Jargon di Internet akan selalu muncul setiap tahunnya, menurut keyakinan saya (haha) jargon yang sedang populer di akhir 2025 dan awal tahun 2026 ini adalah Vibe Coding.
Biasanya, selain Vibe Coding juga ada yang nambahin SaaS (Software as a Service).
Apa sih itu? Kenapa?
Ini semua berawal dari disrupsi di bidang kecerdasan buatan, yang memungkinkan orang awam bisa berkomunikasi dengan entitas yang dibangun di atas mesin canggih selayaknya berdiskusi dengan manusia. Awalnya hanya bisa merespon dengan bahasa sederhana, memahami kalimat simpel, ingatan yang pendek, dan memberikan solusi yang praktis saja.
Tapi siapa sangka, beberapa bulan kemudian teknologinya mendisrupsi dirinya sendiri yang kemudian berubah wujud menjadikan dirinya sebagai sumber acuan dari segala pertanyaan.
Termasuk pertanyaan tersulit di dunia, yaitu bagaimana cara membuat software.
Kecerdasan buatan ini rasanya menjadi jawaban hampir semua orang yang pernah bercita-cita memiliki perusahaan rintisan teknologi namun terkendala biaya dan talenta. Sekarang cukup bermodalkan akses Internet saja, kita bisa meminta kecerdasan buatan ini untuk membuatkan apapun ide kita menjadi kenyataan.
Batasnya tidak hanya langit, tapi imajinasi.

Sayangnya, tidak semua orang itu bisa memberikan instruksi yang baik. Bahkan di kehidupan sehari-hari pun tidak banyak orang yang bisa mengutarakan pendapatnya, terbiasa untuk memendam rasa, dan memikirkan di dalam hati saja, tapi tidak pernah diucapkan.
Akibatnya, tidak banyak orang yang bisa memberikan instruksi secara urut, terstruktur, dan memiliki konteks yang jelas. Padahal ini adalah syarat mutlak bagi kecerdasaan buatan untuk bisa menjawab pertanyaan kita.
Akhirnya, mulai muncul keluhan bahwa model ini nggak sebagus model itu, model ini lebih bagus karena berbayar, model itu jelek karena jawabannya nggak nyambung.
Jadilah kecerdasan buatan ini dianggap banyak kekurangan dan kesalahan, padahal kesalahan dan kekurangan itu milik manusia.