Awal tahun ini saya mengambil jatah cuti tahunan selama 2 hari yang saya gunakan untuk mudik ke Jogja dan Semarang. Selama cuti itu kami lebih banyak menyetir untuk pergi ke berbagai tempat tujuan, sekalian nyobain akses pintu tol baru di daerah Prambanan, Yogyakarta.
Satu hal yang paling saya sukai ketika menyetir di jalan tol adalah menikmati perjalanan dengan memaksimalkan fitur di mobil, yaitu Cruise Control.
Cruise Control adalah fitur elektronik pada mobil yang memungkinkan kendaraan mempertahankan kecepatan secara otomatis tanpa pengemudi perlu menginjak pedal gas secara terus-menerus.
Salah satu alasan kenapa kami memilih mobil ini adalah adanya fitur Cruise Control. Meskipun belum yang versi Adaptive, tapi itu sudah cukup untuk bikin kami (tepatnya saya) untuk mau menyetir. Fyi, istri saya jauh lebih bisa diandalkan untuk urusan menyetir. Saya hanya suka nyetir jika terpaksa, jalanan sepi, lebar, atau parkirnya vallet.
Oke, gimana cara pakai Cruise Control ini? Secara umum apapun merk mobilnya caranya akan selalu sama.
Pertama adalah fase Aktivasi: Biasanya fitur ini dapat diaktifkan pada kecepatan minimal 40 km/jam hingga 60 km/jam.
- Tombol Kontrol: Umumnya terletak di setir dengan fungsi:
- On/Off: Mengaktifkan/mematikan sistem.
- SET: Mengunci kecepatan saat itu.
- RES +: Menambah kecepatan (biasanya naik 1 mph per tekan).
- SET -: Mengurangi kecepatan.
- CANCEL: Membatalkan sistem sementara tanpa mematikan fitur sepenuhnya.
Saya biasa mengaktifkan fitur ini di kecepatan 60 km/jam, pencet tombol SET, lalu naikkan ke angka kecepatan yang diinginkan, misalnya ke 80 atau 90 km/jam. Pada saat melakukan ini saya sudah nggak tekan pedal gas, jadi kecepatan mobil akan otomatis naik sendiri ke angka yang sudah diatur.
Hati-hati, jika model Cruise Control masih sama seperti mobil saya, maka pastikan kondisi jalan sedang sepi, sebab versi standar tidak bisa otomatis ngerem ketika di depannya ada kendaraan atau objek lain.
Jika pengen otomatis bisa ngerem, maka pastikan mobilnya menggunakan versi Adaptive Cruise Control. Nah, kalau ini bakalan sangat nyaman karena kecepatan mobilnya bisa mengatur secara mandiri dan otomatis.
Oke, kenapa fitur ini sebaiknya diaktifkan di jalan tol? Karena menurut saya, jika semua kendaraan melaju dengan kecepatan yang sama, maka lalu lintas akan lebih lancar.
Sebetulnya semua kemacetan itu terjadi karena ada dua hal.
Pertama pengendara yang sok ngebut, menyalip kendaraan lain sehingga kendaraan yang disalip melambat kemudian menciptakan efek domino ke puluhan kilometer ke belakang.
Kedua, pengendara yang terlalu santai, mengakibatkan ada pergerakan zig-zag ketika menyalip sehingga ada kendaraan lain yang harus melambat memberikan jalan atau menyesuaikan diri, dan mengakibatkan efek domino ke puluhan kilometer ke belakang.
Ini tidak mengada-ada kok, ada percobaannya juga untuk membuktikan teorinya. Intinya, jika ingin lalu lintas lancar maka sebaiknya semua kendaraan berjalan di kecepatan yang sama.
Nah, konsep ini lebih mungkin dilakukan di jalan tol dibandingkan di jalan biasa, yaitu dengan mewajibkan semua kendaraan kecil (bukan truk ya) untuk mengaktifkan fitur Cruise Control dan diatur ke kecepatan sesuai aturan ruas tol. Jadi tulisan batas kecepatan minimal dan maksimal itu benar-benar dipatuhi secara programmatic, bukan pakai prinsip kira-kira.