Category: Teknologi

  • Mengolah 600 Ribu Baris Data di Python Tanpa Beban

    Pernah nggak Anda terjebak dengan file CSV raksasa yang membuat komputer tiba-tiba “hang” dan memunculkan pesan error OOM (Out of Memory)?

    Saya baru saja mengalaminya saat mencoba mengolah sekitar 600 ribu baris data. Rencana awal saya sederhana: unduh, muat semua ke Python, lalu olah. Tapi kenyataannya, RAM server langsung menyerah karena beban data yang terlalu masif untuk dimuat sekaligus.

    Menariknya, saya bukan seorang ahli Python. Solusi yang saya temukan bukan dari hasil begadang belajar dokumentasi, melainkan hasil dari “Vibe Coding” bersama GLM-5.

    Dulu, kode saya bekerja seperti orang yang mencoba menelan satu loyang pizza sekaligus (Metode Load-All). Tentu saja keseleg!

    Dengan Streaming Aggregation, logikanya diubah total:

    1. Makan Sesuap demi Sesuap: Data dibaca baris demi baris. Begitu satu baris selesai diproses dan poin pentingnya dicatat, baris itu langsung “dibuang” dari memori.
    2. Memory-Friendly: Karena hanya satu baris yang ada di RAM pada satu waktu, beban kerja menjadi sangat ringan. Memproses 600 ribu baris terasa seperti memproses 6 baris saja.
    3. Logika Kondisional yang Cerdas: Saya juga menyisipkan filter di tengah jalan. Data yang tidak relevan langsung dilewati sebelum sempat membebani hasil akhir.

    Alih-alih menyarankan library besar dan berat yang populer di Google, GLM-5 memberikan kode Python yang sangat sederhana (basic). Ternyata, kode standar Python justru memiliki performa terbaik untuk kasus ini karena tidak memiliki “overhead” atau beban tambahan yang sering ada pada library pihak ketiga.

    Inilah yang disebut dengan cara “Pythonic”: Sederhana, bersih, dan sangat efisien.

    Pengalaman ini membuktikan bahwa di era AI, kita tidak harus menjadi kamus berjalan untuk bahasa pemrograman. Yang paling penting adalah insting arsitektur, tahu kapan harus berhenti memuat semua data dan mulai menggunakan aliran (stream).

  • Mencoba GLM-5

    Akhirnya saya ikut mencoba menggunakan GLM-5 untuk menggantikan Kimi-2.5 setelah disarankan oleh seorang kawan (Thanks Mas Bowo). Setelah beberapa hari dijalankan di Cline pada VSCode, GLM-5 lebih cocok digunakan untuk menemani saya ngoding, saya cocok dengan stylenya.

    Katanya, GLM-5 ini kemampuannya untuk hampir menyamai Claude Opus. Berhubung saya belum pernah pakai Opus (paling hanya Sonnet 4.6) maka saya sendiri belum tau perbedaannya dimana.

    GLM-5 ini lebih sabar untuk menyelesaikan tugasnya. Dia akan berusaha untuk memahami konteks dan tugasnya secara perlahan, memang disini harus sedikit lebih sabar dibandingkan ketika bekerja bersama Sonnet maupun Kimi, tapi saya akui hasil kodingannya nggak kalah dengan Sonnet.

    Saya perlu memeriksa bagaimana data saya digunakan ketika menggunakan GLM-5 ini, makanya kemarin hanya bisa memberinya task-task sederhana yang tidak terkait dengan proprietary kantor.

    Biasanya untuk menguji model baru, saya akan memintanya untuk mempelajari kode lalu meminta saran optimasi.

    Jika Anda adalah tipe pengguna yang sukanya berharap GLM-5 langsung ngoding, maka model ini tidak cocok dengan Anda.

    Lalu kenapa saya cocok? sebab saya menyukai Cline yang memiliki fitur “Plan”, dimana dia bisa kita ajak diskusi dulu sampai tingkat keyakinan saya meningkat baru kemudian bisa menyuruhya untuk melakukan action. Nah, GLM-5 sangat cocok untuk vibe coder yang bertipe seperti itu.

    Berapa harganya? Awalnya saya pikir cukup subscribe paket termurah ($10/mo), tapi ternyata GLM-5 ini baru tersedia jika subscribe ke paket yang menengah ($30/mo). Jadi mari kita coba selama sebulan ke depan.

  • Bebas TKDN Untuk Produk AS

    Saya menemukan artikel Kompas di bulan Februari 2026 lalu yang menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia akan membebaskan TKDN untuk perusahaan Amerika Serikat, artinya ini juga akan meliputi Apple dan Google.

    Apa artinya? Kesepakatan ini membuka peluang untuk mereka memasarkan produk atau jasanya di Indonesia tanpa memerlukan sertifikasi TKDN1.

    Apa saja dampak positif yang bisa kita rasakan?

    1. Google Pixel berpotensi “pulang” ke Indonesia. Selama bertahun-tahun saya hanya bisa membaca dan menonton review kecanggihan produk Google ini. Mahal itu pasti, tapi tidak ada jaminan kalau barang ini bisa berfungsi di Indonesia adalah salah satu hal yang membuat saya tidak ingin memimpikan bisa memiliki produk ini. Sekarang? mimpi itu bisa datang kembali.
    2. iPhone bisa rilis lebih cepat. Bukan rahasia umum kalau Apple selalu menunda waktu rilis di Indonesia 2-3 bulan lebih lambat dibandingkan market Global, padahal pengguna ekosistem Apple di Indonesia tidak sedikit. Masalahnya biasanya karena persyaratan TKDN ini, disamping Apple juga belum ingin berinvestasi lebih banyak di Indonesia. Sekarang? gas Oke gas.
    3. Persaingan yang lebih sehat. Semua vendor termasuk yang non-AS pastinya akan merasa bahwa sikap mengutamakan produk AS oleh Pemerintah Indonesia ini akan membuat mereka menjadi terlecut untuk memberikan sesuatu yang lebih baik untuk market Indonesia. Pastinya mereka tidak ingin kehilangan market share 80% di Indonesia hanya gara-gara kebijakan yang pro Amerika ini.
    4. Spesialisasi segmen semakin jelas. Sekarang segmen premium akan dikuasai oleh Apple, Google, dan seri flagship Samsung. Sedangkan segmen menengah kebawah akan tetap didominasi oleh Xiaomi, Oppo, dan Vivo.

    Jadi, Kebijakan ini bukan tentang “siapa yang menang atau kalah”, melainkan tentang perluasan pilihan. Dengan masuknya pemain-pemain baru secara resmi, ekosistem teknologi di Indonesia akan semakin matang dan sejajar dengan negara-negara maju lainnya.

    Kamu ada di segmen mana?

    1. https://tekno.kompas.com/read/2026/02/20/19480077/kesepakatan-dagang-baru-indonesia-bebaskan-tkdn-untuk-perusahaan-as ↩︎
  • Kesan Pertama Mencoba Kimi-2.5

    Hari ini saya berkesempatan untuk mencoba menggunakan Kimi Code dengan model Kimi-2.5 untuk menemani ngoding saya. Biasanya saya menggunakan model Claude Sonnet 4.6 melalui Claude Code, namun karena ada satu dan lain hal, hari ini kami diminta untuk mencoba Kimi.

    “Siapa tau bisa sepinter Claude namun dengan harga murah”.

    Oke, saya biasa menggunakan Claude ini di Visual Studio Code, jadi saya tidak mau beralih menggunakan tools lain. Maka langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari add-on Kimi di VS Code.

    Ternyata memang ada, namanya Kimi Code (Technical Preview), proses install dan autentikasi cukup straightforward. Kita bisa pilih mau pakai Kimi subscription atau pakai API Key via Kimi Code.

    Saya sudah coba keduanya, baik lewat API Key maupun lewat subscription. Tidak ada bedanya untuk hasil akhirnya, jadi aman-aman saja.

    Bagaimana performanya?

    Saya bukan tipe pengguna Code Assistance yang hardcore, artinya saya biasanya hanya menggunakannya untuk diskusi dan lebih mencari tau alasan dibalik itu. Terkadang juga saya minta dia sebagai code reviewer dan debugger wkwk.

    Tapi ada satu hal yang buat saya menandakan bahwa tools ini bagus atau tidak, yaitu jika saya bertanya dengan pertanyaan tersirat itu apakah dia paham atau tidak.

    Sejauh ini, jika saya bertanya dengan pertanyaan tersirat, Claude Sonnet 4.6 cukup bagus dalam memahaminya.

    Bagaimana dengan Kimi?

    Ternyata.. bagus! Seharian ini saya nyaman ngobrol dengannya, tidak begitu agresif untuk menulis kode sampai saya perintahkan, jadi lebih merasa aman untuk sekadar diskusi sampai ketemu solusi yang terbaik.

    Kesan Pertama Mencoba Kimi-2.5
  • Mengoptimalkan Biaya Kubernetes

    Kubernetes yang saya maksud disini adalah GKE (Google Kubernetes Engine) ya, sebuah service dari Google Cloud yang memungkinkan kita untuk membangun infrastruktur cloud dengan orkestrasi Kubernetes pada backbone Google Cloud Platform.

    Kantor saya sudah mengimplementasikan Kubenernetes hampir 4 tahun terakhir, kurang lebih ketika saya pertama join kesini dan sering berinteraksi dengan DevOps. Tentunya saya sudah tidak lagi mengurus hal teknis, melainkan lebih ke bantu-bantu dan ngeliatin data billingnya aja.

    Nah, ketika layanan ini mulai kami pakai, saya lebih penasaran bagaimana cara mengukur apakah kami sudah menggunakan teknologi Kubernetes ini dengan optimal.

    Sebab dikatakan di luar sana, supaya infrastruktur kita lebih fleksibel dan tahan banting, gunakan aja Kubernetes, pasti mantap.

    Secara teknis memang benar, banyak sekali manfaat yang kami rasakan ketika sudah mengadopsi Kubernetes. Salah satunya adalah kami mulai terbiasa menggunakan metode IaC (Infrastructure as Code) untuk mengkonfigurasi node-node yang ada di dalammnya.

    Tapi apakah dari billing juga optimal? Bagaimana mengidentifikasinya?

    Triknya adalah, pelajari benar-benar GCP Billing Console dengan benar, terutama menu-menu filternya. Saya biasanya selain menggunakan dashboard tersebut juga menggunakan BigQuery untuk mengakses langsung datanya dan diolah di tempat lain, misalnya di Google Sheets.

    Saya akan cek Namespace yang bernama kube: unallocated. Jika nilainya semakin kecil, maka akan semakin optimal.

    kube: unallocated adalah kategori biaya dalam laporan GKE Cost Allocation yang menunjukkan kapasitas node yang sudah Anda bayar tetapi tidak digunakan oleh workload apa pun.

    Sederhananya, ini adalah “pemborosan” atau idle capacity di dalam cluster Anda.

    Dalam model penagihan GKE Standard, Anda membayar untuk seluruh VM (Node). Google kemudian mencoba membagi biaya VM tersebut ke setiap Namespace berdasarkan Resource Request (CPU/RAM yang dipesan oleh Pod).

    Idle Resources: Jika Anda memiliki Node dengan 16 vCPU, tetapi total request dari semua Pod hanya 10 vCPU, maka sisa 6 vCPU tersebut akan dicatat sebagai kube:unallocated.

    Pastikan selalu cek nilai namespace tersebut, usahakan nilainya semakin mengecil di setiap bulannya. Jika tidak mau repot maka bisa mempertimbangkan menggunakan GKE Autopilot.

  • Rp1,1 Triliun buat Domain AI.com? Gokil!

    Domain AI.com resmi jadi yang termahal di dunia (yang dipublikasikan ya) setelah laku seharga US$70 juta (sekitar Rp1,1 triliun).

    Siapa yang beli? Namanya Kris Marszalek, bos Crypto.com. Dia membeli domain ini dari pengusaha asal Malaysia, Arsyan Ismail. Transaksinya pun unik karena dibayar pakai aset kripto.

    Kenapa bisa mahal?

    1. Rebutan Identitas: Kata “AI” sekarang adalah kata paling dicari di dunia teknologi. Punya domain AI.com itu seperti punya ruko paling strategis di pusat kota dunia digital.
    2. Proyek Besar: Kris bakal pakai domain ini untuk platform Personal AI (asisten pintar pribadi). Saking ambisiusnya, proyek ini sampai diiklankan di Super Bowl!
    3. Investasi Langka: Domain dua huruf itu jumlahnya terbatas. Memilikinya bukan cuma soal fungsi, tapi juga gengsi dan dominasi pasar.

    Bayangkan, cuma butuh mengetik dua huruf untuk masuk ke masa depan. Jadi, harga Rp1,1 triliun ini investasi jenius atau malah kemahalan?

  • SatuSehat dan Ilusi Kedaulatan: Posisi Indonesia dalam Grid Kontrol Global

    Jika dokumen global menunjukkan adanya “desain” sistematis untuk pengawasan biologis, posisi Indonesia lebih terlihat sebagai klien yang patuh daripada arsitek. Pemerintah membangun infrastruktur yang selaras dengan standar global, namun dengan fondasi keamanan yang rapuh.

    Alih-alih menjadi pemain berdaulat, Indonesia berisiko menjadi tambang data raksasa bagi entitas teknologi global. Berikut tiga indikator bahwa kita “terseret arus” ke arah yang membahayakan privasi warga.

    Transformasi PeduliLindungi ke SatuSehat

    Perubahan nama dari PeduliLindungi menjadi SatuSehat bukan sekadar rebranding. Ini adalah mandat Permenkes No. 24 Tahun 2022, yang mewajibkan seluruh fasilitas kesehatan menyetorkan Rekam Medis Elektronik (RME) ke database pusat.

    Platform ini mengadopsi standar HL7 FHIR R4 (Fast Healthcare Interoperability Resources Release 4). Ini adalah standar pertukaran data yang sama yang didorong oleh Office of the National Coordinator for Health IT (ONC) di AS.

    • Implikasi: Secara teknis, FHIR memudahkan interoperabilitas. Secara strategis, penggunaan standar AS ini membuka “pintu belakang” bagi platform analitik global untuk memproses data kesehatan penduduk Indonesia tanpa hambatan konversi bahasa pemrograman.

    Ambisi Genomik BGSi dan Jejak Asing

    Pemerintah meluncurkan Biomedical & Genome Science Initiative (BGSi) pada Agustus 2022. Targetnya ambisius: mengumpulkan ribuan sekuens genom manusia Indonesia untuk “pengobatan presisi”.

    Namun, siapa yang memegang mikroskopnya? BGSi secara terbuka berkolaborasi dengan Beijing Genomics Institute (BGI) dan didukung pendanaan ventura seperti East Ventures. Dalam lanskap geopolitik di mana data DNA adalah “minyak baru”, menyerahkan peta genetik populasi kepada entitas yang memiliki afiliasi asing adalah pertaruhan kedaulatan.

    Paten teknologi seperti Microsoft WO2020060606 membuktikan bahwa data biologis sedang diincar untuk validasi ekonomi digital. Jika DNA warga bocor, tidak ada fitur “reset password” untuk identitas biologis Anda.

    Kegagalan PDN: Rapuhnya Benteng Digital

    Insiden peretasan Pusat Data Nasional (PDN) pada Juni 2024 oleh ransomware Brain Cipher adalah bukti telak ketidaksiapan negara. Sebanyak 282 instansi pemerintah lumpuh, dan data warga terekspos tanpa enkripsi memadai.

    Pola ini menunjukkan kelalaian sistemik:

    1. Sentralisasi Tanpa Proteksi: Memaksa migrasi data ke satu titik (SatuSehat/IKD) tanpa backup dan keamanan berlapis (Tier-4).
    2. Absensi Tanggung Jawab: Pejabat terkait berlindung di balik permintaan maaf tanpa konsekuensi hukum nyata.

    Kesimpulan: Pasar, Bukan Pemain

    Indonesia tidak terlihat merancang agenda kontrol global ala Event 201. Peran kita lebih menyedihkan: pasar.

    Kita menyediakan 270 juta subjek data. Kita membeli infrastruktur cloud asing. Kita mengadopsi standar internasional tanpa proteksi memadai. Pemerintah menyerahkan kunci tubuh warganya kepada sistem global yang bahkan tidak bisa mereka amankan sendiri.

    Referensi & Jejak Digital

    Untuk memvalidasi analisis di atas, Anda dapat mengakses dokumen publik berikut:

    1. Standar SatuSehat: Dokumentasi Resmi Kemenkes RI mengenai adopsi HL7 FHIR.
    2. Mandat RME: Permenkes No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis (JDIH Kemkes).
    3. Kemitraan BGSi: Rilis Pers Peluncuran BGSi dan Kerja Sama dengan BGI & East Ventures.
    4. Insiden PDN 2024: Laporan BSSN dan Analisis Forensik Ransomware Brain Cipher (Tempo/Kompas).
  • Membaca Ulang Berkas Epstein 2026 dan Blueprint Kontrol Biologis

    Jeffrey Epstein lebih dari sekadar predator seksual. Rilis dokumen terbaru Departemen Kehakiman AS (DOJ) pada awal Februari 2026 membuka tabir baru: peran Epstein sebagai perantara infrastruktur pengawasan global.

    Bukan lagi soal skandal moral, berkas ini mengindikasikan keterlibatan Epstein dalam diskusi tingkat tinggi mengenai neuroteknologi dan simulasi krisis kesehatan jauh sebelum 2020. Berikut adalah tiga pilar data yang menghubungkan dokumen tersebut dengan realitas teknokratis hari ini.

    Protokol 2017: Cetak Biru Sebelum Krisis

    Dokumen Februari 2026 menyoroti komunikasi 2017 yang menghubungkan Epstein dengan teknokrat global dalam pembahasan “simulasi kesiapsiagaan”. Narasi ini berjalan paralel dengan Event 201, simulasi pandemi virus korona yang digelar Johns Hopkins dan Gates Foundation pada Oktober 2019—hanya dua bulan sebelum pasien nol terdeteksi di Wuhan.

    Sinkronisasi ini memunculkan anomali statistik. Apakah pandemi global adalah “Black Swan” (kejadian tak terduga), atau skenario yang dampaknya sudah dikalkulasi dalam ruang tertutup bertahun-tahun sebelumnya?

    Paten WO2020060606: Tubuh sebagai Mining Rig

    Koneksi antara kontrol biologis dan ekonomi digital bukan fiksi sains. Bukti teknisnya tersimpan di server Organisasi Hak Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO).

    Pada Maret 2020, Microsoft mempublikasikan paten WO2020060606.

    • Judul: Cryptocurrency System Using Body Activity Data
    • Mekanisme: Menggunakan aktivitas fisik manusia (gelombang otak, radiasi panas tubuh) sebagai “Proof-of-Work” untuk memvalidasi transaksi blockchain.

    Akses Dokumen Resmi WIPO di sini.

    Dalam konteks dokumen Epstein yang membahas pertahanan nasional berbasis neuroteknologi, paten ini adalah missing link. Ini adalah desain sistem di mana tubuh manusia bukan lagi milik pribadi, melainkan aset yang dapat diaudit dalam rantai ekonomi digital terpusat.

    USCDI dan Akhir Privasi Medis

    Visi tentang “sistem data kesehatan terpusat” kini menjadi kebijakan federal. Melalui standar USCDI (United States Core Data for Interoperability) yang dikelola oleh HealthIT.gov, data medis warga negara distandarisasi agar dapat diakses lintas platform digital.

    Ini selaras dengan misi ID2020, aliansi yang didukung korporasi teknologi besar untuk menyatukan identitas digital dengan status vaksinasi dan rekam medis. Pandemi berfungsi sebagai katalis akselerasi. Publik dipaksa menerima sistem identitas biometrik ini bukan karena pilihan, melainkan atas dasar “keamanan kesehatan”.

    Rilis dokumen Februari 2026 mengonfirmasi satu hal: transisi menuju pengawasan biologis adalah agenda terencana.

    Tiga titik data ini membentuk garis lurus:

    1. Perencanaan: Diskusi simulasi (Epstein Files/Event 201).
    2. Teknologi: Monetisasi aktivitas tubuh (Paten 060606).
    3. Implementasi: Standarisasi data medis paksa (USCDI).

    Kita sedang bergerak menuju sistem di mana akses terhadap ekonomi dan masyarakat bergantung sepenuhnya pada validasi biologis. Kesehatan bukan lagi hak asasi, melainkan izin akses yang dapat dicabut sewaktu-waktu oleh pemegang server.

  • Belajar Agile dari Kotak Mainan

    Kalau kamu paham cara main Lego, kamu sebenarnya sudah paham 80% konsep Agile.

    Jangan Buat Robot Raksasa Sekaligus!

    Bayangkan kamu ingin membuat robot dari Lego. Kalau pakai cara lama (Waterfall), kamu harus cari semua baloknya, pasang semuanya sampai selesai, baru boleh dinyalakan. Kalau di akhir ternyata kakinya copot? Kamu harus bongkar semuanya. Capek, kan?

    Di Agile: Kita buat kepalanya dulu. Klik! “Wah, kepalanya keren!” Terus kita buat badannya. Klik! Setiap hari, robotmu bertambah hebat. Di kampus, ini namanya Iterasi.

    “Bagus Gak, Bun?” (Tanya Terus!)

    Ingat tidak saat kamu menggambar lalu setiap lima menit sekali kamu lari ke Bunda buat pamer? Bunda bilang: “Kasih warna matahari dong!”, terus kamu balik lagi buat mewarnai.

    Di Agile: Kita tidak menunggu aplikasinya jadi 100% baru ditunjukkan ke dosen atau klien. Kita tunjukkan sedikit-sedikit supaya kalau ada yang salah, kita tidak capek memperbaikinya. Ini namanya Feedback Loop.

    Main Oper-Operan Bola

    Membuat aplikasi itu bukan kerja sendirian di pojokan kamar. Itu seperti main bola di lapangan. Kamu oper ke teman, temanmu lari, lalu cetak gol.

    Di Agile: Kita punya ritual namanya Daily Stand-up. Isinya cuma ngobrol sebentar: “Tadi aku buat ini, sekarang aku mau buat itu, eh tolong bantuin yang ini ya!” Intinya: Jangan diam-diaman kalau ada masalah.

    Rencananya Berubah? Gak Masalah!

    Lagi asyik bikin mobil-mobilan, tiba-tiba kamu ingin mobilnya bisa terbang. Kalau kamu pakai Agile, kamu tinggal pasang sayap di sampingnya. Selesai!

    Di Agile: Kita tidak kaku dengan rencana awal yang dibuat di kertas. Kalau ada teknologi baru atau kemauan klien berubah, kita tinggal Adaptasi. Seperti main Lego, tinggal lepas satu balok, pasang balok lainnya.

    Agile itu bukan ilmu gaib. Agile cuma cara biar kita tidak pusing saat membuat sesuatu yang besar. Caranya: Mulai dari yang kecil, sering-sering pamer hasil kerja, dan jangan pelit ngobrol sama tim.