Category: Tulisan

  • Tetap Fit Setelah Outing

    Hari ini saya sudah masuk kantor lagi setelah kemarin seharian ikut acara outing kantor. Apa yang spesial? Bukannya itu hal biasa?

    Iya, jika ini 20 tahun yang lalu.

    Sekarang, dengan usia sudah 40-an, saya cukup bangga ketika kemarin ikut outing dengan cukup berkontribusi di tim, namun kendala yang dirasakan hanya kulit gosong aja.

    Tidak ada rasa nyeri habis aktivitas di luar, kaki dan punggung cukup aman untuk bangun tadi pagi dan berangkat ke kantor.

    Setahun ngegym ini ada manfaatnya juga.

  • Berwarga Outdoor ke Sentul

    Hari ini saya ikut acara outing kantor ke Sentul. Berangkat dari kantor jam 8 pagi naik bis dan kembali 12 jam kemudian.

    Gimana rasanya? seru! Sudah lama sejak pandemi tidak pernah ikut acara beginian, meskipun awalnya agak skeptis dengan konsep acaranya, tapi ternyata vendor yang mengatur acara cukup bisa memberikan eksekusi yang bagus.

    Rasanya menyenangkan sehari ini bisa kena sinar matahari seharian, meskipun efeknya kulit jadi gosong wkwkwk

    Berwarga Outdoor ke Sentul
  • Rendahnya Karakter Terduga Pelaku Pelecehan Seksual di FH UI

    Abrahan Lincoln pernah mengatakan “Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power.”

    Saya kurang mengikuti kasusnya, namun ada hal menarik yang saya dapatkan mengenai beberapa dari mereka merasa kebal hukum karena memiliki pengaruh di kampus. Informasi awal mengatakan para terduga pelaku ini memang memiliki posisi dan/atau jabatan di kampus.

    1. Topeng Karakter. Di depan umum, para pelaku mungkin terlihat seperti mahasiswa berprestasi, pemimpin organisasi, atau sosok yang mengerti hukum. Namun, saat memegang kendali di grup internal atau merasa punya pengaruh sebagai “ketua”, karakter asli yang toksik justru keluar.
    2. Rasa Kebal. Kekuasaan sering kali membuat seseorang merasa “di atas hukum”. Dalam isi chat yang bocor, terlihat mereka merasa aman melecehkan orang lain karena merasa posisi mereka di kampus cukup kuat untuk melindungi diri dari sanksi.
    3. Penyalahgunaan Kepercayaan. Jabatan yang seharusnya digunakan untuk mengayomi sesama mahasiswa justru dijadikan alat untuk merasa lebih superior dan merendahkan orang lain yang dianggap lebih lemah.

    Hampir semua orang bisa tahan menghadapi kesulitan, tapi jika ingin menguji karakter asli seseorang, beri dia kekuasaan.

    Hari ini, mereka membuktikan bahwa karakter mereka lemah.

  • Memang Kenapa Kalau Tinggal di Kosan?

    Setiap kali bertemu dengan orang yang tidak begitu mengenal saya dan kemudian tau jika sekarang saya tinggal di Jakarta, pertanyaan mereka selalu: “rumah sendiri atau ngontrak?”

    Ketika saya jawab bahwa kami jadi anak kos, mereka kaget dan mulai membandingkan ini-itu dan berubah menjadi ahli finansial dan investor.

    Saya sudah pernah menulis tentang topik ini tapi sepertinya memang bahasan mengenai tempat tinggal itu nggak ada habisnya ya?

    Tinggal di Jakarta dan Jogja memang seperti dua sisi koin, semuanya akan sangat bisa dibandingkan. Jika masing-masing hanya berpegang pada kondisi dimana dia tinggal saja, maka membandingkan pilihan orang lain yang kebetulan hidup di dua tempat sepertinya kurang bijak.

    “Enak tinggal di Jogja atau Jakarta?”

    Dulu saya pasti akan bilang dengan yakin, tinggal di Jogja itu enak. Tapi sekarang, saya jadi kurang yakin.

    Jakarta menawarkan akses, Jogja menawarkan kenyamanan. Semuanya kondisinya kebalikan. Saya juga menghindari topik berapa harga sewa kosan di Jakarta karena pasti nanti akan langsung dibandingkan dengan strategi kepemilikan rumah. Kami punya rumah di Jogja jadi merasa belum perlu untuk menambah rumah lagi di Jakarta.

    Saya memilih untuk tinggal di kosan karena ini adalah pilihan terbaik untuk sekarang. Lokasi dekat ke kantor, akses transum gampang, pilihan makanan beragam, gampang untuk belanja bulanan, lingkungan aman dan nyaman.

    Seandainya saya punya kesempatan pun, jika memungkinkan saya akan pindah kosan ke apartemen yang satu area dengan kantor. Waktu itu sempat cek-cek harganya, tapi mundur teratur setelah tau menyentuh $1000/bulan wkwkwk.

  • WFH untuk ASN

    Hari Jumat ini katanya adalah hari pertama penerapan kebijakan WFH untuk ASN dan turunannya. Saya tidak mau mengomentari kebijakannya tapi lebih ke manfaatnya.

    Apakah ada? Tentu saja.

    MRT hari ini jadi lebih lengang daripada biasanya.

  • Teh Tjap Botol Slawi

    Hari ini saya sudah di Jakarta lagi setelah semalam melakukan perjalanan naik kereta malam. Sudah lama saya tidak melakukan perjalanan malam apalagi yang kemudian besok paginya sudah harus ngantor.

    Ternyata saya menua, gampang kedinginan wkwkwk.

    Saat di kereta, saya ditawari minuman hangat oleh mba Prami yang bertugas, jadilah saya memilih teh hangat supaya nggak kedinginan dan bisa tidur.

    Mungkin yang pernah pesan teh panas di perjalanan kereta itu tau kalau rasa tehnya enak, dan beneran enak. Rupanya ini merupaka teh Slawi dengan merk Teh Tjap Botol.

    Cari-cari di Shopee akhirnya nemu juga dan hari ini sudah datang ke kosan. Ahay, bisa buat ngeteh kala sore.

    Teh Tjap Botol Slawi
  • Meningkatkan Bus Factor (Bus Count) Untuk Keamanan Sistem

    Tiba-tiba teringat dengan kutipan CTO saya tentang istilah Bus Count ini di suatu standup engineering, dia menjelaskan bagaimana sebuah tim itu tidak boleh mengandalkan satu orang untuk mengerjakan sesuatu (single point of failure).

    Tim yang sehat adalah ketika membernya mau cuti, maka ada yang bisa menggantikan pekerjaannya. Pekerjaan tetap bisa berjalan dengan baik meskipun orang yang biasa mengerjakannya sedang tidak berada di tempat.

    Bus Count adalah istilah dimana berapa orang di dalam tim yang harus “menghilang” sampai kemudian tim atau sistem itu tidak bisa berjalan lagi?

    Jika kita hanya mengandalkan 1 orang saja, maka Bus Count bernilai hanya 1. Artinya, jika orang itu hilang maka timnya bisa bubar.

    Idealnya, sebagai manajer yang baik itu berusaha untuk meningkatkan jumlah bus count ini setinggi-tingginya, akan sangat bagus jika jumlahnya bisa mendekati jumlah member di tim itu sendiri, artinya timnya sehat karena bisa saling backup.

    Makanya, saya tidak terpukau dengan cerita seseorang yang mengatakan dialah pemegang kunci sistem perusahaannya. Ada 2 hal yang menjadi pikiran saya, antara timnya kureng atau dia yang bermasalah.

  • Manfaat Foto-Foto?

    Kami kebetulan tidak begitu suka difoto, jadi ketika melihat ada rombongan yang sedang foto-foto biasanya kami otomatis akan menghindar dan/atau menolak ketika diajak bergabung.

    Siang ini ketika kami sedang menikmati makan siang di suatu restoran di Jogja, kebetulan ada serombongan geng boomers yang baru selesai makan dan bersiap untuk pulang.

    Namun, entah kenapa mereka asik mengobrol di dekat meja kami sambil berdiri dan sampai saya cukup tau apa topik pembicaraannya.

    Pertama, itu suatu kebodohan. Saya tidak peduli berapa umur kalian sekarang, tapi seharusnya kalian cukup umur untuk tau bahwa berdiri di dekat meja makan seseorang itu tidak sopan. Apalagi dilakukan oleh generasi yang sudah punya cucu.

    Kedua, kalian mau foto-foto. Saya hampir berdiri namun istri saya ngasih kode untuk sedikit sabar.

    Padahal, saya sudah mau rangkul mereka dan ngajak foto bersama.

  • Kereta Yang Tepat Waktu

    Hari Minggu ini kami secara mendadak harus pulang ke Jogja karena ada suatu hal yang harus dilakukan di hari Seninnya. Saya langsung memilih menggunakan kereta api untuk moda transportasinya, kenapa? karena tepat waktu.

    Kami harus ada di Jogja pada hari Senin pagi, jadi satu-satunya cara adalah pulang di hari Minggu jam berapapun itu. Berhubung hari Minggu adalah waktu CFD (Car Free Day), maka tidak mungkin berangkat ke Gambir pada pagi hari, eh lebih tepatnya karena belum tau triknya sih.

    Naik pesawat? hmm.. sori nggak dulu.

    Saya pikir tiket kereta ke arah Jogja untuk hari Minggu itu bakalan sepi karena biasanya yang ramai adalah arah sebaliknya. Ternyata saya keliru, semuanya penuh! hahaha.

    Akhirnya kami dapat tiket Taksaka Luxury jam 14:00 yang akan sampai di Jogja jam 20:10.

    Disinilah saya bersyukur naik kereta api, kenapa? karena tepat waktu.

    Saran sebagai warlok Jogja yang sering naik kereta, buat kalian yang mau trip ke Jogja naik kereta, pastikan sebelum berangkat itu melakukan order taksi online dulu. Saya biasanya memanfaatkan Grab Booking Advance untuk memesan taksi, nanti tinggal masukin jam berapa mau dijemput.

    Karena ketepatan waktu kereta api inilah saya selalu yakin bahwa jam yang saya input akan pas, apalagi estimasi kedatangan saya jam 20:10 itu termasuk kondisi dimana Stasiun Tugu Yogyakarta sedang ramai-ramainya.

    Singkat cerita, saya sudah masuk ke Grab di jam 20:25 karena nunggu mobil Grab antri ke area penjemputan dan sudah sampai rumah sekitar jam 21:00.

    Saya suka ketika rencana berjalan dengan baik.