Category: Tulisan

  • Nonton Ghost In The Cell

    Joko Anwar merilis film baru berjudul Ghost In The Cell, berdasarkan review yang baca dan cerita dari teman-teman, mereka sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton.

    Apalagi buat saya yang suka genre gore ini haha.

    Kebetulan hari Sabtu ini cukup cerah, jadi saya memutuskan untuk datang ke CGV FX Sudirman sekaligus untuk memenuhi rasa penasarana dimana lokasi bioskop ini berada. Beberapa kali menginap di hotel yang ada di FX ini tapi kok belum pernah ketemu bioskopnya.

    Ternyata ada di lantai paling atas, agak tricky buat nemu eskalator menuju ke atas itu haha.

    Nonton Ghost In The Cell

    Anyway, akhirnya saya menonton dan menurut saya.

    FILM INI BAGUS!

    Ini bukan film hantu-hantuan biasa, tapi lebih memiliki nuansa baru yang mengingatkan saya kepada beberapa film Holywood yang memang lebih cenderung menggambarkan sosok hantu itu lebih ke sisi psikologi.

    Memang sih akan ada wujud yang seperti di cover filmnya, tapi itu adalah bagian dari pesan film yang cukup dalam. Aming benar-benar bertransformasi menjadi karakter yang berbeda, aku ngefans sama karakter Tokek disini.

    Saya sangat menikmati film ini sampai tidak terasa filmnya sudah berakhir. Salut dengan Joko Anwar yang sudah membuat film Ghost In The Cell ini.

  • Tempat Tinggal dan Lingkungannya

    Saya teringat dengan obrolan ringan beberapa waktu lalu, mengenai sulitnya mencari tempat tinggal yang layak untuk keluarga. Dulu ketika masih bujangan, rasanya kita lebih mudah mendapatkan tempat tinggal.

    Syaratnya simpel, yang penting murah.

    Sekarang, ketika sudah berkeluarga, faktor murah tidak bisa lagi menjadi ukuran. Ada banyak faktor baru yang akan menentukan lokasi tempat tinggal itu menjadi jauh lebih rumit.

    Saya sangat paham dengan hal ini, karena saya pernah berada di posisi itu dan sangat mengerti kesulitannya.

    Bagaimana solusinya? tidak ada.

    Saya percaya bahwa setiap orang akan diberkahi dengan priviledge-nya sendiri dan sesuatu yang bisa dia kontrol.

    Lingkungan adalah sesuatu yang tidak bisa kontrol, namun penentuan lokasi itu masih berada di dalam kontrol kita.

    Jadi, fokus dengan yang bisa kontrol saja.

    Kira-kira apa hal yang bisa dikorbankan atau diprioritaskan untuk bisa memenuhi syarat-syarat minimal yang sudah kita tentukan.

    Jarak? Lokasi? Fasum? Akses transportasi? Harga?

    Pasti akan ada hal yang harus dipilih, dan semua itu masih berada dalam kontrol kita. Jadi, buat pejuang pencari tempat tinggal, tetap bersabar ya.

    Lingkungan yang baik adalah idaman semua orang, jika memang kita sudah masuk ke lingkungan itu, maka memang kita layak disana. Sebab, lingkungan itu berisi kumpulan orang yang beraneka-ragam, tapi pasti mereka memiliki kesamaan yang sama.

  • Lelaki Jarang Mengeluh

    Mengeluh atau sambat dalam bahasa Jawa adalah sebuah kegiatan ketika seseorang sedang merasa di situasi tidak berjalan sesuai dengan keinginan.

    Kenapa laki-laki jarang mengeluh? karena memang masyarakat tidak memberi ruang kepada laki-laki untuk melakukannya. Setidaknya ini yang saya rasakan ketika sedang berproses menjadi dewasa.

    Perbedaan antara pemuda tanggung dan pria dewasa, menurut saya adalah seberapa sering dia mengeluh di kesehariannya. Umur hanyalah angka, namun cara berpikir itu nyata.

    Fokus pada sesuatu yang bisa dikontrol, ini adalah pesan terbaik yang saya dapatkan. Sebuah tindakan nyata yang dapat mempengaruhi keputusan-keputusan berikutnya.

    Laki-laki akan sering membuat keputusan, dimana semua itu akan berujung pada dua hal: Berhasil atau Gagal.

    Jika berhasil, maka selamat kamu berhasil, yay!.

    Bagaimana jika tidak berhasil?

    Ternyata tidak semua orang mampu untuk menghadapi kegagalan, sehingga respon asli seseorang, terutama laki-laki akan terlihat disini.

    Apakah dia akan marah? mengeluh? sedih? diam?

    Semuanya benar dan itu wajar.

    Tapi berapa lama? itu yang menjadi pembeda.

    Lelaki sejati tidak akan membiarkan dirinya larut dalam semua itu, dia akan segera berusaha bangkit dan memikirkan strategi baru untuk membuat keputusan baru.

    Menyalahkan keadaan tidak akan menyelesaikan masalah, namun keputusan baru yang kita hasilkan bisa jadi akan membuat perbedaan.

  • Membantu Orang, Bukan Mengubahnya

    Pernah nggak ketika kita sedang merasakan manfaat positif dari suatu kegiatan yang diikuti, kemudian ingin mengajak orang terdekat untuk mengikutinya juga, dengan harapan dia akan merasakan manfaat positif itu juga.

    Bagaimana hasilnya? apakah berhasil?

    Saya jamin 99% tidak akan berjalan sesuai dengan keinginan.

    Kenapa?

    Karena yang kita coba lakukan adalah mencoba mengubah seseorang menjadi versi yang kita inginkan.

    Padahal, semua orang sudah punya kebiasaannya sendiri, punya kehidupan versi terbaik yang sudah dia jalani, bahkan mungkin sudah punya rencana yang akan dia mulai.

    Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

    Berikan insight secukupnya, tunjukkan bahwa itu sesuatu yang menarik, tapi jangan berharap dia akan mengikutinya. Biarkan dia yang memutuskan apakah mau ikut atau hanya sekadar mendengarkan ceritamu saja.

  • R.A. Kartini: Ikon “Overthinking” yang Mengubah Sejarah Indonesia

    Pernahkah kamu terjaga tengah malam, cemas memikirkan masa depan? Jika iya, kamu sedang merasakan apa yang dialami Raden Ajeng Kartini ratusan tahun lalu. Ya, dia adalah seorang overthinker tingkat tinggi. Bedanya, overthinking-nya Kartini tidak berakhir jadi mental breakdown, melainkan sebuah revolusi.

    Bayangkan, di usia 12 tahun, Kartini harus dipingit. Ruang geraknya dikunci oleh adat feodal. Namun, otaknya menolak dipenjara. Lewat buku dan koran Barat, ia melihat dunia luar bergerak maju, sementara perempuan di sekitarnya hanya disiapkan untuk menikah dan dipoligami tanpa hak suara.

    Ia tidak sekadar mengeluh, tapi mencari solusi. Dari rahim overthinking inilah lahir kesimpulan visioner: Perempuan wajib berpendidikan tinggi agar bisa mandiri. Tanpa isi kepala yang “berisik” itu, mahakarya “Habis Gelap Terbitlah Terang” tidak akan pernah ada.

    Namun jika Kartini hidup di era digital sekarang, ia mungkin akan terkejut melihat bagaimana kebebasan yang ia perjuangkan disalahgunakan. Hari ini, banyak wanita muda terjebak dalam budaya instant gratification, ingin serba cepat, termasuk dalam hal mencari kekayaan.

    Alih-alih menggunakan akses pendidikan untuk membangun kapasitas diri, sebagian justru memilih jalan pintas demi validasi media sosial. Fenomena flexing, ketergantungan pada sugar daddy, hingga mengeksploitasi diri demi uang cepat di internet menjadi potret buram modernitas.

    Ini adalah antitesis dari perjuangan Kartini. Kartini mendambakan perempuan yang dihormati karena isi kepala dan kemandirian budinya, bukan perempuan yang menjual harga diri demi kepuasan materi sesaat.

    Mempunyai banyak pikiran dan kecemasan itu wajar. Namun, Kartini memberi teladan bahwa kegelisahan harus diubah menjadi karya dan kontribusi, bukan sekadar gaya hidup hedonis yang instan.

  • Belajar Mengendalikan Keinginan Untuk Eksistensi

    Saya salut dengan ucapan dari dr. Tirta di beberapa podcast yang dia menyadari bahwa versi dirinya pada saat era Covid dan berambut merah adalah versi dr. Tirta yang dia tidak sukai. Itu adalah versi dirinya yang suka membahas apapun dan siapapun sampai dia memiliki banyak haters.

    Ini mengingatkan saya bertahun-tahun yang lalu, saya juga pernah berada di versi itu. Merasa paling tau karena kebetulan punya akses Internet, bisa menjawab semua pertanyaan karena punya akses ke berbagai literatur bacaan, dan mengetahui karakteristik orang karena sering ngobrol dengan berbagai macam orang.

    Akibatnya, kadang saya merasa ide saya itu harus paling benar dan tidak boleh dibantah. Karena jika tidak, maka saya bisa menjamin bahwa opsi selain yang saya pikirkan itu bakalan salah dan nanti tanggung sendiri akibatnya.

    Betapa suram karakter saya waktu itu.

    Sekarang, mungkin karena bertambah umur dan semakin sering ketemu orang yang lebih pinter, saya berusaha untuk mengerem semua tindakan dan pikiran supaya nggak langsung meluncur lewat omongan.

    Mulut itu sangat berbahaya jika tidak ada yang jaga.

  • Bergaul Dengan Kelompok Tapi Jangan Pura-Pura Supaya Diterima

    Bertahun-tahun yang lalu ketika saya masih terlihat muda, saya terbiasa main ke beberapa grup pertemanan yang masing-masing grup ini memiliki kebiasaan dan topik yang berbeda.

    Semua ini saya lakukan secara natural saja, karena saya merasa yang mereka lakukan itu menarik jadinya ikut ngumpul dan mencoba memahami apa yang membuat mereka suka.

    Meskipun pada akhirnya tidak semua kesukaan grup itu cocok, namun saya menyukai aura ketika mereka sedang membahasnya. Saya juga jujur ketika saya nggak tertarik dengan yang mereka kerjakan tapi saya suka berada disana.

    Ternyata mereka tidak mengusir dan justru malah sering mengundang untuk terus datang.

    Pernah di suatu masa, saya sering nongkrong di sebuah bengkel motor sepulang sekolah. Soalnya di jaman itu bisa ngerti motor itu akan dianggap keren, jadilah saya menghabiskan waktu sore untuk berada disana, ngobrol dengan temen-temen yang memang hobi utak-atik motor, melihat mereka mencari kerusakan sampai akhirnya mesin bisa menyala kembali.

    Apakah sekarang jadi suka utak-atik motor? Tentunya tidak. Buat saya motor masih sebatas alat transportasi saja, bahkan sekarang saya nggak punya sepeda motor haha.

    Tapi berkat ngobrol dengan mereka, saya jadi suka merakit sepeda, lebih sabar ketika ketemu masalah, dan yakin bahwa semua masalah itu pasti ada solusinya meskipun perlu waktu.

  • Terkadang Kegagalan Berasal dari Keinginan Terlalu Ingin Menang

    Pernahkah mengalami kegagalan? Pastinya pernah ya. Menurut Murphy Law, ketika kita terlalu memiliki keinginan untuk selalu menang, maka biasanya yang akan didapatkan malah sebuah kegagalan.

    Sedangkan ketika memutuskan untuk tidak berebut, maka keinginan itu akan lebih mudah tercapai. Sebab, karena memutuskan tidak berebut jadinya tidak ada yang bisa merebutnya.

    Menarik, karena setiap hari itu kita akan dihadapkan dengan berbagai macam pilihan keputusan, baik yang skala kecil ataupun besar. Semuanya akan berujung ke 2 hal, berhasil atau gagal.

    Contoh yang simpel, misalnya keinginan untuk mendapatkan tempat di MRT. Jika dari awal sudah berencana bahwa hari ini harus bisa naik MRT di jam tertentu maka alam bawah sadar kita akan membuat kita berangkat ke stasiun lebih awal supaya bisa memiliki peluang lebih untuk mendapatkannya.

    Ini wajar dilakukan.

    Namun, jika keinginannya bertambah, misalnya selain bisa berangkat di jam tertentu namun juga ingin bisa dapat tempat duduk. Maka disinilah semuanya berubah, karena ada tambahan keinginan yang membuat tubuh menjadi lebih tegang meskipun MRT sudah ada di depan mata.

    Akibatnya masuk menjadi berebut, tidak sabar, bahkan bisa berpotensi melukai orang lain. Namun pada akhirnya, tempat duduk yang diincar seringnya tidak didapatkan.

    Terkadang, ketika kita melepaskan diri dari kegiatan berebutan, justru malah kita bisa mendapatkannya.

  • Full Body Workout Untuk Recovery

    Sudah beberapa kali sesi latihan ini personal training saya memberikan menu full body workout. Enak sih, karena biasanya menunya nggak terlalu berat dan bebannya merata ke seluruh tubuh.

    Berbeda dengan misal Leg Day yang akan fokus ke bagian kaki, atau Chest & Back day yang fokus ke tubuh bagian atas. Latihan full body workout akan merata ke hampir semua bagian tubuh. Ya upper body, leg, core, hingga cardio.

    Saya tanya alasannya apa?

    “Karena bapak sering izin latihan”

    Wkwkwk.. iya juga ya, selama sebulan terakhir ini saya ternyata sering izin libur latihan karena mudik dan hal lain. Akibatnya program yang disusun jadi berubah karena pastikan badan saya akan ngedrop karena inkonsistensi.

    Tapi memang terasa ketika skip latihan seminggu aja, PR akan turun drastis dan perlu waktu lebih panjang ketika rest.