Saya kepikiran hal ini ketika perjalanan kembali ke Jakarta setelah minggu lalu menyempatkan mudik ke Jogja. Ketika pulang, saya menyadari bahwa beberapa tetangga saya sudah mulai menjual rumahnya, bahkan sekarang ada 5 rumah yang berada di sekitar saya itu kondisinya sedang dijual.
Praktis jika kami sedang tidak berada di Jogja, area sekitar rumah kami jadi cukup lengang. CCTV yang saya pasang juga lebih sering merekam kucing lewat dibandingkan manusia haha.
Oke, sejak kecil kita diajarkan tentang 3 kebutuhan primer.
- Sandang
- Pangan
- Papan
Saya akan fokus ke poin ketiga yaitu Papan. Tadinya saya menganggap Papan itu adalah Rumah, ternyata maksud sebenarnya itu adalah tempat tinggal.
Kebutuhan akan tempat tinggal akan terasa lebih masuk akal dibandingkan kebutuhan untuk punya rumah. Kenapa? harga rumah saat ini sangat tidak masuk akal.
Penyebabnya ya karena salah kaprah mengenai tempat tinggal dan rumah ini. Karena rumah dianggap sebagai kebutuhan utama, maka orang akan berusaha mendapatkannya seperti halnya kita membutuhkan sandang dan pangan.
Seakan-akan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan papan itu hanya rumah. Padahal kebutuhan sandang dan pangan itu opsinya banyakk sekali, masa untuk papan hanya rumah?
Tempat tinggal itu tidak selalu harus rumah, tapi suatu tempat untuk berlindung. Kita pun juga tidak perlu punya hak milik, tapi cukup punya akses dan hak untuk menempati atau menggunakan.
Jadinya, sekarang opsi tempat tinggal akan menjadi lebih banyak. Tidak hanya rumah, tapi juga bisa menjadi kosan, apartemen, dan rumah sewa. Semuanya memiliki fungsi yang sama sebagai tempat tinggal. Jika kita sudah punya salah satunya maka sebetulnya kita sudah terpenuhi kebutuhan primernya.
Tapi kan kalau sewa terus, uangnya akan hangus?
Memang, sebab uang itu memang digunakan untuk membeli kebutuhan papan, jadi kita bisa tinggal untuk berlindung, beristirahat, dan sebagainya selayaknya manusia. Bukannya kita juga melakukannya dengan sandang dan pangan? Kita beli keduanya untuk dipakai dan dihabiskan, tidak untuk diinvestasikan.
Salah kaprah jika membuat rumah menjadi investasi. Justru itu akan menjadi liabilitas, sebab akan membuat beban manusia yang seharusnya bisa fleksibel menjadi tertahan karena faktor ini.
Jika memang saat ini belum mampu membeli rumah, tidak masalah. Selama masih ada atap yang bisa untuk berlindung maka sudah cukup. Fokus ke yang sedang dijalani dulu.
Iya, kami di Jakarta tinggal di kosan, meninggalkan rumah yang kami miliki di Jogja.
Leave a Reply