Tag: ai

  • Rp1,1 Triliun buat Domain AI.com? Gokil!

    Domain AI.com resmi jadi yang termahal di dunia (yang dipublikasikan ya) setelah laku seharga US$70 juta (sekitar Rp1,1 triliun).

    Siapa yang beli? Namanya Kris Marszalek, bos Crypto.com. Dia membeli domain ini dari pengusaha asal Malaysia, Arsyan Ismail. Transaksinya pun unik karena dibayar pakai aset kripto.

    Kenapa bisa mahal?

    1. Rebutan Identitas: Kata “AI” sekarang adalah kata paling dicari di dunia teknologi. Punya domain AI.com itu seperti punya ruko paling strategis di pusat kota dunia digital.
    2. Proyek Besar: Kris bakal pakai domain ini untuk platform Personal AI (asisten pintar pribadi). Saking ambisiusnya, proyek ini sampai diiklankan di Super Bowl!
    3. Investasi Langka: Domain dua huruf itu jumlahnya terbatas. Memilikinya bukan cuma soal fungsi, tapi juga gengsi dan dominasi pasar.

    Bayangkan, cuma butuh mengetik dua huruf untuk masuk ke masa depan. Jadi, harga Rp1,1 triliun ini investasi jenius atau malah kemahalan?

  • Validasi Cara Berpikir AI

    Masih terkait dengan tulisan saya jangan curhat dengan AI, dalam keseharian saya tetap menggunaan AI untuk membantu pekerjaan. Namun, satu hal yang diperhatikan adalah jangan otomatis percaya dengan semua responnya.

    Tantangan terbesar ketika ngobrol dengan AI adalah kapan bisa merasakan AI mulai halusinasi. Terkadang saya sudah bisa merasakan tingkat halusinasinya meningkat dalam beberapa kali ngobrol, tapi kadang-kadang bisa terbawa juga sampai beberapa lama.

    Ciri-cirinya, mulai kesel sama AI.

    Ini suatu hal yang sia-sia kan? Kesel sama AI itu sama seperti kesel dengan manusia NPD wkwkwk.. Dia nggak akan pernah merasa dikeselin, yang ada dia akan tetap percaya diri dan tetap berpegang teguh pada apa yang dia anggap benar.

    Lalu gimana identifikasinya?

    Pertama, jangan langsung percaya dengan jawabannya.

    Kedua, cek cara berpikirnya.

    Nah, gimana caranya? Jika Anda menggunakan model AI yang cukup tinggi biasanya akan ada opsi untuk mengikuti cara berpikirnya. Ini biasanya ada di model yang menggunakan metode reasoning, pertama kali ditampilkan oleh DeepSeek dan sekarang hampir semua model di OpenAI dan Gemini sudah menerapkannya.

    Validasi Cara Berpikir AI

    Contohnya seperti itu, ketika saya bertanya sesuatu maka pastikan mereview cara berpikirnya. Baca cepat saja tidak perlu memperhatikan detilnya, nanti akan terasa kok apabila berpikirnya sudah mulai ngawur.

    Jadi, jangan langsung percaya ya.

  • Tren Vibe Coding

    Jargon di Internet akan selalu muncul setiap tahunnya, menurut keyakinan saya (haha) jargon yang sedang populer di akhir 2025 dan awal tahun 2026 ini adalah Vibe Coding.

    Biasanya, selain Vibe Coding juga ada yang nambahin SaaS (Software as a Service).

    Apa sih itu? Kenapa?

    Ini semua berawal dari disrupsi di bidang kecerdasan buatan, yang memungkinkan orang awam bisa berkomunikasi dengan entitas yang dibangun di atas mesin canggih selayaknya berdiskusi dengan manusia. Awalnya hanya bisa merespon dengan bahasa sederhana, memahami kalimat simpel, ingatan yang pendek, dan memberikan solusi yang praktis saja.

    Tapi siapa sangka, beberapa bulan kemudian teknologinya mendisrupsi dirinya sendiri yang kemudian berubah wujud menjadikan dirinya sebagai sumber acuan dari segala pertanyaan.

    Termasuk pertanyaan tersulit di dunia, yaitu bagaimana cara membuat software.

    Kecerdasan buatan ini rasanya menjadi jawaban hampir semua orang yang pernah bercita-cita memiliki perusahaan rintisan teknologi namun terkendala biaya dan talenta. Sekarang cukup bermodalkan akses Internet saja, kita bisa meminta kecerdasan buatan ini untuk membuatkan apapun ide kita menjadi kenyataan.

    Batasnya tidak hanya langit, tapi imajinasi.

    Tren Vibe Coding

    Sayangnya, tidak semua orang itu bisa memberikan instruksi yang baik. Bahkan di kehidupan sehari-hari pun tidak banyak orang yang bisa mengutarakan pendapatnya, terbiasa untuk memendam rasa, dan memikirkan di dalam hati saja, tapi tidak pernah diucapkan.

    Akibatnya, tidak banyak orang yang bisa memberikan instruksi secara urut, terstruktur, dan memiliki konteks yang jelas. Padahal ini adalah syarat mutlak bagi kecerdasaan buatan untuk bisa menjawab pertanyaan kita.

    Akhirnya, mulai muncul keluhan bahwa model ini nggak sebagus model itu, model ini lebih bagus karena berbayar, model itu jelek karena jawabannya nggak nyambung.

    Jadilah kecerdasan buatan ini dianggap banyak kekurangan dan kesalahan, padahal kesalahan dan kekurangan itu milik manusia.

  • Car Free Day >< Fotoyu

    Kebetulan tempat tinggal saya memiliki akses yang sangat mudah untuk mengikuti Car Free Day di Sudirman, Jakarta. Ada beberapa opsi untuk menuju kesana, biasanya sih pakai MRT, tapi terkadang saya naik sepeda.

    Iya, saya bawa sepeda dari Jogja ke Jakarta. Dibawa naik kereta dengan posisi terlipat. PT KAI memang mengizinkan penumpang untuk membawa sepeda lipa dengan ukuran roda maksimal 22″, tidak ada biaya tambahan dan izin khusus.

    Oke, biasanya setiap Minggu pagi sekita jam 5:30 saya sudah meluncur dari Kebayoran Baru menuju ke Sudirman untuk lanjut menuju ke Bundaran HI kemudian kembali lagi ke arah kosan. Biasanya perjalanan menempuh 20 km-an saja tapi cukup untuk bersepeda dengan nyaman.

    Nah, ada satu hal baru yang saya notice ketika pertama kali sepedaan, yaitu banyak fotografer yang nongkrong di pinggir jalan dan di atas jembatan penyeberangan. Mereka motretin siapapun yang lewat kemudian nantinya akan diunggah ke platform Fotoyu untuk dijual.

    Platform Fotoyu ini nanti menggunakan teknologi face recognition akan berusaha mengumpulkan foto-foto sesuai dengan wajah usernya yang sudah didaftarkan sebelumnya. Nanti user akan memilah foto-foto yang dikumpulkan itu apakan sudah benar atau tidak.

    Jika benar, maka akan ada opsi untuk membeli foto tersebut denga harga yang sudah ditentukan oleh fotografernya. Harganya bervariatif tergantung angle dan fotografernya sendiri, tapi kalau yang saya lihat, foto saya dihargai mulai 30 ribuan sampai 150 ribu wkwkwk..