Category: Tulisan

  • Tragedi Mentalitas dan Kelas Menengah yang Terjepit

    Pernah nggak melihat tetangga yang rumahnya berkeramik, motornya terbaru, tapi namanya nangkring manis di daftar penerima Bansos? Sementara di sisi lain, ada karyawan kantoran yang terlihat “necis” tapi kepalanya pusing tujuh keliling memikirkan cicilan dan harga beras yang melonjak, tanpa pernah tersentuh bantuan pemerintah sepeser pun.

    Inilah potret ironis di negeri kita: Kompetisi Menjadi Miskin.

    Sebagian masyarakat kita memiliki kemampuan akting yang luar biasa. Di hadapan Tuhan, mereka berdoa meminta kekayaan tujuh turunan. Namun, begitu ada pendataan dari petugas kelurahan atau kementerian, tiba-tiba mereka bertransformasi menjadi “kaum dhuafa”.

    Mereka rela menyembunyikan aset, memanipulasi data penghasilan, bahkan mengaku tidak mampu hanya demi mendapatkan bantuan yang sejatinya adalah hak orang yang makan pun susah.

    Fenomena “Miskin di Data, Kaya di Nyata” ini bukan sekadar masalah administrasi, tapi masalah krisis moral dan mentalitas.

    Di tengah “drama” mereka yang berebut bansos, ada kelompok yang paling menderita: Kelas Menengah.

    Kelompok ini adalah mereka yang:

    • Terlalu kaya untuk dibantu: Gaji biasanya di atas UMR, jadi jangan harap dapat KIP Kuliah atau subsidi sembako.
    • Terlalu miskin untuk merasa aman: Begitu inflasi naik, tabungan langsung ludes. Mereka adalah “Generasi Sandwich” yang membayar pajak paling patuh, tapi mendapatkan perlindungan sosial paling minim.

    Ketika orang yang mampu mengambil jatah bansos, mereka tidak hanya mencuri uang negara, tapi mereka merampas hak hidup warga miskin ekstrem. Setiap liter minyak goreng subsidi atau setiap rupiah bantuan tunai yang salah sasaran adalah satu kesempatan yang hilang bagi anak-anak kurang mampu untuk mendapatkan gizi yang layak.

    Kekayaan yang berkah tidak datang dari memanipulasi keadaan. Jika kita mampu, berilah ruang bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Untuk pemerintah, validasi data di lapangan harus lebih galak, jangan sampai verifikasi hanya formalitas di atas kertas, sementara realita di depan mata jelas berbeda.

  • Transportasi Umum Yang Ideal

    Untuk pertama kalinya, hari ini kami pergi ke Pondok Indah Mall menggunakan transportasi umum. Awalnya kami berencana menggunakan armada taksi, namun setelah melihat-lihat rute di Google Maps, sepertinya sangat memungkinkan untuk menuju kesana dengan kombinasi MRT dan Transjakarta.

    Benar saja, ternyata hanya perlu 30 menit dari Stasiun MRT Blok A sampai Halte Transjakarta Pondok Indah. Proses transit di Stasiun Lebak Bulus juga lancar, tinggal keluar ke pintu D yang langsung menghubungkan dengan halte. Apalagi disitu adalah halte keberangkatan jadi hampir bisa dipastikan dapat kursi.

    Ini adalah bentuk dari transportasi umum yang ideal, saya sebagai penumpang yang belum pernah menggunakan moda ini tidak mengalami kesulitan dan justru merasa nyaman.

    Setelah saya perhatikan, cukup 2 hal yang dibutuhkan untuk seseorang mau menggunakan transportasi umum.

    1. Kepastian waktu.
    2. Kemudahan akses.

    Jika fokus kepada 2 hal itu saja, maka dari sisi operasional akan berusaha mengikutinya kok.

    Kepastian Waktu: Misalnya punya SLA waktu tunggu 10 menit pasti bisa naik di setiap halte, maka apapun akan dilakukan supaya bisa mencapai itu, bisa dari menambah jumlah armada, memastikan kondisi armada bagus, dan mengoptimasi rute.

    Kemudahan Akses: Orang yang mau naik transum itu tidak boleh dipersulit aksesnya, misalnya lokasi pintu keluar/masuk, kemudahan transit, tersedia tangga/lift, hingga mesin tap yang responsif.

    Bagaimana sisanya? itu hanya kosmetik. Karena jika dua hal itu terpenuhi, maka otomatis sisanya juga akan mengikuti.

  • Ide Membangun Bisnis Baru

    Saya kepikiran topik ini ketika bengong di MRT, mengenai bagaimana caranya mendapatkan ide bisnis yang valid di tengah banyaknya pesaing yang selalu bermunculan. Saya tau membangun bisnis itu tidak mudah, saya cukup punya banyak pengalaman disana.

    Bagaimana jika, daripada berandai-andai, kita cukup fokus pada satu dari tujuh hal berikut. Coba temukan ide yang bisa memfasilitasi salah satu dari tujuh list ini.

    1. Kesombongan (Pride).
    2. Keserakahan (Greed).
    3. Hawa Nafsu (Lust).
    4. Kedengkian (Envy).
    5. Kerakusan (Gluttony).
    6. Kemarahan (Wrath).
    7. Kemalasan (Sloth).

    Ya, mungkin Anda tau apa arti dari tujuh list yang saya sebutkan itu. Mungkin kurang bijaksana, namun jika memang ingin mendapatkan ide bisnis yang memiliki market besar dan berpotensi bisa menyelesaikannya, maka silakan fokus kepada salah satu dari tujuh hal tersebut.

    Ini hanya ide, belum tentu dikerjakan dan tidak harus.

    1. Kesombongan: Aplikasi pelacakan penggunaan parfum. Pengguna bisa memamerkan koleksi dan jadwal penggunaan parfumnya.
    2. Keserakahan: Agregator pengembalian dana mikro. Layanan ini melacak dan mengumpulkan sisa kembalian uang digital kemudian memasukkan ke portofolio investasi.
    3. Hawa Nafsu: Platform penerbitan cerita fiksi interaktif. Penulis merilis adaptasi dongeng bergenre gelap dan pembaca memuaskan hasrat dengan mengendalikan alur cerita.
    4. Kedengkian: Aplikasi papan peringkat kesehatan. Pengguna membandingkan persentase lemak tubuh dan hasil program rekomposisi tubuh dengan orang lain.
    5. Kerakusan: Perangkat lunak mengunduh seluruh artikel dan video pilihan Anda menjadi umpan bergulir tanpa akhir untuk konsumsi informasi tanpa batas.
    6. Kemarahan: Platform memvalidasi kemarahan Anda terhadap suatu layanan dan menjual kumpulan data keluhan tersebut kepada perusahaan pesaing.
    7. Kemalasan: Layanan ringkasan video akademik. Sistem memotong video pengajaran menjadi catatan singkat bagi mahasiswa yang menghindari sesi kuliah penuh.

  • Kenyamanan Menurunkan Kewaspadaan

    Satu hal yang saya perhatikan selama berangkat-pulang naik MRT adalah mayoritas penumpangnya ketika naik ke kabin MRT, mereka langsung membuka ponsel dan memandanginya selama perjalanan.

    Sebagai catatan, saya tidak bermasalah dan tidak mengomentari kebiasaan itu. Pasti mereka punya alasannya sendiri kenapa melakukan itu, selama tidak mengganggu.

    Sayangnya, ada sebagian orang yang tidak sadar jika mereka mengganggu orang di sekitarnya. Saya yakin sih mereka tidak sengaja melakukannya, tapi bisa jadi selama ini tidak ada yang menegur jadi dianggap biasa aja.

    Siapa mereka?

    Penumpang yang fokus ke ponselnya tapi berdiri di dekat pintu keluar.

    Seringnya itu mereka terlalu asik sama ponselnya sehingga tidak sadar mereka menghalangi jalan orang yang mau keluar masuk. Jika disenggol biasanya mereka akan merasa terganggu dengan senggolan itu wkwkwk.

    Dulu saya agak segan ketika mau melewati mereka, sekarang? Saya nggak pakai permisi tapi langsung dorong supaya mereka sadar dan bukain jalan.

    Kenapa saya melakukan itu? Sebab saya tau, jika sedang fokus ke ponselnya, apalagi menggunakan earphone, maka dia tidak akan mendengar suara apapun selain yang ada di ponselnya. Teguran pelan tidak akan terdengar, jadilah dorong aja orangnya wkwkwk.

  • Harga Emas Naik Lagi

    Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari ini, Selasa, 24 Februari 2026, mengalami kenaikan signifikan sebesar Rp40.000 menjadi Rp3.068.000 per gram. Harga buyback (harga beli kembali oleh Antam) juga naik menjadi Rp2.854.000 per gram.

    Saya penasaran, kenapa dalam beberapa bulan terakhir ini harga emas naik cukup signifikan, padahal itu jarang terjadi untuk emas.

    Dari sisi ekonomi, emas dianggap sebagai aset paling aman (safe haven). Jika harganya melonjak tajam, biasanya artinya investor sedang takut. Mereka memindahkan uang dari aset berisiko (seperti saham) ke emas karena adanya konflik geopolitik, perang, atau ketidakstabilan politik dunia.

    Emas sering naik saat nilai mata uang (seperti Rupiah atau Dollar) melemah atau mengalami inflasi. Jika harga barang-barang naik, daya beli uang turun, sehingga orang membeli emas untuk menjaga kekayaan mereka agar tidak “menguap” dimakan inflasi.

    Bagi Indonesia, harga emas lokal sangat dipengaruhi oleh kurs Rupiah terhadap Dollar AS. Jika Rupiah melemah, harga emas di dalam negeri otomatis naik. Jadi, kenaikan harga emas bisa menjadi tanda bahwa mata uang kita sedang tertekan

    Apakah bahaya?

    Emas naik adalah tanda bahwa dunia sedang “berjaga-jaga”. Bagi ekonomi negara, ini adalah peringatan untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga kestabilan harga barang pokok.

    Kesimpulannya: Kenaikan saat ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan cerminan dari rendahnya kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi dan politik dunia saat ini.

  • Mengenal Feline Immunodeficiency Virus (FIV)

    Feline Immunodeficiency Virus (FIV), sering disebut sebagai “AIDS kucing,” adalah infeksi virus yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh kucing. Virus ini termasuk dalam kelompok Lentivirus, keluarga yang sama dengan HIV pada manusia.

    Ceritanya, salah satu kucing yang suka mampir ke rumah itu saya bawa ke klinik, dia ada jadwal untuk steril kastrasi setelah sebelumnya sempat rawat inap selama 2 minggu akibat flu yang tidak kunjung sembuh.

    Nah, ketika diperiksa oleh dokter hewan di klinik, dia curiga karena flu masih kambuh, padahal sebelumnya sudah disuntik vaksin dimana seharusnya kekebalan tubuhnya sudah meningkat dan tidak mudah sakit.

    Dokter minta izin saya untuk melakukan rapid test guna memastikan apakah kucing ini terkena virus. Hasilnya positif terkena Feline Immunodeficiency Virus (FIV).

    Meskipun memiliki kemiripan cara kerja dengan HIV, FIV tidak dapat menular ke manusia atau hewan spesies lain

    Kucing yang terinfeksi mungkin tampak sehat selama bertahun-tahun sebelum sistem imunnya benar-benar melemah. Gejala yang muncul biasanya akibat infeksi sekunder: 

    • Peradangan Mulut: Sariawan parah, radang gusi (gingivitis), dan bau mulut.
    • Kesehatan Fisik: Penurunan berat badan drastis, demam berulang, dan kelesuan.
    • Infeksi Kronis: Masalah kulit, pernapasan (flu yang tak kunjung sembuh), atau infeksi mata.
    • Gangguan Saraf: Kejang atau perubahan perilaku pada tahap lanjut.

    Sayanya, belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini, namun dengan penanganan yang tepat kita bisa menjaga kucing supaya memiliki harapan hidup yang lebih panjang.

  • Seragam, Senjata, dan Status Sosial: Mengapa Oknum Polisi Muda Rentan Menjadi ‘Bahaya’?

    Belakangan ini, publik kembali dikejutkan dengan rentetan kasus kekerasan yang melibatkan oknum kepolisian terhadap warga sipil—bahkan anak-anak. Mulai dari kasus penganiayaan pelajar di Tual hingga tindakan fatal lainnya yang melibatkan personel berpangkat rendah (Bintara dan Tamtama).

    Ada sebuah pola yang menarik untuk dibedah: Mayoritas pelaku berada di usia awal 20-an. Hal ini memicu pertanyaan besar: Apakah sistem pendidikan dan rekrutmen kita saat ini sudah cukup untuk membentuk seorang pelayan publik, atau justru sedang menciptakan kelompok yang merasa di atas hukum?

    Bagi seorang lulusan SMA berusia 18 atau 19 tahun, lulus menjadi anggota Polri adalah sebuah peningkatan status sosial yang luar biasa. Dalam waktu hanya 5 hingga 7 bulan pendidikan, mereka bertransformasi dari remaja biasa menjadi sosok yang memegang kewenangan hukum, mengenakan seragam yang disegani, dan dibekali senjata api.

    Tanpa kematangan mental yang cukup, kekuatan (power) ini sering kali memicu power trip. Kebanggaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab justru berubah menjadi rasa eksklusivitas. Mereka merasa menjadi “kasta” yang berbeda, yang pada akhirnya memicu arogansi di tengah masyarakat.

    Salah satu akar masalahnya adalah sistem kuota. Ketika menjadi polisi dianggap sebagai keberhasilan menembus “celah sempit” yang eksklusif, muncul jiwa korsa yang salah kaprah—perasaan bahwa mereka harus saling melindungi meski salah, karena mereka adalah kelompok pilihan.

    Bayangkan jika paradigma ini diubah. Bagaimana jika menjadi polisi bukan lagi soal “jatah kuota”, melainkan soal kompetensi murni? Jika siapapun bisa menjadi polisi asalkan memenuhi standar kompetensi yang sangat ketat, maka rasa eksklusivitas itu akan runtuh dan berganti menjadi kompetisi profesional. Polisi tidak akan lagi dipandang sebagai “pasukan elit”, melainkan sebagai profesi ahli seperti dokter atau pengacara.

    Mencetak seorang polisi hanya dalam hitungan bulan untuk kemudian melepasnya ke masyarakat dengan senjata adalah risiko besar. Reformasi bukan hanya soal ganti pimpinan, tapi soal mengubah mentalitas “penguasa” menjadi “pelayan” melalui sistem pendidikan yang lebih matang dan berbasis kompetensi.

  • Customer Oriented Pada KAI

    Pelanggan yang terhormat, selamat datang di Kereta Api Taksaka. Kereta ini akan mengantarkan kita ke tujuan akhir Stasiun Yogyakarta. Perjalanan ini menempuh waktu tujuh jam.

    Karena sering melakukan perjalanan dengan kereta api, saya menyadari ada perubahan penyebutan kita, sebagai customer, dari sebelumnya “penumpang” menjadi “pelanggan”.

    Buat saya ini tidak hanya sekadar mengubah penyebutan nama, melainkan merasa PT KAI sedang berusaha mengubah mindset perusahaan supaya lebih customer oriented.

    Sebagai orang yang berasal dari keluarga KAI, saya mengalami banyak transformasi layanan kereta api menuju arah yang lebih baik. Pelanggan seperti saya semakin merasa dihargai, diperhatikan, dan juga dimanusiakan.

    Saya sadar perubahan ini akan juga meningkatkan harga tiket, namun entah kenapa saya lebih rela membayar harga kereta dengan berbagai fasilitas dan kepastian perjalanannya.

  • Puasa dan Olahraga

    Hari ini adalah percobaan pertama saya untuk tetap latihan ngegym pada sore hari. Saya sengaja untuk meminta personal trainer untuk mengganti jadwalnya menjadi jam 17:00, jadi latihannya satu jam sebelum waktu berbuka puasa.

    Sewaktu di Jogja, saya sering gowes di sore hari menjelang waktu berbuka, ngabuburit lah. Waktu itu rasanya baik-baik saja karena gowes itu bisa bikin seneng dan waktu jadi terasa lebih cepat.

    Jadi saya anggap latihan di gym akan sama saja.

    Itu yang saya pikir.

    Ternyata, sangat berbeda. Rasanya latihan di gym memiliki dampak yang lebih banyak karena personal trainer akan menyesuaikan menu latihannya dan menjaga supaya tubuh tetap fit setelah berbuka puasa.

    Latihannya masih sama, hanya jumlah beban yang dikurangi supaya repetisi tetap terjaga. Hasilnya, otot yang terlatih juga tetap konsisten namun tidak sampai bikin kliyengan.

    Puasa dan Olahraga
    Screenshot