Category: Tulisan

  • Apakah Kamu Mudik?

    Ini adalah pertanyaan basa-basi saya ke beberapa kenalan di kantor, beberapa hari sebelum saya mudik ke Jogja.

    Ternyata, dari beberapa orang yang saya tanyain itu, tidak semuanya berencana mudik pada lebaran tahun ini. Alasannya bermacam-macam, mulai dari sedang shift kerja, ada rencana mengajak keluarganya untuk datang ke Jakarta, atau yang memang tidak berniat pulang kampung.

    Dulu saya berpikir, ketika seseorang pergi merantau ke tempat yang jauh, pasti ketika lebaran akan berusaha menyempatkan pulang kampung, bertemu dengan orang tua dan keluarga. Jarak dan waktu yang ditempuh akan terbayarkan ketika pada hari besar itu bisa berkumpul dengan keluarga.

    Itu yang saya bayangnya saat itu.

    Namun setelah ngobrol dengan beberapa orang tadi, saya menyadari ada sebagian orang yang memang tidak bisa dan tidak ingin mudik. Alasannya bermacam-macam, seperti yang sudah saya sebutkan tadi.

    Tapi ada satu jawaban yang buat saya berkesan.

    “Buat apa mudik? saya tiap hari ngobrol dengan keluarga besar di grup Whatsapp, semua informasi ada disana, mulai yang bermanfaat sampai yang hoax. Pada update status dan kirim-kirim video lucu juga setiap hari, jadi buat apa mudik?”

    Bener juga sih dan itu valid.

    Dulu orang mudik karena terpisah oleh jarak dan waktu, namun ketika masalah jarak dan waktu itu sudah diselesaikan dengan teknologi, pelan-pelan orang akan merasa itu bukan alasan untuk melakukan perjalanan jauh dan mahal itu.

    Perlu alasan baru untuk mudik, tidak bisa sekadar masalah jarak dan waktu semata.

    Apakah kamu mudik Lebaran tahun ini? Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan hingga kembali lagi ke rumah.

  • THR Perdana Buat Apa?

    Yay! ini adalah waktu yang biasa dinanti oleh sebagian besar karyawan ketika menjelang hari raya Idulfitri. THR (Tunjangan Hari Raya) biasanya sudah mulai dibagikan. Buat Anda yang baru pertama kali mendapatkannya, selamat!

    THR ini sebaiknya buat apa ya?

    Saya asumsikan Anda baru pertama kali bekerja dan ingin membelanjakan THR dengan lebih bijak, apalagi ekonomi 2026 lagi chaos, kita pakai pendekatan investasi pada aset tak terlihat tapi punya nilai tukar tinggi.

    The Access Fund

    Jangan cuma beli barang, beli akses. Pakai THR-mu untuk bayar annual membership ke perkumpulan profesional, tiket konferensi industri kelas atas, atau akses ke private circledi Discord/Telegram yang isinya para mentor/ahli di bidangmu.

    Kenapa? Di ekonomi 2026, informasi eksklusif dan koneksi “orang dalam” adalah mata uang yang jauh lebih mahal daripada bunga deposito.

    The Burnout Insurance

    Dunia kerja pertama itu melelahkan, coba masukkan 30% THR ke instrumen likuid yang hanya boleh disentuh untuk “Emergency Healing”. Bukan sekadar nongkrong, tapi dana untuk terapi profesional atau staycation total saat kamu hampir resign karena stres.

    Kenapa? Menjaga kewarasan adalah strategi finansial. Biaya ke psikiater atau kehilangan penghasilan karena burnout itu jauh lebih mahal.

    The Brand Fund

    Investasikan THR untuk membangun Personal Brand secara serius. Beli domain namamu sendiri untuk portofolio (ya seperti domain saya ini), bayar fotografer profesional buat  headshot LinkedIn, atau beli lisensi software kreatif yang selama ini kamu pakai versi bajakan.

    Kenapa? Saat ekonomi sulit, orang hanya merekrut/bekerja sama dengan mereka yang terlihat paling kredibel. Jadikan dirimu “aset” yang bisa ditemukan di Google.

    Gimana? mudah-mudahan THR-mu masih tersisa ya, belum terlambat untuk coba membeli salah satu ide di atas.

  • Ternyata Perlu Hibernasi

    Apa yang akan saya lakukan ketika sampai di Jogja? Itu adalah pikiran saya ketika dalam perjalanan mudik kemarin. Ada beberapa kegiatan yang sudah direncanakan di hari Minggu ini, mulai dari pengecekan beberapa area di rumah yang memang sudah perlu ada perawatan, hingga melakukan beberapa hal yang tertunda.

    Tapi, manusia hanya bisa berencana.

    Hari Minggu ini, selepas mandi, masih jam 9.30 pagi, mata rasanya berat sekali.

    Sepertinya tidur sebentar oke juga ya? Paling 30 menit aja untuk kemudian lanjut melakukan sesuatu.

    Tapi ternyata, rencana 30 menit itu bablas sampai 5 jam! Wkwkwkwk… Iya, saya bangun menjelang Ashar.

    Rupanya badan ini sedang minta hibernasi sejenak, dia tau kalau sekarang sedang di rumah dan minta diprioritaskan untuk sementara.

    Jadilah, hari Minggu pagi saya dipakai untuk tidur siang.

  • Mudik (duluan) Lebaran 2026

    Yak, saya sudah di Jogja untuk mulai Work From Home (WFH) sampai Lebaran 2026, nanti saya akan kembali ke Jakarta pada Lebaran hari kedua (versi Pemerintah) sebagai ganti sudah mudik duluan di lebaran tahun ini.

    Perjalanan ke Jogja naik kereta cukup nyaman karena situasinya belum ramai, jadi aura mudiknya memang nggak terasa. Sampai di Stasiun Tugu Jogja juga rasanya normal saja, seperti weekend pada umumnya.

    Kenapa mudik duluan? Mungkin lebih ke parno ya, ini adalah mudik pertama kami sejak memutuskan pindah ke Jakarta. Jadi kami membayangkan situasi mudik yang ramai itu bakal melelahkan, ditambah nanti harus melakukan banyak hal yang jika ditumpuk semuanya mendekati hari Lebaran, tidak akan cukup.

    Jadilah saya memutuskan untuk mengambil waktu mudik di awal namun menggantinya dengan kembali ke kantor juga lebih awal. Biar nanti kolega saya yang bisa liburan lebih panjang.

    Bagaimana Jogja?

    Seperti biasa, selalu syahdu dengan guyuran hujan ketika kami sampai di Stasiun Jogja. Kebetulan mobil jemputan kami sudah datang sehingga tidak perlu menunggu lama. Sopir kami cerita kalau tiap sore selalu hujan, dan benar hujannya awet sampai malam hari.

    Infonya dari BMKG fenomena La Nina sudah berakhir di akhir Februari lalu, tapi sepertinya sisa-sisanya masih akan terasa sampai akhir minggu ini.

  • Kuota Hangus dan Operator Seluler

    Saya sempat membaca ada upaya gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai kebijakan kuota hangus di (semua ?) operator seluler di Indonesia. Meskipun pada akhirnya gugatan itu ditolak oleh MK saya cukup mengerti bagaimana sudut pandang penolakan itu.

    Beberapa hal yang membuat MK menolak gugatan tersebut adalah

    1. Masalah administrasi pada alat bukti. Iya, ini alasan yang paling sering muncul. Di satu sisi, administrasi itu penting, seharusnya ini tidak perlu terjadi jika persiapannya cukup.
    2. Pemerintah dan operator (hmm..) berargumen bahwa kuota Internet adalah layanan berbasis waktu, bukan sebagai kepemilikan barang. Ini ibaratnya menyewa kamar hotel, kalau nggak dipakai sesuai jadwal ya hangus.
    3. Jika kuota diwajibkan berlaku selamanya, maka berpotensi meningkatkan biaya operasional dan ujung-ujungnya harga paket akan naik drastis.

    Bagaimana di luar negeri? Apakah sama?

    Ternyata sistem kuota hangus di beberapa negara seperti Amerika, Eropa, sampai ke negara di Asia Tenggara menggunakan cara yang sama dan memandang bahwa kuota Internet adalah sebuah kontrak berlangganan.

    Bedanya hanya pada kompetisi antar operator. Di Indonesia, meskipun kita sering mengeluh kecepatannya tertinggal dari Singapura, harga per GB kita sebenarnya masuk dalam daftar termurah di dunia!

    Sebagai pengguna Telkomsel yang tidak pernah berganti sejak dulu, saya merasa meskipun rollover kuota ini diterapkan nggak akan berpengaruh karena saya lebih concern terhadap kualitas jaringan Internetnya.

    Telkomsel itu mahal, tapi mereka ada solusinya.

    1. Pilih paket sesuai kebutuhan.
    2. Baca Terms & Condition sesuai paket yang mau dibeli.
    3. Tingkatkan penghasilan dan jangan bergantung ke Pemerintah.

    Fa` dapoliz

  • Hujan Setiap Pagi

    Sudah hampir seminggu ini hujan turun di setiap pagi, situasinya jadi cukup menantang karena saya masih perlu jalan kaki menuju ke Stasiun MRT Blok A untuk menuju ke kantor.

    Saya sudah sedia payung sih, tapi masalahnya itu tiupan angin sudah mengorbankan 3 payung lipat sejak awal tahun. Ini sedang menunggu kedatangan 1 payung baru setelah tadi pagi sukses rangka payungnya patah akibat angin kencang ketika menyeberang dari Plaza Senayan ke Senayan City.

    Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ini akibat Fenomena La Niña di Indonesia yang dikatakan sudah berakhir sejak akhir Februari 2026 lalu. Tapi sejauh yang saya rasakan justru intensitas hujan di awal Maret ini cukup sering ya?

    Mitosnya, jika hujan turun di saat Tahun Baru Imlek itu akan mendatangkan keberkahan selama setahun ke depan. Saya tidak punya komentar mengenai hal ini, yang jelas dengan informasi berakhirnya musim hujan yang panjang ini maka kita perlu persiapan menghadapi musim kemarau yang tidak kalah panjang.

    Persiapkan diri dan jaga kesehatan ya

  • Relief of Missing Out (ROMO)

    Istilah menarik yang dipopulerkan oleh aktor Cillian Murphy yang menggambarkan kelegaan karena tidak terlibat dalam suatu kegiatan atau proyek.

    Berkebalikan dengan Fear of Missing Out (FOMO), ROMO ini merupakan obat atau peredam rasa yang membuat seseorang menjadi lebih tenang dan mengontrol situasi di sekelilingnya.

    Para ahli kesehatan mental mencatat bahwa ROMO adalah cara yang sehat untuk membingkai ulang rasa cemas karena melewatkan sesuatu menjadi sebuah bentuk perawatan diri dan ketenangan.

    Mengimplementasikan ROMO ini sejalan dengan prinsip Stoikisime, karena kita akan mengubah sudut pandang dari rasa takut tertinggal menjadi rasa syukur atas ketenangan yang didapat.

    Bagaimana langkah praktis untuk menerapkannya? Saya rasa ada beberapa hal yang bisa kita mulai coba lakukan.

    • Kurangi paparan informasi digital. Ponsel kita itu memang menawarkan banyak sekali informasi, terutama jika sudah menginstall berbagai platform social media. Tanpa sadar ponsel yang tadinya dibuat untuk sarana komunikasi sudah berubah menjadi pusat segala informasi. Ini melelahkan.
    • Berani untuk bilang tidak. Ini adalah kemampuan yang perlu diasah, sebab kita terbiasa untuk mengikuti dan menuruti kehendak peer di dalam lingkungan. Jika memang merasa kurang nyaman dan/atau ada keinginan tertentu yang berlawanan dengan ajakan itu, cobalah untuk mulai menolaknya.
    • Nikmati peran sebagai penonton. Sadari bahwa kita tidak selalu menjadi pemeran utamanya. Jika semua orang ingin pegang peran utama, maka siapa penontonya? Cobalah sekali-kali berperan menjadi penonton.
    • Prioritaskan hobi. Ketika kita fokus dengan apa yang kita sukai, kita akan tumbuh menjadi orang yang lebih baik.

    Jadi, kita memang perlu memiliki waktu untuk diri sendiri.

  • Logika vs Intuisi di Dunia Kerja

    Selama 20 tahun berkarir, ada satu pelajaran mahal yang benar-benar saya pahami sekarang, yaitu Kesuksesan terletak pada keseimbangan antara Kuantitatif dan Kualitatif.

    Bagi teman-teman yang baru saja memulai langkah di dunia kerja, selamat datang. Anda masuk di era dimana informasi yang melimpah, namun kebijaksanaan untuk mengolahnya tetaplah langka.

    Sisi Kuantitatif adalah kompas Anda. Data angka adalah jangkar objektivitas, sebab di dunia kerja Anda akan bertemu dengan KPI, target, dan metrik.

    Kenapa? KPI, target, dan metrik akan menghindarkan Anda dari perasaan “sudah kerja keras” padahal belum ada dampak nyata.

    Saran: Jangan alergi pada data. Angka adalah bahasa yang akan membantu Anda untuk meyakinkan atasan atau klien tanpa perlu berdebat panjang.

    Sisi Kualitatif adalah jiwa dari pekerjaan Anda. Meskipun angka bisa menunjukkan apa yang terjadi, namun jarang bisa untuk menjelaskan mengapa itu bisa terjadi. Disinilah aspek kualitatif, seperti observasi, empati, dan komunikasi menjadi krusial.

    Kenapa? Membantu memahami konteks manusia (humanis) di balik angka. Misalnya bulan ini penjualan Anda sedang turun, ini tidak selalu diakibatkan karena pekerjaan Anda yang buruk, namun bisa jadi karena dinamika pasar yang sedang berubah atau perilaku konsumen yang bergeser secara emosional.

    Saran: Luangkan waktu untuk mendengar. Jangan hanya melihat laporan, tapi amati bagaimana orang bereaksi terhadap pekerjaan Anda.

    Jika saya bisa kembali ke 20 tahun yang lalu, saya akan bilang ke saya di versi itu untuk selalu bertanya dua arah.

    1. Saat melihat angka bagus, “mengapa ini bisa terjadi? apa cerita manusia di baliknya?“
    2. Saat mendengar ide bagus, “bagaimana cara mengukur keberhasilannya nanti?“

    Menguasai keduanya akan membuat Anda menjadi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara logika, tapi juga kuat secara intuisi. Jangan menunggu puluhan tahun untuk menyadari bahwa angka dan rasa adalah dua sisi dari koin yang sama.

  • Berhenti Terjebak Nostalgia: Saatnya Islam Memeluk Logika

    Menurut keyakinan saya, selama bertahun-tahun, kita terjebak dalam rutinitas yang sama: menunggu sidang isbat, menatap langit mencari sabit tipis, dan berdebat tentang derajat ketinggian bulan. Di satu sisi, kita bangga mengklaim bahwa Islam adalah agama yang melintasi zaman. Namun di sisi lain, kita seolah enggan berjalan seiring dengan waktu itu sendiri.

    Kenapa kita masih begitu tergantung pada pengamatan manual (rukyat) untuk memulai puasa, sementara untuk Tahun Baru Hijriah kita cukup percaya pada kalender di dinding?

    Masih menurut keyakinan saya, masalah utama kita adalah ketidakmampuan membedakan antara alat dan tujuan. Di zaman Nabi, melihat langsung (rukyat) adalah satu-satunya alat yang tersedia dan paling akurat. Hari ini, sains dan matematika menawarkan presisi yang jauh melampaui mata manusia.

    Memaksakan metode manual di era astronomi modern bukan lagi bentuk ketaatan, melainkan bentuk ketertinggalan. Islam didesain untuk menjadi agama yang dewasa dan rasional. Namun, keengganan kita meninggalkan tradisi manual demi kepastian matematika menunjukkan bahwa kita mungkin belum cukup dewasa untuk mempercayai nalar kita sendiri.

    Kita sering menghibur diri dengan nama-nama besar seperti Al-Khawarizmi atau Ibnu Sina untuk membuktikan bahwa Islam pernah menguasai sains. Namun, itu hanyalah nostalgia. Kenyataannya, hari ini kita lebih suka menghafal dalil daripada mengasah logika matematika.

    Jika kita benar-benar ingin menghormati warisan para ilmuwan muslim terdahulu, cara terbaiknya bukan dengan menghafal nama mereka saja, namun juga dengan menggunakan ilmu mereka (hisab) untuk menata sistem hidup kita sekarang.

    Mungkin terdengar radikal, tapi sudah saatnya kita mempertanyakan urgensi Sidang Isbat. Jika perhitungan matematika sudah bisa menentukan posisi bulan hingga ratusan tahun ke depan secara presisi, buat apa lagi kita membuang energi dan anggaran untuk seremoni yang sebenarnya sudah memiliki jawaban pasti?

    Kita butuh perubahan paradigma di tingkat akar rumput:

    1. Perkuat Logika di Atas Hafalan: Pendidikan kita harus tidak hanya mencetak penghafal, namun mulai mencetak pemikir yang paham pola sistematis dunia.
    2. Berani Mengikuti Zaman: Islam tidak akan menjadi modern hanya karena penganutnya menggunakan smartphone. Islam menjadi modern jika cara berpikir penganutnya mampu melampaui batasan tradisi yang sudah tidak relevan.

    Sudah saatnya kita berhenti menoleh ke belakang dan mulai melihat ke depan. Agama yang melintasi zaman hanya bisa relevan jika ia berani berjalan di depan zaman, bukan merangkak di belakangnya sambil memeluk masa lalu.