One Step Closer

One Step Closer

Iya, hari Minggu tanggal 12 Maret 2017, saya melamar pasangan saya. Prosesi lamaran yang sederhana, namun bagi kami berdua, sangat bermakna. Mengingat perjuangan kami untuk mencapai ke tahapan ini tidaklah mudah, banyak sekali tantangan yang sudah kami hadapi dan lalui bersama. Komunikasi yang kami bangun merupakan pondasi yang bisa membuat kami bisa sejauh ini, yang sekali lagi, ini tidak mudah.

Ke depannya, komunikasi akan terus ditingkatkan, tidak hanya antara kami berdua, namun juga ke seluruh keluarga besar. Kami percaya, bahwa membangun keluarga itu berawal dari komunikasi yang bermakna.

Meningkatkan Standar Itu Tidak Mudah, Tapi Bisa Dilakukan

Meningkatkan Standar Itu Tidak Mudah

Hai, Ini sudah bulan ketiga di tahun 2017. Sudah melakukan perubahan apa?

Tahun 2017 bagi saya diawali dengan hal-hal yang luar biasa, karena banyak sekali perubahan yang terjadi di sekeliling saya. Terutama dari hal pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mungkin sekali-kali saya cerita sedikit ya, biar blognya tidak berisi review dan artikel sok tau terus hahahaha.. Lagipula saya sudah jarang menulis lagi, harus mulai dibiasakan supaya kualitas tulisannya membaik.

Oke, saya mulai dari pekerjaan. Mulai bulan November 2016 lalu saya bergabung ke sebuah perusahaan digital di daerah Kemang, Jakarta Selatan sebagai Senior Engineer. Tugas saya sederhana; yaitu mengumpulkan tim baru, menentukan job-description, menyusun jadwal, dan mengatur ritme pekerjaan. Ini perlu saya lakukan karena perusahaan tersebut baru saja ditinggal oleh semua engineers, dengan kondisi hampir semua aplikasi memiliki bug.

Kebetulan saya kenal baik dengan pendirinya, jadi sebagai kawan yang baik, maka saya mengiyakan tawaran untuk membantu perusahaan sekalian belajar hal baru.

Apakah prosesnya mudah? Tidak! Sama sekali tidak mudah. Selama 2 bulan pertama saya stress dengan banyaknya tanggung jawab yang diemban, kemudian mengetahui bahwa semua aplikasi yang berjalan menggunakan bahasa yang berbeda dengan yang saya kuasai. Namun demikian, saya harus bertahan dan membuktikan bahwa saya bisa diandalkan. Akhirnya, mulai Januari 2017, tim baru mulai terkumpul dengan kualitas yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Saya bangga dan sangat menghormati kepada tim baru ini. Total engineer hanya 7 orang, namun yang fulltime di kantor hanya 1 orang. Sisanya? Remote!

Yup, ini tantangan. Semua engineer yang remote statusnya Senior Engineer dan hanya ngantor beberapa hari saja. Waktunya berbeda-beda, mulai dari hanya 1 hari (saya) hingga ada yang 3 hari, bahkan ada yang saya perbolehkan tidak perlu datang ke kantor. Disinilah tantangan untuk mengatur ritme pekerjaan diuji. Untunglah sebagai akademisi saya dekat dengan berbagai macam resources, saat ini saya sedang menguji salah satu metode di Agile Methodology sebagai fundamental mengatur pekerjaan di kantor. Meskipun awalnya terseok-seok, namun pada akhirnya semuanya dapat diatasi dengan baik. Yang penting komunikasi yang baik terus terjalin meskipun terpisah dengan jarak, dan disinilah saya mendapatkan pengalaman sebagai Project Manager.

Selain bekerja di Kemang, saya juga mengantor di salah satu perusahaan fitness di daerah Tanah Abang. Di kantor ini sebetulnya tidak banyak yang bisa saya lakukan, karena status saya ditransfer kesini semenjak kantor saya di Cipete ditutup. Kebetulan kantor Tanah Abang merupakan sister company dengan kantor Cipete sehingga saya bisa dipindah kesini. Perubahan pekerjaan sangat terasa, dari yang tadinya bekerja di Digital Agency, sekarang harus ngantor di corporate atau yang sering disebut juga sebagai Brand People. Disini semua sistem sangat berbeda dengan yang saya kuasai, juga berbeda bahasa dengan di kantor Kemang.

Jadi, saya ngantor di 2 tempat selama seminggu namun tidak menguasai semua bahasanya. Lalu saya kemudian menyadari, bahwa kemampuan Bahasa Pemrograman tidak bisa dijadikan andalan, namun kemampuan algoritma dan logika yang benar-benar diperlukan. Jadi, bukan berarti saya enak-enakan ngantor, digaji, tapi tidak melakukan apa-apa ya. Hal-hal yang saya perlu lakukan ternyata dipaksa untuk lebih tinggi lagi. Susah? Pasti! Tapi mulai awal Januari 2017 ini semua masalah mulai dapat diatasi, hal-hal yang tadinya saya rasa tidak mungkin saya lakukan, sekarang sudah dapat saya lakukan dengan nyaman. Disini adalah kantor yang sangat menyenangkan, namun kontrak saya di Tanah Abang berakhir di bulan Maret 2017 ini.

Sayangnya, ketika saya merasa sudah memiliki cukup bekal untuk dibagikan ke mahasiswa, terjadi perbedaan visi dengan institusi tempat saya mengajar. Hal ini cukup merugikan saya tentunya dan menghabiskan energi yang tidak sedikit, karena sudah berlangsung sejak 2015. Ini merupakan perubahan yang paling ekstrem di tahun 2017 ini, maka sudah saatnya saya mencari institusi yang memiliki kesamaan visi.

Saya percaya, bahwa mahasiswa Ilmu Komputer perlu dikenalkan teori dan praktikal secara berimbang dan up-to-date. Namun, terdapat hasil penelitian yang mengatakan bahwa, apapun yang kita pelajari di tahun pertama kuliah Teknik, akan basi di tahun ketiga. Maka, sebagai pengajar juga berkewajiban untuk mengejar ketertinggalan tersebut, dan itu mau-tidak-mau harus berani terjun ke industri untuk melihat sendiri bagaimana perkembangannya.

Baiklah, sudah cukup membahas mengenai pekerjaan.

Tahun 2017 ini saya merasa banyak perubahan di sekeliling dan di diri sendiri. Selain memiliki kelebihan, tentunya saya juga memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan saya adalah, saya sangat ekspresif, sehingga jika saya menyukai sesuatu, maka tidak segan untuk mengutarakan. Begitu juga sebaliknya, bila saya tidak setuju atau tidak berkenan pada sesuatu hal, maka saya tidak segan menunjukkannya. Ini ternyata membuat pikiran saya menjadi lebih ringan, karena saya bisa fokus terhadap pekerjaan dan pasangan.

Iya, saya akan melamar pasangan saya dalam 5 hari ke depan.

Doakan saya ya…

 

Selamat Idul Adha 1437H

Selamat Idul Adha 1437H

Yeaaayy… Lebaran Idul Adha tahun ini bisa saya rayakan di Semarang, tanggalnya pas banget di long weekend, tapi nanti malam sudah harus berangkat ke Jakarta lagi hahaha.. Alhamdulillah nanti malam dapat kereta Argo Muria Tambahan jam 18:55 yang dijadwalkan sampai Gambir jam 1 pagi, jadinya harus persiapan tidur di stasiun sampai waktunya Subuh sebelum melanjutkan perjalanan ke Istiqlal.

Idul Adha identik dengan kurban, Alhamdulillah tahun ini bisa menunaikan kurban meskipun tidak membeli kambing secara langsung, tapi melalui layanan marketplace secara online dan nantinya daging kurban akan disalurkan langsung melalui jaringan mereka. Saya membaca cukup banyak pro-kontra mengenai model kurban semacam ini, kalo saya sih yang penting saya sudah kasih amanah dan saya mempercayai mereka.

Karena nanti malam sudah harus berangkat, maka kegiatan sate-menyate untuk sementara ditunda dulu, sekarang upload gambar satenya dulu saja.

Akhir kata, selamat Idul Adha 1437H. Semoga makna berkurban dapat mengilhami kita semua (saya pada khususnya) dalam menjalani kehidupan dan bisa membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Aamiiin.

Review Andromax M3Y Smartfren

Review Andromax M3Y Smartfren

Sebulan terakhir ini saya sedang mencoba perangkat baru, Mifi dari Smartfren yang bernama Andromax M3Y. Sudah lama saya mengikuti perkembangan teknologi Internet bergerak, mulai dari teknologi CDMA hingga 4G LTE. Tanpa sadar saya juga mengoleksi berbagai macam modem yang bentuknya bervariasi itu, tapi semuanya sama-sama butuh colokan USB untuk mengaktifkan. Tentunya ini masalah, karena perlu driver supaya komputer/laptop bisa mengenali perangkat dan melakukan dial. Bahkan pernah juga bikin tutorial bagaimana supaya Linux bisa melakukan dial dengan modem-modem tersebut, karena waktu itu UI hanya tersedia untuk OS Windows.

Yang saya suka dari Mifi Andromax M3Y ini adalah… Tidak perlu colok ke USB. Iya, ini adalah solusi terbaik di masa ini. Karena berkat perangkat Mifi ini, saya sudah tidak berlangganan paket data Internet di smartphone, kemudian tidak lagi bergantung kepada sinyal wifi gratisan yang sering lemot dan banyak sniffernya itu. Tinggal nyalakan dan tinggalkan, maksudnya tinggal diletakkan di tas ransel saja. Selama sinyalnya masih dapat, maka semua perangkat saya bisa terkoneksi ke Internet.

Metode ini juga bisa menghemat pengeluaran saya untuk akses Internet tiap bulannya. Dulu saya harus menghidupi paket data semua perangkat, kemudian berlangganan akses hotspot supaya bisa bekerja di luar rumah. Tapi sekarang, cukup dengan pulsa IDR 100.000 per bulan, semua perangkat saya bisa online. Kerennya lagi, karena semua perangkat terhubung di perangkat Andromax M3Y ini, maka semua perangkat saya sekarang menjadi 1 network atau 1 LAN, yang memungkinkan untuk saling bertukar data secara cepat.

Bagaimana dengan jangkauan sinyal? Setiap minggu, rute yang saya tempuh adalah Semarang, Jakarta, dan Yogyakarta. Kira-kira per minggu saya melahap lebih dari 800 km menggunakan Kereta Api, dan lokasi yang tidak tercover hanya daerah pantai selepas Kendal, karena posisi rel mepet banget dengan garis pantai Utara. Selebihnya jangkauan sinyal sangat bagus, di Semarang saya sering di daerah Pedurungan, Simpang Lima, hingga ke Selatan ke arah Yogyakarta sinyalnya bagus semua. di Jogja saya tinggal di area Pogung dan dolan hingga arah Gamping juga tidak ada masalah dengan sinyal. Di Jakarta juga begitu, saya sering di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan kualitasnya oke. Tiap nyetir juga mengandalkan Google Maps yang terhubung dengan Andromax M3Y belum pernah mengalami lost signal.

Tentunya semuanya perlu didukung dengan baterai yang bagus. Saya tidak hapal berapa angka mAH-nya, tapi patokannya Andromax M3Y ini tidak sering saya charge. Berangkat dari Semarang jam 23:30 dengan kondisi baterai 70-80% karena seharian dipakai, sampai Gambir jam 04:30, mampir mandi di Istiqlal dulu dan biasanya sampai kantor jam 07:30 status baterai masih 30%. Sangat awet dan cocok untuk traveller macam saya ini. Good job Smartfren.

Mandi Mahal di Stasiun Gambir

Mandi Mahal di Stasiun Gambir

Di postingan sebelumnya, saya cerita tidak terasa sudah setahun bekerja di Jakarta, artinya setiap minggunya dipastikan pasti datang dan pergi di Stasiun Gambir. Bagi yang sudah beberapa tahun tidak mampir ke Gambir, pasti akan “pangling”, atau asing dengan penampilannya yang sudah berubah. Stasiun Gambir sudah lebih bersih, rapi, tertata, dan tidak ada lagi pedagang asongan yang biasanya menghiasi stasiun. Keren lah pokoknya.

Dulu, saya tidak mengalami kesulitan untuk mandi di Stasiun Gambir, karena ada toilet umum yang memang menyediakan fasilitas ala kadarnya untuk mandi. Sekarang setelah semuanya dirapikan, maka mandi menjadi masalah serius bagi sebagian warga pendatang, termasuk saya.

Biasanya setiba di Gambir, saya langsung pesan Go-Jek untuk mengantarkan ke Masjid Istiqlal. Kereta Sembrani atau Argo Anggrek Malam datang biasanya menjelang atau pas waktu Subuh, sehingga memungkinkan untuk shalat Subuh kemudian merem sebentar di Istiqlal, baru dilanjutkan numpang mandi disana.

Tips mandi di Istiqlal, lihat rombongan bis di parkiran. Jika masih banyak sebaiknya urungkan dulu niatan mandi, karena pasti masih penuh dan mengantri. Sebaiknya tunggu sekitar jam 6:30-7.00 saat bis-bis mulai melanjutkan perjalanan, disitulah Anda bisa mandi dengan nyaman karena kondisinya sudah mulai sepi. Lebih siang lebih baik, saya pernah mulai mandi jam 7:30 dan bisa memilih kamar mandi yang paling nyaman.

Oke, lanjut ceritanya. Minggu lalu, kereta Argo Anggrek Malam yang saya tumpangi mengalami TasPat (pembatasan kecepatan) mulai dari Stasiun Semarang Tawang hingga Stasiun Gambir, sehingga saya baru sampai di Jakarta pukul 8:30. Ini tentunya masalah, karena jam masuk kantor saya juga mulai jam segitu. Setelah mengabari Pak Manager, saya memutuskan untuk mencoba mandi di Stasiun Gambir, kebetulan saya sudah sering melihat promo di standing bannernya, yaitu di Shower & Locker.

Mungkin ini adalah mandi termahal yang pernah saya lakukan. PT KAI mengerti bahwa penumpang yang datang ke Jakarta kebanyakan adalah karyawan atau orang yang akan berbisnis, pasti mereka butuh untuk mandi atau setidaknya mempersiapkan diri dengan nyaman. Makanya, Shower & Locker ini memang menyasar orang-orang dari kalangan tersebut. Biaya untuk mandi sebesar IDR 85.000 sudah dengan pinjaman handuk. Kamar mandinya standar hotel melati dengan shower air panas dan dingin yang bisa diatur, semburannya kuat, dan bonus suara gemuruh kereta karena posisinya memang pas berada di bawah rel kereta api. Katanya sih dapat kopi, tapi kemarin saya nggak dapat. Mungkin promonya sudah habis. Silakan klik fotonya untuk memperbesar gambar.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kereta Argo Anggrek Malam yang saya tumpangi mengalami TasPat, sehingga hampir semua penumpang pasti berpikiran yang sama untuk menggunakan layanan Shower & Locker, alhasil saya mendapatkan nomor antrean 20. Tadinya saya berpikir bakalan menunggu lama, ternyata petugas Shower & Locker berkoordinasi dengan petugas di Hotel Rail Transit Gambir yang lokasinya bersebelahan untuk membuka kamar demi mengurangi waktu tunggu antrean (yang sudah cukup banyak). Kebetulan saya beruntung mendapatkan giliran di kamar hotelnya, bukan di kamar mandinya Shower & Locker. Jadi fotonya sekalian bisa menggambarkan kondisi hotelnya ya. Oh iya, katanya sih fasilitas asli di Shower & Locker tidak jauh berbeda dengan hotelnya karena memang mereka masih satu manajemen.

Menurut saya, dengan tarif IDR 85.000 per orang memang sangat mahal. Tapi dengan kondisi yang tidak ada pilihan lain, maka sepertinya ini adalah cara terbaik untuk dapat membersihkan diri dengan cepat supaya bisa mengejar waktu. Karena di Jakarta, waktu adalah sesuatu yang berharga, dan PT KAI mengerti itu. Info tambahan, Shower & Locker ini buka 24 jam.

Sukses Itu Mencari Pengalaman

Sukses Itu Mencari Pengalaman

Wah, ndak terasa saya sudah hampir setahun bekerja di Jakarta, kota yang memberikan banyak sekali kesempatan, tinggal bagaimana kita melihatnya. Kemudian jadi ingat pas awal-awal bekerja setahun yang lalu, cukup banyak cerita yang jika diingat membuat saya menjadi semakin bersyukur karena berani mengambil keputusan ini dan keluar dari zona nyaman yang sudah bersama saya selama lima tahun terakhir.

Tidak, saya tidak meninggalkan profesi saya sebagai Dosen. KTP saya juga masih tertulis Dosen, cuma berubah dikit aja, tidak banyak, dan tidak penting buat diceritakan.

Oke, dalam setahun ini saya sudah berpindah lokasi kerja satu kali. Tadinya saya berkantor di sebuah digital agency di daerah Jakarta Selatan, sekarang saya dimutasi ke sister company di daerah Jakarta Pusat. Lebih dekat dengan Gambir, tapi sayangnya nggak bisa tidur di kantor lagi hahaha. Kemudian saya pernah “menolak” sebuah tawaran pekerjaan dengan tawaran yang sangat menggiurkan, namun setelah berkonsultasi dan mempertimbangkan berbagai hal, dengan berat hati saya harus menolak tawaran itu. Mungkin suatu saat saya akan menyesal, tapi saya masih yakin dengan pilihan saya.

Bekerja di Jakarta tanpa sadar membuat saya sedikit berubah, namun dalam arti yang positif. Saya jadi lebih berani dan cepat mengambil keputusan, suatu hal yang dulu tidak mungkin saya lakukan. Saya juga lebih berani untuk mengutarakan pendapat, karena jika tidak begitu bakalan tertindas hahaha. Selain itu jadi lebih merasakan kemajuan teknologi, peliknya masalah, dan tertantang untuk memberikan solusi yang level kesulitannya berkali-kali lipat saat di Semarang dengan kualitas yang berkali-kali lipat juga.

Saya jadi mengerti kenapa selisih gaji atau nilai kontrak di Jakarta dengan di Semarang itu sangat jauh berbeda. Di Jakarta tidak ada yang namanya kualitas pas-pasan atau toleransi tinggi, karena kita selalu mendapatkan ekspetasi yang sangat tinggi dari orang lain. Masing-masing sudah harus paham dengan kewajiban masing-masing baru nanti akan mendapatkan hak yang sudah dijanjikan. Menghargai janji dan waktu dengan orang lain adalah kunci utama, karena semua orang sibuk. Ketika kita mendapatkan sebuah kesempatan, tidak boleh dilewatkan.

Sisi positifnya, pikiran saya menjadi lebih terbuka dan pengetahuan menjadi semakin mendalam. Tadinya mungkin saya hanya tau kulitnya saja, tapi sekarang sudah jauh lebih paham dengan konsep dasarnya. Alhamdulillah tahun ini sudah ikut dua kali international conference.

Saya masih punya waktu hingga Febuari 2017 untuk mencari pengalaman disini. Mudah-mudahan cukup bekal untuk nantinya dibagikan ke mahasiswa, supaya mereka tau dan bisa mempersiapkan diri untuk menghadapai persaingan di bidang IT. Bagaimana selanjutnya? Tentunya masih jadi Dosen, tergantung nanti penawarannya bagaimana hahaha…

Memperpanjang Umur MacBook Pro MD101

Memperpanjang Umur MacBook Pro MD101

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya bahwa saya membeli MacBook Pro MD101 second kelahiran mid 2012, maka untuk menunjang kinerja dan kompatibilitas dengan teknologi terbaru, saya merasa perlu untuk melakukan upgrade terhadap MD101 ini. Apalagi MD101 ini telah diinstall dengan Mac OS X El Capitan, dimana beberapa forum menyarankan untuk segera upgrade harddisk bawaan menjadi SSD kemudian diikuti dengan menambah jumlah RAM bawaan yang tadinya hanya 4 GB saja supaya kinerja MD101 dapat lebih optimal.

Kebetulan anggaran yang saya sediakan masih cukup untuk membeli kedua perangkat tadi, jadi tidak butuh waktu lama, saya sudah mendapatkan barang-barangnya langsung dari Tokopedia. Saya membeli RAM merk Corsair dengan kapasitas 16 GB (2 x8 GB) kemudian membeli SSD Samsung Evo 850 dengan kapasitas 250 GB. Total harga untuk keduanya sekitar 2,2 juta rupiah sudah termasuk ongkos kirim yang ditanggung oleh Tokopedia (pas ada promo free ongkir).

Masalah selanjutnya adalah pemasangan, saya sudah terbiasa membongkar CPU dan laptop dari semenjak masih kuliah. Tapi untuk perangkat Mac, saya baru bisa memegangnya sekarang, artinya pengalaman saya terhadap perangkat ini sama sekali newbie. Untunglah sekarang YouTube sudah mudah diakses, karena dari situlah saya belajar untuk membongkar perangkat Mac, terutama untuk MD101. Dari hasil pencarian dan menonton di beberapa tutorial sejenis, saya menyimpulkan bahwa membongkar MacBook Pro MD101 tidak terlalu sulit.

Saatnya praktek…

Seperti tutorial yang telah saya tonton, ada urutan untuk membuka 10 mur di bagian bawah MD101, karena dari 10 mur tersebut, ada 3 mur yang bentuknya lebih panjang daripada yang lain. Lokasinya yang dekat dengan engsel, sehingga saya perlu memastikan mur-mur tersebut tidak tertukar atau hilang. Ketika proses pelepasan mur selesai, saya tinggal membuka penutupnya saja dengan mudah. Kesan pertama saya melihat interior MD101 adalah… kagum.

 

Apple benar-benar merancang semua produknya dengan detil, tidak terkecuali di MD101 ini. Dengan mudah saya mengurutkan kabel, tuas, dan mur untuk melepas RAM dan Harddisk bawaan untuk kemudian ditukar dengan RAM dan SSD yang baru. Prosesnya sangat mudah, bahkan menurut saya dapat dilakukan oleh pengguna awam sekalipun. Mungkin cuma masalah keberanian saja yang membuat pengguna Mac lebih memilih membayar ke service center untuk menambah perangkat, atau alasan lain lebih suka memanfaatkan garansi produk.

Saya tidak cerita mengenai detil pemasangan, karena tutorialnya sudah banyak tersedia di YouTube. yang jelas, saya hanya membutuhkan waktu 15 menit dari awal membuka mur hingga MD101 bisa dinyalakan kembali. Sangat cepat dan mudah.

Oh iya sebelum memasang harddisk, saya melakukan cloning data dari harddisk lama ke SSD. Prosesnya cukup menyambungkan SSD melalui kabel USB ke Mac kemudian menjalankan aplikasi Carbon Copy Cloner. Karena isi file saya hanya 28 GB, maka proses yang dibutuhkan sangat cepat, tidak lebih dari 30 menit saja. Untuk penyambungan SSD ke Mac, saya menggunakan HDD Enclosure, tapi jika ingin menggunakan alat lain sih bisa saja.

Kesimpulannya, dari sekian banyak perangkat yang pernah saya bongkar-pasang. Perangkat Mac merupakan yang terbaik dan termudah. Sekarang kinerja MD101 saya rasa bisa bersaing dengan perangkat MacBook Pro keluaran terbaru deh.

 

New Gear, MacBook Pro MD101

New Gear

Ceritanya saya barusan beli laptop untuk menunjang pekerjaan sehari-hari, kali ini mau ikut-ikutan jadi fanboy Apple dengan membeli MacBook Pro MD101. Alasannya sederhana, selama saya ngantor di Jakarta ternyata disana cukup banyak pengguna perangkat Mac, dan pengetahuan saya tentang perangkat Mac bisa dibilang tidak ada. Jadi misalnya ada pertanyaan atau pekerjaan yang berhubungan dengan Mac tentu saja saya nggak bisa menyesuaikan diri.

Di saat yang bersamaan, laptop saya Asus N43SL mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Misalnya terkadang dvd drive suka membuka sendiri tanpa diperintah, laptop jadi cepet panas padahal sudah beberapa kali dibersihkan, kemudian beberapa port seperti HDMI dan VGA mulai menunjukkan kelelahan untuk dapat melayani saya selama 5 tahun terakhir ini. Padahal laptop Asus itu sudah saya upgrade dengan RAM 8 GB dan SSD drive, ternyata penuaan tetap tidak bisa dilawan.

Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan Betemen Loenpia dan teman di kantor, saya memutuskan untuk mencoba beralih ke perangkat Mac. Pertimbangannya, Mac dapat mendukung kebutuhan saya seperti presentasi, mengetik, web development, dan sys-admin. Sebelumnya saya sudah pernah mencoba pakai MacBook teman dan memang merasakan bahwa perangkat ini bisa mendukung pekerjaan saya.

Eh jadi ingat, di awal tahun 2008 saya pernah bercita-cita ingin membeli MacBook Pro tapi waktu itu belum punya uang yang cukup. Tapi waktu itu saya yakin bahwa suatu hari saya akan mampu membeli perangkat itu. Mungkin ini pertanda dan inilah saatnya.

Dari hasil konsultasi sebelumnya, ternyata saya tidak perlu membeli perangkat MacBook Pro yang baru, apalagi dengan yang Retina Display. Saya membutuhkan MacBook yang “upgradable”, sedangkan perangkat MacBook keluaran 2013 hingga sekarang sudah tidak dapat diupgrade. Setelah berselancar di berbagai tempat, saya mendapat kesimpulan bahwa MacBook Pro keluaran mid 2012 dengan seri MD101 merupakan generasi terbaik karena sudah dibekali Intel Prosesor i5 generasi 3, RAM dapat diupgrade hingga 16 GB, dan Harddisk dapat diupgrade menggunakan SSD drive. Ukuran layar yang 13 inchi juga pas untuk kebutuhan saya. Masalah bobotnya yang termasuk berat, menurut saya tidak masalah karena ternyata masih lebih berat Asus N43SL.

Masalah berikutnya adalah pencarian barang, ini karena saya mencari barang second tapi tentunya ingin kualitas yang masih bagus. Meskipun sudah banyak marketplace berdiri, saya tetap kembali ke selera asal, yaitu KasKus. Disanalah akhirnya saya menemukan penjual yang memiliki MD101 dengan kualitas 96% dengan penyok minor yang ternyata nggak keliatan. Harga yang ditawarkan juga oke, setelah negosiasi saya bisa mendapatkan dengan harga 8 juta rupiah saja. Uniknya, penjual ini menawarkan menggunakan layanan Tokopedia untuk memanfaatkan layanan cicilan 0%, wah boleh juga tuh. Sistem escrow yang dimiliki Tokopedia juga melindungi saya dari penipuan karena dana baru bisa diteruskan ke penjual ketika barang sudah sampai ke tangan. Jadilah saya membeli MacBook Pro MD101 dengan cicilan 0% dari Tokopedia hahaha.

Bagaimana dengan nasib Asus? Sekarang dia pensiun dan gantian melayani Bale Bandeng di rumah sebagai laptop operasional. Dia sudah tidak perlu mengikuti saya bolak-balik Semarang-Jakarta tiap minggunya, semoga sudah jadi lebih tenang.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016

Sebagai salah satu civitas akademika di Universitas, saya ucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016. Mudah-mudahan saya terus diberi kekuatan untuk dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat. Hari Pendidikan Nasional ini juga bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kota Semarang ke-468, usia yang sudah sepuh dan berumur, semoga Kota Semarang bisa menjadi panutan kota-kota sekitarnya di Jawa Tengah.

Tahun ini, saya memperingati hari Pendidikan Nasional tidak dengan ikut upacara di kampus, karena tahun ini saya peringati semangat pendidikan di hati.. *halah*

Mendidik harus dimulai dari hati. Karena dari hati, ilmu yang akan ditransfer akan lebih berkualitas. Jangan sampai mengajarkan ilmu dengan keliru, usang, dan tidak tepat. Pengajar yang baik harus bermula dari keyakinan bahwa ilmu yang akan diberikan akan membuat ilmu itu semakin berkembang. Pengajar yang baik juga harus yakin bahwa siapapun yang menerimanya akan memiliki manfaat dari ilmu itu.

Alhamdulillah saya merasa mendapatkan banyak pelajaran selama bekerja di Jakarta, mata semakin terbuka bahwa kesenjangan antara teknologi dan kebutuhan masyarakat masih begitu lebarnya. Disinilah peran pendidik untuk menyiapkan generasi selanjutnya supaya dapat menjembatani kebutuhan itu. Kemampuan saya semakin ditempa dengan keras bahwa sesungguhnya yang saya kuasai sekarang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kota besar seperti Jakarta. Disinilah peran pendidik untuk menyiapkan calon wisudawan supaya dapat bersaing dengan industri global.

Selain itu, saya semakin belajar untuk toleransi dan berbesar hati. Cukuplah sudah dengan semua drama di awal tahun ini, cukuplah dengan semua prasangka yang bermunculan selama ini, ternyata hanya dengan mengabaikan dan menyalurkan energi ke hal lain, malah bisa membuat saya menjadi lebih kreatif dari sebelumnya.

Jangan hanya kejar materi, karena nanti hanya akan mendapatkan materi saja. Kejarlah ilmu yang tinggi, kemudian bagikan ilmu itu. Nanti materi akan mengikuti beserta hati yang damai.

Berbagi Tak Pernah Rugi

Membuat Verified Facebook Page Bale Bandeng

Membuat Verified Facebook Page Bale Bandeng

Facebook Page ternyata bisa diberi label verified dengan tanda centang berwarna abu-abu di samping namanya. Saya taunya juga tidak sengaja sewaktu membuka menu settings di Facebook Page Bale Bandeng, disitu saya melihat ada tulisan bahwa Page is not verified. Ketika saya klik, muncul informasi bagaimana cara supaya FB Page dapat terverifikasi, cara termudah adalah dengan memasukkan nomor telp yang akan dihubungi oleh Facebook untuk dibacakan 4 angka unik. Nantinya keempat angka tersebut tinggal dimasukkan ke dalam kolom yang tersedia. Langsung saja, saya masukkan nomor hp untuk memulai proses verifikasi. Dalam beberapa detik hp berbunyi, kemudian ada robot yang membacakan angka, saya masukkan nomor itu, hasilnya.. Gagal.

Saya bingung, padahal jelas-jelas Facebook sudah menghubungi hp dan membacakan 4 angka unik. Namun ketika saya masukkan angka tersebut, Facebook tidak dapat untuk melakukan verifikasi terhadap nomor saya yang terhubung dengan Facebook Page Bale Bandeng. Saya sudah mencoba berkali-kali bahkan berbeda waktu, namun hasilnya tetap sama. Gagal. Facebook memberikan saran supaya saya mengirimkan scan dokumen sebagai alternatif proses verifikasi, tapi saya nggak mau. Saya belum percaya untuk memberikan dokumen resmi ke perusahaan iklan.

Apa sih keuntungan dengan verifikasi Facebook Page? Katanya sih nantinya Facebook Page akan lebih terpercaya di mata pengunjung. Selain itu, katanya Facebook Page kita akan mendapatkan prioritas untuk muncul di hasil pencarian yang dilakukan oleh pengunjung. Hal inilah yang menjadikan saya untuk lebih mencari tahu bagaimana supaya Facebook Page Bale Bandeng dapat terverifikasi, tanpa harus mengirimkan dokumen.

Akhirnya, saya menyadari bahwa Facebook juga tidak mengirimkan dokumen apapun untuk proses verifikasi. Berbeda dengan Google yang repot-repot mengirimkan kartupos untuk proses validasi. Pasti ada yang salah dengan cara saya sebelumnya, kemudian saya mengulang proses verifikasi lagi namun kali ini nomor telp rumah yang saya masukkan. Beberapa detik kemudian telp rumah berdering, robot Facebook membacakan angka, lalu saya masukkan angka tersebut ke kolom yang tersedia. Hasilnya, Sukses! Facebook Page Bale Bandeng is verified!

Rupanya untuk melakukan verifikasi Facebook Page, harus memasukkan nomor telp rumah. Saya tidak membaca persyaratan ini di halaman bantuan Facebook, sehingga mau dicoba berkali-kali juga nggak akan bisa jika yang saya masukkan adalah nomor hp. Mudah-mudahan ini bisa membantu bagi yang tertarik untuk melakukan verifikasi pada Facebook Page.

Bagaimana dengan yang tidak punya nomor telp rumah?

Seperti yang tadi saya bilang, karena saya tidak menemukan aturan ini di halaman bantuan Facebook maka saya tidak tau jawabannya juga. Tapi mungkin bisa coba untuk memanfaatkan layanan EsiaTalk untuk mendapatkan nomor virtual dengan kode area, lalu gunakan nomor itu untuk proses verifikasi. Saya belum coba, tapi sepertinya layak untuk dicoba.