Sepakbola Akan Selalu Ada di Indonesia

Semalam saya baca berita di Twitter bahwa FIFA akhirnya menjatuhkan sanksi kepada PSSI akibat adanya intervensi Pemerintah terhadap PSSI mengenai pelaksanaan liga di Indonesia. Jika orang yang mengikuti berita ini tidak lengkap, tentu akan dengan mudah langsung menyalahkan Pemerintah karena dianggap telah menghambat kemajuan persepakbolaan Indonesia. Tapi bagi saya, saya malah setuju ada sanksi dari FIFA, supaya media tertarik untuk membahas, kenapa kok sampai ada sanksi ini, siapa tau kemudian ada liputan investigasi di tubuh PSSI. Mumpung FIFA juga lagi bersih-bersih.

Sepakbola merupakan olahraga yang paling digemari di Indonesia. Sewaktu SMA, saya adalah pemain bola “professional”, saya kasih tanda petik karena bukan pemain resmi klub, tapi pemain yang siap main bila dibayar. Posisi saya bek kanan, cukup tangguh saat itu karena sering dipinjam sama kelas lain bila mereka sedang mengadakan taruhan antar kelas. Lumayan, bisa buat beli nasi padang.

Sebagai pemain bola “professional”,┬áselain menikmati permainan sepakbola tentu saya juga harus menambah skill supaya teknik bermain dan penguasaan lapangan jadi lebih baik. Saya rasa itulah yang dilakukan oleh semua pemain bola di Indonesia, termasuk semua pemain timnas. Mereka mengawali bermain bola di tingkat kampung, sekolah, dan klub. Mereka menempa dirinya untuk dapat bermain di┬álevel yang tinggi, bermain bola dengan hati, hingga bisa menampilkan permainan yang indah.

Sayangnya, apabila suatu bidang olahraga dicampuri oleh pihak-pihak yang berkepentingan maka bisa dipastikan cabang olahraga itu akan semakin merosot prestasinya. Sepakbola telah menjelma sebagai ladang bisnis yang menggiurkan, perputaran uang setiap musimnya fantastis. Akibatnya, muncul orang-orang yang mungkin sama sekali belum pernah nendang bola tapi ikut-ikutan ngurusi sepakbola. Ujungnya bisa ditebak, prestasi menurun, penyelenggaraan liga yang tidak konsisten, tapi pengurusnya tidak pernah berganti. Seorang kawan bilang, menurunkan ketua PSSI itu lebih sulit dibandingkan menurunkan Presiden.

Mudah-mudahan reformasi sepakbola juga dilakukan selain reformasi-reformasi lainnya di negeri ini.

Tinggalkan Balasan