Author: Mohammad Sani Suprayogi

  • Tips Untuk Khatib Jumat di 2026

    Usia saya sudah nggak muda, jadi mungkin baru sekarang paham kalau menurut keyakinan saya, sebagian besar khatib shalat Jumat itu kurang memiliki skill public speaking.

    Dulu ketika saya masih muda, saya nggak pernah ngerti apa yang dibicarakan oleh khatib ketika Jumatan. Semuanya hanya lewat dan sudah lupa sama sekali di suapan pertama makan siang. Menjelang dewasa, masih sama, karena antara fokus mendengarkan dan fokus membereskan pekerjaan yang tertunda itu saling beradu di dalam kepala.

    Sekarang, di usia sudah tembus 40 tahun, saya masih nggak paham dengan yang dibicarakan.

    Apakah saya tidak beriman? Imannya lemah? Berdosa?

    Mungkin iya, tapi saya sudah di usia yang tidak memusingkan itu lagi, sebab Allah lebih bijaksana daripada mulut manusia.

    Lalu masalahnya dimana? Jika saya perhatikan, gaya bicara khatib itu seragam, menggunakan nada yang entah asli atau dibuat-buat, mengutip ayat Al-Quran tanpa menjelaskan konteks kenapa melakukannya, hanya sebatas melafalkan saja dan membacakan artinya, dan yang paling parah tidak mampu merelevansikan dengan kondisi masa sekarang.

    Akibatnya, setiap Jumat saya akan selalu mendengarkan cerita yang berulang dan nada yang sama, hanya Jumat yang berbeda. Membosankan? jelas. Tapi yang perlu dicatat, saya hanya bosan dengan gaya penyampaiannya, bukan dengan ceritanya ya.

    Perlu diketahui bahwa generasi yang mendominasi sekarang itu adalah Gen-Z, mereka sudah mulai masuk kerja, menjadi staff, dan mungkin ada beberapa yang sedang menapak karir menjadi manager. Artinya, mereka adalah tipe jamaah baru di shalat Jumat.

    Gen-Z itu memiliki ciri khas menarik, memerlukan pendekatan yang berbeda dari metode konvensional karena mereka sangat terhubung dengan dunia digital dan menyukai keaslian. 

    Gen Z lebih menyukai interaksi yang bersahabat, toleran terhadap perbedaan, dan berpikiran terbuka. Hindari kesan menggurui atau terlalu formal. Gunakan bahasa yang “nyambung” dengan keseharian mereka, termasuk beberapa istilah populer (slang) jika diperlukan untuk mencairkan suasana. 

    Rentang perhatian (attention span) Gen Z cenderung lebih pendek karena terbiasa dengan konten media sosial yang cepat. Pastikan inti ceramah disampaikan secara singkat dan langsung pada intinya.

    Jadi, ada yang masih ingat materi khutbah Jumat kemarin?

  • Hari Kasih Sayang 2026

    Salah satu efek setelah sebulan nggak pegang sosmed adalah, nggak nemu konten yang memperdebatkan mengenai perayaan Valentine’s Day pada 14 Februari.

    Saya memang nggak terbiasa merayakannya, sebab ini bukan hari libur, kalau libur pasti saya akan semangat merayakannya.

    Anyway…

    Dulu saya bersekolah yang berlandaskan Islam, tapi saat itu guru-guru saya tidak melarang kami untuk merayakan kegiatan 14 Februari ini, dengan syarat mengganti semangatnya dengan Hari Kasih Sayang.

    Alasannya arti kasih sayang ini universal, tidak merujuk ke suatu agama atau seseorang, namun sebuah sifat dan perhatian kita terhadap makhluk hidup.

    Alhasil, kegiatannya jadi beragam, tidak hanya sekadar ngasih cokelat tapi juga membuat pesan-pesan yang ditempel di majalah dinding.

    Wah, sudah kecil sudah kenal cinta-cintaan. Kalau dipikir-pikir, apa iya umur segitu udah ngerti cinta? Padahal kami sudah mulai ngerti ketertarikan dengan seseorang, lawan jenis, minat, hobi, dan lain sebagainya.

    Jika dilarang untuk diekspresikan, entah apa yang terjadi nanti. Bisa-bisa pas dewasa jadi gampang baper karena dapat sedikit perhatian aja dikiranya cinta wkwkwk.

    Selamat merayakan hari kasih sayang di tahun 2026 ini bersama sahabat, kawan, pasangan, keluarga, kucing. Semoga rasa kasih sayang selalu melindungi kita dari semua hal-hal jahat di luar sana.

    Kita nggak bisa benar-benar sendirian.

  • Sebulan Setelah Socmed Detox

    Tidak terasa saya sudah tidak berinteraksi dengan Tiktok, X, dan Threads selama sebulan, setelah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan ketiga platform itu di awal tahun 2026.

    Apa yang dirasakan?

    Sejujurnya, saya lebih tenang.

    Tenang dalam pikiran, dimana saya tidak lagi terpapar konten yang terkadang bikin ikutan marah-marah dan sebel. Meskipun kadang ada juga konten yang lucu maupun inspiratif.

    Karena saya bisa mendapatkan konten lucu dan inspiratif selain dari ketiga platform itu, maka rasanya sejauh ini saya belum merasa rugi.

    Saya bisa konsisten menulis blog setiap hari. Iya, menulis setiap hari sejak 1 Januari 2026. Bahkan saya sekarang berlangganan Kompas yang bisa kasih saya audio ringkasan berita setiap pagi. Kalau isi beritanya sih bisa pilih-pilih di headline, meskipun kadang lolos juga baca berita yang bikin kesel wkwkwk.

    Saya lebih fokus buat mengerjakan sesuatu, kayanya kemarin energi dan fokus saya habis diserap sama ketiga platform itu sehingga sekarang saya perlu penyaluran yang bisa saya gunakan sebagai bahan bakar buat bekerja dan memproduksi sesuatu, ya minimal tulisan ini.

    Terakhir, saya bisa lebih mengabaikan sesuatu yang tidak bisa saya kendalikan.

    Ternyata bisa melakukan itu adalah priviledge

  • Ternyata Beans Perlu Resting

    Iya, saya baru tau apa kegunaan tanggal roasting yang biasa ditulis di bungkus biji kopi, selain untuk menginfokan kapan beans itu diroasting, ternyata dijadikan patokan kapan sebaiknya beans mulai diseduh.

    Ya, beans perlu mendapatkan resting. Mirip seperti kalau saya lagi ngegym, selalu ada jeda antar repetisi supaya hasilnya lebih baik. Kalau tidak, maka nanti kita nggak bisa dapat kualitas terbaiknya.

    Berapa lama resting (waktu tunggu) ini? Sepertinya tidak ada patokan resminya, tapi menurut Gemini, rule of thumb-nya adalah 7-10 hari setelah tanggal roasting untuk beans yang akan dibuat untuk kopi filter.

    Ada juga yang mengatakan tergantung tipe roastingnya. Light roast memiliki waktu tunggu paling lama (katanya) bisa 20 hari setelah proses roast, sedangkan untuk dark roast bisa antara 3-7 hari.

    Karena saya sekarang mainnya kopi filter dan cenderung cari yang medium roast, maka sekarang saya akan nunggu seminggu setelah tanggal roast baru kemudian diseduh.

    Apakah ada bedanya?

  • Leg Dieesss

    Hari Rabu ini saya dapat menu latihan Leg dari personal training. Jujur saja saya lebih suka latihan kaki daripada dada atau punggung, rasanya bisa pedih di tangan. Sedangkan kalau latihan kaki, saya lebih bisa menikmatinya.. ya ya ya.

    Oke, karena tau hari ini leg day, maka saya berangkat ke gym dengan hati yang lebih ringan, karena tau pastinya nanti saya akan sedikit lebih santai ketika latihan.

    Begitu pikir saya.

    Ternyata PT saya memiliki rencana lain dan dia memberikan saya banyak sekali latihan dengan beban yang lebih berat daripada biasanya.

    Total 13 ton saya angkat malam ini, sekarang sih belum terasa apa-apa, tapi saya yakin dalam beberapa hari ke depan rasanya ini kaki bakal jejeritan.

    Leg Dieesss
    Screenshot
  • Fugol Watermelon Smash!

    Beberapa hari ini saya sedang suka dengan bekal kopi harian saya, karena pakai beans Watermelon Smash! dari Fugol. Beans ini saya dapatkan dari referensi teman di kantor yang ternyata memang terasa enak.

    Fugol Watermelon Smash!

    Meskipun saya kurang paham dengan metode pemrosesan, tapi saya menyadari jika Anaerobic akan membuat rasa kopinya menjadi meledhaaq ketika diseduh dan dibuat Japanese Iced Coffee wkwkwk.

    Saya menggunakan 20 gram beans dengan gilingan medium, 180 ml air panas (91 derajat) dan 120 gram es batu.

    Stepnya cukup mudah, diawali dengan blooming 40 gram selama 45 detik dengan switch tertutup. Selanjutnya buka switch dan lanjutkan menuang hingga 180 gram, tunggu sampai habis kira-kira sampai 2 menit 30 detik.

    Terakhir, swirl hingga es batu tercampur kemudian masukkan ke dalam tumbler untuk dibawa ke kantor.

    Cara minumnya disesap perlahan sambil mencium wanginya.

  • Rp1,1 Triliun buat Domain AI.com? Gokil!

    Domain AI.com resmi jadi yang termahal di dunia (yang dipublikasikan ya) setelah laku seharga US$70 juta (sekitar Rp1,1 triliun).

    Siapa yang beli? Namanya Kris Marszalek, bos Crypto.com. Dia membeli domain ini dari pengusaha asal Malaysia, Arsyan Ismail. Transaksinya pun unik karena dibayar pakai aset kripto.

    Kenapa bisa mahal?

    1. Rebutan Identitas: Kata “AI” sekarang adalah kata paling dicari di dunia teknologi. Punya domain AI.com itu seperti punya ruko paling strategis di pusat kota dunia digital.
    2. Proyek Besar: Kris bakal pakai domain ini untuk platform Personal AI (asisten pintar pribadi). Saking ambisiusnya, proyek ini sampai diiklankan di Super Bowl!
    3. Investasi Langka: Domain dua huruf itu jumlahnya terbatas. Memilikinya bukan cuma soal fungsi, tapi juga gengsi dan dominasi pasar.

    Bayangkan, cuma butuh mengetik dua huruf untuk masuk ke masa depan. Jadi, harga Rp1,1 triliun ini investasi jenius atau malah kemahalan?

  • Segitiga Kesehatan

    Sudah capek nulis yang serius terus, sudah cukup, mari kembali ke tulisan sederhana saja.

    Hal pertama yang diutarakan oleh PT (Personal Trainer) saya di pertemuan pertama sesi latihan kami adalah, “Pak, untuk bisa mencapai goals, Bapak perlu memahami 3 hal”

    1. Workout
    2. Makanan
    3. Tidur

    Kemudian dilanjutkan, “Saya hanya bisa membantu poin 1 saja, sisanya Bapak sendiri yang mengusahakan”.

    Ternyata setelah hampir setahun dia jadi PT saya, ucapaannya itu memang benar adanya. Mustahil bagi kita kalau hanya bertahan di satu poin saja tanpa melakukan poin sisanya.

    1. Latihan rutin, tapi tetap makan sembarangan atau begadang.
    2. Mati-matian jaga makan tapi nggak pernah olahraga ditambah kurang tidur.

    Ini adalah 2 hal yang dulu sering saya lakukan, tak pikir ketika rajin latihan otomatis bisa sehat, atau ketika ikutan diet IF otomatis turun berat badan. Nyatanya? gagal total.

    Sekarang, dengan menerapkan 3 poin yang disebutkan sama PT saya itu, baru deh jalur body goals mulai terlihat meskipun garis akhirnya masih jauh.

  • SatuSehat dan Ilusi Kedaulatan: Posisi Indonesia dalam Grid Kontrol Global

    Jika dokumen global menunjukkan adanya “desain” sistematis untuk pengawasan biologis, posisi Indonesia lebih terlihat sebagai klien yang patuh daripada arsitek. Pemerintah membangun infrastruktur yang selaras dengan standar global, namun dengan fondasi keamanan yang rapuh.

    Alih-alih menjadi pemain berdaulat, Indonesia berisiko menjadi tambang data raksasa bagi entitas teknologi global. Berikut tiga indikator bahwa kita “terseret arus” ke arah yang membahayakan privasi warga.

    Transformasi PeduliLindungi ke SatuSehat

    Perubahan nama dari PeduliLindungi menjadi SatuSehat bukan sekadar rebranding. Ini adalah mandat Permenkes No. 24 Tahun 2022, yang mewajibkan seluruh fasilitas kesehatan menyetorkan Rekam Medis Elektronik (RME) ke database pusat.

    Platform ini mengadopsi standar HL7 FHIR R4 (Fast Healthcare Interoperability Resources Release 4). Ini adalah standar pertukaran data yang sama yang didorong oleh Office of the National Coordinator for Health IT (ONC) di AS.

    • Implikasi: Secara teknis, FHIR memudahkan interoperabilitas. Secara strategis, penggunaan standar AS ini membuka “pintu belakang” bagi platform analitik global untuk memproses data kesehatan penduduk Indonesia tanpa hambatan konversi bahasa pemrograman.

    Ambisi Genomik BGSi dan Jejak Asing

    Pemerintah meluncurkan Biomedical & Genome Science Initiative (BGSi) pada Agustus 2022. Targetnya ambisius: mengumpulkan ribuan sekuens genom manusia Indonesia untuk “pengobatan presisi”.

    Namun, siapa yang memegang mikroskopnya? BGSi secara terbuka berkolaborasi dengan Beijing Genomics Institute (BGI) dan didukung pendanaan ventura seperti East Ventures. Dalam lanskap geopolitik di mana data DNA adalah “minyak baru”, menyerahkan peta genetik populasi kepada entitas yang memiliki afiliasi asing adalah pertaruhan kedaulatan.

    Paten teknologi seperti Microsoft WO2020060606 membuktikan bahwa data biologis sedang diincar untuk validasi ekonomi digital. Jika DNA warga bocor, tidak ada fitur “reset password” untuk identitas biologis Anda.

    Kegagalan PDN: Rapuhnya Benteng Digital

    Insiden peretasan Pusat Data Nasional (PDN) pada Juni 2024 oleh ransomware Brain Cipher adalah bukti telak ketidaksiapan negara. Sebanyak 282 instansi pemerintah lumpuh, dan data warga terekspos tanpa enkripsi memadai.

    Pola ini menunjukkan kelalaian sistemik:

    1. Sentralisasi Tanpa Proteksi: Memaksa migrasi data ke satu titik (SatuSehat/IKD) tanpa backup dan keamanan berlapis (Tier-4).
    2. Absensi Tanggung Jawab: Pejabat terkait berlindung di balik permintaan maaf tanpa konsekuensi hukum nyata.

    Kesimpulan: Pasar, Bukan Pemain

    Indonesia tidak terlihat merancang agenda kontrol global ala Event 201. Peran kita lebih menyedihkan: pasar.

    Kita menyediakan 270 juta subjek data. Kita membeli infrastruktur cloud asing. Kita mengadopsi standar internasional tanpa proteksi memadai. Pemerintah menyerahkan kunci tubuh warganya kepada sistem global yang bahkan tidak bisa mereka amankan sendiri.

    Referensi & Jejak Digital

    Untuk memvalidasi analisis di atas, Anda dapat mengakses dokumen publik berikut:

    1. Standar SatuSehat: Dokumentasi Resmi Kemenkes RI mengenai adopsi HL7 FHIR.
    2. Mandat RME: Permenkes No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis (JDIH Kemkes).
    3. Kemitraan BGSi: Rilis Pers Peluncuran BGSi dan Kerja Sama dengan BGI & East Ventures.
    4. Insiden PDN 2024: Laporan BSSN dan Analisis Forensik Ransomware Brain Cipher (Tempo/Kompas).