Beberapa kali saya mendengar dan membaca mengenai instruksi team lead, C-Level, atau Eselon setingkat menteri yang mengatakan,
“Pakai AI aja untuk melakukan bla-bla-bla”
AI seakan-akan sekarang jadi silver bullet untuk melakukan apapun yang dianggap susah untuk dikerjakan oleh manusia biasa. Seakan-akan dengan AI maka semua masalah yang ada di pikirannya akan selesai, rencananya akan terwujud, produktivitas akan meningkat otomatis, proposal akan mudah dibuat, dan produk akan langsung terjual dengan mudahnya.
Sebetulnya saya sudah menduganya sejak lama, WNI adalah orang yang tamak, ketika ada seseorang yang dianggap pandai dan efektif dalam bekerja, maka bukannya diapresiasi malah dikasih pekerjaan tambahan.
Kalau orang itu mulai kewalahan, bukannya sadar bahwa sudah melakukan tindakan abusif malah menganggap orang itu tidak bisa bekerja dengan benar.
Ini yang sekarang terjadi dengan AI, karena tau AI bisa mengerjakan banyak hal dengan kepintaran yang luar biasa, maka dia akan dipaksa untuk mengerjakan berbagai hal. Namun ketika dianggap tidak memenuhi ekspektasi, yang terjadi:
- AI nggak pinter
- Orang yang disuruh pakai AI juga sama aja.
WNI tidak butuh AI untuk membantu meningkatkan kemampuannya untuk bekerja, namun WNI akan menyuruh AI untuk mengerjakan pekerjaannya.
Iya, WNI itu saya, kamu, dan kita semua.
Leave a Reply