Disclaimer, ini hanya untuk sobat jompo yang memiliki penyakit asam urat dan hipertensi fase awal saja ya.
Sebelum saya menjadi Jakartans, saya bekerja secara remote selama 10+ tahun dengan tinggal di Jogja. Aktivitas harian saya hanya bekerja di kamar dan sesekali menemani istri belanja ke Superindo. Meskipun saya tinggal di Jogja, saya jarang keluar nongkrong seperti turis yang datang ke Jogja.
Terasa menyenangkan ya? Tinggal di Jogja yang tenang, asri, murah, tapi gaji bukan UMR Jogja.
Benar! Alhamdulillah.
Tapi tetap saja ya, semua itu bakalan ada side effect yang datang, sebab itulah prinsip alam semesta bekerja.
Kalau di saya, efeknya adalah di penyakit. Karena kurang bergerak, nggak pernah kena sinar matahari, seringnya malah sinar UV dari monitor dan HP, radiasi monitor, frekuensi WiFI (halah), makan semaunya, dan yang paling penting: kurang gerak.
Hasilnya, sendi jari kaki saya sering sakit ketika makan makanan tertentu, sakitnya nyeriiii sekali, ternyata itu adalah asam urat.
Kemudian juga pas periksa ke dokter itu juga baru ketahuan kalau saya punya hipertensi. Padahal saya ingat ketika masih sekolah itu saya hipotensi. Sepertinya efek antara punya/tidak punya uang itu mempengaruhi peningkatan tensi di badan ya.
Sayangnya yang saya lakukan waktu itu adalah dengan melakukan pantangan makan. Tidak bisa lagi makan daging merah, seafood dan kacang-kacangan lagi karena semua itu membuat kadar asam urat dan hipertensi terus meningkat.
Apakah kemudian sembuh? Tidak sama sekali. Yang ada saya malah terlalu mengandalkan obat pain killer yang bisa saya minum kapanpun rasa sakitnya muncul.
Sekarang, setelah saya ngegym, Alhamdulillah semua penyakit itu mulai pergi, makan juga tidak dibatasi lagi.
Leave a Reply