Tag: google

  • Memanfaatkan Tabel Dereferensi di Appsheet

    Melanjutkan tulisan mengenai Appsheet sebelumnya, salah satu fitur yang saya sukai adalah tabel dereferensi.

    Apa itu? Dalam AppSheet, Dereference (Ref) adalah cara mengambil data dari tabel lain melalui hubungan antar-tabel. Jika di pemrograman tradisional ini mirip dengan Join pada SQL atau mengakses properti objek (dot notation), di AppSheet ini jauh lebih sederhana.

    Misalnya saya ingin punya tabel bernama Tournaments dan Matches yang saling terhubung, maka saya akan membuat kolom di tabel Matches bernama tournament_id yang akan dikasih tipe data Ref. Nanti di tabel Tournaments akan tercipta tabel dereferensi yang terhubung ke tabel Matches.

    Cara pakainya gimana? Ada 2 cara.

    Pertama dari sisi tabel Tournaments, misalnya saya ingin menampilkan semua data Matches yang terhubung ke Tournament tertentu, maka saya cukup menambahkan tabel dereferensi tadi ke dalam view detail di Appsheet. Nanti secara otomatis akan menampilkan daftar Matches yang terhubung.

    Memanfaatkan Tabel Dereferensi di Appsheet

    Kedua dari sisi tabel Matches, karena saya sudah punya kolom bernama tournament_id yang merupakan “foreign_key” dari tabel Tournaments, jika saya ingin menampilkan kolom lain dari tabel Tournaments maka saya cukup memanfaatkan tanda titik.

    Contohnya, saya ingin mendapatkan nama tournament. Maka pada tabel Matches saya cukup membuat tabel virtual kemudian formulanya ditulis sebagai berikut.

    [tournament_id].[tournament_name]

    Penjelasan: kolom tournament_id merupakan nama kolom dereferensi di tabel Matches dan juga primary key di tabel Tournaments. Kemudian kolom tournament_name adalah nama kolom yang menyimpan data nama turnamennya.

    Cara ini jika dilakukan pada SQL, kurang lebih akan seperti kita menggunakan perintah JOIN.

    SELECT 
        Tournaments.tournament_name
    FROM 
        Matches
    JOIN 
        Tournaments ON Matches.tournament_id = Tournaments.tournament_id;

    Bedanya, Appsheet akan memproses dengan lebih cepat karena tidak perlu melakukan scanning pada semua data di tabel.

  • Membangun Aplikasi No-Code Dengan Google Appsheet

    Salah satu skill baru yang saya kuasai di tahun 2025 lalu adalah menguasai Appsheet, sebuah platform no-code dari Google yang terintegrasi dengan Google Workspace.

    Produk ini cocok untuk membangun aplikasi CRUD tanpa harus ngoding, tidak harus setup database karena bisa dimulai dari data di Google Sheets, dan tidak harus setup server karena sudah pakai servernya Google.

    Apakah bagus? menurut saya sangat bagus, bahkan terlalu bagus jika melihat semua fitur dan kemampuan Appsheet untuk dikembangkan hingga batas maksimalnya.

    Sekarang hampir semua tracker di kantor yang masih menggunakan Google Sheets sudah mulai dimigrasikan ke Appsheet. Saya cukup berhasil mengintegrasikan puluhan dokumen tracker menjadi 1 aplikasi di Appsheet saja, dan sekarang aplikasinya menjadi the single source of truth.

    Bagaimana cara belajarnya? Berapa harganya? Tenang, bisa dibaca pelan-pelan di https://about.appsheet.com/pricing/ Saya nggak bilang ini gratis ya, tapi dengan fitur yang ditawarkan itu harga yang tertulis disana itu hampir terasa gratis.

    Oke, apa kelemahannya?

    1. Tidak bisa ubah tampilan custom, jadi kalau pengen tampilannya canggih atau sophisticated, maka Appsheet tidak cocok dengan keperluan Anda.
    2. Sampai tulisan ini dibuat, Google masih terus melakukan update di Appsheet, jadi terkadang ada sedikit glitch ketika dipakai, tapi saya rasa ini hanya masalah waktu.
    3. Nggak bisa untuk didevelop oleh multi developer. Maksudnya, hanya satu developer saja yang bisa melakukan editing dalam satu waktu. Jadi misalnya ada 2 developer sedang ngedit aplikasi Appsheet yang sama, maka akan terjadi race condition.

    Kayanya cuma itu sih, sisanya banyak sekali kelebihannya. Bisa dibilang saya amaze dengan Appsheet ini, bahkan kami rela untuk mematikan Smartsheet wkwk.

  • Strategi Promosi Digital Untuk Bale Bandeng

    Strategi Promosi Digital Untuk Bale Bandeng

    Ceritanya kami sekeluarga sedang membangun bisnis keluarga, awalnya hanya untuk iseng-iseng mengisi waktu orang tua yang sudah pensiun, tapi setelah dipertimbangkan lagi, kenapa nggak diseriusin saja? Apalagi Pemerintah sedang mendukung pertumbuhan UMKM di masyarakat. Akhirnya, mulai akhir tahun 2015 lalu, kami mulai melakukan serangkaian percobaan menu dengan berbagai varian yang kemudian mengerucut pada satu konsep, yakni fokus di Bandeng Cabut Duri yang diberi nama Bale Bandeng.

    Kenapa fokus di ikan? alasannya sederhana, orang tua adalah “alumni” atau pensiunan dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Tengah dan Badan Penelitian & Pengembangan (Balitbang) Jawa Tengah, adek seorang Dokter Hewan, dan saya dosen sekaligus praktisi IT. Kombinasi ini bisa menjadi jaminan kualitas produk dan nilai jual tentunya. Saya dan adek juga sudah berbisnis sejak bertahun-tahun lalu, sehingga untuk pengalaman berjualan sudah bisa dijadikan pedoman untuk membangun bisnis keluarga ini.

    Strategi Digital Campaign

    Oke, saya mau cerita yang sudah saya lakukan. Berhubung saya nggak berurusan dengan dapur, maka saya mengurusi untuk sisi pemasaran dan penjualan. Promosi digital adalah pilihan pertama karena budget yang terbatas, maklum masih UMKM.

    Website

    Domain langsung saya beli sesuai dengan nama Bale Bandeng, yakni balebandeng.com. Hosting saya letakkan di server yang selama ini saya pegang, jadinya mendapatkan performa yang bagus. Template juga saya gunakan yang premium, sama dengan yang biasa saya gunakan untuk mengerjakan project web selama ini. Untuk urusan web adalah hal mudah, karena memang sudah terbiasa dalam pembuatan website.

    Social Media

    Akun social media langsung saya akusisi supaya nantinya inline/bersinergi dengan layanan digital yang lain. Kami menggunakan akun @BaleBandeng di Twitter dan Instagram. Kemudian juga membuat Facebook Pages dengan nama yang sama. Konten masih saya isi sendiri dengan meniru manajemen akun social media ala digital agency.

    Verified Business

    Berhubung Bale Bandeng menjual produk tapi kami belum sanggup jika harus menyewa tempat jualan, maka kami putuskan untuk berjualan di rumah dengan mengandalkan armada Go-Jek untuk mengantar pesanan, nah tapi saya pengen supaya lokasi jualan mudah dicari dan dikenali oleh calon pelanggan. Jadinya saya mendaftarkan Bale Bandeng ke Google Business dan Foursquare for Business supaya merk Bale Bandeng muncul di Google Maps dan Swarm/Foursquare.

    Proses verifikasi ini sebenarnya sangat mudah, karena hanya mengisi form secara lengkap dan mengunggah foto. Yang membedakan proses verifikasinya, dimana Google akan mengirimkan postcard yang berisi kode dan harus dimasukkan ke dashboard Google. Kemudian Foursquare meminta untuk membayar USD 20 untuk claim lokasi sekaligus verifikasi bisnis. Google butuh waktu 3 hari untuk menunggu kiriman postcard, sedangkan Foursquare konfirmasi instan setelah pembayaran dinyatakan berhasil.

    Alasan saya repot-repot mendaftarkan supaya menjadi verified business karena aplikasi yang menerapkan LBS (Location Based Services) seperti Go-Jek, Path, Swarm, Instagram, atau apapun yang ada fitur check-in, akan mengambil data dari Google dan Foursquare. Sehingga jika Bale Bandeng telah terdaftar disana, maka siapapun akan langsung bisa mencari dan melihat Bale Bandeng sebagai salah satu lokasi disitu hehehe.

    Saat ini saya sedang menjajaki kerjasama dengan Go-Food, saya sudah dikirimi proposal oleh perwakilan Go-Jek Semarang untuk dipelajari dulu. Sistemnya bagi hasil sebesar 15 : 85, dimana saya nantinya setiap akhir bulan akan transfer ke rekening Go-Food sebesar 15% dari total transaksi yang dihasilkan dari Go-Food. Kami sedang pelajari skema ini apakah cocok untuk diterapkan ke Bale Bandeng.

    Facebook Ads

    Sudah 4 hari ini saya menjalankan Facebook Ads untuk Facebook Page Bale Bandeng. Tujuannya hanya Local Awareness saja, jadi saya nggak pasang target muluk-muluk yang bisa sampai konversi ke sales, yang penting pengguna Facebook di sekitar rumah bisa tau bahwa Bale Bandeng ada. Yang saya suka dari Facebook Ads adalah sistem targetting yang mudah untuk dikonfigurasi.

    Saat ini saya set supaya iklan hanya muncul bagi pengguna wanita, usia antara 23-55 tahun, dan berlokasi maksimal 5 mil dari Bale Bandeng. Hasilnya sampai hari ini (29 Maret 2016) sudah dapat 8.227 impression dengan biaya hanya Rp. 38.000 saja. Pilihan iklan yang menarik dibandingkan saya harus memasang iklan di billboard. Mungkin nanti saya akan pasang iklan di billboard atau sebar flyer, tapi itu nanti, bukan sekarang.

    Akhirnya, itulah yang sedang saya lakukan untuk membangun Bale Bandeng. Prosesnya masih sangat panjang, tapi setidaknya kami sekeluarga melakukannya dengan benar dan sesuai dengan keahlian masing-masing. Kami yakin, bahwa selama ada passion untuk bekerja, maka pasti hasil yang disajikan akan optimal. Setidaknya itu standar Bale Bandeng, dimana kami sudah atur standar yang sangat tinggi untuk setiap produk yang kami hasilkan.

     

    Strategi Promosi Digital Untuk Bale Bandeng