Author: Mohammad Sani Suprayogi

  • Hujan Setiap Pagi

    Sudah hampir seminggu ini hujan turun di setiap pagi, situasinya jadi cukup menantang karena saya masih perlu jalan kaki menuju ke Stasiun MRT Blok A untuk menuju ke kantor.

    Saya sudah sedia payung sih, tapi masalahnya itu tiupan angin sudah mengorbankan 3 payung lipat sejak awal tahun. Ini sedang menunggu kedatangan 1 payung baru setelah tadi pagi sukses rangka payungnya patah akibat angin kencang ketika menyeberang dari Plaza Senayan ke Senayan City.

    Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ini akibat Fenomena La Niña di Indonesia yang dikatakan sudah berakhir sejak akhir Februari 2026 lalu. Tapi sejauh yang saya rasakan justru intensitas hujan di awal Maret ini cukup sering ya?

    Mitosnya, jika hujan turun di saat Tahun Baru Imlek itu akan mendatangkan keberkahan selama setahun ke depan. Saya tidak punya komentar mengenai hal ini, yang jelas dengan informasi berakhirnya musim hujan yang panjang ini maka kita perlu persiapan menghadapi musim kemarau yang tidak kalah panjang.

    Persiapkan diri dan jaga kesehatan ya

  • Relief of Missing Out (ROMO)

    Istilah menarik yang dipopulerkan oleh aktor Cillian Murphy yang menggambarkan kelegaan karena tidak terlibat dalam suatu kegiatan atau proyek.

    Berkebalikan dengan Fear of Missing Out (FOMO), ROMO ini merupakan obat atau peredam rasa yang membuat seseorang menjadi lebih tenang dan mengontrol situasi di sekelilingnya.

    Para ahli kesehatan mental mencatat bahwa ROMO adalah cara yang sehat untuk membingkai ulang rasa cemas karena melewatkan sesuatu menjadi sebuah bentuk perawatan diri dan ketenangan.

    Mengimplementasikan ROMO ini sejalan dengan prinsip Stoikisime, karena kita akan mengubah sudut pandang dari rasa takut tertinggal menjadi rasa syukur atas ketenangan yang didapat.

    Bagaimana langkah praktis untuk menerapkannya? Saya rasa ada beberapa hal yang bisa kita mulai coba lakukan.

    • Kurangi paparan informasi digital. Ponsel kita itu memang menawarkan banyak sekali informasi, terutama jika sudah menginstall berbagai platform social media. Tanpa sadar ponsel yang tadinya dibuat untuk sarana komunikasi sudah berubah menjadi pusat segala informasi. Ini melelahkan.
    • Berani untuk bilang tidak. Ini adalah kemampuan yang perlu diasah, sebab kita terbiasa untuk mengikuti dan menuruti kehendak peer di dalam lingkungan. Jika memang merasa kurang nyaman dan/atau ada keinginan tertentu yang berlawanan dengan ajakan itu, cobalah untuk mulai menolaknya.
    • Nikmati peran sebagai penonton. Sadari bahwa kita tidak selalu menjadi pemeran utamanya. Jika semua orang ingin pegang peran utama, maka siapa penontonya? Cobalah sekali-kali berperan menjadi penonton.
    • Prioritaskan hobi. Ketika kita fokus dengan apa yang kita sukai, kita akan tumbuh menjadi orang yang lebih baik.

    Jadi, kita memang perlu memiliki waktu untuk diri sendiri.

  • Logika vs Intuisi di Dunia Kerja

    Selama 20 tahun berkarir, ada satu pelajaran mahal yang benar-benar saya pahami sekarang, yaitu Kesuksesan terletak pada keseimbangan antara Kuantitatif dan Kualitatif.

    Bagi teman-teman yang baru saja memulai langkah di dunia kerja, selamat datang. Anda masuk di era dimana informasi yang melimpah, namun kebijaksanaan untuk mengolahnya tetaplah langka.

    Sisi Kuantitatif adalah kompas Anda. Data angka adalah jangkar objektivitas, sebab di dunia kerja Anda akan bertemu dengan KPI, target, dan metrik.

    Kenapa? KPI, target, dan metrik akan menghindarkan Anda dari perasaan “sudah kerja keras” padahal belum ada dampak nyata.

    Saran: Jangan alergi pada data. Angka adalah bahasa yang akan membantu Anda untuk meyakinkan atasan atau klien tanpa perlu berdebat panjang.

    Sisi Kualitatif adalah jiwa dari pekerjaan Anda. Meskipun angka bisa menunjukkan apa yang terjadi, namun jarang bisa untuk menjelaskan mengapa itu bisa terjadi. Disinilah aspek kualitatif, seperti observasi, empati, dan komunikasi menjadi krusial.

    Kenapa? Membantu memahami konteks manusia (humanis) di balik angka. Misalnya bulan ini penjualan Anda sedang turun, ini tidak selalu diakibatkan karena pekerjaan Anda yang buruk, namun bisa jadi karena dinamika pasar yang sedang berubah atau perilaku konsumen yang bergeser secara emosional.

    Saran: Luangkan waktu untuk mendengar. Jangan hanya melihat laporan, tapi amati bagaimana orang bereaksi terhadap pekerjaan Anda.

    Jika saya bisa kembali ke 20 tahun yang lalu, saya akan bilang ke saya di versi itu untuk selalu bertanya dua arah.

    1. Saat melihat angka bagus, “mengapa ini bisa terjadi? apa cerita manusia di baliknya?“
    2. Saat mendengar ide bagus, “bagaimana cara mengukur keberhasilannya nanti?“

    Menguasai keduanya akan membuat Anda menjadi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara logika, tapi juga kuat secara intuisi. Jangan menunggu puluhan tahun untuk menyadari bahwa angka dan rasa adalah dua sisi dari koin yang sama.

  • Berhenti Terjebak Nostalgia: Saatnya Islam Memeluk Logika

    Menurut keyakinan saya, selama bertahun-tahun, kita terjebak dalam rutinitas yang sama: menunggu sidang isbat, menatap langit mencari sabit tipis, dan berdebat tentang derajat ketinggian bulan. Di satu sisi, kita bangga mengklaim bahwa Islam adalah agama yang melintasi zaman. Namun di sisi lain, kita seolah enggan berjalan seiring dengan waktu itu sendiri.

    Kenapa kita masih begitu tergantung pada pengamatan manual (rukyat) untuk memulai puasa, sementara untuk Tahun Baru Hijriah kita cukup percaya pada kalender di dinding?

    Masih menurut keyakinan saya, masalah utama kita adalah ketidakmampuan membedakan antara alat dan tujuan. Di zaman Nabi, melihat langsung (rukyat) adalah satu-satunya alat yang tersedia dan paling akurat. Hari ini, sains dan matematika menawarkan presisi yang jauh melampaui mata manusia.

    Memaksakan metode manual di era astronomi modern bukan lagi bentuk ketaatan, melainkan bentuk ketertinggalan. Islam didesain untuk menjadi agama yang dewasa dan rasional. Namun, keengganan kita meninggalkan tradisi manual demi kepastian matematika menunjukkan bahwa kita mungkin belum cukup dewasa untuk mempercayai nalar kita sendiri.

    Kita sering menghibur diri dengan nama-nama besar seperti Al-Khawarizmi atau Ibnu Sina untuk membuktikan bahwa Islam pernah menguasai sains. Namun, itu hanyalah nostalgia. Kenyataannya, hari ini kita lebih suka menghafal dalil daripada mengasah logika matematika.

    Jika kita benar-benar ingin menghormati warisan para ilmuwan muslim terdahulu, cara terbaiknya bukan dengan menghafal nama mereka saja, namun juga dengan menggunakan ilmu mereka (hisab) untuk menata sistem hidup kita sekarang.

    Mungkin terdengar radikal, tapi sudah saatnya kita mempertanyakan urgensi Sidang Isbat. Jika perhitungan matematika sudah bisa menentukan posisi bulan hingga ratusan tahun ke depan secara presisi, buat apa lagi kita membuang energi dan anggaran untuk seremoni yang sebenarnya sudah memiliki jawaban pasti?

    Kita butuh perubahan paradigma di tingkat akar rumput:

    1. Perkuat Logika di Atas Hafalan: Pendidikan kita harus tidak hanya mencetak penghafal, namun mulai mencetak pemikir yang paham pola sistematis dunia.
    2. Berani Mengikuti Zaman: Islam tidak akan menjadi modern hanya karena penganutnya menggunakan smartphone. Islam menjadi modern jika cara berpikir penganutnya mampu melampaui batasan tradisi yang sudah tidak relevan.

    Sudah saatnya kita berhenti menoleh ke belakang dan mulai melihat ke depan. Agama yang melintasi zaman hanya bisa relevan jika ia berani berjalan di depan zaman, bukan merangkak di belakangnya sambil memeluk masa lalu.

  • Tragedi Mentalitas dan Kelas Menengah yang Terjepit

    Pernah nggak melihat tetangga yang rumahnya berkeramik, motornya terbaru, tapi namanya nangkring manis di daftar penerima Bansos? Sementara di sisi lain, ada karyawan kantoran yang terlihat “necis” tapi kepalanya pusing tujuh keliling memikirkan cicilan dan harga beras yang melonjak, tanpa pernah tersentuh bantuan pemerintah sepeser pun.

    Inilah potret ironis di negeri kita: Kompetisi Menjadi Miskin.

    Sebagian masyarakat kita memiliki kemampuan akting yang luar biasa. Di hadapan Tuhan, mereka berdoa meminta kekayaan tujuh turunan. Namun, begitu ada pendataan dari petugas kelurahan atau kementerian, tiba-tiba mereka bertransformasi menjadi “kaum dhuafa”.

    Mereka rela menyembunyikan aset, memanipulasi data penghasilan, bahkan mengaku tidak mampu hanya demi mendapatkan bantuan yang sejatinya adalah hak orang yang makan pun susah.

    Fenomena “Miskin di Data, Kaya di Nyata” ini bukan sekadar masalah administrasi, tapi masalah krisis moral dan mentalitas.

    Di tengah “drama” mereka yang berebut bansos, ada kelompok yang paling menderita: Kelas Menengah.

    Kelompok ini adalah mereka yang:

    • Terlalu kaya untuk dibantu: Gaji biasanya di atas UMR, jadi jangan harap dapat KIP Kuliah atau subsidi sembako.
    • Terlalu miskin untuk merasa aman: Begitu inflasi naik, tabungan langsung ludes. Mereka adalah “Generasi Sandwich” yang membayar pajak paling patuh, tapi mendapatkan perlindungan sosial paling minim.

    Ketika orang yang mampu mengambil jatah bansos, mereka tidak hanya mencuri uang negara, tapi mereka merampas hak hidup warga miskin ekstrem. Setiap liter minyak goreng subsidi atau setiap rupiah bantuan tunai yang salah sasaran adalah satu kesempatan yang hilang bagi anak-anak kurang mampu untuk mendapatkan gizi yang layak.

    Kekayaan yang berkah tidak datang dari memanipulasi keadaan. Jika kita mampu, berilah ruang bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Untuk pemerintah, validasi data di lapangan harus lebih galak, jangan sampai verifikasi hanya formalitas di atas kertas, sementara realita di depan mata jelas berbeda.

  • Transportasi Umum Yang Ideal

    Untuk pertama kalinya, hari ini kami pergi ke Pondok Indah Mall menggunakan transportasi umum. Awalnya kami berencana menggunakan armada taksi, namun setelah melihat-lihat rute di Google Maps, sepertinya sangat memungkinkan untuk menuju kesana dengan kombinasi MRT dan Transjakarta.

    Benar saja, ternyata hanya perlu 30 menit dari Stasiun MRT Blok A sampai Halte Transjakarta Pondok Indah. Proses transit di Stasiun Lebak Bulus juga lancar, tinggal keluar ke pintu D yang langsung menghubungkan dengan halte. Apalagi disitu adalah halte keberangkatan jadi hampir bisa dipastikan dapat kursi.

    Ini adalah bentuk dari transportasi umum yang ideal, saya sebagai penumpang yang belum pernah menggunakan moda ini tidak mengalami kesulitan dan justru merasa nyaman.

    Setelah saya perhatikan, cukup 2 hal yang dibutuhkan untuk seseorang mau menggunakan transportasi umum.

    1. Kepastian waktu.
    2. Kemudahan akses.

    Jika fokus kepada 2 hal itu saja, maka dari sisi operasional akan berusaha mengikutinya kok.

    Kepastian Waktu: Misalnya punya SLA waktu tunggu 10 menit pasti bisa naik di setiap halte, maka apapun akan dilakukan supaya bisa mencapai itu, bisa dari menambah jumlah armada, memastikan kondisi armada bagus, dan mengoptimasi rute.

    Kemudahan Akses: Orang yang mau naik transum itu tidak boleh dipersulit aksesnya, misalnya lokasi pintu keluar/masuk, kemudahan transit, tersedia tangga/lift, hingga mesin tap yang responsif.

    Bagaimana sisanya? itu hanya kosmetik. Karena jika dua hal itu terpenuhi, maka otomatis sisanya juga akan mengikuti.

  • Ide Membangun Bisnis Baru

    Saya kepikiran topik ini ketika bengong di MRT, mengenai bagaimana caranya mendapatkan ide bisnis yang valid di tengah banyaknya pesaing yang selalu bermunculan. Saya tau membangun bisnis itu tidak mudah, saya cukup punya banyak pengalaman disana.

    Bagaimana jika, daripada berandai-andai, kita cukup fokus pada satu dari tujuh hal berikut. Coba temukan ide yang bisa memfasilitasi salah satu dari tujuh list ini.

    1. Kesombongan (Pride).
    2. Keserakahan (Greed).
    3. Hawa Nafsu (Lust).
    4. Kedengkian (Envy).
    5. Kerakusan (Gluttony).
    6. Kemarahan (Wrath).
    7. Kemalasan (Sloth).

    Ya, mungkin Anda tau apa arti dari tujuh list yang saya sebutkan itu. Mungkin kurang bijaksana, namun jika memang ingin mendapatkan ide bisnis yang memiliki market besar dan berpotensi bisa menyelesaikannya, maka silakan fokus kepada salah satu dari tujuh hal tersebut.

    Ini hanya ide, belum tentu dikerjakan dan tidak harus.

    1. Kesombongan: Aplikasi pelacakan penggunaan parfum. Pengguna bisa memamerkan koleksi dan jadwal penggunaan parfumnya.
    2. Keserakahan: Agregator pengembalian dana mikro. Layanan ini melacak dan mengumpulkan sisa kembalian uang digital kemudian memasukkan ke portofolio investasi.
    3. Hawa Nafsu: Platform penerbitan cerita fiksi interaktif. Penulis merilis adaptasi dongeng bergenre gelap dan pembaca memuaskan hasrat dengan mengendalikan alur cerita.
    4. Kedengkian: Aplikasi papan peringkat kesehatan. Pengguna membandingkan persentase lemak tubuh dan hasil program rekomposisi tubuh dengan orang lain.
    5. Kerakusan: Perangkat lunak mengunduh seluruh artikel dan video pilihan Anda menjadi umpan bergulir tanpa akhir untuk konsumsi informasi tanpa batas.
    6. Kemarahan: Platform memvalidasi kemarahan Anda terhadap suatu layanan dan menjual kumpulan data keluhan tersebut kepada perusahaan pesaing.
    7. Kemalasan: Layanan ringkasan video akademik. Sistem memotong video pengajaran menjadi catatan singkat bagi mahasiswa yang menghindari sesi kuliah penuh.

  • Kenyamanan Menurunkan Kewaspadaan

    Satu hal yang saya perhatikan selama berangkat-pulang naik MRT adalah mayoritas penumpangnya ketika naik ke kabin MRT, mereka langsung membuka ponsel dan memandanginya selama perjalanan.

    Sebagai catatan, saya tidak bermasalah dan tidak mengomentari kebiasaan itu. Pasti mereka punya alasannya sendiri kenapa melakukan itu, selama tidak mengganggu.

    Sayangnya, ada sebagian orang yang tidak sadar jika mereka mengganggu orang di sekitarnya. Saya yakin sih mereka tidak sengaja melakukannya, tapi bisa jadi selama ini tidak ada yang menegur jadi dianggap biasa aja.

    Siapa mereka?

    Penumpang yang fokus ke ponselnya tapi berdiri di dekat pintu keluar.

    Seringnya itu mereka terlalu asik sama ponselnya sehingga tidak sadar mereka menghalangi jalan orang yang mau keluar masuk. Jika disenggol biasanya mereka akan merasa terganggu dengan senggolan itu wkwkwk.

    Dulu saya agak segan ketika mau melewati mereka, sekarang? Saya nggak pakai permisi tapi langsung dorong supaya mereka sadar dan bukain jalan.

    Kenapa saya melakukan itu? Sebab saya tau, jika sedang fokus ke ponselnya, apalagi menggunakan earphone, maka dia tidak akan mendengar suara apapun selain yang ada di ponselnya. Teguran pelan tidak akan terdengar, jadilah dorong aja orangnya wkwkwk.

  • Mengoptimalkan Biaya Kubernetes

    Kubernetes yang saya maksud disini adalah GKE (Google Kubernetes Engine) ya, sebuah service dari Google Cloud yang memungkinkan kita untuk membangun infrastruktur cloud dengan orkestrasi Kubernetes pada backbone Google Cloud Platform.

    Kantor saya sudah mengimplementasikan Kubenernetes hampir 4 tahun terakhir, kurang lebih ketika saya pertama join kesini dan sering berinteraksi dengan DevOps. Tentunya saya sudah tidak lagi mengurus hal teknis, melainkan lebih ke bantu-bantu dan ngeliatin data billingnya aja.

    Nah, ketika layanan ini mulai kami pakai, saya lebih penasaran bagaimana cara mengukur apakah kami sudah menggunakan teknologi Kubernetes ini dengan optimal.

    Sebab dikatakan di luar sana, supaya infrastruktur kita lebih fleksibel dan tahan banting, gunakan aja Kubernetes, pasti mantap.

    Secara teknis memang benar, banyak sekali manfaat yang kami rasakan ketika sudah mengadopsi Kubernetes. Salah satunya adalah kami mulai terbiasa menggunakan metode IaC (Infrastructure as Code) untuk mengkonfigurasi node-node yang ada di dalammnya.

    Tapi apakah dari billing juga optimal? Bagaimana mengidentifikasinya?

    Triknya adalah, pelajari benar-benar GCP Billing Console dengan benar, terutama menu-menu filternya. Saya biasanya selain menggunakan dashboard tersebut juga menggunakan BigQuery untuk mengakses langsung datanya dan diolah di tempat lain, misalnya di Google Sheets.

    Saya akan cek Namespace yang bernama kube: unallocated. Jika nilainya semakin kecil, maka akan semakin optimal.

    kube: unallocated adalah kategori biaya dalam laporan GKE Cost Allocation yang menunjukkan kapasitas node yang sudah Anda bayar tetapi tidak digunakan oleh workload apa pun.

    Sederhananya, ini adalah “pemborosan” atau idle capacity di dalam cluster Anda.

    Dalam model penagihan GKE Standard, Anda membayar untuk seluruh VM (Node). Google kemudian mencoba membagi biaya VM tersebut ke setiap Namespace berdasarkan Resource Request (CPU/RAM yang dipesan oleh Pod).

    Idle Resources: Jika Anda memiliki Node dengan 16 vCPU, tetapi total request dari semua Pod hanya 10 vCPU, maka sisa 6 vCPU tersebut akan dicatat sebagai kube:unallocated.

    Pastikan selalu cek nilai namespace tersebut, usahakan nilainya semakin mengecil di setiap bulannya. Jika tidak mau repot maka bisa mempertimbangkan menggunakan GKE Autopilot.