Tag: social media

  • Deactivate Akun TikTok

    Masih lanjutan dari rencana Detoks Social Media, ternyata saya ingin lebih mengurangi terpaan konten short video supaya aktivitas berselancar di Internet semakin nyaman.

    Selama ini konsumsi short video saya berasal dari TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. TikTok sendiri sudah saya install semenjak jaman Covid, dimana waktu itu dia yang mengenalkan pada saya konten dengan tipe vertikal dan video pendek.

    Semuanya terasa seru waktu itu, kontennya masih orisinal, tidak ada efek-efek berlebihan, kualitas kontennya masih seadanya tapi sesuai realita. Terutama, belum ada iklan dan jualan.

    Semuanya berubah ketika ByteDance (perusahaan induk TikTok) melakukan akuisisi mengejutkan, yaitu mencaplok Tokopedia dan kemudian membuangnya kembali. Sekarang TikTok tidak sama dengan yang dulu saya kenal.

    Fiturnya memang semakin beragam, tapi berisik. Tidak ada bedanya lagi antara TikTok dengan Shopee. Isinya jualan semua.

    Karena itulah saya mulai beralih ke Instagram Reels dan YouTube Shorts yang masih (agak) tidak tercemar dengan promosi, iklan, dan jualan.

    Setelah bertahan beberapa lama akhirnya sudah saatnya saya melepaskan dari TikTok. Terima kasih sudah menemani selama Covid era, sampai jumpa lagi.

  • Short Video Semakin Berkuasa

    Salah satu efek domino dari konsumsi media sosial yang berlebih adalah menurunnya tingkat perhatian seseorang terhadap suatu hal. Dulu, ketika saya masih mengajar ada teori yang bilang bahwa perhatian mahasiswa itu hanya bisa bertahan sampai 40 menit saja, selebihnya mereka akan sibuk dengan pikirannya sendiri.

    Sekarang? Saya nggak yakin angka 40 menit itu masih valid. Tebakan saya sudah menurun hingga tinggal 10 menit saja.

    Mahasiswa dan/atau pelajar merupakan target market yang selalu diperhitungkan oleh ahli pemasaran, jadi fenomena ini tentunya tidak luput dari perhatian mereka.

    Lalu apa hubungannya? Ketika suatu brand melakukan promosi, maka yang dikejar itu perhatiannya dulu, jika itu sudah didapatkan maka nanti baru bisa lanjut ke tahap berikutnya.

    Berhubung perhatian orang-orang sekarang semakin singkat, maka sudah tidak bisa lagi (meskipun tidak selalu) membuat konten yang panjang. Sekarang konten-konten pendek dan tampilan vertikal lebih mendapat perhatian.

    Kebetulan, 3 platform besar Short Video (Reels, TikTok, YouTube) memang sedang saling bersaing dan berlomba-lomba mengarahkan traffic penggunanya ke konten pendek. Mungkin kalau yang pernah coba bikin video short akan lebih relate ya, bahwa untuk mendapatkan 1000 views itu jauh lebih mudah menggunakan video short yang direkam dengan kamera ponsel dan diedit ala kadarnya.

    Platform OTT lokal seperti Vidio (ehem) pun juga mulai memberikan opsi tayangan vertikal yang berisi konten Dracin (Drama Cina) yang per episode-nya sangat (bahkan terlalu) singkat dengan cerita yang mudah ditebak. Tapi justru konten-konten seperti inilah yang sekarang sedang digemari.

    Apakah betul ini karena menurunnya tingkat perhatian? Atau memang karena sudah tidak punya waktu lagi untuk bisa berlama-lama di media sosial?

  • Detoks Social Media

    Mungkin ini faktor umur, tapi akhir-akhir ini saya merasa lelah jika sedang main HP, terutama jika habis mengikuti obrolan maya di platform X ataupun Threads. Rasanya disana semua orang punya pendapat terbaik dan yang lain itu bodoh, nggak ada lagi kesenangan yang saya dapatkan ketika awal-awal main di kedua platform itu.

    Mungkin saya sudah jenuh.

    Kalau diingat lagi, sebetulnya kejenuhan ini sudah terasa ketika jaman pilpres 2014 yang banyak memicu perdebatan nggak penting, kemudian semakin bertambah di jaman Covid dimana semua orang itu kesibukannya hanya di Internet.

    Pada era itu bertemulah orang-orang lintas generasi, antara orang yang sudah lama di Internet yang punya bakat jadi troll kemudian bertemu dengan generasi yang baru melek Internet namun naif.

    Awalnya seru, tapi lama-lama memuakkan. Apalagi setelah kelihatan polanya sama semua dan semakin meyakinkan kalau itu adalah bot yang diatur untuk merespon keyword yang sudah ditentukan.

    Kenapa tau? karena pernah bikin.

    Pertengahan tahun 2025 kemudian saya mulai pindah ke Threads, disana diskusinya masih adem, suka berbagi pengalaman, belum ada iklan ataupun link Shopee. Seru sekali!

    Tapi ternyata hanya perlu waktu beberapa bulan saja isi Threads langsung berubah menjadi mirip di Twitter/X.

    Akhirnya, di awal tahun 2026 ini saya memutuskan untuk deactivate akun Twitter/X dan meninggalkan Threads.

    adios!