dan rute apalagi tarifnya. Bayangan seram lalu-lintas Jakarta sudah membayang beberapa minggu sebelum saya memutuskan untuk berangkat. Ketakutan itu berubah menjadi kenyataan ketika sadar telah tertipu tarif taksi gelap bandara Halim Perdanakusuma di awal kedatangan saya. Waktu itu sehabis landing, saya langsung keluar terminal kedatangan dan clingak-clinguk. Alhasil langsung disamperin sama orang yang menawarkan jasa antar ke kantor. Tanpa pikir panjang langsung mengiyakan saja dengan tarif IDR 200.000.

Apakah mahal? Awalnya saya pikir murah, karena melihat kondisi jalanan yang luar biasa macet. Ternyata saya keliru, setelah ngobrol dengan teman ternyata dapat informasi bahwa tarif taksi resmi akan berkisar IDR 100.000 saja, hanya separuh dari biaya yang saya keluarkan. Pengalaman pertama yang tidak berkesan.

Belajar dari pengalaman itu, saya mulai untuk mencari moda transportasi alternatif. Mulai baca review orang-orang, install beberapa aplikasi di smartphone, hingga akhirnya sekarang saya punya transportasi andalan selama di Jakarta.

Uber

Saya langsung memesan Uber pada kedatangan kedua saya di Jakarta. Saya tidak ingin membayar IDR 200.000 lagi kepada supir taksi gelap. Triknya, ketika sampai di terminal kedatangan langsung buka aplikasi Uber dan pesan untuk diantar menuju kantor. Uber memberikan informasi lengkap dengan navigasi yang mudah. Saya bisa mengetahui estimasi tarif yang akan saya bayarkan beserta data diri pengemudi yang nantinya akan menjemput.

Proses penjemputan juga unik, karena saya cukup berpura-pura sedang dijemput oleh keluarga, teman, atau supir pribadi. Jadi tinggal menunggu jemputan dengan tenang karena posisi mobil akan termonitor di layar. Ketika datang juga langsung masuk, ucapkan salam, sebutkan tujuan, dan duduk nyaman. Perjalanan biasanya terasa nyaman karena mobil yang bagus dan pengemudi yang ramah. Setelah sampai kita juga langsung turun tanpa harus membayar dengan cash, karena pembayaran akan langsung didebet dari kartu kredit. Cukup bilang terima kasih kepada pak supir yang sudah mengantar.

Saat saya naik Uber dari bandara, saya hanya membayar IDR 58.000. Bandingkan dengan biaya IDR 200.000 ala taksi gelap atau IDR 100.000 ala taksi resmi. Saya tidak perlu memberi tips, bisa membayar pas, dan ada kuitansi pembayaran yang dikirim ke email.

Go-Jek

Sebulan pertama di Jakarta adalah masa adaptasi. Saya perlu jalan-jalan supaya tidak bosan di kamar kos. Sesuai perjanjian di kontrak, saya harus tinggal sebulan di Jakarta untuk masa orientasi. Nah, saya sama sekali buta Jakarta. Tapi berkat Go-Jek, saya berhasil sampai ke tempat-tempat yang dulu hanya bisa saya baca di koran.

Taman Safari, CiTOS, Mall PIM, sampai tukang sate kambing daerah PangPol demi kopdar dengan Betemen Loenpia pun saya diantar oleh Go-Jek. Alasannya saya nggak tau jalan, driver yang relatif ramah, dan tarif yang jelas membuat Go-Jek adalah moda transportasi andalan saya selama di Jakarta. Selain itu, sekarang saya mulai membayar menggunakan Go-Pay atau Go-Jek Credit supaya tidak usah repot nunggu kembalian atau cari uang pas.

CommuterLine

Sebagai Cah RoKer (Rombongan Kereta) maka tidak lengkap jika belum nyobain naik KRL atau CommuterLine. KRL adalah transportasi favorit untuk menuju lokasi yang cukup jauh. Biasanya saya pakai untuk mengantar dari Stasiun Gambir atau Pasar Senen menuju ke Stasiun Pasar Minggu dan arah sebaliknya. Menggunakan KRL sangat menghemat biaya dan tenaga, karena sebelum kenal KRL saya naik Go-Jek untuk menuju ke Pasar Senen atau Gambir. Kebetulan lokasi kantor di Jakarta Selatan, itu hampir 20 km jika mbonceng Go-Jek. Pegel bro…

Biaya naik KRL pun sangat murah, hanya IDR 2000 saja dengan cara membeli kartu di loket yang tersedia. Kemudian kartu itu di-tap pada gate masuk dan keluar. Saya menggunakan Indomaret Card untuk membayar ongkos KRL, soalnya kebetulan sudah punya sewaktu di Semarang. Untuk jadwal keberangkatan bisa diakses sangat mudah menggunakan aplikasi Info KRL di Google Play, jadi saya bisa mengatur waktu keberangkatan dengan mudah.

Unjuk Rasa Sopir Taksi

Hari ini, hampir seluruh angkutan umum di Jakarta lumpuh. Dimulai dari sopir taksi yang melakukan unjuk rasa kemudian disusul oleh pengemudi angkot, lalu pengemudi Bajaj pun dikabarkan ikutan unjuk rasa. Alasan mereka seragam, masalah pendapatan yang berkurang akibat beroperasinya taksi online yang dianggap menggerus pasar dan melanggar berbagai aturan.

Oke, saya tidak pernah naik taksi selain BlueBird karena kebetulan dikasih voucher kantor. Saya tidak pernah naik ojek pangkalan karena nggak tau tarif normalnya. Belum naik Bajaj karena harganya lebih mahal dibanding ojek.

Alasan utama saya nggak naik mereka karena masalah harga. Saya hanya ingin naik kendaraan umum yang bisa memberikan kepastian. Pasti diantar, aman, dan pasti harganya, sukur-sukur murah. Jakarta itu keras, harus selektif untuk memilih apapun. Ini hukum ekonomi dimana end-user akan mencari yang pasti. Murah belum tentu bagus, mahal belum tentu nyaman. Tapi ketika kepastian sudah didapat di awal perjalanan, maka saya akan lebih tenang untuk menggunakan jasa angkutan umum.

Gambar diambil semena-mena dari @ijodh

Leave a Reply