Author: Mohammad Sani Suprayogi

  • Harga Emas Naik Lagi

    Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari ini, Selasa, 24 Februari 2026, mengalami kenaikan signifikan sebesar Rp40.000 menjadi Rp3.068.000 per gram. Harga buyback (harga beli kembali oleh Antam) juga naik menjadi Rp2.854.000 per gram.

    Saya penasaran, kenapa dalam beberapa bulan terakhir ini harga emas naik cukup signifikan, padahal itu jarang terjadi untuk emas.

    Dari sisi ekonomi, emas dianggap sebagai aset paling aman (safe haven). Jika harganya melonjak tajam, biasanya artinya investor sedang takut. Mereka memindahkan uang dari aset berisiko (seperti saham) ke emas karena adanya konflik geopolitik, perang, atau ketidakstabilan politik dunia.

    Emas sering naik saat nilai mata uang (seperti Rupiah atau Dollar) melemah atau mengalami inflasi. Jika harga barang-barang naik, daya beli uang turun, sehingga orang membeli emas untuk menjaga kekayaan mereka agar tidak “menguap” dimakan inflasi.

    Bagi Indonesia, harga emas lokal sangat dipengaruhi oleh kurs Rupiah terhadap Dollar AS. Jika Rupiah melemah, harga emas di dalam negeri otomatis naik. Jadi, kenaikan harga emas bisa menjadi tanda bahwa mata uang kita sedang tertekan

    Apakah bahaya?

    Emas naik adalah tanda bahwa dunia sedang “berjaga-jaga”. Bagi ekonomi negara, ini adalah peringatan untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga kestabilan harga barang pokok.

    Kesimpulannya: Kenaikan saat ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan cerminan dari rendahnya kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi dan politik dunia saat ini.

  • Mengenal Feline Immunodeficiency Virus (FIV)

    Feline Immunodeficiency Virus (FIV), sering disebut sebagai “AIDS kucing,” adalah infeksi virus yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh kucing. Virus ini termasuk dalam kelompok Lentivirus, keluarga yang sama dengan HIV pada manusia.

    Ceritanya, salah satu kucing yang suka mampir ke rumah itu saya bawa ke klinik, dia ada jadwal untuk steril kastrasi setelah sebelumnya sempat rawat inap selama 2 minggu akibat flu yang tidak kunjung sembuh.

    Nah, ketika diperiksa oleh dokter hewan di klinik, dia curiga karena flu masih kambuh, padahal sebelumnya sudah disuntik vaksin dimana seharusnya kekebalan tubuhnya sudah meningkat dan tidak mudah sakit.

    Dokter minta izin saya untuk melakukan rapid test guna memastikan apakah kucing ini terkena virus. Hasilnya positif terkena Feline Immunodeficiency Virus (FIV).

    Meskipun memiliki kemiripan cara kerja dengan HIV, FIV tidak dapat menular ke manusia atau hewan spesies lain

    Kucing yang terinfeksi mungkin tampak sehat selama bertahun-tahun sebelum sistem imunnya benar-benar melemah. Gejala yang muncul biasanya akibat infeksi sekunder: 

    • Peradangan Mulut: Sariawan parah, radang gusi (gingivitis), dan bau mulut.
    • Kesehatan Fisik: Penurunan berat badan drastis, demam berulang, dan kelesuan.
    • Infeksi Kronis: Masalah kulit, pernapasan (flu yang tak kunjung sembuh), atau infeksi mata.
    • Gangguan Saraf: Kejang atau perubahan perilaku pada tahap lanjut.

    Sayanya, belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini, namun dengan penanganan yang tepat kita bisa menjaga kucing supaya memiliki harapan hidup yang lebih panjang.

  • Seragam, Senjata, dan Status Sosial: Mengapa Oknum Polisi Muda Rentan Menjadi ‘Bahaya’?

    Belakangan ini, publik kembali dikejutkan dengan rentetan kasus kekerasan yang melibatkan oknum kepolisian terhadap warga sipil—bahkan anak-anak. Mulai dari kasus penganiayaan pelajar di Tual hingga tindakan fatal lainnya yang melibatkan personel berpangkat rendah (Bintara dan Tamtama).

    Ada sebuah pola yang menarik untuk dibedah: Mayoritas pelaku berada di usia awal 20-an. Hal ini memicu pertanyaan besar: Apakah sistem pendidikan dan rekrutmen kita saat ini sudah cukup untuk membentuk seorang pelayan publik, atau justru sedang menciptakan kelompok yang merasa di atas hukum?

    Bagi seorang lulusan SMA berusia 18 atau 19 tahun, lulus menjadi anggota Polri adalah sebuah peningkatan status sosial yang luar biasa. Dalam waktu hanya 5 hingga 7 bulan pendidikan, mereka bertransformasi dari remaja biasa menjadi sosok yang memegang kewenangan hukum, mengenakan seragam yang disegani, dan dibekali senjata api.

    Tanpa kematangan mental yang cukup, kekuatan (power) ini sering kali memicu power trip. Kebanggaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab justru berubah menjadi rasa eksklusivitas. Mereka merasa menjadi “kasta” yang berbeda, yang pada akhirnya memicu arogansi di tengah masyarakat.

    Salah satu akar masalahnya adalah sistem kuota. Ketika menjadi polisi dianggap sebagai keberhasilan menembus “celah sempit” yang eksklusif, muncul jiwa korsa yang salah kaprah—perasaan bahwa mereka harus saling melindungi meski salah, karena mereka adalah kelompok pilihan.

    Bayangkan jika paradigma ini diubah. Bagaimana jika menjadi polisi bukan lagi soal “jatah kuota”, melainkan soal kompetensi murni? Jika siapapun bisa menjadi polisi asalkan memenuhi standar kompetensi yang sangat ketat, maka rasa eksklusivitas itu akan runtuh dan berganti menjadi kompetisi profesional. Polisi tidak akan lagi dipandang sebagai “pasukan elit”, melainkan sebagai profesi ahli seperti dokter atau pengacara.

    Mencetak seorang polisi hanya dalam hitungan bulan untuk kemudian melepasnya ke masyarakat dengan senjata adalah risiko besar. Reformasi bukan hanya soal ganti pimpinan, tapi soal mengubah mentalitas “penguasa” menjadi “pelayan” melalui sistem pendidikan yang lebih matang dan berbasis kompetensi.

  • Customer Oriented Pada KAI

    Pelanggan yang terhormat, selamat datang di Kereta Api Taksaka. Kereta ini akan mengantarkan kita ke tujuan akhir Stasiun Yogyakarta. Perjalanan ini menempuh waktu tujuh jam.

    Karena sering melakukan perjalanan dengan kereta api, saya menyadari ada perubahan penyebutan kita, sebagai customer, dari sebelumnya “penumpang” menjadi “pelanggan”.

    Buat saya ini tidak hanya sekadar mengubah penyebutan nama, melainkan merasa PT KAI sedang berusaha mengubah mindset perusahaan supaya lebih customer oriented.

    Sebagai orang yang berasal dari keluarga KAI, saya mengalami banyak transformasi layanan kereta api menuju arah yang lebih baik. Pelanggan seperti saya semakin merasa dihargai, diperhatikan, dan juga dimanusiakan.

    Saya sadar perubahan ini akan juga meningkatkan harga tiket, namun entah kenapa saya lebih rela membayar harga kereta dengan berbagai fasilitas dan kepastian perjalanannya.

  • Puasa dan Olahraga

    Hari ini adalah percobaan pertama saya untuk tetap latihan ngegym pada sore hari. Saya sengaja untuk meminta personal trainer untuk mengganti jadwalnya menjadi jam 17:00, jadi latihannya satu jam sebelum waktu berbuka puasa.

    Sewaktu di Jogja, saya sering gowes di sore hari menjelang waktu berbuka, ngabuburit lah. Waktu itu rasanya baik-baik saja karena gowes itu bisa bikin seneng dan waktu jadi terasa lebih cepat.

    Jadi saya anggap latihan di gym akan sama saja.

    Itu yang saya pikir.

    Ternyata, sangat berbeda. Rasanya latihan di gym memiliki dampak yang lebih banyak karena personal trainer akan menyesuaikan menu latihannya dan menjaga supaya tubuh tetap fit setelah berbuka puasa.

    Latihannya masih sama, hanya jumlah beban yang dikurangi supaya repetisi tetap terjaga. Hasilnya, otot yang terlatih juga tetap konsisten namun tidak sampai bikin kliyengan.

    Puasa dan Olahraga
    Screenshot
  • Awal Puasa Penuh Kesabaran

    Hujan sedari pagi di wilayah Jakarta dan sekitarnya membuat suasana hari ini cukup syahdu. Biasanya hujan tidak pernah sederas ini di pagi hari, tapi tadi cukup untuk membuat sepatu dan kaos kaki basah ketika sampai kantor.

    Tantangan terbesar mas-mas umur 40-an di siang hari itu bukanlah rasa lapar dan dahaga saja, tapi rasa kantuk yang luar biasa setelah shalat Dzuhur.

    Biasanya, siang hari itu waktunya wedangan ngopi, lumayan untuk jadi dongkrak di kelopak mata.

    Hari ini, dongkrak itu tidak ada jadinya rasa ngantuk bergabung dengan cuaca dingin, gerimis yang masih tipis-tipis turun. Mantap.

    Sorenya, karena hari ini sebagian besar adalah hari pertama puasa jadinya semua orang ingin pulang ke rumah untuk berbuka puasa bersama keluarga. Akibatnya, ada penumpukan di stasiun MRT yang seakan-akan jeda 5 menit itu tidak cukup lagi buat naikin penumpang.

    Sampai sekitar kosan, pas banget dengan waktu berbuka. Melihat orang-orang masih berusaha memembus kemacetan demi bisa berbuka puasa bersama di rumah, rasanya ujian kesabaran saya hari ini tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka.

    Selamat berpuasa.

  • Apa Rumus Kebahagiaan Sejati?

    Kebahagiaan sejati adalah menikmati masa kini, tanpa ketergantungan yang cemas pada masa depan.

    Pagi ini sehabis sahur, secara random saya mendapatkan konten di timeline Reels mengenai stoikisme. Dikatakan bahwa untuk berbahagia, kita cukup fokus pada hari ini tanpa mengkhawatirkan berlebih mengenai masa depan dan jangan pula terbebani dengan masa lalu.

    Menarik, saya kemudian iseng mencari siapa sih yang bilang itu?

    Pencarian saya sampai pada orang bernama Lucius Annaeus Seneca, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam filsafat Stoikisme, dikenal karena ajarannya yang praktis mengenai ketenangan batin, penggunaan waktu, dan ketahanan mental.

    “Verum gaudium est … non suspensa ex futuro cupiditas.”

    Kalimat ini berasal dari karya Seneca yang berjudul Epistulae Morales ad Lucilium (Surat-surat Moral kepada Lucilius)

    Dalam konteks yang lebih luas, Seneca menuliskan:

    • Bahasa Latin: “Cuius rei, inquis, admonere me vis? id scilicet, ut habeas verum gaudium. … verum gaudium est … non suspensa ex futuro cupiditas.”
    • Bahasa Inggris: “True happiness is to enjoy the present, without anxious dependence upon the future.”
    • Bahasa Indonesia: “Kebahagiaan sejati adalah menikmati masa kini, tanpa ketergantungan yang cemas pada masa depan.”

    Seneca menekankan bahwa pikiran yang terus-menerus khawatir tentang apa yang akan terjadi esok hari tidak akan pernah bisa tenang. Dengan fokus pada apa yang kita miliki dan lakukan saat ini, kita melepaskan diri dari rantai kecemasan yang sering kali justru merusak kebahagiaan yang sudah ada di depan mata.

    Lalu saya penasaran, apakah Islam juga membahas mengenai topik ini?

    Dalam Al-Qur’an, konsep mengenai menikmati masa kini dan melepaskan kecemasan terhadap masa depan sering kali dikaitkan dengan sifat 

    “La khaufun ‘alaihim wala hum yahzanun”.

    Meskipun redaksinya berbeda dengan filsafat Stoikisme Seneca, pesan intinya sangat selaras: membebaskan diri dari belenggu masa lalu dan kecemasan masa depan melalui ketenangan hati.

    Saya coba cari ayat yang membahas ini, dan menemukan beberapa. Mohon maaf jika ada kesalahan tafsir.

    1. Konsep “tidak ada kekhawatiran” (masa depan) dan “tidak bersedih hati” (masa lalu) muncul berkali-kali dalam Al-Qur’an sebagai ciri orang yang beriman dan bertakwa. Salah satunya dalam Surah Al-Baqarah: 277
    2. Terkait topik kecukupan, ini sama dengan “menikmati masa kini tanpa kekhawatiran”. Dalam Islam, ini disebut dengan Qana’ah (merasa cukup). Al-Qur’an mengingatkan agar kita tidak terus-menerus memandang apa yang diberikan kepada orang lain (ingin lebih/masa depan), melainkan mensyukuri apa yang ada (Thaha: 131).
    3. Dengan meyakini bahwa masa depan ada di tangan Allah (Tawakkal), seseorang bisa fokus menikmati dan beramal di masa kini tanpa rasa cemas yang berlebihan (At-Taubah: 51)

    Jadi, sebaiknya kita memang hanya perlu fokus pada amal hari ini karena hari esok adalah rahasia Allah.

  • Selamat Berpuasa 2026

    Dalam pandangan Muhammadiyah, niat puasa Ramadhan adalah perbuatan hati(qashdu) dan tidak ada tuntunan khusus dari Nabi Muhammad SAW untuk melafalkannya secara lisan.

    Meskipun demikian, niat puasa harus sudah dilakukan sejak malam hari sampai waktu imsak.

    Mari mulai Puasa Ramadhan tahun ini dengan berniat untuk mensucikan diri, memperkuat iman, dan meningkatkan imun.

    Tetap berolahraga dan bekerja seperti biasa karena ibadah terbaik adalah ibadah untuk diri sendiri dan keluarga.

  • Motivasi Olahraga: Bisa Makan Daging Sepuasnya

    Iya, setahun lalu saat masih WFH dari Jogja, saya kesulitan untuk bisa makan daging karena kendala kesehatan. Asam urat dan kolesterol saya sudah melambung tinggi yang menyebabkan tidak bisa makan daging terlalu sering.

    Jari di kaki kanan dan kiri akan bergantian terasa nyeri dan panas, sampai tidak bisa buat jalan dengan normal. Alhasil banyak pekerjaan domestik yang terhambat, sungguh tidak nyaman.

    Obat menjadi kawan sehari-hari, karena begitu rasanya sakit sudah otomatis meminum obat pereda nyeri yang hanya akan menahan rasa sakitnya untuk sementara. Bahkan saya punya alat tes darah sederhana untuk mengetahui berapa kadar asam urat dan kolesterol saya.

    Sekarang, setelah setahun tinggal di Jakarta, Alhamdulillah justru badan saya merasa lebih baik. Kenapa?

    1. Saya rajin jalan kaki, setidaknya dari kamar kosan ke stasiun MRT dan lanjut ke kantor, kemudian diulang lagi di sore harinya.
    2. Saya rajin ke masjid tiap Dzuhur dan Ashar, ini mengharuskan saya untuk turun ke lantai berbeda dan kembali lagi ke meja.
    3. Jam makan harian jadi lebih teratur dan terkontrol karena sudah titip sama OB dan menu makanannya beragam.
    4. Nge-gym, diet karbo dan tinggi protein.

    Makan daging untuk mengejar protein harian justru malah diwajibkan, dan jauh lebih banyak daripada konsumsi saat saya di Jogja. Anehnya, asam urat dan kolesterol saya lebih terkontrol.

    Paling hipertensi aja yang masih perlu dimaintenance wkwk.