Tag: jakarta

  • Kamar-Kamar Backpacker di Jakarta

    Kamar-Kamar Backpacker di Jakarta

     

     

    Siapa yang menyangka jika di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan ada hostel untuk backpacker? Ceritanya seminggu ini sedang ngantor di Jakarta, kebetulan kantor sedang pindahan ke lokasi baru yang menjadikan saya harus mengawasi migrasi instalasi jaringan dan infrastruktur lainnya. Nah, yang jadi masalah adalah saya biasanya kalo ngantor ya tidurnya di kantor, lha ini karena kantor sedang pindahan maka pastinya singgasana tidur saya jadi berantakan.

    Artinya, saya harus nyari tempat tidur selama disini.

    Nyari di layanan pemesanan hotel online harganya pada mahal. Kisaran 350.000 per malam, nyari di AirBNB juga harganya hampir sama dengan hotel. Mau memaksakan diri tidur di kantor, kondisinya masih belum oke untuk tidur, yang ada nanti malah masuk angin dan punggung keceklik.

    Setelah beberapa lama mencari, akhirnya dapet satu pencerahan yaitu Kamar-Kamar. Lokasinya ternyata sangat dekat dengan kantor, kalo dari Jalan BDN, bisa lewat Jalan Cereme atau BDN Raya menuju ke arah Jalan Fatmawati. Dari situ tinggal belok ke kiri, cari PHD (Pizza Hut Delivery), lokasi Kamar-Kamar berada di sampingnya persis.

    Saat masuk ke lobby, suasananya santai dan hangat. Ada mas-mas resepsionis yang sudah menyambut dan menjelaskan mengenai Kamar-Kamar. Biaya per malam/orang cukup murah, yaitu IDR 150.000 dengan kamar yang bersih dan berisi 6 orang atau 12 orang. Bentuk kasurnya tingkat, sudah termasuk selimut, handuk, dan loker penyimpanan. Selain itu juga boleh menggunakan dapur atau membuat kopi dan teh sepuasnya. Syaratnya, semua peralatan makan dan masak harus dicuci lagi sendiri setelah digunakan. Jika tidak nyaman dengan kamar berbagi, Kamar-Kamar juga menyediakan kamar yang berisi 2 orang dengan harga sekitar 300ribuan.

    Kamar-Kamar Backpacker di Jakarta

    Kamar-Kamar Backpacker di Jakarta

     

    Oh iya, koneksi Internet juga ada. Keterangan nama SSID dan password tertempel di setiap pintu, koneksinya juga bagus karena menggunakan IndiHOME yang 10 Mbps. Sehingga saya rasa cukup untuk mengakomodasi kebutuhan Internet misalnya mau digunakan untuk mengirim report atau sekedar update status di Path.

  • Welcome to Jakarta

    Welcome to Jakarta

     

    Yak, mulai bulan September 2015 lalu saya resmi bekerja di Jakarta. Ndak terasa sudah satu bulan merasakan bekerja di ibu kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri. Tapi sepertinya semuanya tergantung sudut pandang masing-masing orang sih, saya pribadi merasa nyaman bekerja di Jakarta walaupun memang membutuhkan effort berkali-kali lipat dibandingkan bekerja di Semarang.

    Banyak yang nanya, “lho, sekarang sudah nggak ngajar?”

    Jawaban saya masih sama, “Saya masih mengajar kok”

    Ya, karena suatu hal dan lainnya, maka sekarang saya bekerja di dua tempat, dua kota, dan dua bidang yang sangat berbeda dengan sehari-hari. Mulai bulan Oktober ini saya kembali ke Semarang untuk melanjutkan pekerjaan sebagai dosen, lalu setiap Senin dan Selasa bekerja di Jakarta sebagai Head of Technology.

    Kenapa?

    Iya, itu banyak sekali pertanyaan yang muncul. Alasannya sederhana, saya perlu belajar.

    Pekerjaan sebagai dosen IT membutuhkan asupan informasi lebih banyak karena ilmu yang saya pelajari dan ajarkan ke mahasiswa selalu berkembang setiap saat. Saya merasa 5 tahun berkutat sebagai dosen masih kurang menambah ilmu yang saya miliki, malah terlalu asik dengan pengajaran. Saya menghitung setiap semesternya ternyata terlalu banyak mengampu kelas, mahasiswanya banyak, dan menghabiskan waktu saya terlalu lama di kampus. Awalnya sih oke, karena nggak ada beban tinggal ngajar aja dan nunggu gajian.

    Tapi saya punya musuh, yaitu rutinitas.

    Ketika pekerjaan mulai rutin, maka kebosanan itu melanda. Di kantor sebelumnya, jika pekerjaan mulai dirasa sebagai rutinitas, masalah mulai teratasi, dan tidak ada tantangan baru, maka kemudian saya mulai bosan. Akhirnya effort untuk datang setiap pagi mulai luntur dan akhirnya memilih untuk resign. Nah, saya tidak ingin resign dari seorang Dosen, karena mengajar salah satu kesukaan saya. Makanya saya perlu menambah kesibukan dan mengurangi jumlah mengajar selama masih sesuai yang dipersyaratkan oleh Dikti.

    Kesempatan itu datang.

    Saya mendapatkan tawaran dari seorang kawan untuk bekerja di kantornya, kebetulan mereka membutuhkan tenaga IT untuk menangani berbagai macam kebutuhan digital. Saya meminta untuk bekerja secara remote, tentunya mereka menolak. Namun pada akhirnya bisa menerima permintaan saya meski saya masih harus datang dua kali setiap minggunya. Kemudian khusus bulan September saya harus bekerja sebulan penuh untuk beradaptasi dengan lingkungan, bertemu kawan baru, dan memahami tugas pokok saya.

    Kesan yang saya dapatkan, MENYENANGKAN!

    Suasana kantor yang menyenangkan, saling mendukung, dan berpikiran positif. Kantor diisi oleh anak-anak muda yang kreatif dan memiliki etos kerja tinggi ditambah dengan dukungan dari atasan yang luar biasa. Tantangan dari klien juga beragam, namun dengan kerjasama tim semuanya bisa dilewati satu-persatu. Saya benar-benar belajar apa arti kerjasama, karena sehebat-hebatnya kamu jika dikerjakan sendiri maka hasilnya akan jelek juga.

    Saya masih beradaptasi dengan lingkungan dan jam kerja yang baru ini, tapi saya yakin ini akan baik buat saya, dan mudah-mudahan baik juga untuk semuanya.