Blog

  • Olahraga Adalah Cara Terbaik Untuk Menyakiti Diri Sendiri

    Entah kenapa saya bisa mengatakan ini kepada salah satu mentee di kantor ketika sesi 1o1 beberapa waktu yang lalu. Seperti biasa ketika 1o1, saya akan memintanya untuk menceritakan keseharian dan apa yang sedang dirasakan selama beberapa minggu terakhir ini.

    Setelah dia selesai cerita, saya berkesimpulan, dia overthinking. Dia tidak khawatir dengan load pekerjaannya, namun dia kepikiran untuk ingin mengerjakan banyak hal. Semangat yang bagus anak muda.

    Nah, sebagai mentor yang baik, saya mendengarkan dengan penuh perhatian dengan sesekali memberikan respon yang sesuai. Lalu, entah dari mana ide itu berasal, saya bilang sesuai judul, “Olahraga adalah cara terbaik untuk menyakiti diri sendiri”.

    Dia kaget, saya juga kaget.

    Saya lanjutkan, kurang lebih begini. Kita terkadang ingin melakukan kegiatan yang sebetulnya tidak baik untuk kesehatan. Sebut saja seperti begadang, merokok, minum alkohol, menantang adrenalin. Semuanya untuk apa? seringnya untuk mengalihkan pikiran dan menyalurkan energi.

    Tapi semua kegiatan itu akan memiliki side effect buruk di masa tua. Akan muncul banyak penyakit gara-gara kita sering melakukan kegiatan tadi.

    Nah, bagaimana jika kita mengubahnya menjadi olahraga? Badan akan terasa sakit, apalagi jika ikut gym atau pilates, termasuk juga menekuni cabang olahraga combat, sudah pasti badan bakal remuk redam.

    Tapi, sama-sama akan mengalihkan pikiran dan menyalurkan energi bukan?

    Namun efeknya berbeda, karena tubuh kita disakiti untuk dilatih, ditempa, dan “dirusak” ototnya untuk kemudian tumbuh kembali. Sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh rokok dan alkohol kan?

    Manfaatnya sama, tapi efek jangka panjangnya berbeda.

  • Apakah Kamu Mudik?

    Ini adalah pertanyaan basa-basi saya ke beberapa kenalan di kantor, beberapa hari sebelum saya mudik ke Jogja.

    Ternyata, dari beberapa orang yang saya tanyain itu, tidak semuanya berencana mudik pada lebaran tahun ini. Alasannya bermacam-macam, mulai dari sedang shift kerja, ada rencana mengajak keluarganya untuk datang ke Jakarta, atau yang memang tidak berniat pulang kampung.

    Dulu saya berpikir, ketika seseorang pergi merantau ke tempat yang jauh, pasti ketika lebaran akan berusaha menyempatkan pulang kampung, bertemu dengan orang tua dan keluarga. Jarak dan waktu yang ditempuh akan terbayarkan ketika pada hari besar itu bisa berkumpul dengan keluarga.

    Itu yang saya bayangnya saat itu.

    Namun setelah ngobrol dengan beberapa orang tadi, saya menyadari ada sebagian orang yang memang tidak bisa dan tidak ingin mudik. Alasannya bermacam-macam, seperti yang sudah saya sebutkan tadi.

    Tapi ada satu jawaban yang buat saya berkesan.

    “Buat apa mudik? saya tiap hari ngobrol dengan keluarga besar di grup Whatsapp, semua informasi ada disana, mulai yang bermanfaat sampai yang hoax. Pada update status dan kirim-kirim video lucu juga setiap hari, jadi buat apa mudik?”

    Bener juga sih dan itu valid.

    Dulu orang mudik karena terpisah oleh jarak dan waktu, namun ketika masalah jarak dan waktu itu sudah diselesaikan dengan teknologi, pelan-pelan orang akan merasa itu bukan alasan untuk melakukan perjalanan jauh dan mahal itu.

    Perlu alasan baru untuk mudik, tidak bisa sekadar masalah jarak dan waktu semata.

    Apakah kamu mudik Lebaran tahun ini? Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan hingga kembali lagi ke rumah.

  • Mencoba GLM-5

    Akhirnya saya ikut mencoba menggunakan GLM-5 untuk menggantikan Kimi-2.5 setelah disarankan oleh seorang kawan (Thanks Mas Bowo). Setelah beberapa hari dijalankan di Cline pada VSCode, GLM-5 lebih cocok digunakan untuk menemani saya ngoding, saya cocok dengan stylenya.

    Katanya, GLM-5 ini kemampuannya untuk hampir menyamai Claude Opus. Berhubung saya belum pernah pakai Opus (paling hanya Sonnet 4.6) maka saya sendiri belum tau perbedaannya dimana.

    GLM-5 ini lebih sabar untuk menyelesaikan tugasnya. Dia akan berusaha untuk memahami konteks dan tugasnya secara perlahan, memang disini harus sedikit lebih sabar dibandingkan ketika bekerja bersama Sonnet maupun Kimi, tapi saya akui hasil kodingannya nggak kalah dengan Sonnet.

    Saya perlu memeriksa bagaimana data saya digunakan ketika menggunakan GLM-5 ini, makanya kemarin hanya bisa memberinya task-task sederhana yang tidak terkait dengan proprietary kantor.

    Biasanya untuk menguji model baru, saya akan memintanya untuk mempelajari kode lalu meminta saran optimasi.

    Jika Anda adalah tipe pengguna yang sukanya berharap GLM-5 langsung ngoding, maka model ini tidak cocok dengan Anda.

    Lalu kenapa saya cocok? sebab saya menyukai Cline yang memiliki fitur “Plan”, dimana dia bisa kita ajak diskusi dulu sampai tingkat keyakinan saya meningkat baru kemudian bisa menyuruhya untuk melakukan action. Nah, GLM-5 sangat cocok untuk vibe coder yang bertipe seperti itu.

    Berapa harganya? Awalnya saya pikir cukup subscribe paket termurah ($10/mo), tapi ternyata GLM-5 ini baru tersedia jika subscribe ke paket yang menengah ($30/mo). Jadi mari kita coba selama sebulan ke depan.

  • THR Perdana Buat Apa?

    Yay! ini adalah waktu yang biasa dinanti oleh sebagian besar karyawan ketika menjelang hari raya Idulfitri. THR (Tunjangan Hari Raya) biasanya sudah mulai dibagikan. Buat Anda yang baru pertama kali mendapatkannya, selamat!

    THR ini sebaiknya buat apa ya?

    Saya asumsikan Anda baru pertama kali bekerja dan ingin membelanjakan THR dengan lebih bijak, apalagi ekonomi 2026 lagi chaos, kita pakai pendekatan investasi pada aset tak terlihat tapi punya nilai tukar tinggi.

    The Access Fund

    Jangan cuma beli barang, beli akses. Pakai THR-mu untuk bayar annual membership ke perkumpulan profesional, tiket konferensi industri kelas atas, atau akses ke private circledi Discord/Telegram yang isinya para mentor/ahli di bidangmu.

    Kenapa? Di ekonomi 2026, informasi eksklusif dan koneksi “orang dalam” adalah mata uang yang jauh lebih mahal daripada bunga deposito.

    The Burnout Insurance

    Dunia kerja pertama itu melelahkan, coba masukkan 30% THR ke instrumen likuid yang hanya boleh disentuh untuk “Emergency Healing”. Bukan sekadar nongkrong, tapi dana untuk terapi profesional atau staycation total saat kamu hampir resign karena stres.

    Kenapa? Menjaga kewarasan adalah strategi finansial. Biaya ke psikiater atau kehilangan penghasilan karena burnout itu jauh lebih mahal.

    The Brand Fund

    Investasikan THR untuk membangun Personal Brand secara serius. Beli domain namamu sendiri untuk portofolio (ya seperti domain saya ini), bayar fotografer profesional buat  headshot LinkedIn, atau beli lisensi software kreatif yang selama ini kamu pakai versi bajakan.

    Kenapa? Saat ekonomi sulit, orang hanya merekrut/bekerja sama dengan mereka yang terlihat paling kredibel. Jadikan dirimu “aset” yang bisa ditemukan di Google.

    Gimana? mudah-mudahan THR-mu masih tersisa ya, belum terlambat untuk coba membeli salah satu ide di atas.

  • Bebas TKDN Untuk Produk AS

    Saya menemukan artikel Kompas di bulan Februari 2026 lalu yang menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia akan membebaskan TKDN untuk perusahaan Amerika Serikat, artinya ini juga akan meliputi Apple dan Google.

    Apa artinya? Kesepakatan ini membuka peluang untuk mereka memasarkan produk atau jasanya di Indonesia tanpa memerlukan sertifikasi TKDN1.

    Apa saja dampak positif yang bisa kita rasakan?

    1. Google Pixel berpotensi “pulang” ke Indonesia. Selama bertahun-tahun saya hanya bisa membaca dan menonton review kecanggihan produk Google ini. Mahal itu pasti, tapi tidak ada jaminan kalau barang ini bisa berfungsi di Indonesia adalah salah satu hal yang membuat saya tidak ingin memimpikan bisa memiliki produk ini. Sekarang? mimpi itu bisa datang kembali.
    2. iPhone bisa rilis lebih cepat. Bukan rahasia umum kalau Apple selalu menunda waktu rilis di Indonesia 2-3 bulan lebih lambat dibandingkan market Global, padahal pengguna ekosistem Apple di Indonesia tidak sedikit. Masalahnya biasanya karena persyaratan TKDN ini, disamping Apple juga belum ingin berinvestasi lebih banyak di Indonesia. Sekarang? gas Oke gas.
    3. Persaingan yang lebih sehat. Semua vendor termasuk yang non-AS pastinya akan merasa bahwa sikap mengutamakan produk AS oleh Pemerintah Indonesia ini akan membuat mereka menjadi terlecut untuk memberikan sesuatu yang lebih baik untuk market Indonesia. Pastinya mereka tidak ingin kehilangan market share 80% di Indonesia hanya gara-gara kebijakan yang pro Amerika ini.
    4. Spesialisasi segmen semakin jelas. Sekarang segmen premium akan dikuasai oleh Apple, Google, dan seri flagship Samsung. Sedangkan segmen menengah kebawah akan tetap didominasi oleh Xiaomi, Oppo, dan Vivo.

    Jadi, Kebijakan ini bukan tentang “siapa yang menang atau kalah”, melainkan tentang perluasan pilihan. Dengan masuknya pemain-pemain baru secara resmi, ekosistem teknologi di Indonesia akan semakin matang dan sejajar dengan negara-negara maju lainnya.

    Kamu ada di segmen mana?

    1. https://tekno.kompas.com/read/2026/02/20/19480077/kesepakatan-dagang-baru-indonesia-bebaskan-tkdn-untuk-perusahaan-as ↩︎
  • Kesan Pertama Mencoba Kimi-2.5

    Hari ini saya berkesempatan untuk mencoba menggunakan Kimi Code dengan model Kimi-2.5 untuk menemani ngoding saya. Biasanya saya menggunakan model Claude Sonnet 4.6 melalui Claude Code, namun karena ada satu dan lain hal, hari ini kami diminta untuk mencoba Kimi.

    “Siapa tau bisa sepinter Claude namun dengan harga murah”.

    Oke, saya biasa menggunakan Claude ini di Visual Studio Code, jadi saya tidak mau beralih menggunakan tools lain. Maka langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari add-on Kimi di VS Code.

    Ternyata memang ada, namanya Kimi Code (Technical Preview), proses install dan autentikasi cukup straightforward. Kita bisa pilih mau pakai Kimi subscription atau pakai API Key via Kimi Code.

    Saya sudah coba keduanya, baik lewat API Key maupun lewat subscription. Tidak ada bedanya untuk hasil akhirnya, jadi aman-aman saja.

    Bagaimana performanya?

    Saya bukan tipe pengguna Code Assistance yang hardcore, artinya saya biasanya hanya menggunakannya untuk diskusi dan lebih mencari tau alasan dibalik itu. Terkadang juga saya minta dia sebagai code reviewer dan debugger wkwk.

    Tapi ada satu hal yang buat saya menandakan bahwa tools ini bagus atau tidak, yaitu jika saya bertanya dengan pertanyaan tersirat itu apakah dia paham atau tidak.

    Sejauh ini, jika saya bertanya dengan pertanyaan tersirat, Claude Sonnet 4.6 cukup bagus dalam memahaminya.

    Bagaimana dengan Kimi?

    Ternyata.. bagus! Seharian ini saya nyaman ngobrol dengannya, tidak begitu agresif untuk menulis kode sampai saya perintahkan, jadi lebih merasa aman untuk sekadar diskusi sampai ketemu solusi yang terbaik.

    Kesan Pertama Mencoba Kimi-2.5
  • Ternyata Perlu Hibernasi

    Apa yang akan saya lakukan ketika sampai di Jogja? Itu adalah pikiran saya ketika dalam perjalanan mudik kemarin. Ada beberapa kegiatan yang sudah direncanakan di hari Minggu ini, mulai dari pengecekan beberapa area di rumah yang memang sudah perlu ada perawatan, hingga melakukan beberapa hal yang tertunda.

    Tapi, manusia hanya bisa berencana.

    Hari Minggu ini, selepas mandi, masih jam 9.30 pagi, mata rasanya berat sekali.

    Sepertinya tidur sebentar oke juga ya? Paling 30 menit aja untuk kemudian lanjut melakukan sesuatu.

    Tapi ternyata, rencana 30 menit itu bablas sampai 5 jam! Wkwkwkwk… Iya, saya bangun menjelang Ashar.

    Rupanya badan ini sedang minta hibernasi sejenak, dia tau kalau sekarang sedang di rumah dan minta diprioritaskan untuk sementara.

    Jadilah, hari Minggu pagi saya dipakai untuk tidur siang.

  • Mudik (duluan) Lebaran 2026

    Yak, saya sudah di Jogja untuk mulai Work From Home (WFH) sampai Lebaran 2026, nanti saya akan kembali ke Jakarta pada Lebaran hari kedua (versi Pemerintah) sebagai ganti sudah mudik duluan di lebaran tahun ini.

    Perjalanan ke Jogja naik kereta cukup nyaman karena situasinya belum ramai, jadi aura mudiknya memang nggak terasa. Sampai di Stasiun Tugu Jogja juga rasanya normal saja, seperti weekend pada umumnya.

    Kenapa mudik duluan? Mungkin lebih ke parno ya, ini adalah mudik pertama kami sejak memutuskan pindah ke Jakarta. Jadi kami membayangkan situasi mudik yang ramai itu bakal melelahkan, ditambah nanti harus melakukan banyak hal yang jika ditumpuk semuanya mendekati hari Lebaran, tidak akan cukup.

    Jadilah saya memutuskan untuk mengambil waktu mudik di awal namun menggantinya dengan kembali ke kantor juga lebih awal. Biar nanti kolega saya yang bisa liburan lebih panjang.

    Bagaimana Jogja?

    Seperti biasa, selalu syahdu dengan guyuran hujan ketika kami sampai di Stasiun Jogja. Kebetulan mobil jemputan kami sudah datang sehingga tidak perlu menunggu lama. Sopir kami cerita kalau tiap sore selalu hujan, dan benar hujannya awet sampai malam hari.

    Infonya dari BMKG fenomena La Nina sudah berakhir di akhir Februari lalu, tapi sepertinya sisa-sisanya masih akan terasa sampai akhir minggu ini.

  • Kuota Hangus dan Operator Seluler

    Saya sempat membaca ada upaya gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai kebijakan kuota hangus di (semua ?) operator seluler di Indonesia. Meskipun pada akhirnya gugatan itu ditolak oleh MK saya cukup mengerti bagaimana sudut pandang penolakan itu.

    Beberapa hal yang membuat MK menolak gugatan tersebut adalah

    1. Masalah administrasi pada alat bukti. Iya, ini alasan yang paling sering muncul. Di satu sisi, administrasi itu penting, seharusnya ini tidak perlu terjadi jika persiapannya cukup.
    2. Pemerintah dan operator (hmm..) berargumen bahwa kuota Internet adalah layanan berbasis waktu, bukan sebagai kepemilikan barang. Ini ibaratnya menyewa kamar hotel, kalau nggak dipakai sesuai jadwal ya hangus.
    3. Jika kuota diwajibkan berlaku selamanya, maka berpotensi meningkatkan biaya operasional dan ujung-ujungnya harga paket akan naik drastis.

    Bagaimana di luar negeri? Apakah sama?

    Ternyata sistem kuota hangus di beberapa negara seperti Amerika, Eropa, sampai ke negara di Asia Tenggara menggunakan cara yang sama dan memandang bahwa kuota Internet adalah sebuah kontrak berlangganan.

    Bedanya hanya pada kompetisi antar operator. Di Indonesia, meskipun kita sering mengeluh kecepatannya tertinggal dari Singapura, harga per GB kita sebenarnya masuk dalam daftar termurah di dunia!

    Sebagai pengguna Telkomsel yang tidak pernah berganti sejak dulu, saya merasa meskipun rollover kuota ini diterapkan nggak akan berpengaruh karena saya lebih concern terhadap kualitas jaringan Internetnya.

    Telkomsel itu mahal, tapi mereka ada solusinya.

    1. Pilih paket sesuai kebutuhan.
    2. Baca Terms & Condition sesuai paket yang mau dibeli.
    3. Tingkatkan penghasilan dan jangan bergantung ke Pemerintah.

    Fa` dapoliz