Musibah dan Pendemo

Akhir-akhir ini, bencana datang seperti tidak ada hentinya. Musibah datang dari segala penjuru. Darat, laut, udara… semuanya “menghasilkan” bencana. Musibah yang datang pun seperti memutar-balikkan fakta, bahwa di suatu tempat yang dirasa aman, belum tentu aman. Bahkan bisa jadi tempat itu menjadi sumber bahaya yang sangat dahsyat.

Dari laut. 

Masih segar dalam ingatan, bencana terbakarnya kapal Levina I. Ditempat yang banyak air, ternyata tidak dapat mengalahkan kobaran api. Bahkan didalam kapal itu terdapat banyak penumpang, tapi tidak ada satupun gerakan untuk bersama-sama memadamkan api yang berkobar. Yang ada hanya berpikir untuk menyelamatkan diri.

Seandainya mereka bersama-sama untuk berpikir dan bekerjasama untuk memadamkan api, mungkin kebakaran itu bisa ditanggulangi dengan cepat. Dan kerugian bisa diminimalisir. Yah.. mungkin ini sifat dasar manusia yang ingin menang sendiri dan memikirkan diri sendiri. Kemudian ditambahkan kata-kata “PANIK” yang seakan-akan membuat mereka adalah pahlawan yang telah selamat dari medan perang.

Dari udara.

Saya rasa musibah dari udara nggak akan cepat dilupakan. Masih ingat dengan kasus Adam Air yang menghebohkan itu? yang sampai sekarang tubuh pesawat dan penumpangnya belom bisa diangkat dari dasar laut? Kemaren ditambah lagi dengan tumbangnya pesawat dari maskapai kebanggaa Indonesia.

Ya, selama ini GIA merupakan maskapai Indonesia yang melayani berbagai macam rute dalam negeri ataupun luar negeri. Ternyata label terbaik bukan berarti bisa selamat dari musibah. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, musibah ini terjadi di bandara Adi Sucipto yang notabene ada di kota Yogyakarta. Dimana kota Yogyakarta sedang diuji banyak cobaan.

Dari Darat

Masih ada hubungannya dengan Yogyakarta. Masih ingat dengan bencana Gempa yang sangat memprihatinkan itu? yang sangat mengejutkan semua masyarakat, yang terjadi di pagi buta dimana sebagian besar penduduk masih terlelap.

Kemudian yang paling memalukan adalah bencana banjir di Ibukota Indonesia atau Jakarta. Di kota yang terdapat banyak sekali orang pandai dan pejabat, masih saja terjadi banjir yang bisa saja merendahkan martabat Indonesia. Mungkin saja di luar negeri ada yang nyeletuk, Indonesia negara banjir.

Akhirnya….

Kalo sudah begini, apa yang bisa disimpulkan?

Ada yang bilang, turunkan Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla. Coba dipikir, apakah itu akan menyelesaikan masalah? bukannya malah akan menambah masalah? Kalo seandainya mereka berdua turun, siapa yang akan menggantikannya? Apakah si pengganti itu akan langsung dapat mengatasi semua permasalahan? Apakah Presiden atau si pengganti adalah Superman?

Mungkin pendemo itu sudah lupa. Kalo semua hasil tidak akan tercapai tanpa adanya usaha. Mereka hanya ingin melihat hasil nyata. Dengan alasan ingin menagih janji pemerintah, mereka menuntut Presiden mundur dengan alasan tidak becus mengatur negara.

Coba dipikir… kamu sendiri udah becus mengatur dirimu sendiri belum? Kok udah mendiskretkan orang lain tidak becus.

Tinggalkan Balasan