Membacalah, Maka Kau Akan Lebih Paham

Ide tulisan ini berawal ketika melihat shared link dari Facebook-nya Chika, dia membagikan video yang berjudul “Girl Who Hated Books”. Pada video itu diceritakan keluarga yang sangat menyukai membaca, sang ayah dan ibu selalu menyempatkan untuk membeli buku untuk dibaca secara bergantian, bahkan koleksi bukunya sudah memenuhi seluruh penjuru rumah. Sayangnya, sang anak tidak menyukai hobi yang dimiliki kedua orang tuanya itu, bahkan cenderung untuk membenci dengan hal membaca. Suatu saat, sang anak mencari kucing kesayangannya, ternyata si kucing sedang nongkrong terjebak di atas tumpukan buku yang menjulang. Bagaimana cara menyelamatkan si kucing? Tonton aja filmnya ya..

The Girl Who Hated Books by Jo Meuris, National Film Board of Canada

Saya pernah membaca di sebuah artikel, bahwa minat baca orang Indonesia itu cukup rendah jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Saya tidak ingin membahas hal ini, karena minat membaca itu hampir sama dengan minat-minat yang lain. Semua minat jika diasah pasti akan mengkilap, tapi memang.. bahwa budaya membaca itu sebaiknya sudah tertanam di diri sendiri, karena dengan sering membaca, maka kita kita akan semakin paham dengan sesuatu.

Sering saya merasa aneh, ketika mendengar ada seseorang yang tidak suka membaca. Bagaimana bisa? Seandainya dia menganggap dirinya ahli, tapi tidak memiliki kesukaan membaca, bagaimana bisa dia menganggap dirinya ahli? Memang benar, ada sebagian kecil orang yang diberikan kelebihan menghapal, jadi tanpa membaca, cukup mendengar, maka dia akan mengerti maksudnya. Orang-orang ini termasuk dalam kategori orang yang cerdas. Tapi berapa banyak sih orang cerdas di dunia ini? Sisanya adalah orang-orang biasa saja, ya macam saya ini.

Saya selalu berpendapat, ketika ingin mempelajari sesuatu yang baru maka bacalah tutorialnya secara detil dan lengkap. Jangan membaca secara fast-reading, karena nanti pasti akan terlewat pada bagian penting, yang kemudian akan mengacaukan segalanya. Pemahaman terhadap sebuah masalah itu sangat penting sebelum akan melakukan pekerjaan, sehingga membaca tulisan secara detil akan sangat membantu dalam menentukan langkah.

Sebagian orang yang pernah saya amati menganggap bahwa membaca itu kurang menyenangkan, lebih enak diceritain saja. Tinggal mendengar, kemudian bertanya pada bagian yang kurang jelas. Memang, itu terasa menyenangkan, tapi saya menganggap itu model belajar yang kurang efektif. Kenapa? Pertama, itu sangat bergantung pada cara penyampaian sumber / pencerita, jika penyampaiannya ngawur maka ilmu yang didapatkan juga akan ngawur. Kedua, model belajar seperti itu cenderung akan membuat kita sebagai seorang penghapal. Padahal berapa banyak sih data yang bisa kita hapalkan? Sekarang, apakah Anda hapal nomor SIM dan NPWP Anda? Atau, apakah Anda hapal dengan urutan warna Google? Saya jamin, sebagian besar pasti tidak hapal.

Maka dari itu, saya lebih suka membaca. Karena dengan membaca, maka saya bisa memahami tulisan dan maksud si penulis dengan lebih tenang, kemudian bila lupa, bukunya bisa saya buka lagi. Saya sudah mencoba membaca buku melalui smartphone, tapi kemudian saya menyerah, karena sungguh tidak nyaman. Jangan menghapalkan semua informasi yang Anda dapatkan, koordinasikan informasi itu, simpan dan ambil di saat membutuhkan, jadikan kompetensi dengan cara sering mengaplikasikan hapalan Anda itu.

Lebih baik memahami ilmu, daripada menghapal ilmu. Hapalan bisa lupa, selain itu kalo suka menghapal jadi bikin susah move on*eh

Tinggalkan Balasan