Categories
Tulisan

Jalan-Jalan Ke Surabaya

Apa yang akan Anda lakukan, jika datang ke suatu kota tanpa rencana? Itu yang saya alami pada pertengahan bulan Juli 2017 lalu. Sewaktu perjalanan pulang ke Semarang dari Jakarta, ternyata saya ketiduran di Stasiun Tawang dan akhirnya terbawa kereta api hingga ke… Surabaya.

Untunglah sewaktu pemeriksaan tiket, saya terlewatkan oleh pak kondektur sehingga tidak disuruh membayar denda, atau diturunkan di stasiun terdekat. Misalnya saya betul diturunkan, bakalan lebih bingung karena saat saya tersadar masih jam 03:30 pagi dan entah sedang berada dimana. Tapi setidaknya saya sudah habis diketawain sama cah Loenpia di grup WhatsApp.

Oke, setelah 3 jam perjalanan sampailah saya di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Kebetulan saya sudah menunaikan Shalat Subuh di kereta dan sempat membeli tiket kereta untuk perjalanan pulang di sore harinya, maka hal yang pertama saya cari adalah kamar mandi.

Saya membayangkan Stasiun Pasar Turi akan megah seperti Stasiun Gambir, namun ternyata bayangan saya salah. Stasiun ini tidak lebih besar daripada Stasiun Tawang, dan sayangnya kebersihan kamar mandinya kurang terjaga. Tapi berhubung harus segera menunaikan hajat pagi, maka ya harus menerima apa adanya.

Setelah urusan hajat terselesaikan dengan damai, maka saatnya berpetualang. Saya keluar stasiun dulu untuk menuju ke tempat cetak mesin tiket. Untunglah tadi memutuskan untuk langsung membeli tiket, karena setelah saya cek, semua tiket kereta ke arah Barat sudah habis terjual hingga hari Minggu (saat itu hari Jumat). Saya menuju ke Indomaret untuk membeli segelas kopi dan Pop Mie untuk sarapan, sekaligus membuat rencana hingga jam 16:00 nanti.

Saya perlu mandi, itu yang terlintas di pikiran. Berhubung masjid di sekitar stasiun menurut saya kurang layak untuk menumpang mandi, maka saya andalkan Google Maps untuk mencari masjid yang besar. Saya mendapatkan sebuah masjid yang berlokasi 1 km dari stasiun, dan perjalanan di segera dimulai.

Perjalanan menuju Masjid Raudhatul Musyaawarah cukup menarik, saya diarahkan untuk melewati komplek pertokoan dan sempat mampir ke ATM BCA disana, kemudian melewati pasar yang cukup ramai, dan akhirnya sampailah ke tempat tujuan. Kebetulan saat itu petugas masjid sedang membersihkan untuk persiapan shalat Jumat, dan ketika melihat saya beliau langsung menunjukkan lokasi kamar mandi. Mungkin kelihatan banget saya belum mandi dan kebablasen sampai sini.

Masjid ini berlokasi di depan DPRD Jawa Timur, sehingga saya rasa masjid ini akan banyak jamaahnya dan terbiasa untuk menerima musafir yang mampir. Foto di atas saya ambil setelah mandi dan bersiap-siap untuk menuju ke lokasi berikutnya. Oh iya, di Surabaya sudah tersedia layanan transportasi online, itulah yang membuat saya tenang untuk jalan-jalan di Surabaya. Tinggal buka aplikasi Go-Jek, saya arahkan tujuan ke House of Sampoerna.

House of Sampoerna menjadi pilihan teratas saat saya mencari tempat wisata melalui Google Maps. Disini tersedia 2 hal yang bisa dinikmati, yaitu mengikuti wisata Surabaya Heritage Track (SHT) menggunakan bus berkeliling kota atau mengunjungi Museum Sampoerna yang berlokasi di House of Sampoerna.

Sayangnya, saya tiba di lokasi pukul 8:30 dan antrean pendaftaran SHT sudah panjang, dan ketika saya tanya slot untuk jam 9:00 pagi ternyata juga sudah habis, slot tersisa yang terdekat adalah jam 13:00. Berhubung saya tidak memiliki banyak waktu, maka saya foto-foto saja dan mau main ke museum saja yang baru dibuka nanti jam 9:00.

Bisnya keren ya? Katanya jika beruntung mengikuti tur SHT, kita akan dibawa ke beberapa tempat bersejarah di Surabaya dan diceritakan pula sejarah setiap objeknya, menarik. Nanti kapan-kapan saya akan datang kesini lagi dan memesan tempatnya dulu, karena ternyata boleh untuk memesan tempat melalui telepon.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Museum Sampoerna dibuka. Awalnya saya bingung karena pintunya tertutup, setelah bertanya kepada petugas ternyata memang pintu sengaja ditutup karena ada AC di dalam, saya cukup membuka pintu saja dan gratis tanpa tiket. Kebetulan di dalam sedang ada rombongan keluarga yang sedang berkunjung dan didampingi oleh pemandu museum. Jiwa backpacker saya muncul, langsung saja bergabung ke rombongan itu untuk sekedar ikut mendengarkan penjelasan mas-mas pemandu. Kayanya sih ada beberapa anggota rombongan yang ngeliatin saya waktu ikut rombongan dia, dianggap penyusup mungkin ya? Hihihihi…

Museum ini menarik, kebetulan saya juga memang suka main ke museum. Di museum ini kita bisa melihat sejarah awal Sampoerna hingga sekarang, banyak foto, tembakau, dan alat-alat yang dulu digunakan untuk produksi. Di lantai 2, kita bisa melihat secara langsung proses pelintingan rokok oleh wanita-wanita terampil. Sayangnya disini tidak boleh memotret, tapi kita bisa membeli souvenir disini.

Keluar dari museum, saya diinfokan ada pameran patung di gedung belakang. Tempatnya agak tersembunyi namun tenang, saya sempat melihat-lihat karya seniman disana dan cukup kagum dengan hasil karyanya. Lagi-lagi disini tidak boleh memotret, tapi tidak mengapa karena dengan melihatnya saja, saya sudah merasa cukup.

Perjalanan berikutnya adalah ke Monumen Kapal Selam, terima kasih kepada Okky yang hari itu banyak memberikan informasi tempat tujuan wisata di Surabaya. Tapi sebelumnya saya sempat beli Nasi Rawon yang berada di depan House of Sampoerna sebelum memesan Go-Jek lagi.

Monumen Kapal Selam ini sesuai dengan namanya, kita bisa masuk ke kapal selam sungguhan yang diletakkan disana, tiket masuknya IDR 10.000 saja. Kebetulan karena bukan masa liburan, saya bisa masuk ke kapal selam dengan lengang. Di dalam telah dipasang AC supaya tidak sumuk, kemudian mungkin seharusnya ada pemandu wisata yang akan bercerita, namun saat saya masuk mbak-mbaknya sedang makan siang. Jadilah saya masuk ke setiap bagian kapal selam sendirian. Iya, betul-betul sendirian karena memang sepi pengunjung.

Di dalam kapal selam, saya melihat banyak peralatan yang hanya bisa saya tonton di film, kemudian ada beberapa tulisan keterangan di setiap bagiannya. Kapal selam terbagi menjadi beberapa bagian yang memiliki fungsinya masing-masing. Pada setiap bagian ruangan terdapat pintu yang berukuran besar dan kecil, saran saya jika Anda membawa tas punggung yang besar, lebih baik tasnya dilepas dan dilempar ke dalam saat mau masuk ruangan dengan pintu kecil. Saya sempat nyangkut ketika mau pindah ruangan dengan kondisi tas masih saya panggul. Hihihi…

Saya membayangkan kehidupan di kapal selam tentu serba terbatas, maka jika kapal sedang sandar, pasti seluruh kru langsung mencari hiburan. Kunjungan saya di Monumen Kapal Selam dari pintu masuk ke pintu keluar hanya 15 menit. Saya mencari Video Rama yang tertulis di tiket, tapi tidak menemukannya, apa mungkin juga tidak buka? Saya juga melihat ada kolam renang disana, tapi khusus untuk anak-anak. Sebagai informasi, cuaca saat itu sangat terik, mungkin itu yang membuat kolam renang cukup ramai.

Berhubung waktu telah beranjak siang, maka saya perlu mencari masjid untuk Shalat Jumat. Berbekal Google Maps, saya mencari masjid terdekat dan besar. Saya memilih mengunjungi Masjid Muhajirin di dekat Pemkot Surabaya.

Cukup berjalan kaki selama 15 menit saya sudah sampai ke lokasi, oh iya di tengah perjalanan saya sempat memotret ikon Kota Surabaya yang saya jadikan featured image di postingan ini. Yang saya sukai dari Surabaya adalah trotoar yang ditata rapi dan nyaman bagi backpacker yang berkunjung.

Masjid Al Muhajirin yang saya kunjungi untuk Shalat Jumat ini cukup megah, terletak di dekat kantor Pemkot Surabaya dan jamaahnya sangat banyak. Saya sempat tiduran sejenak untuk meluruskan punggung dan kaki hingga jam 13:00 untuk kemudian mencari makan siang. Okky menyarankan saya untuk mencicipi Sate Klopo yang lokasinya tidak jauh dari masjid, seketika semangat kembali muncul dan langsung menuju kesana.

Saya baru tahu jika penjual Sate Klopo itu cukup banyak, kemudian yang terkenal dan ramai adalah Sate Klopo Ondomohen Bu Asih, namun karena oleh Google Maps diarahkan ke Pojok Malam, maka jadilah saya mampir kesana. Saat baca-baca review ternyata rasanya sama dengan Bu Asih, bahkan dijadikan alternatif jika warung Bu Asih sedang ramai. Memang ketika saya datang ke Pojok Malam, cukup sepi namun pesanan saya jadi cepat disajikan. Kapan-kapan saya akan mampir warungnya Bu Asih.

Kira-kira seperti itu bentuk satenya, satu porsi berisi 10 tusuk daging sapi yang dibaluri parutan kelapa sebelum kemudian dibakar. Hmmm… wanginya menggoda dan rasanya menjadi lebih kaya karena dari parutan kelapa yang ikut dibakar tadi. Seporsi Sate Klopo harganya IDR 20.000 saja.

Baiklah, setelah kenyang saatnya membeli oleh-oleh. Lagi-lagi saya bertanya kepada Google Maps dimana lokasi Bu Rudy untuk membeli sambal dan lain-lainnya. Kemudian saya diarahkan ke Bu Rudy yang beralamat di Jalan Anjasmoro. Tapi katanya Okky, disini bukan yang asli hihihi.. Nggak papa deh yang penting tetap bisa dapat sambalnya.

Ternyata perjalanan cukup jauh, tapi saya bisa melihat banyak spot-spot menarik di Surabaya. Pak Go-Jek yang mengantar saya cukup lihai membawa motornya, sehingga bisa cepat sampai ke tujuan. Sesampai disana saya disambut oleh bangunan dengan tulisan Bu Rudy yang sangat besar.

Disini tidak hanya menjual sambal, namun juga menjual oleh-oleh yang lain. Selain sambal, saya juga membeli petis, terasi, dan beberapa cemilan. Saya juga melihat ada beberapa pengunjung yang sedang makan siang disana, rupanya selain toko oleh-oleh, disini juga bisa untuk makan di tempat.

Saya tidak berlama-lama disini karena waktunya sudah mepet dengan jam keberangkatan saya ke Semarang. Kebetulan juga tidak banyak pengunjung sehingga proses pembayaran bisa diselesaikan dengan cepat. Selanjutnya langsung memesan Go-Jek lagi untuk mengantar saya ke Stasiun Pasar Turi.

Akhirnya, sampailah saya di Stasiun Pasar Turi. Sebagai backpacker dan turis yang baik, saya sempatkan memotret ikon Stasiun Pasar Turi yaitu lokomotif. Sebagai pengingat bahwa saya pernah kebablasen sampai sini akibat ketiduran. Seperti biasa, saya tidak pernah memotret diri sendiri, jadi harap maklum tidak ada foto saya yaaa. Sampai jumpa lagi Surabaya.

Categories
Tulisan

One Step Closer

Iya, hari Minggu tanggal 12 Maret 2017, saya melamar pasangan saya. Prosesi lamaran yang sederhana, namun bagi kami berdua, sangat bermakna. Mengingat perjuangan kami untuk mencapai ke tahapan ini tidaklah mudah, banyak sekali tantangan yang sudah kami hadapi dan lalui bersama. Komunikasi yang kami bangun merupakan pondasi yang bisa membuat kami bisa sejauh ini, yang sekali lagi, ini tidak mudah.

Ke depannya, komunikasi akan terus ditingkatkan, tidak hanya antara kami berdua, namun juga ke seluruh keluarga besar. Kami percaya, bahwa membangun keluarga itu berawal dari komunikasi yang bermakna.

Categories
Tulisan

Meningkatkan Standar Itu Tidak Mudah, Tapi Bisa Dilakukan

Hai, Ini sudah bulan ketiga di tahun 2017. Sudah melakukan perubahan apa?

Tahun 2017 bagi saya diawali dengan hal-hal yang luar biasa, karena banyak sekali perubahan yang terjadi di sekeliling saya. Terutama dari hal pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mungkin sekali-kali saya cerita sedikit ya, biar blognya tidak berisi review dan artikel sok tau terus hahahaha.. Lagipula saya sudah jarang menulis lagi, harus mulai dibiasakan supaya kualitas tulisannya membaik.

Oke, saya mulai dari pekerjaan. Mulai bulan November 2016 lalu saya bergabung ke sebuah perusahaan digital di daerah Kemang, Jakarta Selatan sebagai Senior Engineer. Tugas saya sederhana; yaitu mengumpulkan tim baru, menentukan job-description, menyusun jadwal, dan mengatur ritme pekerjaan. Ini perlu saya lakukan karena perusahaan tersebut baru saja ditinggal oleh semua engineers, dengan kondisi hampir semua aplikasi memiliki bug.

Kebetulan saya kenal baik dengan pendirinya, jadi sebagai kawan yang baik, maka saya mengiyakan tawaran untuk membantu perusahaan sekalian belajar hal baru.

Apakah prosesnya mudah? Tidak! Sama sekali tidak mudah. Selama 2 bulan pertama saya stress dengan banyaknya tanggung jawab yang diemban, kemudian mengetahui bahwa semua aplikasi yang berjalan menggunakan bahasa yang berbeda dengan yang saya kuasai. Namun demikian, saya harus bertahan dan membuktikan bahwa saya bisa diandalkan. Akhirnya, mulai Januari 2017, tim baru mulai terkumpul dengan kualitas yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Saya bangga dan sangat menghormati kepada tim baru ini. Total engineer hanya 7 orang, namun yang fulltime di kantor hanya 1 orang. Sisanya? Remote!

Yup, ini tantangan. Semua engineer yang remote statusnya Senior Engineer dan hanya ngantor beberapa hari saja. Waktunya berbeda-beda, mulai dari hanya 1 hari (saya) hingga ada yang 3 hari, bahkan ada yang saya perbolehkan tidak perlu datang ke kantor. Disinilah tantangan untuk mengatur ritme pekerjaan diuji. Untunglah sebagai akademisi saya dekat dengan berbagai macam resources, saat ini saya sedang menguji salah satu metode di Agile Methodology sebagai fundamental mengatur pekerjaan di kantor. Meskipun awalnya terseok-seok, namun pada akhirnya semuanya dapat diatasi dengan baik. Yang penting komunikasi yang baik terus terjalin meskipun terpisah dengan jarak, dan disinilah saya mendapatkan pengalaman sebagai Project Manager.

Selain bekerja di Kemang, saya juga mengantor di salah satu perusahaan fitness di daerah Tanah Abang. Di kantor ini sebetulnya tidak banyak yang bisa saya lakukan, karena status saya ditransfer kesini semenjak kantor saya di Cipete ditutup. Kebetulan kantor Tanah Abang merupakan sister company dengan kantor Cipete sehingga saya bisa dipindah kesini. Perubahan pekerjaan sangat terasa, dari yang tadinya bekerja di Digital Agency, sekarang harus ngantor di corporate atau yang sering disebut juga sebagai Brand People. Disini semua sistem sangat berbeda dengan yang saya kuasai, juga berbeda bahasa dengan di kantor Kemang.

Jadi, saya ngantor di 2 tempat selama seminggu namun tidak menguasai semua bahasanya. Lalu saya kemudian menyadari, bahwa kemampuan Bahasa Pemrograman tidak bisa dijadikan andalan, namun kemampuan algoritma dan logika yang benar-benar diperlukan. Jadi, bukan berarti saya enak-enakan ngantor, digaji, tapi tidak melakukan apa-apa ya. Hal-hal yang saya perlu lakukan ternyata dipaksa untuk lebih tinggi lagi. Susah? Pasti! Tapi mulai awal Januari 2017 ini semua masalah mulai dapat diatasi, hal-hal yang tadinya saya rasa tidak mungkin saya lakukan, sekarang sudah dapat saya lakukan dengan nyaman. Disini adalah kantor yang sangat menyenangkan, namun kontrak saya di Tanah Abang berakhir di bulan Maret 2017 ini.

Sayangnya, ketika saya merasa sudah memiliki cukup bekal untuk dibagikan ke mahasiswa, terjadi perbedaan visi dengan institusi tempat saya mengajar. Hal ini cukup merugikan saya tentunya dan menghabiskan energi yang tidak sedikit, karena sudah berlangsung sejak 2015. Ini merupakan perubahan yang paling ekstrem di tahun 2017 ini, maka sudah saatnya saya mencari institusi yang memiliki kesamaan visi.

Saya percaya, bahwa mahasiswa Ilmu Komputer perlu dikenalkan teori dan praktikal secara berimbang dan up-to-date. Namun, terdapat hasil penelitian yang mengatakan bahwa, apapun yang kita pelajari di tahun pertama kuliah Teknik, akan basi di tahun ketiga. Maka, sebagai pengajar juga berkewajiban untuk mengejar ketertinggalan tersebut, dan itu mau-tidak-mau harus berani terjun ke industri untuk melihat sendiri bagaimana perkembangannya.

Baiklah, sudah cukup membahas mengenai pekerjaan.

Tahun 2017 ini saya merasa banyak perubahan di sekeliling dan di diri sendiri. Selain memiliki kelebihan, tentunya saya juga memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan saya adalah, saya sangat ekspresif, sehingga jika saya menyukai sesuatu, maka tidak segan untuk mengutarakan. Begitu juga sebaliknya, bila saya tidak setuju atau tidak berkenan pada sesuatu hal, maka saya tidak segan menunjukkannya. Ini ternyata membuat pikiran saya menjadi lebih ringan, karena saya bisa fokus terhadap pekerjaan dan pasangan.

Iya, saya akan melamar pasangan saya dalam 5 hari ke depan.

Doakan saya ya…

 

Categories
Tulisan

Selamat Idul Adha 1437H

Yeaaayy… Lebaran Idul Adha tahun ini bisa saya rayakan di Semarang, tanggalnya pas banget di long weekend, tapi nanti malam sudah harus berangkat ke Jakarta lagi hahaha.. Alhamdulillah nanti malam dapat kereta Argo Muria Tambahan jam 18:55 yang dijadwalkan sampai Gambir jam 1 pagi, jadinya harus persiapan tidur di stasiun sampai waktunya Subuh sebelum melanjutkan perjalanan ke Istiqlal.

Idul Adha identik dengan kurban, Alhamdulillah tahun ini bisa menunaikan kurban meskipun tidak membeli kambing secara langsung, tapi melalui layanan marketplace secara online dan nantinya daging kurban akan disalurkan langsung melalui jaringan mereka. Saya membaca cukup banyak pro-kontra mengenai model kurban semacam ini, kalo saya sih yang penting saya sudah kasih amanah dan saya mempercayai mereka.

Karena nanti malam sudah harus berangkat, maka kegiatan sate-menyate untuk sementara ditunda dulu, sekarang upload gambar satenya dulu saja.

Akhir kata, selamat Idul Adha 1437H. Semoga makna berkurban dapat mengilhami kita semua (saya pada khususnya) dalam menjalani kehidupan dan bisa membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Aamiiin.

Categories
Tulisan

Mandi Mahal di Stasiun Gambir

Di postingan sebelumnya, saya cerita tidak terasa sudah setahun bekerja di Jakarta, artinya setiap minggunya dipastikan pasti datang dan pergi di Stasiun Gambir. Bagi yang sudah beberapa tahun tidak mampir ke Gambir, pasti akan “pangling”, atau asing dengan penampilannya yang sudah berubah. Stasiun Gambir sudah lebih bersih, rapi, tertata, dan tidak ada lagi pedagang asongan yang biasanya menghiasi stasiun. Keren lah pokoknya.

Dulu, saya tidak mengalami kesulitan untuk mandi di Stasiun Gambir, karena ada toilet umum yang memang menyediakan fasilitas ala kadarnya untuk mandi. Sekarang setelah semuanya dirapikan, maka mandi menjadi masalah serius bagi sebagian warga pendatang, termasuk saya.

Biasanya setiba di Gambir, saya langsung pesan Go-Jek untuk mengantarkan ke Masjid Istiqlal. Kereta Sembrani atau Argo Anggrek Malam datang biasanya menjelang atau pas waktu Subuh, sehingga memungkinkan untuk shalat Subuh kemudian merem sebentar di Istiqlal, baru dilanjutkan numpang mandi disana.

Tips mandi di Istiqlal, lihat rombongan bis di parkiran. Jika masih banyak sebaiknya urungkan dulu niatan mandi, karena pasti masih penuh dan mengantri. Sebaiknya tunggu sekitar jam 6:30-7.00 saat bis-bis mulai melanjutkan perjalanan, disitulah Anda bisa mandi dengan nyaman karena kondisinya sudah mulai sepi. Lebih siang lebih baik, saya pernah mulai mandi jam 7:30 dan bisa memilih kamar mandi yang paling nyaman.

Oke, lanjut ceritanya. Minggu lalu, kereta Argo Anggrek Malam yang saya tumpangi mengalami TasPat (pembatasan kecepatan) mulai dari Stasiun Semarang Tawang hingga Stasiun Gambir, sehingga saya baru sampai di Jakarta pukul 8:30. Ini tentunya masalah, karena jam masuk kantor saya juga mulai jam segitu. Setelah mengabari Pak Manager, saya memutuskan untuk mencoba mandi di Stasiun Gambir, kebetulan saya sudah sering melihat promo di standing bannernya, yaitu di Shower & Locker.

Mungkin ini adalah mandi termahal yang pernah saya lakukan. PT KAI mengerti bahwa penumpang yang datang ke Jakarta kebanyakan adalah karyawan atau orang yang akan berbisnis, pasti mereka butuh untuk mandi atau setidaknya mempersiapkan diri dengan nyaman. Makanya, Shower & Locker ini memang menyasar orang-orang dari kalangan tersebut. Biaya untuk mandi sebesar IDR 85.000 sudah dengan pinjaman handuk. Kamar mandinya standar hotel melati dengan shower air panas dan dingin yang bisa diatur, semburannya kuat, dan bonus suara gemuruh kereta karena posisinya memang pas berada di bawah rel kereta api. Katanya sih dapat kopi, tapi kemarin saya nggak dapat. Mungkin promonya sudah habis. Silakan klik fotonya untuk memperbesar gambar.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kereta Argo Anggrek Malam yang saya tumpangi mengalami TasPat, sehingga hampir semua penumpang pasti berpikiran yang sama untuk menggunakan layanan Shower & Locker, alhasil saya mendapatkan nomor antrean 20. Tadinya saya berpikir bakalan menunggu lama, ternyata petugas Shower & Locker berkoordinasi dengan petugas di Hotel Rail Transit Gambir yang lokasinya bersebelahan untuk membuka kamar demi mengurangi waktu tunggu antrean (yang sudah cukup banyak). Kebetulan saya beruntung mendapatkan giliran di kamar hotelnya, bukan di kamar mandinya Shower & Locker. Jadi fotonya sekalian bisa menggambarkan kondisi hotelnya ya. Oh iya, katanya sih fasilitas asli di Shower & Locker tidak jauh berbeda dengan hotelnya karena memang mereka masih satu manajemen.

Menurut saya, dengan tarif IDR 85.000 per orang memang sangat mahal. Tapi dengan kondisi yang tidak ada pilihan lain, maka sepertinya ini adalah cara terbaik untuk dapat membersihkan diri dengan cepat supaya bisa mengejar waktu. Karena di Jakarta, waktu adalah sesuatu yang berharga, dan PT KAI mengerti itu. Info tambahan, Shower & Locker ini buka 24 jam.

Categories
Tulisan

Sukses Itu Mencari Pengalaman

Wah, ndak terasa saya sudah hampir setahun bekerja di Jakarta, kota yang memberikan banyak sekali kesempatan, tinggal bagaimana kita melihatnya. Kemudian jadi ingat pas awal-awal bekerja setahun yang lalu, cukup banyak cerita yang jika diingat membuat saya menjadi semakin bersyukur karena berani mengambil keputusan ini dan keluar dari zona nyaman yang sudah bersama saya selama lima tahun terakhir.

Tidak, saya tidak meninggalkan profesi saya sebagai Dosen. KTP saya juga masih tertulis Dosen, cuma berubah dikit aja, tidak banyak, dan tidak penting buat diceritakan.

Oke, dalam setahun ini saya sudah berpindah lokasi kerja satu kali. Tadinya saya berkantor di sebuah digital agency di daerah Jakarta Selatan, sekarang saya dimutasi ke sister company di daerah Jakarta Pusat. Lebih dekat dengan Gambir, tapi sayangnya nggak bisa tidur di kantor lagi hahaha. Kemudian saya pernah “menolak” sebuah tawaran pekerjaan dengan tawaran yang sangat menggiurkan, namun setelah berkonsultasi dan mempertimbangkan berbagai hal, dengan berat hati saya harus menolak tawaran itu. Mungkin suatu saat saya akan menyesal, tapi saya masih yakin dengan pilihan saya.

Bekerja di Jakarta tanpa sadar membuat saya sedikit berubah, namun dalam arti yang positif. Saya jadi lebih berani dan cepat mengambil keputusan, suatu hal yang dulu tidak mungkin saya lakukan. Saya juga lebih berani untuk mengutarakan pendapat, karena jika tidak begitu bakalan tertindas hahaha. Selain itu jadi lebih merasakan kemajuan teknologi, peliknya masalah, dan tertantang untuk memberikan solusi yang level kesulitannya berkali-kali lipat saat di Semarang dengan kualitas yang berkali-kali lipat juga.

Saya jadi mengerti kenapa selisih gaji atau nilai kontrak di Jakarta dengan di Semarang itu sangat jauh berbeda. Di Jakarta tidak ada yang namanya kualitas pas-pasan atau toleransi tinggi, karena kita selalu mendapatkan ekspetasi yang sangat tinggi dari orang lain. Masing-masing sudah harus paham dengan kewajiban masing-masing baru nanti akan mendapatkan hak yang sudah dijanjikan. Menghargai janji dan waktu dengan orang lain adalah kunci utama, karena semua orang sibuk. Ketika kita mendapatkan sebuah kesempatan, tidak boleh dilewatkan.

Sisi positifnya, pikiran saya menjadi lebih terbuka dan pengetahuan menjadi semakin mendalam. Tadinya mungkin saya hanya tau kulitnya saja, tapi sekarang sudah jauh lebih paham dengan konsep dasarnya. Alhamdulillah tahun ini sudah ikut dua kali international conference.

Saya masih punya waktu hingga Febuari 2017 untuk mencari pengalaman disini. Mudah-mudahan cukup bekal untuk nantinya dibagikan ke mahasiswa, supaya mereka tau dan bisa mempersiapkan diri untuk menghadapai persaingan di bidang IT. Bagaimana selanjutnya? Tentunya masih jadi Dosen, tergantung nanti penawarannya bagaimana hahaha…

Categories
Tulisan

New Gear, MacBook Pro MD101

Ceritanya saya barusan beli laptop untuk menunjang pekerjaan sehari-hari, kali ini mau ikut-ikutan jadi fanboy Apple dengan membeli MacBook Pro MD101. Alasannya sederhana, selama saya ngantor di Jakarta ternyata disana cukup banyak pengguna perangkat Mac, dan pengetahuan saya tentang perangkat Mac bisa dibilang tidak ada. Jadi misalnya ada pertanyaan atau pekerjaan yang berhubungan dengan Mac tentu saja saya nggak bisa menyesuaikan diri.

Di saat yang bersamaan, laptop saya Asus N43SL mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Misalnya terkadang dvd drive suka membuka sendiri tanpa diperintah, laptop jadi cepet panas padahal sudah beberapa kali dibersihkan, kemudian beberapa port seperti HDMI dan VGA mulai menunjukkan kelelahan untuk dapat melayani saya selama 5 tahun terakhir ini. Padahal laptop Asus itu sudah saya upgrade dengan RAM 8 GB dan SSD drive, ternyata penuaan tetap tidak bisa dilawan.

Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan Betemen Loenpia dan teman di kantor, saya memutuskan untuk mencoba beralih ke perangkat Mac. Pertimbangannya, Mac dapat mendukung kebutuhan saya seperti presentasi, mengetik, web development, dan sys-admin. Sebelumnya saya sudah pernah mencoba pakai MacBook teman dan memang merasakan bahwa perangkat ini bisa mendukung pekerjaan saya.

Eh jadi ingat, di awal tahun 2008 saya pernah bercita-cita ingin membeli MacBook Pro tapi waktu itu belum punya uang yang cukup. Tapi waktu itu saya yakin bahwa suatu hari saya akan mampu membeli perangkat itu. Mungkin ini pertanda dan inilah saatnya.

Dari hasil konsultasi sebelumnya, ternyata saya tidak perlu membeli perangkat MacBook Pro yang baru, apalagi dengan yang Retina Display. Saya membutuhkan MacBook yang “upgradable”, sedangkan perangkat MacBook keluaran 2013 hingga sekarang sudah tidak dapat diupgrade. Setelah berselancar di berbagai tempat, saya mendapat kesimpulan bahwa MacBook Pro keluaran mid 2012 dengan seri MD101 merupakan generasi terbaik karena sudah dibekali Intel Prosesor i5 generasi 3, RAM dapat diupgrade hingga 16 GB, dan Harddisk dapat diupgrade menggunakan SSD drive. Ukuran layar yang 13 inchi juga pas untuk kebutuhan saya. Masalah bobotnya yang termasuk berat, menurut saya tidak masalah karena ternyata masih lebih berat Asus N43SL.

Masalah berikutnya adalah pencarian barang, ini karena saya mencari barang second tapi tentunya ingin kualitas yang masih bagus. Meskipun sudah banyak marketplace berdiri, saya tetap kembali ke selera asal, yaitu KasKus. Disanalah akhirnya saya menemukan penjual yang memiliki MD101 dengan kualitas 96% dengan penyok minor yang ternyata nggak keliatan. Harga yang ditawarkan juga oke, setelah negosiasi saya bisa mendapatkan dengan harga 8 juta rupiah saja. Uniknya, penjual ini menawarkan menggunakan layanan Tokopedia untuk memanfaatkan layanan cicilan 0%, wah boleh juga tuh. Sistem escrow yang dimiliki Tokopedia juga melindungi saya dari penipuan karena dana baru bisa diteruskan ke penjual ketika barang sudah sampai ke tangan. Jadilah saya membeli MacBook Pro MD101 dengan cicilan 0% dari Tokopedia hahaha.

Bagaimana dengan nasib Asus? Sekarang dia pensiun dan gantian melayani Bale Bandeng di rumah sebagai laptop operasional. Dia sudah tidak perlu mengikuti saya bolak-balik Semarang-Jakarta tiap minggunya, semoga sudah jadi lebih tenang.

Categories
Tulisan

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016

Sebagai salah satu civitas akademika di Universitas, saya ucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016. Mudah-mudahan saya terus diberi kekuatan untuk dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat. Hari Pendidikan Nasional ini juga bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kota Semarang ke-468, usia yang sudah sepuh dan berumur, semoga Kota Semarang bisa menjadi panutan kota-kota sekitarnya di Jawa Tengah.

Tahun ini, saya memperingati hari Pendidikan Nasional tidak dengan ikut upacara di kampus, karena tahun ini saya peringati semangat pendidikan di hati.. *halah*

Mendidik harus dimulai dari hati. Karena dari hati, ilmu yang akan ditransfer akan lebih berkualitas. Jangan sampai mengajarkan ilmu dengan keliru, usang, dan tidak tepat. Pengajar yang baik harus bermula dari keyakinan bahwa ilmu yang akan diberikan akan membuat ilmu itu semakin berkembang. Pengajar yang baik juga harus yakin bahwa siapapun yang menerimanya akan memiliki manfaat dari ilmu itu.

Alhamdulillah saya merasa mendapatkan banyak pelajaran selama bekerja di Jakarta, mata semakin terbuka bahwa kesenjangan antara teknologi dan kebutuhan masyarakat masih begitu lebarnya. Disinilah peran pendidik untuk menyiapkan generasi selanjutnya supaya dapat menjembatani kebutuhan itu. Kemampuan saya semakin ditempa dengan keras bahwa sesungguhnya yang saya kuasai sekarang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kota besar seperti Jakarta. Disinilah peran pendidik untuk menyiapkan calon wisudawan supaya dapat bersaing dengan industri global.

Selain itu, saya semakin belajar untuk toleransi dan berbesar hati. Cukuplah sudah dengan semua drama di awal tahun ini, cukuplah dengan semua prasangka yang bermunculan selama ini, ternyata hanya dengan mengabaikan dan menyalurkan energi ke hal lain, malah bisa membuat saya menjadi lebih kreatif dari sebelumnya.

Jangan hanya kejar materi, karena nanti hanya akan mendapatkan materi saja. Kejarlah ilmu yang tinggi, kemudian bagikan ilmu itu. Nanti materi akan mengikuti beserta hati yang damai.

Berbagi Tak Pernah Rugi

Categories
Tulisan

Lagi Trend : Playing The Victim

Victim playing (also known as playing the victim or self-victimization) is the fabrication of victimhood for a variety of reasons such as to justify abuse of others, to manipulate others, a coping strategy or attention seeking. Where a person is known for regular victim playing, the person may be referred to as a professional victim. – Wikipedia.

Akhirnya saya menemukan istilah “Playing the Victim” setelah sekian lama gemes dengan beberapa artikel berita yang saya baca. Misalnya yang terbaru, tentang Walikota Bandung Pak Ridwan Kamil yang dilaporkan ke pihak berwajib oleh sopir omprengan yang membandel, gara-gara sopir itu mengaku dianiaya (ditampar) ketika Ridwan Kamil memergoki sopir tersebut sedang mengangkut penumpang di area terlarang. – Detik.

Masih banyak kasus serupa, bermula dari satu pihak yang melakukan pelanggaran kemudian ada pihak yang menegur atau menindak namun proses penindakannya dianggap tidak sopan, ujungnya adalah pihak yang bersalah itu malah melaporkan pihak penindak dengan tuduhan penganiayaan atau yang paling bikin saya gemes, dituntut karena perbuatan tidak menyenangkan.

Oke, kamu itu salah, kemudian kamu dihukum. Terimalah kesalahanmu itu, mengenai proses penindakan yang tidak enak ya anggap saja dari buah kesalahanmu. Menghukum seseorang dengan baik-baik, nggak akan bikin kapok. Yang ada malah ngelunjak trus besok diulangi lagi. Kapok adalah kondisi ketika orang harus membayar kesalahannya sampai tidak mau mengulang lagi. Pelajaran menuju kapok itu biasanya berat dan keras.

Lha kalo cuma dielus-elus, kapan kapoknya?

Jika pihak yang bersalah masih dibawah umur, boleh ada pengecualian. Tapi dari yang sering saya lihat, justru pelaku playing the victim ini malah orang dewasa, berpendidikan, dan berduit karena mampu untuk menyewa pengacara. Daripada repot-repot ngurusin hati yang terluka karena ditindak, kenapa nggak memperbaiki hati dengan menerima bahwa itulah resiko yang harus diterima. Terimalah seperti orang dewasa. Jika masih nggak terima, bayar dulu kesalahanmu baru lakukan yang perlu dilakukan.

Bukan maksud membandingkan, dulu saya sering dihukum guru. Hukumannya pun beragam, kalo hanya berdiri di depan kelas saya anggap hanya piknik dan pindah duduk. Apakah bikin kapok? Tentu tidak, karena cuma berdiri dan cengengesan di depan, paling kakinya pegel aja. Tapi ketika dihukum dengan ditempeleng gara-gara berantem dengan teman, saya langsung kapok berantem. Bukan karena berantem itu nggak baik, tapi serem ketika kami berdua ditempeleng oleh pak guru yang killer itu. Akhirnya sekarang malah saya berkawan dengan yang teman yang berantem itu, dan hampir tidak pernah terlibat dalam perkelahian karena langsung teringat rasanya.

Apakah saya mengadu ke orang tua? Nggak dong, jika iya, maka saya sama saja playing the victim. Saya merasa salah dengan berkelahi jadinya saya anggap hukuman itu setimpal buat saya. Lagipula, jaman dulu kalo ditempeleng guru trus malah lapor ortu, justru malah ditambahin sama ortu! hahahaha…

Efeknya baik buat saya, yakni tidak dengan mudah menyalahkan orang lain atau menyalahkan situasi jika saya melakukan kesalahan atau mengalami masalah. Buat saya, kesalahan di masa muda itu penting, justru sebaiknya seringlah melakukan kesalahan supaya bisa belajar dari kesalahan itu. Saya sering mengamati mahasiswa yang pandai membuat alasan ketika posisi terjepit, padahal menurut saya itu hanya mengulur waktu saja.

Hadapi dan selesaikan apa yang telah kau mulai.