Tag: coffee

  • Ternyata Beans Perlu Resting

    Iya, saya baru tau apa kegunaan tanggal roasting yang biasa ditulis di bungkus biji kopi, selain untuk menginfokan kapan beans itu diroasting, ternyata dijadikan patokan kapan sebaiknya beans mulai diseduh.

    Ya, beans perlu mendapatkan resting. Mirip seperti kalau saya lagi ngegym, selalu ada jeda antar repetisi supaya hasilnya lebih baik. Kalau tidak, maka nanti kita nggak bisa dapat kualitas terbaiknya.

    Berapa lama resting (waktu tunggu) ini? Sepertinya tidak ada patokan resminya, tapi menurut Gemini, rule of thumb-nya adalah 7-10 hari setelah tanggal roasting untuk beans yang akan dibuat untuk kopi filter.

    Ada juga yang mengatakan tergantung tipe roastingnya. Light roast memiliki waktu tunggu paling lama (katanya) bisa 20 hari setelah proses roast, sedangkan untuk dark roast bisa antara 3-7 hari.

    Karena saya sekarang mainnya kopi filter dan cenderung cari yang medium roast, maka sekarang saya akan nunggu seminggu setelah tanggal roast baru kemudian diseduh.

    Apakah ada bedanya?

  • Fugol Watermelon Smash!

    Beberapa hari ini saya sedang suka dengan bekal kopi harian saya, karena pakai beans Watermelon Smash! dari Fugol. Beans ini saya dapatkan dari referensi teman di kantor yang ternyata memang terasa enak.

    Fugol Watermelon Smash!

    Meskipun saya kurang paham dengan metode pemrosesan, tapi saya menyadari jika Anaerobic akan membuat rasa kopinya menjadi meledhaaq ketika diseduh dan dibuat Japanese Iced Coffee wkwkwk.

    Saya menggunakan 20 gram beans dengan gilingan medium, 180 ml air panas (91 derajat) dan 120 gram es batu.

    Stepnya cukup mudah, diawali dengan blooming 40 gram selama 45 detik dengan switch tertutup. Selanjutnya buka switch dan lanjutkan menuang hingga 180 gram, tunggu sampai habis kira-kira sampai 2 menit 30 detik.

    Terakhir, swirl hingga es batu tercampur kemudian masukkan ke dalam tumbler untuk dibawa ke kantor.

    Cara minumnya disesap perlahan sambil mencium wanginya.

  • Blind Buy: Artcofie Aceh Gayo Arabica Coffee

    Aceh Gayo itu ibarat “Otot Kawat Tulang Besi”-nya kopi nusantara. Tumbuh di tanah vulkanik sekitar Danau Laut Tawar, Gayo biasanya dikenal punya body yang tebal, rasa earthy (tanah basah), dan rempah.

    Artcofie sepertinya me-roasting ini supaya karakter buahnya keluar, nggak cuma rasa tanah doang. Jadi kita nggak boleh seduh ini terlalu kasar, sayang acidity-nya nanti hilang.

    Blind Buy: Artcofie Aceh Gayo Arabica Coffee

    Awalnya saya cukup skeptis dengan kopi ini, jujur karena harganya terlalu murah, 70 ribu di Food Hall Gourmet Plaza Indonesia, mungkin sedang diskon ya? Anw, saya pilih beans ini karena wanginya paling cocok.

    Sampai di kosan, saya langsung bikin dengan versi hangat dan Japanese Iced Coffee.

    Seketika skeptis saya hilang, karena wangi, rasa, dan boldnya nggak kalah dengan beans lain yang harganya di atas 100k.

    Oke, sepertinya Artcofie Aceh Gayo Arabica Coffee ini akan jadi teman makan siang saya seminggu ini.

    Kalau tertarik bisa main ke Food Hall atau cek di Shopee.

  • Japanese Iced Coffee Untuk Bekal Ngopi Siang

    Dalam rangka menghemat biaya ngopi harian, saya mulai untuk membawa bekal kopi dari rumah. Setelah mencari-cari resep yang pas, pilihannya jatuh ke Japanese Iced Coffee.

    Kenapa? Karena saya bisa bikin di pagi hari, kemudian disimpan ke tumbler untuk diminum setelah makan siang tanpa khawatir rasa kopinya berubah.

    Kok bisa? Iya, berbeda dengan Iced Coffee, menu ini ketika disimpan ke dalam tumbler sudah tidak mengandung es batu lagi yang biasanya akan membuat kopi menjadi watery atau rasa kopinya mencari encer.

    Japanese Iced Coffee (atau Flash Brew) adalah metode penyeduhan kopi panas secara langsung di atas es batu untuk mendinginkannya secara instan.

    Proses pembuatannya hampir sama dengan manual brew pour over dengan V60, bedanya saya meletakkan es batu di dalam gelas server kemudian langsung mengalirkan kopi panas itu. Setelah prosesnya selesai, tinggal mengaduk-aduk (swirl) dengan semangat sampai es batunya mencair.

    Hasilnya, rasa dan wangi kopinya terjaga karena katanya terperangkap dalam suhu dingin. Saya sih merasanya pas di siang hari itu rasa kopinya masih konsisten.

    Efeknya, sudah beberapa hari ini saya tidak tertarik (tepatnya belum) untuk jajan kopi.

  • Kesenian Menyeduh Kopi

    Sebagai penyeduh kopi amatir rumahan yang baru sebulan berjalan, saya menyatakan bahwa kegiatan menyeduh kopi merupakan suatu kesenian yang hanya bisa dinikmati oleh orang yang sama-sama menyukainya.

    Kita nggak bisa bilang bahwa ada teknik menyeduh kopi paling ultimate, sebab ini adalah kesenian.

    Benar, siapapun bisa menyeduh kopi sendiri. Cukup dibekali dengan kemauan, kemampuan, dan kesabaran maka sudah punya modal untuk menikmati kopi buatan sendiri yang paling enak.

    Tapi akan sangat berbeda jika mau membuatkan orang lain, karena kembali ke selera.

    Seperti halnya ketika suka aliran musik, genre film, gaya bahasa sebuah bacaan. Tidak serta-merta yang kita anggap bagus itu orang lain merasakan hal yang sama.

    Tadinya saya mau membagikan kumpulan resep seduhan kopi yang menurut keyakinan saya adalah resep terbaik yang pernah saya buat. Tapi, kembali ke konsep bahwa menyeduh kopi merupakan kesenian, maka saya rasa resep itu biarlah menjadi milik saya sendiri, yang setiap minggunya hampir pasti selalu direvisi.

    Jadi, saya sangat hormat kepada siapapun pelaku kesenian yang mampu menjual karyanya kepada orang lain, dan laku.

  • Menyeduh Kopi Sendiri

    Hal baru saya sejak WFO (tepatnya jadi Jakartans) selain nge-gym adalah mulai terpapar dengan berbagai jenis kopi yang belum pernah saya temui di Jogja. Misalnya kopi-kopi yang ditawarkan di pinggir jalan pakai sepeda atau gerobak modern, mesin kopi mandiri yang tinggal dibeli dengan scan QRIS, ditambah kantor saya itu jadi satu dengan mall yang cukup banyak pilihan kopi di dalamnya.

    Lama-lama kok terasa boros ya? wkwkwk

    Suatu hari, teman kantor nawarin untuk bikin kopi sendiri dengan metode manual brew dan/atau pakai filter. Sebagai orang yang terbiasa kopi kapsul, espresso based, dan sesekali kopi sachet tentunya hanya memandang rendah tawaran itu..

    Kemudian saya kualat…

    Singkat cerita, saya mendapatkan sebuah portable electric grinder yang kemudian membuat semuanya berubah.

    Layaknya bocah yang dikasih mainan baru, saya menjadi agak terobsesi dengan dunia baru ini. Awalnya hanya beli biji kopi sembarangan, timbangan murah, dan V60 coffee dripper standar, saya menemukan suatu cita rasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

    Ternyata seenak itu!

    Sekarang, saya sudah bisa bikin beberapa resep kopi populer seperti Japanese Iced Coffee dan Dirty Latte wkwkwk

    Nanti di postingan berikutnya akan saya share resepnya deh.