Tag: work from home

  • WFH untuk ASN

    Hari Jumat ini katanya adalah hari pertama penerapan kebijakan WFH untuk ASN dan turunannya. Saya tidak mau mengomentari kebijakannya tapi lebih ke manfaatnya.

    Apakah ada? Tentu saja.

    MRT hari ini jadi lebih lengang daripada biasanya.

  • Sementara WFH Sampai Lebaran

    Hari Senin ini saya sedang WFH di Jogja sampai Lebaran, jadi ketika beberapa orang sudah mulai menikmati cuti dan jalan-jalan di Jogja, saya masih standby di depan laptop dulu sampai tanggal 18 Maret mendatang.

    Rasanya aneh haha. Sebab nggak terasa sudah hampir setahun ini WFO, sudah mulai punya ritme dan rutinitas, sekarang kembali lagi ke WFH yang sudah saya lakukan selama bertahun-tahun sebelumnya.

    Apa yang beda?

    WFH memang memiliki banyak keuntungan, salah satunya adalah efektivitas waktu. Sebab dengan beberapa langkah saja dari kamar, saya sudah siap untuk bekerja selama koneksi Internet dan listrik sedang bersahabat.

    Tapi, efek WFO selama hampir setahun ini memunculkan kebiasaan baru untuk membantu pekerjaan saya, salah satunya adalah kecepatan koordinasi.

    Memang tidak dipungkiri, ketika kita WFH itu meskipun sudah memiliki koneksi Internet level dewa, tidak akan bisa menandingi kecepatan colek dan/atau nyamperin ke meja.

    Jadi, tadi itu rasanya ada agak terasa lambat dalam membuat keputusan atau strategi. Keputusan yang bisa didapatkan dalam hitungan menit, harus menunggu beberapa jam sampai bisa terhubung dan berkoordinasi.

    Memang ini tidak terjadi setiap hari, tapi ternyata ketika kita berada di kebiasaan baru dan kembali ke kebiasaan lama, maka situasi menjadi sedikit berbeda.

  • Mudik (duluan) Lebaran 2026

    Yak, saya sudah di Jogja untuk mulai Work From Home (WFH) sampai Lebaran 2026, nanti saya akan kembali ke Jakarta pada Lebaran hari kedua (versi Pemerintah) sebagai ganti sudah mudik duluan di lebaran tahun ini.

    Perjalanan ke Jogja naik kereta cukup nyaman karena situasinya belum ramai, jadi aura mudiknya memang nggak terasa. Sampai di Stasiun Tugu Jogja juga rasanya normal saja, seperti weekend pada umumnya.

    Kenapa mudik duluan? Mungkin lebih ke parno ya, ini adalah mudik pertama kami sejak memutuskan pindah ke Jakarta. Jadi kami membayangkan situasi mudik yang ramai itu bakal melelahkan, ditambah nanti harus melakukan banyak hal yang jika ditumpuk semuanya mendekati hari Lebaran, tidak akan cukup.

    Jadilah saya memutuskan untuk mengambil waktu mudik di awal namun menggantinya dengan kembali ke kantor juga lebih awal. Biar nanti kolega saya yang bisa liburan lebih panjang.

    Bagaimana Jogja?

    Seperti biasa, selalu syahdu dengan guyuran hujan ketika kami sampai di Stasiun Jogja. Kebetulan mobil jemputan kami sudah datang sehingga tidak perlu menunggu lama. Sopir kami cerita kalau tiap sore selalu hujan, dan benar hujannya awet sampai malam hari.

    Infonya dari BMKG fenomena La Nina sudah berakhir di akhir Februari lalu, tapi sepertinya sisa-sisanya masih akan terasa sampai akhir minggu ini.

  • Motivasi Olahraga: Bisa Makan Daging Sepuasnya

    Iya, setahun lalu saat masih WFH dari Jogja, saya kesulitan untuk bisa makan daging karena kendala kesehatan. Asam urat dan kolesterol saya sudah melambung tinggi yang menyebabkan tidak bisa makan daging terlalu sering.

    Jari di kaki kanan dan kiri akan bergantian terasa nyeri dan panas, sampai tidak bisa buat jalan dengan normal. Alhasil banyak pekerjaan domestik yang terhambat, sungguh tidak nyaman.

    Obat menjadi kawan sehari-hari, karena begitu rasanya sakit sudah otomatis meminum obat pereda nyeri yang hanya akan menahan rasa sakitnya untuk sementara. Bahkan saya punya alat tes darah sederhana untuk mengetahui berapa kadar asam urat dan kolesterol saya.

    Sekarang, setelah setahun tinggal di Jakarta, Alhamdulillah justru badan saya merasa lebih baik. Kenapa?

    1. Saya rajin jalan kaki, setidaknya dari kamar kosan ke stasiun MRT dan lanjut ke kantor, kemudian diulang lagi di sore harinya.
    2. Saya rajin ke masjid tiap Dzuhur dan Ashar, ini mengharuskan saya untuk turun ke lantai berbeda dan kembali lagi ke meja.
    3. Jam makan harian jadi lebih teratur dan terkontrol karena sudah titip sama OB dan menu makanannya beragam.
    4. Nge-gym, diet karbo dan tinggi protein.

    Makan daging untuk mengejar protein harian justru malah diwajibkan, dan jauh lebih banyak daripada konsumsi saat saya di Jogja. Anehnya, asam urat dan kolesterol saya lebih terkontrol.

    Paling hipertensi aja yang masih perlu dimaintenance wkwk.